Belajar dari anak Belitung (Eng: Billiton )

Syukur. Dia akan menambah kenikmatan bila kita bersyukur

Arai dan Ikal contoh nyata dari sekian juta contoh anak-anak yang punya mimpi dan jujur terhadap mimpinya. Jujur terhadap mimpinya karna dia mau memperjuangkan mimpinya. Mereka mendapatkan ini semua melalui perjuangan yang “berdarah-darah”. Kondisi keluarga yang ada bukan menjadi halangan untuk mereka menjadi maju. Sambil sekolah, mereka bekerja mulai menjadi kuli angkut ikan sampai menjadi tukang cuci piring warung kopi. Saat itu mereka masih SMA bukan seeorang yang berumur 30 tahun dengan otot kawat balung besi. Mereka berhasil ke UI dan Sorbonne bukan dengen fasilitas yang lengkap seperti sekarang. Kisah teladan dan mengharukan ini sudah ditulis secara apik didalam novel dan film.

Mungkin keluarga Ikal mengerti maksud tawakal. Temanku pernah berpesan kepadaku “kamu baru tawakal setelah kamu mengerahkan usaha terbaik serta semua cara dan peluang yang ada telah kamu coba. Sangat tipis perbedaan antara “nrimo” dan tawakal”, begiutlah pesanya padaku. Arai dan Ikal melakukan ihtiar terbaik dan memanfaatkan “potensi” yang ada secara maksimal. Mereka tidak putus asa dengan nasib dan kondisi mereka yang kekurangan, justru itu menjadi modal berharga bagi kehidupanya kelak. Untuk mencapai mimpi, mereka harus kerja nguli dan menjadi buruh cuci untuk mendapatkan bekal ke Jakarta. Selama kuliah mereka juga bekerja sambilan untuk memenuhi biaya hidup. Temanku juga berpesan, kadang sangat gampang mencari “sejuta” alasan untuk justifikasi ketidak berdayaan kita saat melihat seseorang berhasil meraih mimpi, seperti alasan “kan aku tidak sekaya mereka, kan mereka hidup di kota, kan fasilitas mereka lengkap, kan aku kerja tiap hari bla bla bla…” . Namun untuk mancari dan meyakininya satu alasan yang mendorong kita untuk berjuang dan berhasil kadang susahnya bukan main. Misalkan kita semua tahu bahwa “Allah maha adil dan akan merubah nasib kita bila kita berusaha”. Sayangnya satu alsan ini seolah-olah hanya sampai dimulut, tidak masuk ke hati dan tidak dibuktikan dengan tindakan nyata .Dilain hal satu juta alasan hambatan tadi telah terjawab dengan contoh ikal dan arai. Jadi apakah kita masih membatasi diri dengan “hambatan-hambatan” yang ada? Padahal hambatan-hambatan itu ada solusinya dan setiap orang punya potensi yang sewaktu-waktu bisa meledak?

Mungkin keluarga Ikal mengerti arti syukur seperti apa yang seseorang pernah katakan kepadaku. Saat itu temanku bilang “Rosulallah dijamin masuk surga oleh Allah, tapi bagaimana dia mensyukurinya?, dia mensyukurinya dengan menjadi ahli ibadah, contohnya menjadi ahli tahajud bukan malah santai-santai karena dijamin masuk surga”. Mungkin, maksud temanku mengartikan syukur adalah menggunakan apa yang telah kita miliki untuk senantiasa mempunyai nilai tambah. Mensyukuri dikaruniai kendaraan bagus, maka kendaraan bagus ini harus bisa member nilai tambah seperti untuk menghadiri kajian ilmu. Hal ini berarti kendaraan memberikan nilai tambah ilmu pada sang punya kendaraan. Syukur terhadap kesehatan artinya kesehatan yang dianugrahkan harus bernilai tambah. Karena sehat, seseorang mambaca buku, maka sehatnya telah memberikan nilai tambah ilmu baru. Karena sehat, seseorang bangun malam, maka sehatnya member nilai tambah yaitu Allah semakin cinta. Karena sehat, seseorang bekerja keras, sehingga sehatnya bisa menambah penghasilan yang bernilai tambah bagi ekonomi dirinya dan orang lain. Bila demikian maka hidup orang bersyukur tiap detik umurnya memberikan nilai guna dan tiap detiknya bermakana. Sehingga dari hari-kehari nikmat yang ia dapat akan semakin bertambah. Kata Allah, Dia akan menambah kenikmatan bila kita bersyukur. Arrai dan Ikal mensyukuri kesehatan dan waktu yang mereka miiliki dengan bekerja dan belajar mati-mamatian sehingga mereka tidak hanya bernilai tambah bagi keluarga dan orang lain seperti bisa menghidupi janda dengan member modal tepung terigu untuk jualan kue, juga nikmat mereka semakin bertambah karena sampai bisa ke Paris. Mungkin maksud temanku, orang malas dan menggunakan waktunya untuk hal yang sia-sia adalah tidak bersyukur, karana waktunya mubazir tanpa memberikan nilai tambah bahkan untuk dirinya sendiri. Aku sangat takut bila melihat kondisiku saat ini kerena aku sendiri merasa mengkufuri nikmatNya yang luar biasa.

Semoga Allah mengampuni diriku yang hina in

Iklan

About Imam Santoso

I'am a metallurgist who love writing

One comment

  1. alea L.N

    siiiph……..?????
    sangat benar bila kita diwajibkan untuk bersyukur,meskipun terkadang kita merasa sangat amat menderita didera sengsara.tapi perlu kita sadari, diberikan kehidupan saja merupakan hal yang sangat luar biasa.tetep semangat,jangan pernah putus asa tuk raih mimpi kita,tetep lakukan yang terbaik meski kita bukanlah yang terbaek ato bahkan kita a/ yg terburuk sekalipun
    ” tanaman memang buta,tetapi ia cukup pandai u/ bergerak kearah cahaya dan ia akan lakukan itu stiap mengalami kputus asaan yang tidak kunjung berakhir”???????????

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: