Bagian III. Dikarantina di Negeri Antah Brantah

Sambungan dari Bagian II. Aku Disuruh Menjadi TKI Ke Korea.

Ke Tranggalek. Sehabis sholat isa’, aku, kakek dan nenekku langsung ke terminal Bus Jember untuk mencari Bus malam Jurusan Jember- Trenggalek langsung. Yup, diantar kakek dan nenekku. Pergi mengungsi ke Kabupaten Trenggalek. Ke kampung halaman kakek. Bukannya tidak mau pergi sendiri, tapi ini adalah keinginan mereka berdua untuk mengantarku ke sana. Katanya, mereka lebih enak jikalau mereka sendiri yang menyerahkan aku kepada para Pak Poh ku disana. Oiya, aku punya 5 orang Pak Poh. Mereka adalah anak-anak dari Pak Karmidi, kakaknya kekek. Mbah Karmidi sudah meninggal sejak lama. Jadi wajar bila aku diantar kakekku langsung, karna ia ingin menyerahkan aku secara langsung kepada anak-anak kakaknya. Setelah menyerahkanku kepada para keponakanya, kakek dan nenekku kembali ke Jember. Ya, aku dititipkan.

Aku menjalani kehidupan baru, sama sekali baru. Mungkin aku dikirim kesini agar bisa terhibur dan melupakan sejenak hiruk pikuk sekolah. Merehatkan sejenak ambisi untuk meraih mimpi. Mungkin semacam karantina hehehe. Karantina di negeri antah brantah.

Bagaimana tidak, aku di kirim ke sebuah desa bernama Desa Mbarang, Kecamatan Panggul, di Kabupaten Trenggalek. Untuk masuk Desa Mbarang saja (setelah menempuh perjalanan kurang lebih 12 jam dari Jember melewati pegunungan dan perbukitan), kami harus menyebrangi sungai selebar kurang lebih 100m terlebih dulu agar bisa sampai desa ini. Tidak ada jembatan, tidak ada perahu. Benar-benar memakai kaki menyebrangnya.

Desa Mbarang berada di lereng Gunung Panggul, di selingi batu-batu besar, dan di kelilingi sungai bengawan. Rumah-rumah berada di lereng. Tidak ada jalan lurus, tidak ada kendaraan. Untuk bertandang ke tetangga terdekat saja seseorang harus siap-siap memakai tongkat kayu atau bahkan siap terperosok membentur batu. Pada musim hujan, Anda dijamin akan terkungkung di desa itu. Sungai Bengawan akan menjadi benteng yang tangguh yang akan susah ditembus para penghuninya untuk bisa keluar. Boro-boro keluar kampung, bisa jadi anda tidak bisa keluar rumah, karena terpeleset jalan berlempung yang licin.

Pernah ada peristiwa yang cukup lucu yang pernah menimpa Pak Pohku, yang aku dengar dari dia sendiri. Kisah saat dia mau menikah dengan gadis pujaanya dari kota Jombang, kota yang berada di dekat Surabaya. Cukup jauh dari Trenggalek.

Saat resepsi pernikahan sudah pasti keluarga dari mempelai perempuan akan datang ke kediaman mempelai pria, yaitu Pak Poh ku. Keluarga mempelai perempuan datang dengan jumlah yang cukup banyak kala itu. Sekitar 30 orang. Mereka datang dari Jombang ke Desa Mbarang demi acara penting dalam hidup salah seorang keluarganya. Namun nahas, kala itu sungai sedang banjir, sehingga para keluarga mempelai perempuan tidak berani menyeberang sungai dan akhirnya harus kembali ke Jombang tanpa ikut merayakan hari bahagia itu. Mempelai perempuan yang sudah ada di Desa Mbarang sejak beberapa hari sebelumnya hanya bisa menitihkan air mata, tatkala rombongan keluarganya yang sudah menempuh perjalanan panjang harus balik lagi ke Jombang . Ya, resepsi pernikahan tanpa keluarga mempelai putri dikarenakan sebuah sungai.

Oiya, terakhir kali aku kesana adalah saat aku masih kelas 2 SD bersama Pak Poh dan bibiku. Kala itu aku mengalami hal kurang lebih sama, namun sedikit beruntung. Setelah menempuh perjalan yang cukup lama dan melelahkan, akhirnya sampai juga di seberang desa Mbarang pada malam hari. Ya, selangkah lagi aku sampai. Namun ternyata sungai banjir. Aku masih sangat ingat saat itu. Pak pohku dan bibiku memaksakan menyeberang. Aku duduk di pundak pak poh, dan berpegangan kepalanya. Bibiku berjalan dibelakang sambil memegang erat baju pak poh dengan membawa kardus berisi baju dan oleh-oleh dari Jember. Apa mau dikata, air sungai yang deras dan dasar sungai yang licin membuat bibiku tepeleset . Alhasil ,kardus berisi oleh-oleh itu terkena air dan sudah dipastikan oleh-olehnya tidak bisa dimakan karena basah. Namun kami senang, paling tidak kami selamat dan sampai di desa. Tidak hanyut terseret arus, terbawa kelaut selatan bertemu Nyai roro Kidul. Itu lah Mbarang. Saat musim hujan akan menjadi desa yang eksklusif yang berbeda dengan desa yang lain.

Sungainya jernih. Ada peraturan bahwa dilarang mencari ikan menggunakan setrum (arus listrik) dan potas. Peraturan ini sangat dita’ati disana. Alhasil sungainya bening tak tercemar dan terdapat banyak ikan di sana. Sumber penghidupan bagi para nelayan sungai.

Pun, tidak ada maling disana. Sepeda kaki di taruh di seberang sungai tidak akan hilang walaupun tidak di kunci dan ditinggal berhari-hari. Di Jember, bila ada maling sepeda yang ketangkap, sudah hampir pasti akan dihajar sampai mati. Sepeda biasanya memang di taruh di seberang sungai, tidak lucu memang bila seseorang harus bolak balik memanggul sepedanya menyeberangi sungai bila ingin bepergian. Barang-barang di dalam rumah juga aman. Mungkin malingnya berfikir dua kali sebelum mencuri barang dan harus terpeleset di sungai.

Ada yang tahu dimana Desa Mbarang?

Pak Poh Mat dan Pak Poh Manu ( Ke Pasar tiap hari Wage)
Pak Poh Toyib (Ke pasar tiap Legi )
Pak Poh Bilal dan Pak Poh sayid (Ke Pasar tiap hari Pon)
Pak Poh bangi (Jadi Penghulu mayat)

Itu lah enam pak poh ku dan profesinya, mereka tinggal di Desa Mbarang. Lima orang menjadi pedagang peralatan pertanian seperti cangkul, sabit parang dan alat-alat bangunan. Dan satu lagi didapuk menjadi juru pandu mensholatkan dan mengkafani mayat, yang siap dipanggil sewaktu-waktu tatkala ada orang yang meninggal. Oiya, Legi, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon adalah nama-nama hari dagang orang Jawa yang masih dipakai sampai saat ini.

Salah satu alasan kenapa aku mau menuruti untuk dibawa ke desa eksklusif ini adalah karena aku akan ikut pamanku berjualan. Paling tidak, saat pulang nanti aku dapat uang saku. Memang aku berencana ikut bimbingan belajar, sebagai persiapan menghadapi test SPMB tahun depannya. Dan aku tidak mau merepotkan bapakku lagi. Biaya les bimbingan 500ribu-an, bukan jumlah uang yang kecil pada tahun 2002 . Oleh karenanya aku ingin membantu pamanku agar aku bisa mendapat uang dan kemudian bisa ikut les bimbingan belajar tanpa harus minta uang pada orang tua lagi.

Tiap Hari, Pahing, Pon dan Wage aku ikut ke pasar. Pada Hari horror yaitu hari kliwon, aku memilih tinggal di rumah. Tinggal di rumah Pak Poh Toyib, rumah yang aku tempati selama di sini. Sepertinya profesi untuk menjadi pedagang adalah panggilan alam. Kondisi yang berlereng dan berbatu kurang memungkinkan untuk digunakan untuk bertani dan oleh karenanya kenapa pamanku memilih berdagang. Ingin tahu sebagian besar penduduk sana sebagai apa? Ya, sebagai nelayan sungai, pemecah batu kali, pengepul daun cengkeh, penambang pasir dan menjadi buruh pabrik di Kota Kediri dan Surabaya. Yang menjadi buruh di kota-kota itu biasanya adalah anak-anak muda tamatan SMP dan SMA, dimana kerja adalah jalan hidup yang harus mereka tempuh selepas lulus sekolah bila mereka ingin mengubah nasib keluarganya menjadi lebih baik. Penghasilan orang tua mereka hanya cukup untuk makan. Syukur-syukur bisa menamatkan anaknya sampai SMA. Itupun tak banyak.

Nenek Suliyah. Nenek yang biasa kulihat melewati depan rumah Pak Poh ku. Di pagi hari dia pergi naik ke bukit, sore hari pulang ke rumah dan malam hari sholat berjamaah di mushola. Dia adalah seorang sosok yang luar biasa. Tubuhnya bungkuk, rambutnya putih namun selalu semangat ketika lewat di depan rumah. Gurat wajahnya seolah menunjukkan bahwa dia sudah berumur 70 an.

“Nang Imam”, itu panggilan yang sering ku dengar tiap pagi.

Itu artinya nenek Suliyah pergi naik bukit, bersama sapu lidi di tangan dan bakul berisi karung goni. Untuk menjadi pengumpul daun cengkeh, Nek Suliyah cukup bermodal sapu dan karung goni. Ya, sapu di gunakan untuk mengumpulkan daun cengkeh yang kering yang jatuh dari pohon dan sebuah karung goni cukup untuk mengisi penuh satu kilo gram daun kering. Dalam sehari, Nek Suliyah bisa menngumpulkan dua karung daun cengkeh kering. Bila dijual dengan harga Rp. 3000 per kilogramnya, maka dalam sehari dia bisa mengumpulkan uang Rp.6000. Cukup untuk membeli satu kilogram beras dan sedikit bumbu dapur. Cukup untuk makan dia bersama satu orang cucunya. Untuk membeli lauk dia cukup memetik sayur-mayur di pekarangan rumah sesekali mengambil telur dari ayam dari beberap ayam kampung yang dia pelihara. Nek Suliyah adalah seorang janda tua dan tinggal berdua dengan cucu perempuan kesayanganya yang berumur 12 tahun. Nek Suliyah adalah seorang kepala keluarga yang perkasa. Tak pernah mengeluh. Lebih kuat dari Nyonya Meneer yang mampu berdiri tanpa lelah, tanpa jongkok dan duduk sejak tahun 1919 (heheh, guyonan garing jaman smp dulu). Oiya, masih banyak nenek-nenek perkasa disana, yang berprofesi sama dengan Nek Suliyah. Hidup mereka cukup bahagia walaupun dengan kondisi seadanya, kondisi yang cukup untuk hidup sehari-hari, namun tidak untuk menyekolahkan anak-anaknya. Sama sekali tidak. Hmmm, tak cukup waktuku untuk menuliskan kisah Kang Tur si tukang Jala ikan dan Mak Iyem si pemecah batu.

Hampir tiga bulan berlalu. Tanpa kusadari satu minggu lagi lebaran. Tiga bulan sudah aku ikut berdagang,mulai dari menimbang paku, memotong besi sampai menggunting pelat seng yang pernah membuat kelingkingku nyaris putus. Menyebrang sungai pada pagi hari saat pergi dagang dan menyebrang lagi sore harinya untuk pulang seolah-olah sudah menjadi hari-hariku di sana. Malam harinya aku hampir tidak pernah keluar desa. Jangan pernah berniat jalan-jalan malam hari melihat ramainya kota dengan gadis-gadis cantik, tak kan pernah bisa dan akan aneh. Tidak lucu memang, tatkala sudah mandi dan berdandan rapi namun kemudian harus mencebur ke kali lagi. Wangi parfum bisa jadi berubah menjadi anyir lumut. Oh tidak. Aku tidak mau bereksperimen.

“Aku Harus pulang. Aku harus kembali di Jember Poh. Aku harus menpersiapkan untuk sekolah lagi. Di sini gak ada bimbingan belajar Poh, yang ada di Jember”, ucapku saat aku berkumpul di pengajian yasinan malam jumat. Kondisi yang pas untuk mengatakan rencana pulang kampungku karna pak poh ku berkumpul semua.

Tiga bulan cukup lama aku di sini dan aku yakin akan dapat uang saku cukup banyak yang pasti cukup untuk membayar bimbingan belajar. Selama di Mbarang, aku tidak minta digaji oleh pamanku, dan aku tidak pernah mengatakan itu. Karna aku yakin saat pulang nanti pastilah 6 orang pak pohku yang baik ini akan memberiku uang. Dengan perhitungan bahwa satu orang akan memberikan minimal 50rb, maka aku akan pulang membawa uang paling sedikit 300rb. Wow. Dan benar, Aku pulang membawa uang Rp,350,000, kudapatkan dari ke 6 orang itu. Alhamdulilah Ya Allah. Cita-citaku untuk tidak merepotkan orang tua akan tercapai.

H-3 sebelum lebaran, aku memutuskan pulang. Aku diantar sampai di Kediri. Dan pamanku pergi tatkala bus Kediri-Surabaya yang aku tumpangi melenggang.

Jam 11.00 aku sampai terminal Bungurasih, terminal Bus antar propinsi di Surabaya. Sangat ramai karena ini adalah musimnya mudik lebaran. Dengan tas di punggung dan menjinjing kardus di kedua tangan,aku turun dari bus dan masuk ke terminal. Aku tahu terminal ini adalah terminal tukang copet dan karenanya dompet ku taruh didalam tempat yang aman. Dan memang dompetku tidak hilang.

Sesampainya di dalam terminal ada dua orang berpakaian seperti kondektur bus, dengan cepat dia menyambar salah satu kardus yang aku bawa. Aku pun yakin bahwa dia adalah seorang kondektur bus.

“Mau ke mana mas ?”, Tanya orang itu
“Ke Ambulu pak”, jawab saya,
“Sini ikut saya”, kata dia lagi.

Aku pun mengikuti dia, karna aku tidak mau kehilangan tasku yang telah disambarnya. Setelah aku ikuti, lelaki itu ternyata memang masuk ke dalam bus jurusan Ambulu. Aku pun masuk, dan aku dicarikan tempat di pojok, di tempat dimana dia meletakkan barangku.Tak ada penumpang lain di baris bangku itu.

Seteleh menurunkan barangku dan setelah aku duduk di pinggir jendela, bapak itu ternyata tak kunjung pergi . Dan kemudian muncul lagi temanya yang berpakain sama. Dia datang mengahampiriku juga. Namun kedua orang itu tiba-tiba bermuka masam. Ditambah tampang seram berkumis, kulit hitam.

Dengan suara agak mangancam, mereka berdua miminta uang terimakasih yang cukup besar sebagai jasa karena telah membawa barangku. Ya, Allah, aku diperas Calo di siang bolong.

Dua orang itu berbadan besar, cukup untuk menutupi tubuhku yang kecil yang duduk di pinggir cendela. Nyaris tak dapat dilihat oleh orang lain yang ada di dalam bus yang masih terisi sedikit orang. Ternyata orang itu kondektur gadungan dan preman. Kondektur yang asli sedang keluar dari bus dan mencari penumpang. Dompetku tidak hilang namun isinya habis. Rencana les ku sepertinya harus ku tunda.

Kisah di terminal ini tidak bisa aku lupakan sampai sekarang. Sesakali aku tertawa sendiri bila mengingatnya. Seperti orang gila mengingat diriku yang polos, ciri khas anak kampung kebanyakan. Bila kufikir dan kurenungi perjalanan hidupku mulai dari gagal SPMB, dikarantina di Mbarang dan sampai di palak preman di Surabaya, pada hakekatnya Tuhan menunjukkan betapa sayangnya Dia padaku. Kelihatannya menyakitkan bila dipandang dari sudut pandang makhluk, namun sejatinya itu adalah sebuah proses persiapan seseorang anak kampung untuk aku bisa mandiri dan lebih berani. Bagaimana tidak, tantangan kehidupan perkuliahan nanti pastinya jauh lebih besar. Bila aku ingin kuliah di tempat yang jauh pastilah aku akan tinggal sendiri. Mungkin nanti aku harus melewati berbagai terminal dan stasiun dengan keunikan preman setempat pastinya. Tanpa kusadari, sebenarnya Tuhan sedang menempa aku agar aku siap menghadapi berbagai seni hidup. Dan aku semakin sadar tentang ungkapan bahwa Tuhan tidak pernah memberikan suatu cobaan tanpa memperhitungkan kemampuan hambanya untuk menjalaninya. Terimaksih Tuhan.

Bukan saja itu, selama 3 bulan seolah Tuhan ingin menunjukkan tentang potret kehidupan penduduk Mbarang. Seolah agar aku bisa lebih mengahargai hidup ini. Dan juga agar aku bisa bersyukur karena aku lulus SMA. Tak satupun penduduk Mbarang kala itu yang kuliah dan hanya segelintir saja anak sana yang bisa lulus SMA. Anak para tukang pemecah batu dan cucu para nenek pencari daun cengkeh.

Tuhan semoga aku bisa kuliah dan semoga aku bisa membahagian orang-orang disekitarku.

Bersambung

Iklan

About Imam Santoso

I'am a metallurgist who love writing

6 comments

  1. hmm…
    Trenggalek memang indah khan mas???

    hidup di desa yang tenang, nyaman, aman….impianku 😀

    hehe

  2. andri

    aq tau mbarang itu dimana… aq dari Bodag sekarang kuliah di jember…

  3. Dwi Karsa Agung R.

    nice to know brave man like you..waiting IV

  4. fadhony_anggo

    Inspiring story mam…
    Ditunggu bagian IVnya…
    Tetep semngat ya!!!!

  5. hahaha…jadi ingat saat kau buatkan mainan dan mengenai jariku sampai aku menangis,malah aq yang di marahi sama makku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: