Bagian II. Aku Disuruh Menjadi TKI Ke Korea.

Sambungan dari Bagian I.Terimakasih Aku Tidak Lulus

Walapun aku gagal dan walapaun kata orang cita-citaku itu muluk ,aku tetap tidak takut bercita-cita. Cita-citaku sejak dulu adalah ingin menjadi seorang dokter. Cita-cita dari seorang anak petani. Jadi pantas saja dikatakan muluk.

Akhirnya keluargaku tahu, kalo aku tidak diterima SPMB. Saat aku duduk melamun di kursi, tiba-tiba datang bibiku.

“Ke Korea aja Mam. Cari uang dulu. Gaji gede disana, kerja dua tahun, setelah uang cukup baru pulang terus kuliah”.

Itu adalah nasehat bibiku kala itu, nasehat untuk menjadi TKI untuk bekerja di perkebunan, di negeri gingseng, wow. Cukup realistis memang, dengan background anak petani yang biasa memegang cangkul dan sabit dan bercita-cita muluk, maka mencari uang besar dengan menjadi seoarang TKI bisa menjadi pilihan. Itulah nasehat bibiku. Aku cukup menghargai nasehat dia kala itu, paling tidak dia tetap menyuruh aku kuliah dan tidak mengubur mimpi.

Seoul. Salah satu kota dambaan di kampungku.

“Tapi kan harus di penampungan dulu, trus ada pelatihan, pasti lama persiapanya. Pulang-pulang dari sana pasti aku sudah telat batas untuk masuk kuliah di perguruan tinggi negeri”, jawabku.

Oiya, aku tinggal di Kecamatan Ambulu, sebuah kecamatan paling selatan di kabupaten Jember, sebuah kecamatan tempat tinggal para pahlawan devisa. Bagaimana tidak. Devisa terbesar dari kabupaten Jember disumbang oleh para TKI dari kecamatan saya. Banyak anak gadis remaja dan ibu-ibu memilih menjadi TKI di Hongkong, Singapura, Malaysia. Syukur-syukur masih bisa tamat SMA. Setelah tamat SMA pun tak sedikit dari mereka yang langsung pergi marantau, tergiur dengan gaji tinggi. Tentu saja, masalah ekonomi adalah alasan utama.

Saat pulang kampung, hampir semua gadis-gadis ini mengalami metamorfosa. Seperti ulat menjadi kupu-kupu yang cantik, menjadi anak “G4uL B4n9get”. Saat musim lebaran, kampungku tiba-tiba dipenuhi oleh gadis-gadis bermode seperti yang ada di drama-drama Taiwan yang ada di TV. Rambut merah, baju ketat, celana jeans dan gelang emas berjubel. Kadang aku melihat beberapa dari meraka memakai pakian seperti ini berjalan di pematang sawah atau berbelanja di pasar kampung yang diisi ibu-ibu berselendang kain jarik dan bercaping. Bagiku mereka adalah pahlawan buat keluarga mereka

Tak jarang para ibu yang pergi ke Hongkong karena cita-cita mulia yaitu ingin mencari nafkah untuk sekolah anaknya. Namun tak jarang pula yang kemudain harus kehilangan buah hati mereka karena tidak ada yang mengawasi lagi anak-anaknya ini saat di tinggal pergi. Lima bulan lalu 6 pemuda tewas di jalan dekat rumahkku gara-gara kecelakaan beruntun. Mereka ternyata mengemudi dalam keadaan mabuk.

Tak sedikit ibu-ibu yang saat pulang kampung sudah tidak mau lagi dengan suaminya dan punya pria lain. Banyak alasanya. Tidak bisa aku ceritakan. Oiya, dua pamanku juga seorang TKI. Bekerja di Malaisia. Yang satunya telah pulang pada tahun 1998 dan yang satunya lagi pulang tinggal nama.

Itulah kampungku, selain terkenal dengan tembakau dan perkebunanya, sejatnya tempatku adalah negeri para TKI. Negeri para pahlawan devisa. Walaupun para TKI sering dicaci, dihina, disletika, dicampakkan, namun mereka adalah salah satu pendorong penggerak perekonomian daerah. Mereka pahlawan.

Jadi tidak heran bila aku di suruh pergi ke Korea oleh bibiku. Logis dan realistis dimata penduduk sana.

“Imam…Imam, ini ada Bulek Narti”, kata bibiku’
“Adikkya Bulek Narti ke Korea dan sukses loo. Adiknya setelah lulus dari STM bisa kerja di sana, kamu pasti bisa”, lanjut nya.

Aku diam, dibenakku terbayang orang-orang yang pulang dari korea. Ada yang punya mobil baru, ada yang punya rumah bagus, ada yang membelikan sawah untuk orang tuanya dan ada yang punya perkebunan kelapa sawit di luar jawa.

Bulek Narti pun turun dari motor dan masuk rumah nenekku, menemui aku.

“Mam, kamu mau sekolah kan?,sayang kalo kamu tidak sekolah”, itu kata-kat dari Bulek Narti. Setelah bincang-bincang haha-hihi dengan bibiku, Bulek Narti pun pergi.

Tiba-tiba, dari dalam kamar keluar kakekku , “Mam, siap-siap, besok malam kite pergi ke Trenggalek. Kamu di sana saja. Ikut Pak Poh. Kamu bisa ikut Pak Poh membantu berdagang di Pasar. Dari pada di rumah nganggur paling-paling cuman bantu-bantu di sawah”.

Tanpa, banyak tanya, aku langsung masuk kamar dan mempersiapkan daftar barang-barang yang akan kubawa ke Panggul, sebuah kecamatan di perbukitan di kabupaten Trenggalek. Sebuah kecamatan yang untuk ke pasar saja harus menyebrang sungai dan turun gunung jalan kaki.

Bagiku ,saat kekekku mengajakku ke Trenggalek itu adalah keajaiban. Allah ( melalui kakekku) telah menghendakiku untuk tidak pergi Korea untuk menjadi TKI. Terimaksih Allah, karna engkau tahu bahwa mungkin aku belum saatnya untuk mengadu nasib di negeri sana. Engkau tahu apa yang terbaik untuk hambanya yang selalu memohon. Aku ingin sekolah Allah, aku ingin sekolah, aku ingin sekolah.

Bersambung.

Iklan

About Imam Santoso

I'am a metallurgist who love writing

3 comments

  1. .. makasih atas berbagi pengalamannya…

  2. Trimakasih, bagian III-nya sudah ada lgi. Semoga bermanfaat

  3. beneran jadi TKI ya?? makasi^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: