Sudahkah kita bersyukur?

Syukur, sebuah kata yang sering kita dengar. Kita sering disarankan untuk selalu bersyukur atas nikmat yang telah Allah berikan kepada kita karena nikmat Allah itu sejatinya terpapar begitu jelas dalam segenap kehidupan. Jantung masih berdetak, mata masih memandang, telinga masih mendengar, kaki masih berjalan. Kita masih punya teman, kita masih bisa kentut, kita masih bisa bersin. Usus kita masih bisa mencerna, darah kita masih mengalir, matahari masih terbit, meteor tidak jatuh, langit tidak runtuh dll. Dan nikmat terbesar tentunya, nikmat iman dan islam. Tak cukup lautan menuliskan nikmadnya yang membentang luas. Lantas nikmat mana lagi yang akan kamu dustakan?

Bahkan kita juga bersyukur manakala kita diuji dengan sakit atau mendapatkan masalah hidup yang terasa berat. Bukankah banyak orang yang dengan penyakitnya tiba-tiba ia menjadi dekat dengan Allah, banyak berdoa?. Bisa jadi sakit adalah jalan agar seseorang kembali ingat kepada Tuhanya. Bukankah sakit juga bisa menjadi penggugur dosa? Juga, bukankah ketika kita dihadapkan pada masalah lalu kita bisa melaluinya, kita akan menjadi manusia yang lebih terampil dan berpengalaman? Bila kita diuji, bisa jadi itu artinya kita terpilih menjadi hamba Allah yang akan dikaruni iman lebih dan dijadikan hamba yang kuat.

Itulah sebabnya kenapa dengan bersyukur kita akan bahagia. Bahagia itu berhubungan dengan perasaan, berhubungan dengan hati. Saat ini pun kita bisa dengan tiba-tiba memutuskan untuk bahagia. Orang yang bersyukur akan bahagia. Karena dia akan merasa malu manakala melihat hamparan kasih sayangnya yang membentang selangit raya, dan tak ada alasan untuk kita mengeluh dan memprotes tantang apa yang telah terjadi.

Pantaskah kita terus menerus mengeluh dan kecewa ketika pendapatan kita tidak sesuai yang kita harapkan, padahal sampai saat ini kita masih mempunyai bola mata, jantung yang masih berdetak, yang harganya tak terbeli. Maukah bola mata anda dibeli dengan harga 100juta? Niscaya bila kita harus meng-uang-kan nikmat sebuah bola mata, maka tumpukan emas tak akan ada artinya.

Oleh karenanya kita selayakanya mengucapak syukur. “Alhamdulillah”, atas nikmat yang Allah berikan. Bersyukur pun harus dilakukan setiap saat, karena nikmat Allah pun setiap saat terus mengalir, seperti terus berdetaknya jantung kita sampai sekarang, seperti terus bersinranya matahari. Lantas elokkah bila kita mengeluh, walau sekedar sebuah keluhan? Padahal nikmatnya mengelir deras tanpa henti.

Namun bersyukur bukan sekedar berterimakasih atas limpahan nikmat. Karena ternyata bersyukur tidak hanya membuat kita bahagia tapi bersyukur juga bisa membuat nikmat kita semakin bertambah. Artinya syukur dapat itu memberikan nilai tambah.

Ternyata, sekali lagi, syukur itu bukan hanya ucapan Alhamdulillah,tetapi syukur itu adalah kita melaksanakan peran kita atas nikmat yang begitu besar dengan melakukan yang terbaik atau memberikan yang terbaik. Kok bisa?

Mari kita melihat cara bersyukurnya Nabi SAW. Ketika Nabi SAW dijamin masuk surga apakah lantas dia akan beribadah ala kadarnya?. Justru dia semakin dahsyat ibadahnya, semakin luar biasa apa yang dia lakukan. Dia mensyukuri apa yang telah Allah Berikan dengan melakukan yang terbaik. Dia memberikan sholat terbaik, tilawah terbaik, dan kerja keras terbaik. Sekali lagi, He gave the best.

Syukur = Alhamdulillah + Do the best


Jadi, sebagai contoh, bila seseorang diberi nikmat kesehatan maka, dia akan berusaha terbaik. Dia akan malu bila bemalas-malsan dia akan semakin giat bekerja, semakin giat membaca, semakin giat beribadah. Sehingga apa yang ia dapatkan akan semakin baik dari hari-kehari. Bersyukur, bukan diam atau dalam kondisi konstan.

Oleh karena syukur membuat bahagia, maka bila anda tidak bahagia bisa jadi anda selama ini kurang bersyukur. Kurang bisa memperhatikan nikmat-nikmat yang meruah.

Juga bila anda merasa keimanan anda, ibadah anda dan “prestasi” anda masih terasa begini-begini saja, mungkin ini disebabkan selama ini Anda kurang berusaha terbaik alias kurang bersyukur karena syukur akan memberikan nilai tambah (barokah).

Dan yang perlu diingat salah satu ciri lemahnya iman adalah mengalami penurunan syukur.

Wallahualam,

Imam

Iklan

About Imam Santoso

I'am a metallurgist who love writing

2 comments

  1. fadhony anggo

    Nice posting mam…
    Terima kasih udah mengingatkan kita buat terus bersyukur.
    Alhamdulillah ya Allah.Sahabatku sudah mengingatkanku akan nikmat yang tiada tara Engkau berikan lewat tulisan ini.

  2. Candra

    terima kasih kak imam
    telah mengingatkanku betapa pentingnya bersyukur dalam hidup ini!
    Terima kasih……………..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: