My Silly Experiences

Hospitality

Pada bulan January 2008, saya harus mengikuti tets IELTS yang di adakan ADS (Autralia Development scholarship). Test ini diharuskan bagi pelamar ADS yang telah lulus seleksi administrasi (walaupun akhirnya saya tidak lolos seleksi tahap akhir hehehe). Ini adalah test IELTS pertama kali bagi saya yang sifatnya international dimana testernya adalah bule langsung. Saat itu, saya bertemu dengan teman-teman dari LIPI Bandung, ada tiga orang dan salah satunya adalah mbak Sukris, PNS muda yang tinggal di dekat kost saya. Kita pun baru tahu kalau kita sama-sama ikut ADS setelah bertemu di tempat test IELTS di Jakarta ini. Saat itu adalah speaking test. Mbak Sukris mendapat kesempatan lebih dulu dari saya. Setelah giliran saya selesai, saya turun dari tangga dengan wajah sumringah dan percaya diri karena yakin bahwa saat tes tadi saya merasa cukup ngewes. Kemudian saya menuju lobi bertemu dengan mbk Sukris untuk bercerita hahahihi tentang topik masing-masing saat test speaking yang telah kita jalani. Mbak Sukris bercerita kalau topik test dia adalah tentang gardening alias bekebun, sehingga saat test speaking dengan native speaker, mereka berdiskusi tentang berkebun. Kemudian Mbak Sukris dan temanya bertanya ke saya “Mam kalau topikmu apa”. Saya menjawab “hospitality”. Saya bercerita ke Mbak Sukris kalau tadi saat ditanya dan berdiskusi dengan si Bule tentang hospitality, saya cukup bisa menjawab dan saya yakin hasilnya nanti akan bagus. “Aku tadi cukup lancar Mbak”, saya berkata. Saya bercerita bahwa hospitality-nya penduduk di Jember sangat bagus. Penduduk sadar akan kesehatan, disana banyak rumah sakit (hospital) dan blab la bla. Pokonya saya, menceritakan tentang “kesadaran kesehatan penduduk Jember yang sangat bagus’. “ kan hospitality, hospital alias tentang rumah sakit, ya paling-paling sekitar itu” cetus saya. Saat itu juga tiba-tiba Mbak Sukris berkata “ Mam kayaknya hospitality bukan tentang kesehatan atau rumah sakit deh”. “Trus apa Mbak?’, Tanya saya. Saat itu juga temanya mbk Sukris menjawab “arti Hospitality adalalah keramahtamahan”. Saat itu juga wajahku layu dan tidak lagi sumringah dan terbayang skor berapa yang akan aku dapatkan nantinya. Saat hal ini saya ceritakan kepada dosen saya, dosen saya malah tertawa dan berkata “Jangan-jangan saat anda ditanya tentang rest room anda akan menjawab dan berdiskusi tentang ruang istirahat”.

Hospital

Ealah …..

Selama hampir 3 bulan saya tinggal di suatu unit bernama Kurralta Park, unit tempat tinggal para perantau di Adelaide. Setiap pagi sebagian besar para penghuni unit pergi ke kampus. Maklum, kebanyakan mereka adalah pelajar asing. Kota dapat di tempuh menggunakan bus(bagi yang tidak punya kendaraan). Kita selalu menunggu bus di halte di depan komplek. Selama 3 bulan itu ada seseorang yang selalu ke kampus bersama saya, naik bus yang sama dan di halte yang sama dan jam yang sama. Kita tidak pernah bertegur sapa. Boro-boro bertegur sapa, duduk pun biasanya saling berjauhan. Orang itu mirip India dengan perawakan hitam dan tinggi. Orang India biasanya kalau berbicara English agak susah dimengerti, makanya saya pilih diam saja. Pernah pada suatu saat dimana hari sedangi hujan, di halte yang sama kita tetap tidak bertegur sapa walapun kita cumun dua orang di sana. Paling banter saat itu hanya senyum. Namun suatu hari tuhan berkehendak lain, saat pulang dari kampus, ternyata orang yang saya kira India itu naik bus bersama dengan teman saya dan kelihatan akrab. Saat itu lah saya mencoba menyapa dan ngobrol dengan orang itu, dan apa yang terjadi. Bahasa inggris kita ternyata yang mempertemukan saya dan dia, bukan yang lain, bukan bahasa indonesia. English kita ternyata sama-sama medhok. Setelah ngobrol beberapa kalimat kita langsung bilang “orang Jawa ya mas…”..dan dia menjawab ”iya , soko purwokerto “. Kita langsung tertawa terbahak-bahak. Betapa obrolan saat itu berubah dari English langsung ke Jawa. English medhok telah membuat kita saling ketemu. Ternyata selama ini dia juga mengira kalau saya adalah orang India, jadi gak saling ngobrol deh. Yang konyol adalah kita saling tahu kalau Indonesia setelah kita ngobrol English yang medhok.

Ternyata….

Setelah liburan semester genap 2004, saya balik ke Bandung naik kereta api dari stasiun Jember. Di statsiun Jember saya bertemu teman les bimbel saya yang satu daerah dengan saya. Sigit namanya. Dia berasal dari Bondowoso saya dari Ambulu. Kita belajar bareng dalam satu kelas yang sama selama satu tahun penuh saat kelas 3 sma pada sekitar tahun 2001. Saat tes SPMB 2002, kita sama-sama gagal. Kita tidak diterima di pilihan yang kita inginkan dan saat itu kita tidak pernah bertemu lagi. Namun tahun 2004, saat di stasiun Jember, saya bertemu Sigit yang tidak pernah kontak selama 2 tahun. Kita ngobrol dan saya bertanya “ Mau kemana Git”. Dia menjawab “Mau ke Surabaya”. Kita ngobrol cukup lama tentang kisah-kisah jaman dulu saat sedang bimbingan belajar di PhiBeta. Saya mengira dia kuliah di Surabaya karena dia berkata akan ke Surabaya. Saya juga tahu, pasti dia juga sama seperti saya yaitu sedang berada pada semester tiga karena baru diterima SPMB pada tahun 2003 dan baru selesai liburan. Maklum dulu kita sama-sama gagal SPMB, jadi di benak saya pada SPMB kedua kalinya dia memilih kuliah di Surabaya. Setelah itu dia masuk ke dalam kereta, di gerbong yang berbeda dengan saya. Keseokan harinya, setelah menempuh perjalanan yang cukup melelahkan, akhirnya saya sampai juga di stasiun Bandung dan saya di kagetkan dengan kemunculan Sigit di stasiun Bandung ini. Di benak saya terbersit fikiran, jangan-jangan Sigit kuliah di Bandung, dan jangan sampai dia bilang kalau dia kuliah di ITB, bila iya betapa bodohnya saya karena selama satu tahun kuliah bersama di ITB masak kita tidak pernah bertemu. Saya terus berfikir, oke lah kuliah di ITB tapi jangan sampai nanti dia bilang kalau dia kuliah di FIKTM, bila sampai dia bilang begitu betapa bodohnya saya, sampai-sampai kita kuliah di fakultas yang sama namun tidak pernah bertemu. Dan akhirnya saya menyapa dia, “Lo kamu kuliah di Bandung tho,…jangan bilang kuliah di ITB”. Sigit Menjawab “saya di minyak ITB Mam” dia sambil tertawa. Masya Allah, kemana aja diriku selama ini, ternyata walapun saya telah kuliah di fakultas yang sama dengan Sigit selama satu tahun lebih, namun baru ketemu sekarang. Usut-punya usut ternyata selama itu Sigit sudah mengetahu keberadaan saya, hanya saja dia tidak pernah mau menegur. Dia berada pada kelas ganjil dan saya berada pada kelas genab . Dia masuk di jurusan teknik perminyakan dan saya di teknik pertambangan yang kuliahnya di campur dan dipisah berdasarkan kelas genap dan ganjil.
Ya Allah ampuni dosa hamba

Iklan

About Imam Santoso

I'am a metallurgist who love writing

5 comments

  1. makanya orang tua bilang, “dunia cuma selebar daun kelor”

    he he he

    salam kenal Mas,

  2. Salam kenal juga. Dunia emang sempit, ini ketemu wong jember di blog heheh

  3. gegegege… 😀
    aku mendengar cerita ini dari siapa yaaa…biasa mas, KMJB kan gossiper gtu deeh…ternyata benar adanya yak…hehehe…

  4. Eh win gudir-nya maasih ada (jadi ingat pulkam bareng kmjb naik kreta bareng)

  5. Hahaha.. ‘gudir’
    aku masih ingat! Heu…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: