Bagian IV. Penyesalan Terbesar dalam Hidupku

Sambungan dari Bagian III. Dikarantina Di Negeri Antah Brantah

Dipalak preman di Bungorasih cukup sudah, tapi untungnya di bagian saku dalam masih ada uang Rp. 50.000 , cukup untuk pulang ke kampung. Kampung tercinta “Watukebo”

Aku tinggal di Desa Watukebo. Watu artinya batu dan kebo artinya kerbau. Berdasarkan cerita diberi nama watukebo karena ada batu yang besar sekali seperti kerbau. Dan batu ini benar-benar ada. Tapi anehnya batu ini terletak di desa sebelah yang bernama desa Pontang . Kenapa kok Desa Pontang tidak bernama watukebo ya, padahal batunya di sana. Sesekali saat libur sekolah aku pergi ke Desa Pontang untuk melihat batu berbetuk kerbau yang seukuran kontainer minyak ini.

Tiga kilometer dari desa Watukebo, ada gunung yang tidak begitu tinggi. Gunung tempat para penduduk kota jogging di pagi atau sore hari. Dan tepat dipuncak gunung ini, ada dua buah batu besar yang bersanding serasi, yang menjadi titik pandang mata kala melihat dari kejauhan. Batu itu seperti dua buah menara kembar. Tapi bila dipandang dari dekat, batu itu sebenarnya sebuah batu besar yang terbelah dua, sehingga penduduk menamainya Gunung Watupecah.

Empat belas km kearah selatan Dusun Watukebo ada pantai indah dengan ombak yang besar yang selalu meminta korban setiap lebaran ketupat. Lebaran ketupat di Jember dilaksanakan 7 hari setelah idul fitri. Di pantai tersebut, terdapat batu besar yang memanjang, seperti ular raksasa tanpa kepala, sehingga pantai ini diberi nama Pantai WatuUlo (Watu = batu, Ulo = ular)

Menurut legenda, dahulu ada ular raksasa yang terpenggal kepalanya, tubuhnya tertinggal di pantai ini dan menjadi batu. Sedangkan kepalanya terbang ke Banyuwangi ( sebuah kabupaten di sebelah Jember) jatuh di Pantai Rajekwesi dan menjadi sebuah gunung kecil di sana. Pantai Watuulo terletak di dekat Sukamade, salah satu tempat penangkaran penyu terbesar di Indonesia. Daerah yang sangat menakjubkan,dengan teluknya yang berwarna hijau mengkilau indah. Disaat bulan purnama, pantainya akan dipenuhi piringan-piringan hitam yang bergerak, ratusan jumlahnya, ada yang sebesar meja berdiameter 1 m. Piringan para penyu, bergerak dari laut menuju pantai pasir untuk bertelur.

Walapun banyak tempat bernama Watu (batu), mulai dari Watuulo, watupecah dan watu kebo, daerahku bukan daerah bebatuan. Disana ada perkebunan karet, kakau, kelapa dan nangka yang dikelola oleh perusahaan negara. Udaranya sejuk. Tambakau Jember terkenal sampai Bremen . Hasil coklat dan Kopi diekspor ke mancanegara. Belum lagi karet dan hasil bumi lainya.

Aku sebenarnya tinggal di sekitar hutan lindung Merubetiri. Hutan lindung yang masih asri, dengan pepohonan yang besar dan binatang-binatang yang eksotis. Terdapat juga jeram-jeram dengan bebatuan besar. Merubetiri juga mempunyai telaga yang indah, tempat yang pas buat memancing kepiting dan bermain kayak. Merubetiri sangat asri.

Bahkan ada daerah yang masih belum terjamah banyak orang dan katanya sangat angker. Penduduk menyebutnya daerah Gunung Sukmoilang (sukmo= nyawa, ilang= hilang) karena banyak orang yang masuk hutan dan tidak pernah kembali lagi. Nama lain yang diberikan penduduk adalah Hutan Gong Lewang-lewong (hutan virgin). Hutan Gong Lewang lewong mengandung kekayaan yang tak ternilai, sumber plasma nutfah. …amazing biodiversity.

Rumahku terlatak di bagian paling selatan Dusun Watukebo. Perlu skill tinggi untuk sampai di sana. Tidak ada nama jalan dan gang. Temanku sering tersesat di tengah sawah atau masuk ke jalan buntu ketika mencari rumahku. Ada sungai dan hamparan sawah di belakangnya. Bila aku berdiri di belakang rumah dan memandang ke selatan akan terlihat Gunung Sabrang dengan igir-igirnya yang runcing. Bila berbalik badan, akan terlihat Gunung Watu Pecah dengan menara di puncaknya.

Itu lah dusunku , dusun watukebo di dekat taman nasional Merubetiri, di Jember Selatan

************************************************************

Waktu aku kecil, ada seorang tetangga, Pak Parman namnya, memangilku ”Debleng gigis” (e dibaca seperti e pada kata enak)

Aku tak tahu Debleng sampai saat ini, kucari di google boso jowo pun masih belum kutemukan artinya.

Kalo gigis aku tahu. Gigis artinya gigi depan habis.
Aku sejak kecil hampir tidak pernah minum susu formula. Asi adalah minuman ku. Namun setalah air susu ibuku tak lagi mengalir aku mempunyai minuman lanjutan baru.

”mik wo”
’mik wo”
”mik wo”

Kata-kata yang sering ku ucap sampai aku kelas satu SD.

Mik wo artinya mimik air gulo. Karena masih kecil, kata mimik berubah jadi mik dan gulo (gula) berubah jadi wo. Mik wo artinya aku minta minum air gula.

Disetiap malam saat aku terjaga pasti aku menangis minta mik wo, dan nenekku selalu sabar membuatkanya . Tak tanggung-tanggung, 1 kg gula pasir akan habis dalam satu minggu.

Jangan sekali-kali bila aku terjaga, aku diberi air gula kurang manis. Pasti aku akan teriak
”kurang manis, tambahin gulanya”. Dan bila tidak dituruti tangisanku bisa membangunkan orang sekampung.

”Kurang lembut, kurang lembut”
”di deplok (ditumbuk) lagi yang keras”

Yel –yel ini keluar bila airgulanya tidak manis namun masih ada banyak butir-butir gula di bagian bawah gelas.

Nenekkupun segara menyambar gelasku, dengan sendok disebelah kanan dia mulai mengaduk dengan full power sampai terdengar di telinga bengalku suara penumbukan gula oleh sendok baja.

Baru setelah itu aku laga. Suara prok-prok yang keras itu meyakinkan si anak yang kebangetan bahwa gula telah diaduk dan larut sempurna. Aku pun tak tahu, kenapa aku begitu.

Masa kecilku tak lepas dari gula, jadi wajar bila aku gigis. Gula yang berada di gigi bila tidak dibersihkan akan berubah menjadi asam yang siap melarutkan enamil, lapisan gigi yang paling luar. Sehingga munculah gigis seperti gigiku. Atau, malas menggosok gigi, asam dari gula ini akan membuat gigi berlubang. Ayo rajin gosok gigi!!

Akhir Kelas 1 SD adalah saat dimana ketampanan masa depanku di tentukan, karena menurut pendapat orang susunan gigi adalah penentu genteng tidaknya orang. Saat itu gigi susu akan diganti gigi baru.

Aku tak peduli. Hingga akhirnya saat gigi baru muncul dan gigi gigisnya masih ada, aku baru sadar bisa-bisa aku nanti jadi Butho Cakil (Raksasa menyeramkan dengan gigi besar dan tajam).

Gigi gisisku tidak bisa dicabut manual. Tidak ada bagian yang bisa dijepit atau diikat dengan benang. Banar-benar rata gigisnya. Hari demi hari gigi baru muncul, dan tetap, gigi gigis hitam tak bisa dilepas manual. Hingga akhirnya bibiku membawaku ke puskesmas untuk mencabut gigi gigisnya. Ada yang pas waktunya ada juga yag terlambat. Tau-tau sudah ada gigi baru yang panjang dibelakang gigi gigis, sehingga gigi seriku saat ini agak masuk ke dalam. Tidak rata di depan.

Saat itu banyak saran muncul agar gigiku bisa agak kedepan, ada yang bilang didorong dorong pake lidah saat buang air besar. Mungkin yang memberi nasehat mengira, bahwa saat mengeluarakan pulp adalah saat tenaga dalam ekstra dikerahkan. Ekstra yang bisa digunakan untuk mendorong pupl dan gigi dengan lidah. Aku pun mencobanya. Namanya juga anak kecil berumur 6 tahun.

Diatas toilet jongkok, suara terengah-engah terdengar

“Heeeeeeeeeek, heeeeeeeeeeeeeeeeeek”, muka merah, sambil mengeluarkan pulp dan lidah menjulur keluar mendorong gigi
(tolong jangan dibayangkan apa lagi dicoba dirumah)

Tapi gigiku tetap saja tak mau maju. Hingga saat SMP aku baru tahu ada namnya kawat gigi untuk memperbaiki susunan gigi. Bukan dengan teknik “jongkok-melet”.

Saat SD tubuhku kecil, giginya besar besar, gigi seri bawah ada yang didepan dan belakang, dan gigi atas saling bersilang, seperti anyaman rotan. Saat SMP guruku pernah bertanya ” Mam kok untumu sak pethel-pethel ” (mam kok gigimu segede-gede palu)

************************************************************

Aku bandel. Hampir tiap hari mandi di kali dan keluyuran di pekarangan. Sangat sering aku pulang rumah dengan celana pendek bolong di pantat, karena selain mandi di Sungai Mayang, aku juga maen perosotan di cadas pinggir sungai. Dengan posisi cadas yang tinggi sekitar 5 meter dan kemiringan curam, saat musim hujan, peorsotan di sungai ini seperti water boom. Bukan plastik polimer berisi air deras sebagai tempat meluncurnya, namun cadas licin berlempung dangan air hujan deras sebgai gantinya, meluncur dari atas tebing dengan celana pendek.

“Sruuuuuuuuuuuut, Byuuuur”, mencebur ke sungai.

Jadi tidak heran bila celanaku jadi berlubang selebar piring, karena kainnya termakan cadas licin. Hampir tiap musim hujan aku begitu, dan hampir setiap saat bibiku membawa pecut.

Kakek dan Nenekku penyabar dan penyayang. Pagi sampai sore hari mereka bekerja disawah, menghidupi 7 kepala, tiga anak perempuannya, aku yang berbau kencur dan satu orang jompo, yaitu eyangku (bapak nya kakek ku).

Tiga anak pempuan itu adalah bibi-bibiku. Dua anak perempuan terdahulunya (salah satunya ibuku), meninggal karena sakit. Hampir semua nama anaknya bernama siti. Siti dalam bahasa jawa artinya tanah. Siti Rokhanah, anak pertama meninggal saat masih SD karena sakit, dan telat untuk diobati. Siti Markhamah(ibuku), meninggal saat aku TK nol kecil karena penyakit liver. Dan tiga anak yang masih ada, Siti Kholifah, Siti Kurmiah dan Ismi Henik.

Menurut cerita bibiku, tiap musim kenaikan sekolah kakekku akan menjual sapi. Uang hasil penjualan sapi akan pas untuk membiayai biaya ujian, dan seragam anak-anaknya. Nyaris tak tersisa. Karena saat Siti Markhamah SMA, maka Siti kholifah di SMP, Siti Kurmiah di SD dan si Ismie henik di TK dan sa’at itu kelima-limanya secara kompak mebutuhkan uang.

Saat lebaran, baju baru semua putrinya adalah seragam sekolah. Seragam sekolah ini dipakai saat idul fitri untuk berkeliling mengunjungi famili.

Anak orang zaman dulu banyak-banyak. Seperti slogannya ” banyak anak-banyak rejeki. Namun anak kakekku masih relatif sedikit di banding anak saudaranya yang berjumlah 12.

Bagi kakek, pendidikan anaknya adalah nomer satu. Hasil bertani akan disimpan dan diinvestasikan dalam bentuk sapi yang bisa dijual lagi menghadapi tahun ajaran baru. Hasil bumi juga akan dibelikan tanah pekarangan. Kakek menunda merenovasi ramah, sehingga kami harus tinggal di rumah yang nyaris roboh. Ia ingin bisa menyekolahkan anak-anaknya sampai lulus. Rumah dari pohon bambu (gedeg), berlantai tanah, tiang-tiangnya banyak yang keropos dimakan rayap, diikat dengan tali temali. Ketika hujan angin, rumah juga ikut bergoyang-goyang. Bocor di mana-mana. Tidak pake listrik. Belajar hanya pake lampu dari minyak tanah

Mungkin saat itu adalah hari yang ditunggu setelah 30 tahun. Tiba-tiba harga cabai melejit mencapai Rp.5000. Satu dolar masih sekitar Rp.2000an dan harga barang-barang masih murah meriah tanjung kimpul.

Sawah kami terletak di kaki Gunung Sabrang dan di dekat sungai Mayang, sungi terbesar di sana. Cabe yang ditanam adalah cabe merah besar dengan luas area tanam ¼ hektar. Karena letaknya yang di gunung dan tidak ingin cabenya dicuri, akhirnya sawah kita pun dipagari. Belum pernah ada disana, sawah berisi cabe yang dipagar dengan bambu setinggi 3 m.

Tiap malam sawah kami juga dijaga oleh anak-anak pondok pesantren. Kebetulan keponakan kakek ada yang sedang mondok dan teman-temanya bersedia membantu menjaga sawah.

Bukan hanya itu, kakek membuat gubuk panggung setinggi 8 mater dengan tangga kayu jati dan beratap daun kelapa. Selain sebagai tempat istirahat, gubuk itu berfungsi sebagai menara pengawas. Persis seperti situs harta karun dengan pagar besi dan tower pengintai. Dan saat malam tiba, lampu petromax dinyalakan dan di gantung di ujung gubuk. Gubuk berubah seperti mercusuar.

Peristiwa itu sangat bersejarah, dengan cabe ini kakek bisa mengumpulkan uang sekitar 7 juta’an akhirnya rumah tua reyot yang nyaris roboh bisa dibongkar dan diganti dengan rumah gedong

Sangking mahsyurnya panen ini sampai terdengar ratusan kilometer di Trengalek. Jalaranya adalah ada seorang anak pondok yang pernah membantu menjaga,mudik ke Ternggalek dan menceritakan peristiwa ini ke sana, ke kampung halaman kakek

************************************************************

Kakekku punya kendaraan idola. Sebuah sepeda kaki tua dengan palang segitiga dari besi utuh. Setir pendek dan jeruji coklatnya termakan karat. Tidak ada rem. Pedal juga usang, saat dikayuh kadang copot. Tidak ada penutup ban, sehingga saat hujan sepeda ini adalah alat sempurna untuk membatik baju dibagian punggung.

Sepeda itu ia miliki sejak menikah dan tetap dipakai untuk pulang pergi ke sawah. Boncenganya yg pendek, diperpanjang dengan kayu dikedua sisnya. Harapanya, sepeda itu bisa dugunakan untuk membawa apa-apa yg bisa dibawa dari sawah. Mulai bentalan kayu bakar berdiameter 50 cm atau sayur masur yg di ikuat di sebelah kanan kiri sampai tiga tumpuk karung goni berisi gabah. Sepeda itu yang selalu dia pakai setiap hari.

Saat kecil, senang rasanya bila aku di bonceng dibelakang. Aku selalu duduk berdiri dan berpegangan di kepala kakekku, sambil melihat dia mengkayuh pedal-pedal butut dengan semangat.

Yang membuatku senang adalah saat melewati Jalan Jojlokan. Jalan favorit kita bedua. Sebuah jalan sawah dengan kemiringan 30 derajat dengan panjang sekitar 100 m.

“Imam, pegangan yang erat”, kata kakekku. Ini artinya kita aku menuruni jalan jojlokan dengan kecepatan tinggi dan aku harus segera berdiri dan memegang erat leher kakeku, kadang ku jambak rambutnya agar berpegangan kuat.

“habis ini kamu akan saya bawa terbang” , katanya

Akupun segera bersiap, dan saat itu adalah saat paling isyik, adrenalinpun mengalir. Sambil berdiri di boncengan belakang, kucengekeram leher kakeku. Ketika roda depan mulai menuruni jalan jojoklan saat itu dimulainya terbang dengan pesawat jet bermesin kaki, dengan kecepatan tinggi karena gaya grafitasi.

“Mabor (terbang)…Mabor (terbang)”, aku berteriak.
“pegangan yang erat, pegangan yang erat”, kakeku menyahut.

Kami terbang selama 5 detik. Di atas langit coklat dan penumpangnya bisa berdiri sambil memegang pilotnya.

Dan saat sampai di ujung jalan akan terdengar bunyi

“Teng-teng………teng- teng….teng-teng”. ..

Kakekku membuyikan bel canggihnya, sabit yang dipukul-pukulkan pada setir. Ini artinya kita sudah sampai bagian ujung jalan jojlokan. Dan bel ini memberitahu orang kalau ada pesawat yang meluncur kebawah dengan kecepatan maksimum. Dan setelah itu pesawatnya akan kembali pelan dan terbangnya telah usai. Dua buah Kaki yang keras dan berkapal segara memulai mengayuh pedal lagi.

************************************************************

Kakekku adalah orang hebat buatku. Dia adalah president bagi 3 anak perempuan dan cucunya, aku. Kakekku sangat mengutamakan pendidkan anak-anaknya. Penuh kasih sayang. Saat aku tidak diterima SPMB tahun 2002, dia rela mengantarkan aku di tempat nun jauh disana, agar aku bisa melupakan kegagalan testku yang pertama.

Saat itu umurnya sudah 70 tahun. Tubuhnya yang renta dan kulitnya yag keriput tak menyurutkan semangatnya untuk mengantarkanku. Aku tahu. Sebenranya dia tidak kuat menempuh perjalanan jauh ratusan kilo mater melewati pegunungan. Tapi dia yang memaksa sendiri untuk menitipkan aku langsung kepada keponakan-keponakanya di Trenggalek.

Setelah aku pulang dari ternggalek, kakekku hanya tertwa saat aku bercerita kalau aku dipalak preman di Surabaya. Dia hanya bilang ;
“ya gak papa, kamu les lagi sana di bimbingan belajar di Jember, minta tambahan uang Bapakmu, kamu harus sekolah yang tinggi, biar bisa jadi orang sukses dan bantu adik-adikmu”

Kakeku adalah ayah kedua bagiku, sejak kecil aku tidak tinggal bersama kedua orangtuaku, terlebih setelah ibuku meninggal. Praktis, aku hidup bersama keluarga kakekku yang bahagia ini. Nasehatanya kapada anak-anak selalu terucap dari bibirnya yang keriput.

Hinga sebuah peristiwa telah membuatku menyesal seumur hidup. Aku jatuh dari motor sendirian untuk kesekian kalinya di Jember. Lalu aku pulang dan suatu hal terjadi.

“Kamu naik motor tidak hati-hati, untung kamu tidak apa-apa, hanya lecet, sudah 5 kali jatuh tapi belum kapok-kapok”, kakek memarahiku.

Lalu sahut menyahut sebantar pun terjadi.

Setelah itu aku berniat untuk segera keluar rumah.
“Aku mau tidur di rumah Santi”, kataku .
Malam itu aku tidur di rumah nenek dari ayahku yang tinggal berdua dengan adikku, Santi.

Hingga besok siangnya tiba-tiba bibiku datang dengan wajah pucat dan lesu.

“Imam, Imam, Imam”, bibiku langsung turun dari motor dan segera membuka pintu depan.

Tidak seperti biasa, kenapa bibiku siang-siang datang kerumah adikku, dengan wajah pucat dan panik

“Aku ke sini menjemput kamu, kakek di rumah sakit, tadi pagi jatuh di lantai, sekarang masih belum sadar”

Tanpa fikir panjang aku ambil motor dan langsung ke RS Dokter Suebandi di kota.
Kekekku di dirawat di sana setelah sebelumnya dirujuk RS Balung .

Dengan mata berkaca-kaca sambil memutar gas motor, hatiku terus berguncang, “Ini salahku‘‘

Ku masuki kamar R305. Kulihat tubuh lelaki tua dengan rambut putih merata terbaring di atas kasur bewarna abu-abu dengan infuse yang menusuk kulitnya yang tipis dan dua selang oksigen di hidung. Aku mengenali wajah itu. Dia kakekku.

Ku ambil kursi. Ku pegang tanganya sambil mohohon kepada Tuhan agar dia segera sehat kembali.

Lima jam setelah aku duduk dia masih juga belum sadar. Beberap menit kemudian telunjuknya bergerak dan pelan-pelan matanya terbuka.Aku langsung menciumnya.

“kek ini imam, maafkan Aku”, aku terus berbisik lirih
lalu wajah yang tua itu tersenyum .Wajah itu ternsenyum lagi,

Dan semenjak itu, kakeku tidak bisa berbicara lagi seperti biasa. Dia terkena stroke. Setelah lebih dari dua minggu dirawat, akhirnya dia dibawa pulang.

Itulah peristiwa yang membuatku menyesal, mungkin aku telah membuat dia seperti ini. Dia jatuh beberap jam setelah aku meninggalkan rumah.

Dia bisa berjalan tapi sempoyongan. Jari kakinya tidak bisa lagi menjepit sandal. Walau pendengaran dan pandanganya masih bagus tetapi sebenarnya saraf motoriknya rusak

Jalanya tertatih, tapi kasih sayangnya tetap ia tunjukkan. Dia selalu tersenyum. Saat dia duduk dan menyandarkan badanya padaku artinya ia ingin kupeluk. Saat mengulurkan tanganya padaku, tandanya ia ingin dipijatin.

Dia terus bertahan dengan kondisi seperti ini sampai aku lulus kuliah. Walapun aku tidak bisa mengajaknya datang di acara wisudaku dan melihatku berdiri diatas podium berpidato di depan ribuan orang, tapi dia tersenyum dan menangis manakala aku pulang dan menunjukkan fotoku-fotoku menggunakan toga. Sepertinya dia senang melihatku telah lulus kuliah.

Kakekku bukan hanya motivator ulung. Jelas, dia adalah pahlawanku. Pengorbannya tak akan pernah bisa terbayarkan. Kenapa aku aku tetap semangat sampai saat ini? salah satunya aku ingin menjaga amanahnya agar terus belajar dan sekolah.

Bandung, Maret 2010
Telfonku bordering. Bibiku menelfon

“Mam, ini aku Mbak Nik. Kakek baru saja meninggal”

Kakekku meninggal hari selasa malam, selepas aku sholat isa’

Tuhan telah berkehendak. Belum sempat aku mewujudkan cita-citaku untuk memberinya foto-fotoku dengan toga ke dua dari luar negeri, Tuhan telah memanggilnya. Aku tidak sempat melihat dia dimandikan dan diantarkan di tempat peristirahatkan yang terakhir.

Andai aku bisa memutar waktu, ingin sekali bercerita dengan dia, bagaimana aku terbang dengan pesawat melintasi pulau dan benua. Yang rasanya seperti terbang dengannya di sepeda tuanya sambil menuruni jalan jojoklan. Dan berteriak “aku terbang…aku terbang”

Itulah sebagian kisahku, semoga engkau tidak meniru kebengalanku. Atau kamu akan menyesal seumur hidup. Kakekeku meninggal dengan jumlah pelawat yang luar biasa. 7 gelombang penduduk Watukebo mensholatinya. Saudar-saudranya dari Trenggalek juga datang. Dia mawariskan semangatnya yang luar biasa kepadaku. Dia selalu hidup dihatiku

Seorang anak kecil berlari menghampiri kakenya, pagi-pagi. Anak itu bertanya:”Kek tadi itu apa di langit?”. Kakek menjawab:”itu namanya bintang jatuh (meteor)”. Anak itu telah dewasa dan ingat akan pesan kakenya bahwa hidup itu singkat, seperti hujan meteor yang indah, membentuk garis-garis putih pada langit shubuh. Kemudian hilang dalam kejapan mata~Buat kakekku

Bersambung.

Iklan

About Imam Santoso

I'am a metallurgist who love writing

5 comments

  1. umi

    wahahaha ini panjang amat ya ceritanya..dipotong2 jd beberapa episode aja mas

  2. fadhony anggo

    Bagus juga mam kalo bisa dibuat novel.

  3. saya sukses nangis bacanya mas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: