Lalu do’a-do’a baluri sekujur tubuhku

Lalu do'a-do'a baluri sekujur tubuhku. Dengan apa membalas..

Mari kita membayangkan, nanti saat kita telah menjadi bapak atau telah menjadi ibu dan telah dianugrahi putra-putri yang lucu. Sudah pasti kita menginginkan anak kita adalah anak sholeh. Apalah arti anak yang ‘berada’, bila ternyata anak itu selalu membuat kita menangis sedih. Anak adalah salah satu harta kita yang paling berharga didunia, karena doa anak kitalah nanti yang akan bergema sampai kepadaNya, yang melapangkan kubur kita dan meringankan hisab kita.

Bila itu yang kita cita-citakan, sudah pasti itu juga yang dicita-citakan ibu pabak kita. Setiap hari mereka berdoa agar kita menjadi anak yang sholeh. Tahajud malamnya slalu ada nama kita. Di setiap kelelahan kerjanya, ia selalu membayangkan masa depan kita. Di setiap menunggunya, dia selalu berdoa agar anaknya bisa pulang rumah dengan selamat. Tak asing kita mendengar kata-kata “ biarkankan cukup saya aja, jangan sampai anak saya seperti ini”.Bahkan mereka bercita-cita agar pada saat mereka meninggalkan dunia, anak-anaknya bisa hidup bahagia didunia.

Tapi kalau kita mau jujur pada diri kita sendiri apakah yang telah kita lakukan kapada bapak ibu kita sudah yang terbaik?. Bila kita mau jujur, setiap habis sholat kita selalu mendoakanya, namun itu semua seolah-olah mempermainkanNya. Doa kita tidak sunggguh-sungguh, kita mengucap “Allahhummagfirli waliwalidaiya..” namun hati entah kemana, hati tidak bergetar seolah kata-kata itu hanya di mulut saja, tubuh tidak merinding membayangkan perjuangan mereka untuk kita. Kita lebih merinding dan bergetar saat mendengar musik melankolis atau film-film romantisme ala Titanic atau Romeo and Juliet. Bila kita mau jujur, semasa sekolah kita lebih banyak, malas, bermain-main dan memubazirkan waktu. Padahal saat kita sedang malas atau beramain-main mungkin ibu kita sedang manahan terik matahari di sawah atau masih bekerja dan belum istirahat mulai dari subuh , sejak menanak nasi buat sarapan pagi kita. Semua tak bukan dan hanyalah untuk anak-anaknya yang dicintai.

Mari kita renungkan, sejauh mana kita berbakti pada Ibu dan bapak kita?,

Ibu by Iwan Fals

Ribuan kilo jalan yang kau tempuh
Lewati rintangan untuk aku anakmu

Ibuku sayang masih terus berjalan
Walau tapak kaki penuh darah penuh nanah

Seperti udara kasih yang engkau berikan
Tak mampu ku membalas…
Ibu
Ibu

Ingin kudekap dan menangis dipangkuanmu
Sampai aku tertidur bagai masa kecil dulu

Lalu do’a-do’a baluri sekujur tubuhku
Dengan apa membalas…
Ibu
Ibu

Iklan

About Imam Santoso

I'am a metallurgist who love writing

One comment

  1. Assalamualaikum..
    lagi blog walking. nice post
    salam kenal.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: