Partikel13. Menuju Negeri Bintang Terbit

Dengan menarik koper tua yang baru saja ku beli di toko bekas segara ku turuni lift gedung kubistis Setia Budi Kuningan Jakarta dengan tergopoh-gopoh dan tangan gemetar.

“Ojeg mana Pak, ojeg mana Pak.”

“Di belakang gedung Mas”, balas satpam

Segara ku lari ke pintu belakang gedung.

“ojeg pak..ojeg pak”, kupanggil seorang bapak yang duduk di dibagian ujung deretan panjang motor-motor penuh debu, sambil lari terbirit-birit seperti di kejar anjing.

“Ke bandara Pak, antarkan saya ke bandara”,

Kemudian bapak itu memandangku sejenak sambil mengerutkan dahi pertanda bingung, lalu dia bertanya

“Ke bandara? Kok ke Bandara naik ojeg? kan Jauh banget Mas dan juga melewati Tol , tidak mungkin sampai di Bandara dengan Ojeg”

“Tolong saya Pak, 1.5 jam lagi saya harus sudah sampai di Bandara. Kalo memang tidak bisa, antarkan saya ke Tol terdekat mana saja yang menuju bandara.

Sambil menjinjing koper yang tak seberapa itu dan sesekali nyengar-nyengir menahan linu, aku dan pak ojeg pun melesat. Balapan tunggal di sirkuit sempit, dengan lalu lalang pedagang asongan dan anak-anak pengamen pun dimulai. Gerakan zig-zag nan lincah pak ojek dengan lihai membawaku menyusuri jalan-jalan tikus sekitaran Rasuna said, Jakarta. Sesekali miring tajam sembari mencengkeram besi dudukan. Tak sempat ku hitung berapa puluh kali tubuhku terpental dan terpelanting saat melintasi puluhan gugukan polisi tidur, memporak-porandakan makanan dan minuman di dalam perut.

Aku memilih ojeg bukan tanpa perhitungan, dengan posisi berada di kota macet Jakarta secara matematis tidak mungkin naik taksi dari gedung itu ke bandara dalam waktu 2 jam. Perempatan-perempatan setan bisa menghentikan ratusan roda-roda mobil, membuat deratan panjang ratusan meter tanpa putus satu depa. Bila aku naik taksi, mungkin usaha kerasku selama ini akan pupus. Mimpiku untuk sekolah ke luar negeri akan terhenti di jalanan sesak Jakarta, berbaris apik dengan mimpi-mimpi tidur orang Jakarta yang sudah lelah dengan kemacetan.

Aku dan Pak Ojeg pun terus meluncur, hingga ketika sampai di jalan utama Sudriman aku pun tersadar

“Pak, kok bapak tidak memberi saya Helm, Bila kena tilang gimana, Pak? Saya tidak boleh terlambat?”, Sambil kulihat Jam di HP ku menunjukkan pukul 17.45. Waktuku tersisa satu jam lagi.

Gelombang kepanikanku rupanya telah berhasil beresonansi dengan jiwa Pak ojeg. Dia ikutan panik setelah melihat aku panik, hingga lupa memberiku helm. Tapi kita pun terus melenggang.

Hari itu adalah hari kebirit sedunia. Pikiranku kembali saat di pagi jam 10.00 sebelumnya aku yang berposisi di Bandung mendapatkan telfon bahwa sore paling telat jam 16.00 harus sudah di Jakarta mengambil visa. Malamnya jam 19.00 aku harus sudah di Bandara karena pesawat akan take off jam 20.40. Tak disangka tak di nyana keberangkatan belajaraku ke luar negeri dipercepat. Yang seharusnya besok lusanya, hari itu aku harus pergi, tanpa pemberitahuan jauh-jauh hari.

Pakaianku masih ku cuci, berjajar panjang di kawat yang tersimpul di pohon nangka tua depan kosan. Kaos olahragaku masih kugantung berisimbah keringat di balik pintu kamar. Aku tak mungkin pergi keluar negeri dengan kondisi seperti ini. Bahkan, sekedar koper kecil untuk mebungkus dua tiga baju kering dan buku yang ada di rak aku pun tak ada.

Pagi itu ajang reality show ala TV pun di mulai, dibantu sobatku Bedel, dalam waktu 3 jam, aku berlompatan dan berlarian kesana kemari, tangan menyambar segala barang yang terlihat mata dapat berguna, mulai dari Toko Barang Bekas mencari koper, mini market mencari pakaian dalam, sampai tukang cukur, berbekal uang pesangon dari dosenku.

Setelah sampai di kosan, aku pun mengepak semua barang. Mulai dari baju basah, sepatu bau, dan beberapa baju dan handuk sumbangan teman kosan yang diberikan kepadaku karena melihatku kasihan tak punya banyak waktu mempersiapkan semuanya. Sebuah perjalan jauh ke negeri rantau hanya dengan persiapan 4 jam saja dan jangan tanyakan apakah aku membawa dollar.

Jam 13.30 aku naik travel dari bandung ke Jakarta dan akhirnya jam 16.45 aku sampai di Jakarta. Pak Ponco yang mengurus visaku menjadi orang terakhir di gedung itu menunggu ku. Setelah visa ditangan, aku memutar otak bagaimana caranya aku bisa tiba di bandara tanpa telat hingga akhirnya kutemukan Pak Ojeg itu.

“Pak, Toll apa masih jauh? cepat ya Pak”, Pak ojeg pun terus memutar gas motornya kencang dengan penumpangnya tanpa helm keselamatan di kepalanya.

Tapi, akhirnya balapan pun usai. Setelah motor sampai di sebelah jalan Gatot Subroto, segera ku cegat taksi dan kini aku meluncur ke Terminal II Bandara International Soekarnao Hatta.

Kurebahkan punggungku di kursi belakang taksi, sambil ku hela udara dalam-dalam dan meluruskan kaki kaku. Kaca belakang sedikit ku buka, agar semilir angin pantai Jayakarta bisa membawa pergi bulir-bulir keringat di wajahku. Tiba-tiba akupun tersadar bahwa aku belum sempat berpamitan dengan orang-orang di sekitarku. Segara ku ambli handphone yang batrainya tinggal segaris, satu persatu dosenku aku telephone. Belum sempat aku telfon keluargaku, batreku sudah habis. Untungnya masih bisa untuk mengirimkan satu sms untuk adikku

“Santy, Mas Imam pergi dulu, Bilangin Ayah besok aku insaallah sudah sampe, Wassalam, Imam”

Jantungku berdegup, aku tak sempat menyampaikan sepatah dua patah kata pada teman-temanku. Tak ada salam terakhir. Aku minghilang. Aku terculik waktu.

Sejam berlalu akupun tiba di bandara. Terlihat keluarga-kelurga pengantar memberikan pelukan cinta berbalut haru untuk putra-putrinya yang akan pergi menuntut ilmu.

Seperti yang ku duga teman-teman pergi dengan perlengkapan sempurna. Nisa dan Asfi menarik dua koper besar lengkap dan tas di punggung. Maklum setiap anak mendapat jatah sekitar 40 kg termasuk kabin. Aku pun menghampiri mereka sambil menarik koper tanggung seberat 15 kg. Tak ada tentengan. Tak ada tas punggung. Malam itu, aku adalah penumpang satu-satunya yang masuk pesawat hanya membawa badan. Aku pergi ke ke luar negeri seperti pergi ke warung kopi.

Aku duduk di bangku tengah pesawat. Lurus di sampingku adalah jendela polimer transparan berbentuk elips. Di luar terlihat lampu-lampu landasan berbaris parallel panjang satu sama lain. Lalu desingan itu berbunyi. Bilah-bilah logam dalam dua buah mesin jet itu berputar cepat, menghisap ribuan kubik udara dingin di depanya, mengubahnya menjadi gaya tolak dahsyat, mendorong puluhan ribu kilogram massa pesawat dengan 200 lebih manusia di dalamnya. Aku pun tinggal landas. Aku pergi.

Aku terbang 10.000 m di atas muka laut, di awang-awang malam bersuhu -16 C di atas gurun luas gelap gulita. Bayang-bayang kusam kepanikan seharian seakan sirna manakala kulihat merah kuat kerlap-kerlip lampu pesawat, di ujung kanan kiri sayab Boeing 737-900 yang melengkung mulus di bagian ujungnya, seperti sayap burung pelikan. Aku sedang terbang. Aku benar-benar terbang. Aku terbang ya Allah

Setelah Lebih dari 7 jam perjalanan, pelan-pelan kulihat langit shubuh. Satu persatu bintang-bintang fajar pun mulai nampak. Membentuk gugusan-gususan terang berlatar langit subuh biru muda di atas lautan awan. Tak kulewatkan kesempatan itu, sebelum hiasan indah itu hilang tersapu terang. Kapan lagi aku menikmati langit selatan dari angkasa tanpa halangan bukit dan gunung-gunung.

Dulu, saat di kampung halaman dan bila langit malam cerah, aku suka menghadap ke arah tenggara. Kulihat rasi bintang kalajengking yang di tengahnya ada sebuah bintang terang berwarna merah. Penduduk kampung menyebutnya bintang Joko Belek, bintang tercerah ke enam belas di angkasa. Saat itu aku berkata kepada langit, “Aku ingin ke tenggara, jauh disana, aku ingin tepat di bawah bintang terangmu itu”. Dan Tuhanpun mengijinkan, aku pun di tempat dimana rasi indah itu muncul.

Aku sudah tiba di Australia

Maafkan aku teman-teman bila aku tidak sempat pamit

Nizar Bedel, terimakasih udah mau nemanin berlari dan ngepak
Adit Trimakasih Kaos dan celana pendeknya
Yulian terimakasih handuknya
Pak Ponco yang harus pulang telat karena menungguku
Pak Ojeg yang berbesar hati yang mau kubayar 5000

Iklan

About Imam Santoso

I'am a metallurgist who love writing

13 comments

  1. wow..kok saya jadi mo nangis bacanya 😥
    semoga saya juga dapet kesempatan yang sama…
    selamat ya mas 🙂

  2. Ika

    Seperti biasa, kisahmu selalu mengharu biru dek imam….
    Insya Allah 2012 kami ke Brisbane ya…

    Ika, Agung, rara
    Adelaide

  3. yulian iferisanto

    sukses mas imam….
    jgan lupa bersyukur atas apa yang telah Allah berikan…

  4. mas imam,apa sih rahasianya bisa seperti sekarang??sharing dong mas, saya pengen spt mas kuliah di ITB trus lanjut study ke LN 🙂

  5. Ririn

    Asli,gw merinding membaca cerita ini. Walaupun tidak pernah ketemu(kenal) tp semangat juang nya menjalar sampai ke saya dilampung,Indonesia .trims…
    Selamat berjuang.

  6. Adhi

    Mas Imam, cerita tes Ielts 2 nya gak ada sambungannya yah? Maaf blum pernah kenal sebelumnya, saya hanya mencari informasi Ielts dan hampir patah semangat karena kegagalan.. Setelah baca ini, ternyata ada kejadian yang hampir serupa.. Selamat Mas 😉 -Adhi-

  7. eggy galih brilyan sasongko

    sukses selalu mas imam..

  8. Selain Mas Imam Santoso sebagai tokoh utamanya dengan pasokan semangat dan inspirasi seakan bertumpuk-tumpuk seperti stok beras bulog di gudangnya, ada poin penting yang saya tangkap.

    Pak Ojeg, bak antitesi dari kehidupan kota yang akrab dengan ‘Matrealistis’ dan ‘Hedonis’ -nya.

    Tulisan yang begitu detail dengan hal-hal kecil terkadang banyak dilupakan oleh banyak penulis, namun Mas Imam Santoso mampu meracik dengan apik. Menggugah dan menginspirasi, dan terima kasih telah berbagi.

    *Adik Jauh dari Kawah Candradimuka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: