Bintang Hati, Brisbane pukul 01:30

Seperti biasa aku selalu takjub pada malam. Kamarin pukul 6 sore selepas magrib, Aku terperangkap dalam indahnya matahari yang terbenam di senja musim gugur dengan angin beku. Dipinggir sungai berbatu di tempat yang sunyi ini, Maquare strret, di ujung jembatan sungai Brisbane.

Senja sore menandakan kalau sebentar lagi akan mucul bintang kejora di barat. Tak lama kemudian muncul bintang-bintang lain, membentuk rasi-rasi indah. Sinarnya yang sayup-sayup kelap-kelip akan selalu mematri kakiku dalam bujur kaku kekaguman pada langit malam dan juga kenangan-kenangn indah di kampung halaman.

Cita-cita ini telah mambawaku jauh terbang meninggalkan teman-teman dan orang-orang tercinta di rumah. Dan bila aku kangen kampung halaman, aku hanya perlu senja atau malam dengan setangkai khayalan sambil berdiri menengadah ke langit, bercengkrama dengan bintang dan angin.

Senja yang relatif lama sore itu membuat bintang kejora di ufuk barat seolah enggan pergi dari pelayangan. Penduduk kampungku menyebutnya bintang sore. Bintang tercerah sejagat yang terlihat kemilau bak mutiara yang selalau setia mendampingi matahari tenggelam dan tarbit. Ketika matahari terbit, kejora pagi juga akan tampak menyambut shubuh. Sehingga penduduk juga menamainya bintang pagi, yang akan hilang lagi seiring menigginya mentari.

Namun ketika matahari tenggalam, bintang itu akan muncul lagi di barat dan lagi-lagi akan hilang mengikuti mentari. Tapi yang jelas bintangnya satu, yaitu bintang kejora. Bintang yang ketika aku kecil selalu menemaniku dan teman-temanku pergi ke surau kampung malam hari, sambil membawa sebuah buku Iqro’ dan sebatang lidi didalamnya.

“Aa…Ba…Ta..Tsa..”

Ya, bintang itu memunculkan kembali kenanganku akan belajar memabaca iqro dengan terbata-bata.

Masih di arah pandang yang sama, ketika bintang kejora pergi dan malam datang, terlihat sebuah gugusan bintang indah muncul, membuat jiwaku berpindah cepat dari tepi sungi tempatku berdiri menuju sawah-sawah desa di kampung halaman sana. Gugusan bintang yang sejak dulu setia menerangiku, ayahku dan penduduk desaku memanen padi di malam hari.

Siang hari biasanya kami hanya memotong pohon padi, lalu menumpukknya tinggi. Dan bila malam tiba, dari tumpukan itu kami ambil genggam segengam pohon padi. Kami rontokkan untuk mengambil bulirnya dengan cara memegangnya dan memukul-mukulkanya pada kayu jagrak yang disusun pendek membentuk prisma segitiga setinggi lutut.

“prak…prok…prak..prok..”

Suara-suara pohon padi yang dibenturkan pada kayu, saling bersahutan dengan suara jangkrik, belalang dan kepik malam. Bak alulan nada kendang, sawah-sawah kampung kami seperti dalam koser musik akbar malam hari di kaki sebuah gunung dengan cahaya merah obor-obor bambu, kedap-kedip lampu kunang-kunang. Dan tentu dibawah terang bulan dan bintang gemintang.

Gugusan bintang itu adalah adalah rasi bintang belantik atau rasi bintang orion yang di tengahnya ada tiga bintang cerah bernama indah, Alnitak, Alnilam dan Mintaka, membentuk garis lurus seperti sabuk. Tiga bintang segaris yang digunakan utk menunjukkan arah kiblat karena arahnnya yang kebarat, menuju Aldebaran, bintang cerah berwarna jingga.

Ah…kok aku jadi ingin ingat rumah dan sawah….

Malam itu pun aku terus terdiam di pinggir sungai. Perahu-perahu veri yang mehubungkan kota dan kampus terlihat berlalu lalung dengan batang radar yang berputar-putar diatasnya.

Aku pun tahu akan usiaku yang terus bertambah. Sejenak kuhadapkan lagi wajahku ke atas. Kuterbangkan khayalanku menembus gerbang langit. Kulihat betapa bintang di angkasa itu tidak bisa sendiri. Dia harus membentuk gugusan rasi dengan bintang yang lain. Membentuk gugus-gugus indah dengan ikatan kuat untuk bisa menjadi petunjuk para nelayan di malam hari agar mereka tidak tersesat. Agar bisa menerangi dan menghiasi malam. Bila bersama cahaya akan benderang sehingga anak-anak kecil berani keluar rumah tanpa takut gelap.

Tak lama kemudian segera ku hirup udara sejuk dalam-dalam. Aku pun memejamkan mata.

Angin yang saat ini berbisik di telingaku cepat atau lambat pasti akan bercampur dengan angin kutub beku yang membumbung tinggi di angkasa sana. Lalu melesat cepat, melewati gurun raksasa tandus ini. Berarak ke utara menuju garis belah bumi katulistiwa. Lalu melikuk, menuruni lembah dan gunung, menyapa para beruk-beruk hutan, menerobos kandang-kandang ayam, dan akhirnya masuk ke lubang-lubang cendela kamar rumahku di Jember. Dengan merasakan desiran lembut angin malam, aku pun merasa sudah seperti di rumah lagi, bertemu ayahku, adikku dan nenekku.

“Tuhan jaga mereka. Izinkan aku hidup sampai waktuku dan Kau pertemukan aku dengan mereka lagi, nanti. Izinkan aku menyayangainya dan membahagiakanya sampai aku tak mampu lagi melihat bintang-bintang itu. Sampai aku menutup mataku”.

Rasiku

Iklan

About Imam Santoso

I'am a metallurgist who love writing

2 comments

  1. Tias

    Judul dan isi paragraf ini “Aku pun tahu akan usiaku yang terus bertambah. Sejenak kuhadapkan lagi wajahku ke atas. Kuterbangkan khayalanku menembus gerbang langit. Kulihat betapa bintang di angkasa itu tidak bisa sendiri. Dia harus membentuk gugusan rasi dengan bintang yang lain. Membentuk gugus-gugus indah dengan ikatan kuat untuk bisa menjadi petunjuk para nelayan di malam hari agar mereka tidak tersesat. Agar bisa menerangi dan menghiasi malam. Bila bersama cahaya akan benderang sehingga anak-anak kecil berani keluar rumah tanpa takut gelap.”

    artinya pingin nikah ya Mas?
    hehe piss :p

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s