Aku dan si IELTS (Part 1. kisah test IELTS international berkali-kali si dodol Imam)

Test IELTS International Pertama

Tahun Oktober 2007 setelah project Roll Royce di Cambridge dibatalkan (sebelumnya supervisor sudah menyuruhku siap-siap pergi dan bahkan aku sudah membuat passport ini dan itu), aku langsung berubah haluan untuk memilih sekolah. Walaupun sekolah di Cambridge gak jadi, namun tetap ada jalan lain. Beasiswa ADS, beasiswa sekolah ke negeri kanguru. Saat itu 6 hari sebelum penutupan pendaftaran. Pas banget. Tanpa fikir panjang aku langsung mencari formulirnya.

Seniorku yang sangat baik hati langsung memberikan formulirnya

Salah satu persyaratan beasiswa:

Untuk melamar ADS, nilai minimal IELTS instutional harus 5 atau TOEFL instutional 500. Bila lulus seleksi beasiswa , peserta yang IELTS-nya dibawah 6.5 akan dikursuskan.

TOEFL Instutional dengan skor 500 untuk syarat pendaftra bisa aku lalui. Setelah test TOEFL dua kali di salah satu lembaga bahasa inggris di Bandung akhirnya dapat juga 513, cukup untuk daftar.

Hahaha, tes 1 minggu yang sebelumnya hanya 485. Dan test 4 tahun sebelumya, tahun 2003, skorku adalah 421, test yg dilakukan untuk mahasiswa baru di ITB. Dengan skor 421 kala itu, aku didapuk masuk kelas English paling buncit saat kuliah semester satu, kelas reading 7.

Sedang anak-anak yang nilai TOEFL nya diatas 500 (umunya teman-temnku dari kota) masuk kelas bergengsi yaitu kelas presentation dan writing. Sebagai anak pedalaman yang saat itu kurang sadar akan pentingnya English, akhirnya harus berjibaku dengan English, sangat tiba-tiba, seperti orang tidur yang tiba-tiba disiram seember air, langsung terbangun. Byuuuuur, glegeb..glegeb. Bagaimana tidak karena text book kuliah di ITB kebanyakan berbahasa English. Salah satu yang aku sesali saat lulus kuliah S1adalah, “dulu selama kuliahpun aku tidak serius belajar English” (penyesalan selalu di akhir)

Dengan TOEFL Instutional 513 akhirnya aku kirim formulir lengkap beaiswa ke kantor ADS Jakarta, setelah 6 hari sebelumnya ribet lari sana-sini mulai nyiapin transkrip, ijazah, ngisi formulir sampai nyiapin si monster TOEFL.

Tiga bulan setelah itu, akupun lolos seleksi administrasi dan selanjutnya..Jreng…Jreng..jreng…Aku dapat surat dari ADS kalau akan ada Test wawancara dan test IELTS international pada bulan January 2008. Walaupun bayarnya sekitar 1.6 juta, tapi gratis, ADS yang bayarin.

Untuk mempersiapkanya akupun les di salah satu tempat kursus English di Bandung.

Kelas di hari pertama cukup menyenangkan, perkenalan ini itu, aku juga ketemu beberapa teman ITB.

Hari ke dua, practice test dimulai. Kita disuruh mengerjakan listening, bagian yang paling aku takuti. Ada 40 soal. Tau hasilnya?

Setelah test, teacher bertanya pada muridnya satu-persatu.

Teacher : “Neli, kamu salah berapa”,

Neli : “salah 8”

Teacher: “Dian, kamu salah berapa”,

Dian: “salah 10”

Teacher: “Sri, Salah berapa”,

Sri: ”Salah 10”

Teman-temanku rata-rata cuman salah sepuluhan. Aduh habis ini giliranku ditanya (dengan hati gelisah dan semrawut),

Teacher :”imam, salah berapa”

Imam : “betul sepuluh”,

Kerenkan jawabanku? sama-sama mengatakan “sepuluh”!

Pada hari ke tiga dan seterusnya aku menghilang dari kelas. Merasa aku perlu belajar sendiri dulu ditambah jadwal les yang tidak cocok dengan jadwal kerja di kampus, akhirnya aku mundur dari les. Kabuuuuuuuuuuuuur.

Tapi aku tetap percaya diri pasti nanti saat test IELTS International bulan Januari 2008 yang diteskan oleh ADS, pasti aku dapat lebih dari 5.

Bulan januari 2008, aku ke Jakarta Test IELTS International bersama sekitar 500 orang yang lain.

Test pertama, speaking test.

Saat itu, aku bertemu dengan teman-teman dari LIPI Bandung, ada tiga orang dan salah satunya adalah mbak Sukris, PNS muda yang tinggal di dekat kost aku. Kita pun baru tahu kalau kita sama-sama ikut ADS setelah bertemu di tempat test IELTS di Jakarta ini. Saat itu adalah speaking test. Mbak Sukris mendapat kesempatan lebih dulu dari aku. Setelah giliran aku selesai, aku turun dari tangga dengan wajah sumringah dan percaya diri karena yakin bahwa saat tes tadi aku merasa cukup ngewes.

Kemudian aku menuju lobi bertemu dengan mbk Sukris, bercerita hahahihi tentang topik masing-masing saat test speaking yang telah kita jalani. Mbak Sukris bercerita kalau topik test dia adalah tentang gardening alias bekebun, sehingga saat test speaking dengan native speaker, mereka berdiskusi tentang berkebun.

Kemudian Mbak Sukris dan temanya bertanya ke aku “Mam kalau topikmu apa”.

Aku menjawab “hospitality”.

Aku bercerita ke Mbak Sukris kalau tadi saat ditanya dan berdiskusi dengan si Bule tentang hospitality, aku cukup bisa menjawab dan aku yakin hasilnya nanti akan bagus.

“Aku tadi cukup lancar Mbak. Aku bercerita bahwa hospitality-nya penduduk di Jember sangat bagus. Penduduk sadar akan kesehatan, disana banyak rumah sakit (hospital) dan blab la bla. Pokonya aku, menceritakan tentang kesadaran kesehatan penduduk Jember yang sangat bagus. Kan hospitality, hospital alias tentang rumah sakit, ya paling-paling sekitar itu”, cetus aku.

Saat itu juga tiba-tiba Mbak Sukris berkata “ Mam kayaknya hospitality bukan tentang kesehatan atau rumah sakit deh”. “Trus apa Mbak?’, Tanya aku. Saat itu juga temanya mbk Sukris menjawab “arti Hospitality adalalah keramahtamahan”.

Saat itu juga wajahku layu dan tidak lagi sumringah dan terbayang skor berapa yang akan aku dapatkan nantinya. Saat hal ini aku ceritakan kepada dosenku, dosenku malah tertawa dan berkata “Jangan-jangan saat anda ditanya tentang rest room anda akan menjawab dan berdiskusi tentang ruang istirahat”. (rest room = toilet)

Hari kedua test listening, reading, writing. Dilaksanakn disebuah auditorium gedung Sentra Mulia, yang ruangnya terkenal sangat dingin. Membekukan tulang, mempercepat metabolisme tubuh sehingga banyak orang bolak-balik harus ke kamar kecil sebelum tes dimulai, termasuk aku.

Selepas test aku cukup bisa mengerjakan soal reading dibanding listening (tentu saja) dan writing.

1 bulan kemudian aku mendapat surat yang isinya kurang lebih “…..maaf anda belum sukses untuk mendapatkan beaiswa ADS pada kesempatan kali ini…”.

Saat itu dikirimkan juga sertifikat IELTS bertuliskan “Listening 5, reading 6, writing 5, speaking 6. Total Band Score 5.5”.

Ternyata aku gagal pas wawancara akhir, bukan pas tes IELTS nya karena skorku cukup.

Test IELTS International ke dua

“Kalo melamar perempuan belum sampai 10 kali ditolak itu namnya belum melamar” itu kata temanku dulu sekali, saat dia bolak balik gagal melamar untuk calon istrinya. Paling tidak motto ini akan aku gunakan untuk melamar biasiswa.

Belum sempat apply beasiswa yang lain, aku mendapat email dari seniorku kalau perusahaan Belgia yang bercabang di Australia sedang mencari seorang metallurgist yang mau disekolahin di UniSA, Adelaide, untuk riset dan nantinya berkesempatan bekerja diperusahaan asing tersebut di luar negeri. Aku pun tertarik, aku langsung melamar dan ternyata aku yang dipilih oleh perusahaan itu.

Lagi-lagi untuk sekolah di UniSA, skor minimal IELTS haruslah 6,5. Karena waktu yang mepet, akhirnya perusahaan mengkursuskan aku di IALF Jakarta selama satu bulan, berharap bisa mendapat skor IELTS 6,5.

Aku pun kursus, sesekali aku harus bolak-bali naik travel Jakarta Bandung seminggu 3 kali karena ada meeting dan pekerjaan yang mengharuskan aku di Bandung. Setelah satu bulan les, akhirnya aku harus test IELTS international yang kedua kali bulan Juni 2008. Tetap gratis dibayarin perusahaan.

Hasil tesnya naik : “Listening 6, Reading 6, Writing 6, Speaking 6. Total band score 6”

Test IELTS ke 2


Tetap saja hasil itu tidak membantu banyak, karena di UniSA skor IELTS total untuk masuk sana harus 6,5.

Sehari setelah hasil test keluar, aku langsung meng-email perusahaan tentang ini. Mereka pun langsung menyuruhku tetap berangkat ke Adelaide dengan conditional offer dari UniSA yang isinya aku harus les English di sana sebagai pengganti IELTS 6.5.

Setelah berlebaran di kampung, Oktober 2008 aku berangkat ke Adelaide, untuk mengikuit kursus bahasa CELUSA, UniSA selama 3 bulan, dengan harga yang cukup lumayan, dan setelah itu, bila lulus les, baru bisa kuliah. Les-nya cukup melelahkan.

Walapun sempat gagal juga di tes akhir ujian, dan les lagi untuk yang kedua kali, setelah bekerja keras akhirnya aku lulus CELUSA juga. Untuk dapat menggantikan IELTS 6,5 maka aku harus dapat skore 65% di ujian akhirnya dan alhamdulilah di ujian ke dua aku dapat nilai 72%.

Oiya sebelumnya aku telah dapat offer dari UniSA kalau risetku sebenarnya harus dimulia Januari 2008. Tapi apa yang terjadi.

Drama baru terjadi, bulan Maret 2009 aku mendapat email dari boss-ku

Hello Imam,

I am sorry for my very late reply.

I will be in Adelaide next week, on Thursday 5 March and would like to catch up with both you and… I would like this opportunity to sit down with you both to let you know what is happening in Magotteaux with the global financial crisis.

I am sorry to have to break this news to you by email, as I would prefer to do this face to face. Unfortunately, I have been asked to cut my budget significantly in an effort to reduce costs. To reach my budget target my manager in Belgium has requested that we stop all research in the short term. This means that I am unable to fund the project that you were going to do at the Ian Wark Research Institute this year. I have sufficient money in the budget for you to finish your English language course, and provide you with an airfare back to Indonesia, but I can not fund the project at this stage.

I am very sorry about this and hope that this does not cause you too much distress.

If you have any questions please don’t hesitate to contact me.

Thanks for your patience and understanding.

Best wishes,

Karena krisis global tahun 2009 silam, yang menghancurkan perekonomian Amerika, dan menggangu perusahaan-perusahaan tambang dan minyak di dunia, akhirnya berdampak juga pada perusahaan yang mensponsoriku.

Aku harus kembali ke Indonesia, beasiswa dihentikan.

Lantas apakah aku menyerah? NO WAY

Bersambung,

Iklan

About Imam Santoso

I'am a metallurgist who love writing

11 comments

  1. danang

    haha lucu kak pengalaman lo..
    jangan nyerah kak,orang sukses pasti susah dulu pertamanya
    gw juga jadi banyak belajar dari pengalaman lo ini,tapi pastinya gw bakal lebih sukses di bagian english tests nya hohoho..
    kapan lo mo nulis lanjutannya?ntar klo udah ada sambungannya kasi tau gw lagi yak

    smangat trus kak!!!

  2. Danang, semangat hahah. itu sambunganya udah

  3. dudung

    Kak imam terus lanjutannya mana? Kaimam skrg dimana sih? Setuju sm danang jugaa hahaha

  4. Dwi Karsa Agung R.

    keep trying dude..till you forget when you failed

  5. Nosal

    boleh tau biasanya waktu pendaftaran beasiswa ADS bulan apa? trims

  6. Handrie

    asli ngakak waktu sampeyan cerita ttg HOSPITALITY, wkwkkkk….

  7. pipit

    mas imam ceritanya lucu dan menginspirasi. mas, ada tips2 gitu ngga biar skor toeflnya bisa gede?

    • Latihan dan terus latihan. cari buku2 yang disukai utk dibaca, misal majalah NG. kalo dengar lagu sambil belajar lyricnya. sering2 lihat berita bhs inggris. trus beli buku latihan test tOEFL hehe

  8. sarrisa pelnia ulfha

    hi mas imam..
    bisa kasih tips ngga mas, apa yang harus di test dulu, TOEFL atau IELTS ?
    kalo boleh kasih refernsi dong tempat test TOEFL/IELTS yang bagus skaligus biaya terjangkau?
    apakah setiap test tersebut selalu diberikan pelatihan/workshop?

    thanks for attention
    best regards,
    sarrisa

  9. salam perjuangan mas Imam…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: