Konsep Sapi (Renungan Akhir tahun)

Hari kemarin ada tiga hal penting yang terjadi di hariku setelah membaca status facebook teman, aku menemukan sebuah benang merah. Saat aku menulis status di facebook dengan tulisan “ mata kiri kedutan…” ada teman yang membalas kalau hal in terjadi karena sel saraf mengalami degradasi. Ada teman yang menulis tentang jumlah penduduk miskin yang mencapai angka 32 juta jiwa. Jadi ingat BJ Habibie dalam kuliah umumnya beberapa waktu lalu yang juga menjelaskan bahwa angka absolut kemiskinan akan naik secara exponensial dari tahun ketahun walaupun prosentasenya bisa turun. Dan yang terakhir tanpa senggaja membaca blog teman yang bertuliskan “Sebisa mungkin, baktikanlah dirimu untuk masyarakat dengan cara apa pun (dan) beribadahlah sebaik mungkin selagi muda. Sadarilah berharganya usia muda, karena begitu kalian mencapai usiaku, kalian tidak lagi mampu melakukan banyak hal, seperti aku yang tidak bisa berbuat apa-apa”.

Sapi hanya makan tidur di kandang atau pergi untuk di gembala

Dalam kamus hidup manusia tidak ada persitiwa yang kebetulan. Mungkinkah Jeritan –jeritan itu telah beresonansi dengan status-status facebook temanku ? Mungkinkah jeritan-jeritan orang miskin di sana sedang mencoba mencari cara untuk berkomunikasi denganku .

Minggu kemarin aku juga bertemu seorang teman yang sering tidak bisa tidur nyenyak. Dia bercerita kalau betapa kesenjangan sosial semakin menganga . Dia juga bercerita kalau tanah di Bandung telah dikuasai spekulan alias orang miskin akan sulit untuk mempunyai rumah. Sambil merenung dia memberikan dua buah buku Muhammad Yunus, salah satunya berjudul Bank Kaum Miskin. Juga, Khutbah Jumat kemarin bercerita tentang bagaimana kesenjangan terjadi di sekitar kost ku. Jalan Cisitu Indah 19A adalah tempat kosan elite, namun bila turun ke bawah maka akan terlihat pemandangan yang mengharukan, pemukiman anak-anak tukang sol sepatu, nasi goreng keliling, tukang sampah dan pendatang penganguran. Aku tidak mau membayangkan di daerah lain seperti Jakarta, Semarang dan kota besar lain, takut mendengar ceritanya. Belum lagi kondisi sistem pendidikan, kesehatan dll, takut. Sungguh minggu itu adalah minggu yang membuat hidupku semakin tidak tenang.

Dengan mata kedutan aku merasa diriku semakin menua namun belum bisa berbuat apa-apa untuk bangsaku. Masehi berganti masehi,qomariyah berganti qomariyah negeriku masih seperti ini. Lembar demi lembar buku Yunus aku baca dan sampailah pada tulisan yang memukulku telak. Tulisan tentang bagaimana Yunus dan akademisi lain yang bersembunyi di menara gading univeritas di tohok seseorang dengan kalimat berikut “ Kalian para akademisi melalaikan kita. Kalian lupakan kewajiban sosial. Dan sistem perbankan negara ini busuk. Koruspsi dan penggelapan dan sampah di mana-mana. Jutaan taka di dicuri dari BKB tanpa jejak. Tak seorangpun bisa dimintai tanggung jawab. Tentu bukan kalian, akademisi yang enggan kotor, memiliki pekerjaan yang nyaman dan jalan-jalan keluar negeri. Kalian semua tak ada gunanya…….Kuberitahu negeri ini sudah hina, dan layak medapat semua masalah yang kini menimpa”. Itulah tohokan untuk Yunus orang Bangladesh di tahun 1977 yang juga monohokku saat ini. Tohokan itu secara tidak langsung bertanya “Dimanakah engkau wahai para lulusan-lulusan institut terbaik?”

Temanku pernah berceritan tentang konsep ‘Sapi”. Sebuah konsep lulucon yang membuatku dan dia tertawa saat itu. Dia berkata bila seseorang hanya mengurusi hidupnya hanya bersenang-senang, makan, tidur, besok libur kesini besok libur kesana, besok beli rumah ini besok beli mobil sana, tanpa miikirkan orang lain maka pada hakekatnya mereka seperti sapi. Yang membedakan adalah sapi makan rumput tapi dia makan nasi, sapi tidur di kandang dia tidur di sprink bed, sapi pergi untuk digembala dia pergi piknik ke eropa. Sungguh lucu konsep yang dia ceritakan padaku. Konsep sapi barkaki dua dan berbulu hitam. Hari itu juga ada status fesbuk temanku yang menuliskan solusi kemiskinan dengan membayar sedekah yang lengkapnya tertulis “penduduk miskin indonesia sekitar 33 juta (atau lebih),rakyat indonesia 220 juta lebih. kalo diasumsikan 50 juta org di Indonesia itu mampu,dan SETIAP ORANG berSEDEKAH dgn KONSISTEN SEHARI Rp 1000,-, maka 1 hari saja sudah terkumpul Rp 50.000.000.000,- jadi klo pemerintah SUSAH mengurangi rakyat miskin,,langsung saja K…ita sbg RAKYAT yg BERGERAK. cukup SEDEKAH rP 1000,- SEHARI&KONSISTEN (ini minimal lho) ^_^”. Yang dengan angka pesismis pun kemiskinan itu akan teratasi. Namun dimankah sekarang wahai orang yang berada itu? Sungguh sebagaian kecil yang engkau berikan sangat berati untuk mereka. Pukulan itu terus mengenai tatkala temanku mebacakan sebuah hadits “”Tidak termasuk orang iman, orang yang kenyang sementara tetangganya kelaparan “. Temanku pernah bercerita andaikan ada negeri yang sangat rusak pasti harapan selalu ada walaupun itu sebuah lilin di Gunung Tangkuban Perahu. Indonesiaku masih baru lahir, masih belum begitu rusak, masih banyak potensi yang dimiliki dan belum dikembangkan dan dia butuh manusia bukan sapi

Semoga Allah mengampuni diriku
imam

Iklan

About Imam Santoso

I'am a metallurgist who love writing

One comment

  1. husein

    bagus sekali konsepnya ..I like It..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: