Kereta Kencana Sang Tupai

Dindingnya putih terbuat dari batu putih. Di dalamnya ada lebih dari 20 reaktor bersuhu ribuan derajat. Diatasnya mencorong tinggi menara gas yang menghembuskan gas dari gedung itu ke luar. Pintunya tertulis. “Awas gas beracun SO2, CO dan H2S”, gas-gas yang mematikan bukan hanya tikus atau mencit putih, tapi juga manusia. Di setiap pojok dan tepi dinding berdiri tegar tabung-tabung abu-abu dan bercat merah, diikat kuat rantai-rantai baja. Dilangit-langit ada corong penghisap, lengkap dengan mesin pendeteksi gas yang siap mengonggong bila ada kebocoran gas beracun.

Tak sembarangan orang bisa masuk. Dan memang masuk akal. Karena resiko mati lemas atau iritasi tenggorokan setelah menghirup gas beracun membayang-bayangi setiap orang yang masuk ke dalam lab itu. Itu adalah gambaran sederhana labku tempatku bekerja. Penuh material seram

Beberapa waktu lalu, aku pun baru sadar kalo di lemari tepat di sebelah biasa aku duduk adalah tempat penyimpanan uranium. Zat radioaktif yang memancarkan sinar radiasi berbahaya, yang dapat menembus beton, menambus baja dan tentu menembus kulit, mengoyak ikatan sel dalam daging. Radiasi penyebab kanker, mutasi dan mandul. Zat yang merupakan bahan pembuat bom nuklir.

Setelah ada laopran bahwa ada uranium di lemari itu, kepala lab langsung mengambil dua bungkus uranium dan mengamankanya. Rupanya ada peneliti lama yang sembrono menyimpanya. Untung Imam Santoso yang duduk di situ, bukan Imam Samudra, 🙂

“Hi Imam, kamu akan meneliti Arsenik…. dengan menggunakan gas SO2, CO, and CO2…..bla..bala”

“What? “Batinku.

Pikiranku langsung teringat akan Munir, aktivis HAM yang meninggal setalah diracun menggunakan Arsenik yang diletakkan dalam makananya dalam pesawat menuju belanda.

“Belum ada penelitian yang mendalam tentang arsenic didalam leburan logam tembaga sampai saat ini “, kata supervisorku

Hmmm, mungkin penelitinya mikir dua kali sebelum meneliti. Atau meninggal duluan sebelum mendapatkan hasil, gara-gara keracunan zat yg dia teliti sendiri itu. Na’uzubilah..

Aku sempat berfikir dua kali karena mengingat diriku yang pelupa dan kadang ceroboh. Kecerobohan terakhirku yang aku lakukan saat pertama kali tiba di Australia adalah aku telah berhasil membunyikan alarm. Alarm yang bila berbunyi lama akan mengundang pemadam kebakaran dan polisi. Gara-garanya adalah saat itu saya mencoba ngangetin makanan. Sambil sibuk internetan akhirnya saya tertidur di kasur, padahal kompor masih menyala dengan wajan berisi rendang di atasnya.

“wiu…wiu…wiu.wiu..” terdangar bunyi nyaring memekakan telinga.

aku segera terbangun, terlihat asab tebal mengepul se sisi rumah, menusuk hidung. Bunyi alarm itu membangunkan semua orang. Langsung ku lari ke dapur, mematikan kompor.

Aku harus segera mencari cara akal agar asab ini segara sirna. Bila terus berbunyi, maka akan datang pemadam kebakaran lengkap dengan kompi dan polisi. Dan bila ternyata tidak terjadi kebakaran maka aku akan didenda sekita 300$, sekitar 3 juta.

Akupun segera lari, ku buka semua candela dan pintu. Menyalakan semua kipas angin agar asab itu segara enyah dari rumah.

Tapi alarm itu pun masih meraung-raung.

Rupanya asap dari rendang gosong dan juga wajan hangus itu cukub tebal. Membuat detector gas di pasang di langit-langit rumah berbunyi. Perlu diketahui, hampir setiap rumah di Australia mempunyai system pengaman rumah yang bagus. Setiap rumah mempunyai detector asap, dimana detector ini terhuhung langsung deng kantor pemadam juga kepolisian. Jadi bila ada asab yang mengenai detector, alarm ini akan berbunyi. Pokonya asab. Tak tak peduli dari kebakaran, asab rokok atau rendang hangus.

Datanglah Bang Mail, tubuhnya yang tinggi cukup menjangkau dan mengipas-ngipaskan baju untuk menghilangkan asap kecerobohan pada detektor itu. Dan bunyi pun berhenti

Mengingat pentingnya akan penelitian arsenic, maka aku mau. Saya percaya bahwa ini adalah cara Tuhan untuk membuat saya agar berhati-hati, teliti dan selalu disiplin setiap saat. Saya ingin membuktikan, atau saya akan bunuh diri.

“…Marie Curie….Galielo galile …Robert Bunsen…”

Tiba-tiba aku ingat nama-nama itu. Nama nama ilmuan besar dan hebat dunia. Tentu, Aku ingin juga seperti mereka menemukan penemuan yang berguna bagi manusia, tapi aku juga tidak ingin seperti mereka yang menjadi tumbal untuk penelitian mereka sendiri.

Galileo ilmuan terkemuka dunia yang telah menemukan teleskop. Dengan temuanya manusia mampu melihat bintang-bintang dan benda angkasa lainya dengan lebih jelas. Namun dia harus buta karena sangking terpesonanya dengan matahari. Keseringanya melihat matahari secara langsung telah merusak saraf matanya dan membuat ia buta.

Marie Curie wanita pertama peraih nobel kimia yang menemukan zat radioaktif polonium, harus meninggal karena penyakit kanker darah yang disebabkan paparan radiasi yang cukup lama dari zat radioaktif yang ia teliti.

Pun Bunsen, ilmuan yag namanya diabadikan dalam alat yang bernama Pembakar Bunsen, yang dipakai nyaris di seluruh lab kimia di dunia, hampir mati dua kali karena arsenic yang ia teliti dan telah kehilangan satu pengelihatanya gara-gara ledakan selama penelitian.

Na’uzubillah..

Saya harus berubah…

”Berubah” (memang Ultramen)

Hingga saat itupun tiba. Dan lagi-lagi.

Pagi itu adalah percobaan perdana. Karena perdana maka akupun ditemani asissten. Dia yang memberi petunjuk bagaimana menyusun alat percobaan. Mulai dari merangkai pipi-pipa kaca, menyambung satu persatu selang-selang gas, melilitkanya melingkar-lingkar seperti sanggul. Menempelkanya pada papan yang di atasnya ada bulatan-bulatan kaca sebesar bola sebagai pengatur kecepatan gas. Dan tak lupa mengajari bagaiman cara memasang pengaman gas yang diletakkan pada setiap tabung-tabung maut itu. Melihat susunan alat percobaanku aku serasa kayak Lang Ling Lung tokoh penemu dalam cerita Donal Bebek.

Setelah saharian merajut, alat percobaan pun telah siap untuk digunakan.

Kita pun dengan perlengkapan keamanan lengkap. Mulai dari masker canggih yang dapat menetralkan gas asam, sampai detector gas beracun yang kita jepitkan di kerah, dekat laher. Semua sebagai perlengkapan agar kita tidak mati konyol dalam percobaan perdana ini.

Kita sangat berhati hati pagi itu, karena kita sedang malukukan percobaan dengan dua gas setan. Gas pertama adalah gas CO. Gas tidak berbau dan tidak berwarna, namun bila dihirup, orang akan mati lemas, terengah-engah, tergelepak pucat seperti ikan yang terhempas ke daratan. Bila kita menghirup CO, maka hemoglobin di dalam darah yang masuk ke pembuluh paru-paru tidak akan mengikat oksigen sebagai mana mestinya, tapi hemoglabon cenderung mengambil gas CO, sehingga kita akan lemas kehabisan oksigen. Hari itu, kita menggunakan gas CO murni, tidak tanggung-tanggung 100% kemurnianya. Terbungkus dalam tabung silender berwarna merah. Merah menadakan bahwa zat berbahaya.

Gas kedua yang kita gunakan adalah gas SO2, gas dengan bau sangat menyengat. Gas yang sifatnya asam, bila terhirup maka gas ini bisa bereaksi dengan sel tipis kerongkonan dan menyababkan sakit luar biasa pada tenggorokan.

Suwang, nama asisten yang membantuku, memintaku untuk segera memutar keran gas itu pelan-pelan. Keran gas dalam tabung bertekanan tinggi

Aku pun memutar pelan-pelan. Tapi tidak ada tanda-tanda kalo gas itu keluar dengan jumlah yang cukup karena cairan asam dalam tabung kaca yang dihubungkan dengan gas itu beregarak sedikit. Lalu ku putar lagi keran itu pada skala 600ml/mnt, dan akhirnya cairan mulai bergerak.

“Imam, ada yang aneh, seharunya cairan terangkat tinggi, tetapi kenapa ini tidak”

Secara normal. percobaan biasanya menggunakan laju gas maksimal 600 ml/mnt, itupun setelah dicampur dengan gas lain. Sambungan kita cek untuk meyakinkan tidak ada yang bocor, mulia dari pangkal tabung sampai tempat keran yang aku putar.

Lalu aku putar lagi, terus dan terus sampai cairan itu terangkat tinggi, hingga akhirnya kulihat kelebatan seseorang barbaju putih berlari dari ruangan sebelah.

“Dueeeer..” suara pintu tertutup keras. Orang itu keluar dari ruangan sambil berlari menutup hidung.

“imam..imam..imam..ini..ini…sangat tajam..sangat tajam baunya” dia berkata kepadaku sambil memegang hidung dan menunjukkan jarinya ke leher dia, lalu dia lari kencang.

Hingga akhirnya terdengar bunyi itu.

“wiu..wiu..wiu..wiu”, Alarm tanda bahaya dan lampu merah menyala. Semua orang lari..

Aku dan asssiten yang memakai perlindungan sempurna tidak mengetahui apa yag terjadi.

Alarm itu melolong keras dengan lampu merah kedap-kdip, seperti serigala kutup yang memanggil teman-temanya karena ada bahaya.

Kita segera sadar ternyata yang berbunyi adalah alarm gas SO2. Angka pada alarm menunjukkan kalau kadar gas SO2 dalam gedung telah melampau ambang batas. Dan dari mana lagi kalau bukan dari tabung gas kami. Kami segara menutup keran utama gas. Kita pun segera lari.

Percobaan perdana kami telah membuat isi seluruh lab lari berhamburan keluar. Kebocoran gas yag kami buat cukup besar karena lupa mengecek sebuah sambungan yang terletak di atas, sehingga teman kami di ruang sebelah bisa mencium bau itu dan berteriak kepadaku sebelum dia lari. Kita tidak mencium karena kita mamaki masker pengaman ala ksatria baja hitam. Tapi untungnya dalam waktu se jam, lab kembali seperti semula.

Hari itu percobaanku gagal, hari ini adalah percobaan kalangkabut. Saya ,merasa bersalah kepada Jei, karena dia berhasil menghirup gas itu

Lesu, sedih dan merasa bersalah. Juga wajah pucat pusi karena panik manjadi gambaran hati sore itu. Dan aku memutuskan untuk pulang. Sudah pukul 7 malam.

Setiap hari saya berjalan kaki ke kampus, karena cuman 15 menit berjalan dari rumah.

Karena sedang gundah gulana seharian, saya ingin mencoba bus gratis kampus yang diperuntukkkan untuk mahasiswa yang pulang malam. Setiap pulang malam teman serumah saya selalu naik bus itu. Bus sebesar mobil travel bandung-jakarta, yang bisa menampung 10 orang. Enak katanya, selalu full music dan diantar sampai rumah.

“Nyobak ah..sekali-kali”

Karna pas dengan suasan hati galau, agar gak capek jalan, dan ingin cepat sampai rumah aku memutuskan akan naik bus itu. Apalagi di samping gedung ku adalah salah satu tempat pemberhentianya.

Kuturni tangga. Malam yang beku karena musim dingin segera datang. Terlihat kendaraan putih dengan sopir diluar dan tidak ada penumpang di dalamnya, berhenti di dekat papan bertulisakn “safety bus”. Aku segara masuk.

“Alamat rumah saya Warrant Street 23, St lucia , terimakasih..” kataku pada supir.

Segera ku naiki bus itu, tanpa banyak tanya lagi. Dan supirpun segara menancap gas untuk mengantarku pulang.

Tapi, lagi-lagi terdengar bunyi-bunyian.

“Bip..Bip..Bip”, bunyi bip-bip itu berbunyi dalam selang setiap sekian detik. Dan terlihat di monitor di sebelah sopir bergerak angka-angka bulat dan koma

“1$…1.5$….3.5$….7.5$..” angka-angka dollar itu terus naik.

“Ya Allah, saya salah naik bus…ini taksi…” kataku dalam sambil kebingungan.

Kulihat ke atap bus, samping kanan kiri dan belakang untuk meyakinkan apakah ini memang benar bus gratis yang aku maksud atau memang aku salah naik, alias aku sedang naik taksi. Tak mungkin aku teriak berhenti dan bertanya apa ini taksi (*gengsi 🙂 )

Dan ternyata memang ini adalah taksi…hiks-hiks.

Di papan tepat di depanku tertulis

“SENANG BISA MENJADI BAGIAN DARI ANDA..TINGGAL TELFON KE XXXX BILA ANDA BUTUH KAMI…KAMI AKAN MEMBERI PELAYANAN TERBAIK..”

Niat ingin menghibur diri dengan dengan mencoba fasiliats gratis aku malah keblonyok 7.8 dolar, untuk perjalan kampus rumah selama 5 menit. Taksi putih yang serupa, sewarna dengan safety bus. Karena malam dan lelah aku main langsung naik.

Aku turun dari taksi seperti tupai turun dari kereta kencana. Lengkap sudah hariku.
seperti orang ling-lung. Oh si Lang Ling Lung yang ling lung

Iklan

About Imam Santoso

I'am a metallurgist who love writing

One comment

  1. tn. bayu

    heheheheheheh pancet ae lalian n teledor…………….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: