Anak Miskin dilarang sekolah?

Tulisan dimuat di harian Jawa Pos Radar Jember tanggal 30 Juli 2011 untuk menanggapi berita Maryam

Setiap masuk tahun ajaran baru selalu menjadi saat yang menakutkan bagi para orang tua dari ekonomi tidak mampu yang akan menyekolahkan anaknya, terlebih yang ingin kuliah. Biaya masuk seperti tidak terjangkau. Seperti Maryam yang diberitakan harus membayar 65 juta setelah diterima ITB lewat jalur SNMPTN tulis. Tidak bisa dipungkiri, untuk mendapatkan kualitas pendidikan yang bagus diperlukan biaya yag tidak murah karena dosen harus mendapatkan gaji yang layak, perpustakaan harus lengkap, laboratorium harus bagus.

Namun begitu PTN seperti ITB, UI, dan UGM dll, saat ini punya skema masuk yang bisa dijangkau oleh semua orang. Di ITB misalnya selain beasiswa bidik misi dan beaiswa ITB untuk semua yang memberikan uang pendidikan secara gratis dan bantuan biaya hidup selama 4 tahun, biaya masuk juga disesuikan dengan kamampuan orang tua, karena ada keringanan biaya 25% sampai 100% alias membayar semampunya. Kalo yang mampu ya bayar kalo ya tidak mampu ya tidak usah bayar. Terbukti Maryam setelah mengajukan keringanan dia tidak membayar Rp. 65 juta, begitu informasi yang saya dapatkan dari organisasi KMJB (Keluarga Mahasiswa Jember di Bandung).

Uang masuk dan uang kuliah tiap semester adalah momok. Bagi anak penerima beasiswa bidik misi tentu mereka tidak perlu bingung memikirkan biaya masuk, biaya kuliah tiap semester dan biaya hidup selama 4 tahun. Namun bagi anak yang tidak mendapatkanya misalnya karena tidak mengetahui info tersebut atau telat mendaftar, hendaknya jangan putus harapan. Universitas seperti ITB, UI, UGM, Unair tetap menerima permohonan keringanan. Sunarno Anak SMANA lulusan 2009 yang tidak bisa mendaftar bidik misi nasional karena syaratnya untuk mendaftar tahun ini adalah lulusan 2010 dan 2011, setelah lulus SNMPTN dan mengajukan keringanan ke Uniar, akhirnya ia gratis uang masuk dan uang kuliah selama 4 tahun.

Apalagi setelah masuk kuliah, mereka akan mengetahui bahwa di PTN banyak jenis beasiswa yang lain yang bisa membantu biaya kuliah dan biaya hidup mereka, seperti beasiswa dari perusahaan, yayasan dan dari orang tua asuh. Apalagi bila anak tersebut berprestasi dan aktif di kegiatan kampus, sudah tentu peluang mereka untuk mendapatkan beasiswa menjadi besar.

Perlu diketahui pemerintah mendorong PTN untuk menyediakan jatah kursi 20% untuk anak-anak tidak mampu. Sebagai contoh, ketika mendapat berita bahwa ada anak takut masuk ITB gara-gara biaya, wakil rector ITB, Dr Hasanuddin menjawab, “Kalau beliau tahu bahwa tahun ini sekitar 650 mhsw mendapat
beasiswa penuh tidak bayar apa-apa sampai lulus ITB, dan juga sisanya sekitar 60% mendapatkan diskon BPPM, dari 25% sampai 100%, mungkin beliau akan terkaget-kaget”. Di ITB sendiri belum ada kasus anak dikeluarkan kuliah gara-gara tidak mampu membayar biaya kuliah tiap semester.

Bila saya boleh membandingkan, asalkan mengikuti presedur dan jujur, kuliah di PTN seperti ITB, UI, Unair, Unibraw dan UGM bisa lebih murah ketimbang masuk di SMA negeri yang ada di Jember. Ada sekitar 15 anak dari Jember dari keluarga tidak mampu yang baru saja diterima di ITB, UI, Unair ITS dan UGM yang mengontak perwakilan keluarga mahasiswa Jember dan Jakarta. Ada yang melakukan kesalahan saat mengisi kolom gaji orang tua. Seperti saat mendaftar SNMPTN, Uwais, anak Ambulu, yang masuk UGM mengisi gaji orang tua Rp 3jt, saat daftar ulang, padahal orang tuanya hanya tukang sapu masjid. Dia mengikuti saran temanya kalo penghasilan jangan direndahkan. Alhasil dia harus membayar uang pendaftaran Rp. 4,6 jt. Tapi akhirnya ada orang Jember yang mau membantu. Di lain hal Indi, anak guru SMK yang juga masuk di UGM mengiisi penghasilan orang tua dengan benar sebesar Rp. 500 rb tiap bulan hanya membayar Rp. 2 juta untuk uang masuk dan bisa dicicil. Empat anak Jember juga telah mendapatkan beasiswa gratis selama 4 tahun termasuk biaya hidup untuk kuliah di ITB. Meraka anak buruh tani dan buruh bangunan.

Yang jadi masalah banyak orang tua dan anak-anak SMA yang tidak tahu mengetahui informasi ini. Tugas kita bersama adalah menolong bila ada yang membutuhkan seperti menjadi orang tua asuh atau memberikan informasi beasiswa kepada masyarakat sehingga anak-anak dari keluarga tidak mampu bisa bisa mendapatkan pendidikan untuk masa depan yang lebih baik. Informasi beasiswa bidik misi misalnya telah diumumkan jauh hari sebelum pelaksanaan SNMPTN. Jadi buat adik-adik kelas 3 SMA yang ingin mendapatkan beasiswa atau para guru dan orang tua yang ingin membantu siswanya hendaknya mencari infromasi sedini mungkin. Sering-sering buka website universitas yang diinginkan dan tentu website diknas untuk informasi beasiswa bidik misi. Ikuti petunjuk dengan benar, jangan sampai ada yang terlewat. Sejak awal, siapkan persyaratan umum beasiswa seperti, surat penghasilan orangtua, surat keterangan tidak mampu dari desa, kartu keluarga dll.

Di Jakarta ada organisasi keluarga mahasiswa asal Jember, begitu juga di Jogja dan Bandung. Mereka setiap tahun datang ke Jember untuk memberikan pengenalan kampus ke SMA-SMA di Jember. Jadi bila ada anak Jember yang membutuhkan bantuan bisa mengkontak kakak-kakak mereka ini. Dan tentu jangan lupa minta nomer kontak mereka. Mereka siap membatu, seperti yang biasa mereka melakukan dengan menjemput, mencarikan kos, mencarikan orang tua asuh, mencarikan beasiswa bagi yang membutuhkan. Jangan segan untuk menghubungi, bertanya dan terus berhubungan dengan mereka. Bila ada sekolahan yang tidak sempat dikunjungi, info mengenai beasiswa umumnya juga tersedia di website setiap universias.

Salah satu fungsi pendidikan adalah eskalator kehidupan untuk kehidupan yang lebih baik. Seorang anak buruh tani misalnya, berkuliah dengan harapan ingin merubah hidupnya. Tentu bila pendidikan itu mahal sehingga anak-anak dari keluarga miskin tidak mampu bersekolah maka pendidikan itu kehilangan fungsinya. Dan sayangnya, kenyataanya biaya kuliah saat ini semakin mahal. Tapi ini bukan berarti anak dari keluarga tidak mampu tidak bisa berkuliah

Kita bisa memilih untuk diam atau menyalahkan pemerintah. Tapi kita tidak boleh hanya terus menggerutu dan mengutuk kegelapan. Mengutip tulisan teman saya Andrianto yang saat ini sedang active menggalang dana beasiswa untuk anak-anak tidak mampu, “Lebih baik kita ikut menyalakan lilin, berbuat semampu kita, terus optimis dan positif. Mencerdaskan kehidupan bangsa adalah janji kemerdekaan. Dan, janji kemerdekaan adalah janji kita bersama, bangsa Indonesia, bukan semata tugas pemerintah”

Foto anak sedang belajar di Desa di kaki Gunung Meru Betiri yang belum ada listrik (gambar dari 99Bali International)


Penulis
Imam Santoso,
Saat kuliah di ITB, anak dari Ambulu ini telah memperoleh beberapa beasiswa
Saat ini menjadi Relawan Beasiswa ITB Untuk Semua dan sedang menempuh Mphil of Metallurgy di University of Queensland Australia, besaiswa dari AusAId.

Iklan

About Imam Santoso

I'am a metallurgist who love writing

3 comments

  1. Bagaimana caranya untuk mendapatkan beasiswa dari AusAid?

  2. Dendi Priaguna

    saya sangat bermimpi untuk bisa kuliah dimana pun…tetapi masalah ekonomi saya tidak mungkin untuk membayar beaya kuliah,,,namun saya terus berusaha mencari info tentang beasiswa, saya punya cukup banyak prestasi…
    apabila ada yang mau membantu saya tolong E-mail ke deniasdinias@yahoo.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: