Aku dan si IELTS (Part 2. kisah test IELTS international berkali-kali si dodol Imam)

Sambungan dari Aku dan si IELTS (Part 1. kisah test IELTS international berkali-kali si dodol Imam)

Test IELTS International Ketiga

Email dari bos ku cukup menyentakkan dadaku.

Nafas ku bergetar. Kuhirup dalam-dalam ruangan dingin kelas interneet pool di City West Campus sambil ku ulangi membaca. Telunjukku memutar-mutar skrol mouse kumputer sambil ku pelototin layarnya.

“Imam kamu harus segera mengemasin barang-barangmu. Kamu harus segera pulang ke Indoneisa. Program mastermu ditunda dulu”, gumamku

“Sampai kapan”, aku terus bertanya di hati

Segera aku keluar gedung kelas itu. Gedung kelas berarsitek tua khas eropa. Tangganya yang lebar dengan piano di pojok tangga. Seperti rumah-rumah hantu, menambah semakin horror saja. Dan foto-foto pendirinya yang dipajang di setiap dinding seakan melotot kepadaku. Seram-seram wajahnya, foto hitam-putih. Seolah mengucap “see you, poor you Santoso”.

Namun keyakinanku yang selalu mangatakan pasti ada hikmah dan kebaikan dalam semua yang terjadi. Tuhan tahu dengan pasti apa yang terbaik. Sejarah hidupku sejak kuliah selalu aku jadikan pelajaran.

Berjalan dengan wajah merunduk, sekitar pukul 10 malam kuputuskan pulang. Jalanan Rundle Mall Adelaide yang sepi, diselingi musik di tiap sudut jalan dengan lampu-lampu redup yang disusun sedemikian rupa sangat romantis, membuat kisah hidupku seolah dalam adegan drama korea. Seperti seorang lelaki yang ditinggal kekasihnya kemudian menyusuri jalan kota dengan lampu-lampu warna-warni dan sesekali menengadahkan wajah ke langit, berbicara dengan bintang .

Sesampai di rumah, seperti biasa kalau mendapatkan berita sedih atau senang, aku selalu susah tidur. Paling tidak membutuhkan waktu sehari untuk bisa kembali seperti biasa.

Besoknya, aku segara mengirim kabar kepada para dosenku dan seniorku tentang status kuliahku yang dihentikan gara-gara global financial crisis. Seperti yang ku duga, seniorku memberi respon yang luar biasa. Seorang diantaranya mengatakan bahwa salah satu dosen di salah satu universitas di Australia akan menjadikanku calon mahasiswanya. Aku pun kembali ceria (heheh, dasar manusia)

Seolah gayung bersambut, aku langsung berkorespondensi langsung dengan calon supervisorku yang baru itu. Dan dia menyuruhku memasukkan aplikasi lamaran sekolah dan beasiswa yang ada di universitansya.

Dengan penuh semangat 45 segera aku browsing dan mendownload semua formulirnya. Namun hati kecilku mengatakan

“Pasti tetap butuh IELTS 6.5 dengan tidak ada skor yang dibawah 6, karena sertifikat CELUSA ku tidak akan berlaku di tempat lain”

Dan ketika aku baca persyaratanya, ternyata memang benar. Wow

Tapi itulah kenyataan, namnya juga mau kuliah di negeri orang, apalagi melakukan penelitian.

“Kamu harus punya bukti kalau kamu mampu berbahasa inggris dengan baik dan benar “, kataku pada diriku sendiri.

Calon supervisorku mengatakan agar aku segera ikut test IELTS, memasukkan formulir beasiswa dan segera masuk kuliah semester depan kalau bisa.

Jiwaku bangkit lagi.

Walaupun aku pulang ke Indonesia, paling tidak aku bisa kembali lagi ke Ausi untuk sekolah. Tentunya bila IELTS nya 6.5 dan tidak ada nila yang dibawah 6.

Saat itu aku yakin sekali akan hasil test. Bagaimana tidak tinggal di Australia selama 6 bulan lebih dan telah lulus CELUSA paling tidak IELTS-ku akan meningkat.

“Paling tidak meningkat 0.5 lah dari sebelumnya yang 6, sehingga menjadi 6.5”

Sesampainya di Indonesia, aku segera ke IDP Sulanjana, tempat yang sering aku datangi 7 bulan lalu sejak mulai daftar IELTS, test, sampai mengurus visa. Ketemu lagi deh dengan ibu yang disana.

“Lho..Mas Imam mau daftar IELTS lagi, bukanya dulu sudah pergi kesana Mas? Tanya ibunya.

“iya buk, saya mau pindah sekolah, harus tets IELTS lagi, sertifikat les ku tidak berlaku di uni yang lain”, jawabku.

Lima hari setelah daftar akhirnya aku masuki lagi ruangn itu. Ruangan berukuran 4 m x 6 m. Ruangan yang sama seperti 7 bulan lalu. Dengan kursi-kursi ditata jarang. Ada nomer dan foto di atasnya.

Inilah saat-saat yang ditunggu-tunggu, test IELTS international ke 3 ku. Penentuan apakah aku bisa kembali lagi semester depan.

Saat test, kondisku agak tidak enak, tapi cukup fit untuk mengikuti tes. Hanya saja saat itu aku batuk. Seperti biasa, sindrom pulang kampung yang hampir dialami sebagian besar orang. Saat pulang dari negeri yang bersih dan kembali ke negeri yang penuh polusi dan mempunyai kelembaban yang tinggi dimana bakteri mudah tumnbuh, seseorang biasanya akan sakit. Bukan manja atau gimana. Biasanya penyakit yang menyerang adalah ispa. Baru-beberapa hari setalah daya tahan tubuh meningkat, biasanya seseorang bisa kembali seperti biasa.

Test pun selesai. Its done

Paling tidak aku bisa menyelesaikan soal reading dengan lancar. Yang lain bagaimana hasilanya?tunggu sajalah 13 hari lagi.

Yang jelas bila aku tidak dapat nilai 6.5 atau bila ada nilai yang dibawah 6, kesempatan ku untuk kuliah lagi semesetar depan akan terbang.

Akhirnya sampai juga di hari ke 13 setelah test, saatnya aku ambil hasil test.

Dengan tangan gemetaran aku terima hasilnya. Lembar bewarnau hijau tipis dibungkus dalam sebuah amplop cokelat berukuran A4. Tanpa fikir panjang aku langsung membukanya.

Aku kaget.

Ada nilai yang sangat di luar duga’anku. Ku pelototin skor itu, aku masih tidak percaya.

Aku langsung teringat tetanggaku yang setelah pulang dari Malaysia, dia sangat fasih berbahasa melayu. Wati namanya. Selepas pulang jadi pembantu rumah tangga dari Malaysia, dia berbicara bahasa melayau bahkan saat berbelanja di toko kelontong di kampung. Wati susah berbicara Bahasa Indoneisa. Bahasa melayu itu sepertinya cukup meng-hardwired di otaknya.

“Ambil itu satu, ambil itu satu”, gaya Wati saat berbelanja di toko sayur sambil menunjuk barang yang ingin dibeli, khas dengan cengkok melayu. Pokoknya Siti Nurhaliza banget ngomongnya.

Beda lagi dengan Kariadi, tetanggaku yang tiap hari berbahasa jawa tapi tiba-tiba jadi ngomong bahasa Indonesia setelah pergi merantau 2 tahun di Bali.

“Apa yang terjadi padaku”…oh tidak. Aku salah prediksi kali ini.

Skor speaking test ku turun menjadi 5.5. Aneh bin ajaib, pergi ke negeri orang bukanya ngomong Englishnya jadi bagus, tapi malah jadi jelek. Kontras dengan kasus si Wati atau Kariadi yang pulang-pulang jadi mahir berbahasa rantau.

Aku salah target, aku lupa bahwa selama di Australia, aku tinggal dengan orang jawa, pulang pergi ke kampus dengan orang jawa. Mainpun banyak dengan orang jawa.

I have been speaking Boso Jowo during in Australia

Oh may god, dulu saja saat aku speaking test tentang hospitality aku dapat 6. Secara nilai, bila aku mendapat 5.5 artinya speakingku lebih buruk dari test sebelumnya.

Uang 1,7 juta melayang sudah, hasil tets ku tak berguna. Sertifikatku seperti seonggok kertas hijau yang hanya bisa laku kalau dibuat bungkus kacang. Itupun baru laku kalo di kiloin dengan kertas-kerta slain.

Harapan untuk segera ke Ausi-pun harus segara aku peti eskan dulu. Segera ku kabari supervisorku. Dan dia membalas emailku

Dear Imam,

I am sorry to hear the news regarding the IELTS score from you. Unfortunately, the rule regarding the english requirement is quite strict in the University (and in Australia). ……………………….Therefore, I encourage you to take English course in Indonesia first to improve your english. Then take the IELTS test again. I encourage you to apply after you pass the english requirements.

Please keep me updated with the progress.

Kind Regards,

Aku harus belajar lagi
Aku disarankan untuk kursus lagi.
Ya Allah, bisa-bisa aku tua di atas kursi kursus
Akankah aku menyerah?No way

Bersambung

Aku harus belajar lagi




Iklan

About Imam Santoso

I'am a metallurgist who love writing

10 comments

  1. neli

    hahahahaha…
    tengkiu, critone. it indeed put a smile.
    salam buat wati ye!

  2. Fatrian R. Rusydy

    Ceritanya inspiratif, mas imam…!!! Semoga akhir ceritanya bahagia. =)

    P.S. Ini mas imam gurunya aris dulu atw bukan yah?

  3. Fatrian R. Rusydy

    Milis IA, mas imam…
    Sukses juga ya…
    Ajak2 kalo uda di australia.
    Ɨƚε ټ Ɨƚε ټ Ɨƚε ..

  4. ups

    i wonder the next part ^^

  5. makh

    ternyata berulang kali gagal tho.
    Inspirative ceritanx

  6. syaravinalubis

    Wah mas Imam Santoso,
    kita punya nasib yang sama berkaitan dengan hasil test IELTS, saya udah dua kali tes, masih belum menuhin syarat juga, persis dah overall score nya, dari 5.5 jadi 6, dan tetap aja bukan 6.5, stress rasanya klo dipikir2 terus stuck gara-gara IELTS ini, hasil ujian saya pun hanya terletak begitu saja, saya berencana untuk ikut test IELTS lagi yang ke tiga kalinya dengan persiapan practice dan practice pakai buku2 IELTS yg penerbitnya Insearch English, tp tetap aja trauma mau ujian lagi, sakit nya itu, sampai tak tenang, takut buang duit lagi 😦 kadang terpikir juga oleh saya, bagaimana lah orang-orang lain itu bisa dapat nilai IELTS di atas 7, mereka tampak seperti tidak ada beban dan tidak ketakutan bahkan nampak sperti tdk peduli dgn tes nya dan ntah kenapa mereka dapat nilai 7 keatas, saya pun mau seperti mereka, ingin bertanya rasanya tentang rahasia nya, saya juga udah bulak balik les tp masih was was juga dengan hasil saya 😥 sungguh menyedihkan, tapi kita gak boleh menyerah, itu lah hidup, harus percaya, man jadda wa jadda, insya Allah pasti bisa! Keep moving forward for us!!

    Salam kenal dari Medan ya mas Imam Santoso!!
    Ps: mana lanjutan part 2 nya mas? Ditunggu ni part 3 nya yang inspiratif dan memotivasi ;D

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: