Bagian I.Terimakasih Aku Tidak Lulus.

Hampir tepat delapan tahun silam. Aku masih ingat dengan persis siaran langsung dari sebuah radio swasta di Jember, siaran yang ditunggu-tunggu oleh para pencari sekolah yang telah melakukan test yang bernama Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB sekarang SNMPTN). Bagi orang yang tinggal jauh dari perkotaan seperti saya, yang tidak ada akses internet, siaran langsung yang dibawakan Mbak Noni waktu itu adalah cara tercepat untuk mengetahui hasil test penentuan, apakah seseorang telah diterima atau tidak untuk masuk perguruan tinggi negeri.

Radio tua hitam butut dilengkapi dengan antena kabel yang dijulangkan ke langit-langit dengan sebatang tiang bambu, sudah cukup untuk menangkap gelombang 101,6 MHz Prosalina FM malam itu. Walaupun ada suara ‘kresek-kresek’ , namun cukup jelas untuk mendengarkan satu persatu urutan nomor-nomor yang dibacakan. Ya, langsung saja, nomerku tidak disebutkan saat itu. Aku belum diterima di jurusan pilihan saya “Pendidikan Dokter Universitas Airlangga”. Masih terngiang di benakku kala itu “Ah bisa saja Mbak Noni kelewatan membacanya, kan nomer yag dibacakan pasti banyak banget”. Namun, firasatku mengatakan aku memang belum diterima, hal itu terbukti walaupun beberapa jam setelah pengumuman itu aku mencoba tenang, akhirnya tanpa kusadari aku menangis juga, heheh pukul 01.00 malam nangisnya. Hehehe, manangis lagi. Mungkin itu menangis kedua kali setelah sekian lama gak nangis. Masih ingat menangis terkahir kali kala itu adalah saat penataran P4 saat baru ulus SD. Karena aku telah melakukan pelanggaran, maka 4 orang senior kelas 3 SMP memplonco saya, dengan teriakan-terikan dan hardikan yang cukup sadis yang sejatinya tidaklah serius. Biasa lah namanya juga masih kecil hehehe (ngeles-ngeles). 🙂

Aku ingin jadi dokter

Untuk memastikan kalau mamang belum ketrima, pagi-pagi buta setelah sholat shubuh, aku langsung menancap gas motor, pergi ke kota mencari koran yang isinya daftar nomer-nomer maut itu. Dan memang nomerku tidak ada. Sambil duduk lemas di pojok toko, aku membaca daftar nama-nama temanku yang lulus, senang rasanya, paling tidak ada dua temanku yang lulus Kedokteran Unair. “ Ya sudahlah mungkin belum rejekiku di sana”. Pilihan Kedokteran Unair mamang boleh kukatakan adalah pilihan buta saat itu. Bagaimana tidak, aku tidak pernah menanyakan pada diriku apakah sebenarnya sudah siap apabila aku lulus. Nyatanya aku adalah orang yang gampang tidak tega saat melihat orang sakit. Melihat tangan seseorang yang patah, rasanya tidak tega, boro-boro mendekat. Hal itu aku sadari setelah temanku sendiri harus menjalani operasi dan dirawat di rumah sakit, dan aku hanya menonton dari jarak jauh. Belum lagi andaikan diterima, entah dari mana uang pendaftaran yang puluhan juta kala itu akan aku dapatkan. Maklum sumbangan pendidikan dokter lumayan gede.

Memang untuk pilihan ini aku berkeras kepala ingin jadi dokter dengan hanya bermodal keyakinan dan belajar keras. Bagaiman tidak, bapakku hanya petani yang tanah saja harus menyewa dari tuan tanah. Tentang pilihan ini, bapakku hanya iya-iya saja. Ia selalu mendukung terhadap apa yang kupilih untuk sekolah. Dia selalu bilang iya untuk segala hal yang aku butuhkan untuk sekolah. Walaupun mungkin saat itu dia tidak bisa mencarikan uang untuk biaya masuk andaikan aku ketrima. Mungkin kala itu dia tidak akan bisa lagi menuruti kenginginanku untuk jadi seorang dokter. Untuk masalah pendidikan bapakku memang tidak pernah berdebat. Mungkin karena dia merasa akan kalah kalau berdebat masalah pendidikan bersama anakanya. Maklum bapak kelas 1 SD aja tidak lulus, sehingga baca tulis aja tidak bisa. Saat jaman sekolah dulu, dia memang berangkat dari rumah, berpamitan kepada nenekku kalau mau sekolah, namun ayah tidak pergi kesekolah melainkan lebih suka main di sungai. Cerita suka mandi di sungai ini aku dapatkan saat aku pergi ke pasar dan ada ibu-ibu penjual beras yang mengatakan bahwa ibu itu pernah ditolong ayah saya saat tenggelam di sungai. Hehehe ketahuan deh seperti apa ayaku dulu, ternyata dia memilih bermain mandi di kali dari pada sekolah. Namun itu adalah kisah masa kecil ayah. Saat ini dia tahu betul tentang pentingnya sekolah. Bagi ayahku pendidikan anaknya adalah nomer satu. Ibuku? Ibuku meninggal sejak saya masih Taman Kanak-Kanak.

Allah memang tahu apa yang terbaik buat hambanya,apa yang baik menurut kita belum tentu baik menurut Dia. Dia tahu dengan sempurna kondisi hambanya. Allah tahu betul bahwa aku ini tidak tega tatkala melihat tulang patah digoyang-goyang atau melihat darah muncrat. Mungkin andaikan aku memaksakan menjadi dokter, aku hanya akan menjadi dokter “tidak tega”. Bisa-bisa pasienya meninggal karena tidak segera ditangani . Hehe. Belum lagi, seandainya ketrima di kedokteran kala itu, pastilah bapakku pusing memikirkan uang dan biaya. Tak tahu tanah kuburan mana yang akan dijual untuk membayar uang masuk. Bagi anak yang sekolahnya tidak berada di kota seperti saya, ditambah lagi belum ada senior yang kuliah di Kedokteran Unair, pastilah aku akan bingung harus kemana mencari info-info beasiswa kala itu. Aku jadi mengerti kalimat “Kalau tuhan tidak mengijinkan sesuatu terjadi pada diri kita, sekuat apapun kita memaksakannya walapun sampai jungkir balik (jawa :golong komeng), hal itu tidak akan terjadi”. Karena Tuhan tahu, bahwa apa yang diingkinkan hambanya itu tidak baik untuk hambanya. Seperti cerita “Andaikan tahu bahwa motor yang dibelikan seoarang ayah akan membuat anaknya kecelakaan, pastilah ayah itu tidak akan membelikan motor itu, walaupun sang anak berusaha keras agar dibelikan dan sang ayah mampu membelikanya”. Walaupun  tidak lulus SPMB kala itu, bawah sadarku mengatkan bahwa aku harus sekolah dan aku bisa. Aku harus tetap sekolah, karena dengan sekolah aku bisa merubah nasibku dan keluargaku. Bisa membahagiakan orang-orang di sekitraku. Mungkin ada tempat yang lebih pas, mungkin bukan menjadi seorang dokter. Aku yakin Tuhan maha pengasih, maha penyaayang. Tuhan tidak akan menzolimi hambanya dan tuhan mengabulkan doa setiap hambnya. Aku harus sekolah..aku harus sekolah..

Bersambung.

Iklan

About Imam Santoso

I'am a metallurgist who love writing

One comment

  1. tsulusun

    wah sama mas saya dulu UMPTN pertama gagal diterima di FK Unair sama UNbraw. di taun kedua malah ketrima di ITB he he..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: