Hujan dan Kamu

Baik, aku akan menulis tentang hujan untukmu.

Bila kau Tanya aku tentang hujan. Maka aku akan menjawab bahwa hujan selalu mampu membawa kenangan masa laluku. Otakku seperti terpindai manakala aku dengar gemercik air yang turun dari langit itu. Mungkin kerena hujan membuat setiap orang, termasuk aku yang melangkah di jalan jadi terhenti, lalu berlari mencari pohon rindang atau teras gardu untuk berteduh. Dan saat itu yang bisa kulakukan hanyalah diam, melihat aliran air dan menunggunya berhenti. Dan saat diam itu, sesungguhnya pikiranku berlari kencang ke masa lalu, membawa kenangan-kenangan silam bersama hujan.

Suatu malam, Juli 2002, aku pernah berlari. Memohon agar hujan datang. Agar segera meredam api yang menghanguskan puluhan gudang-gudang tembakau milik para petani di desaku. Aku terus berlari Hingga aku sampai di sebuah rumah. Kulihat gadis menjerit-jerit sambil menggigil, matanya tak henti-henti mengucurkan airmata, dia terpaku kaku dg ibunya, melihat api yg menyala-nyala melumatkan gudang tembakau dan membakar separuh rumahnya.

Bagi para petani kecil seperti bapakku, tembakau adalah hasil tani yang paling diandalkan karena bila harga tembakau mahal, maka uangnya bisa untuk menyekolahkan anak-anaknya. Tapi malam itu, angin sangat kencang, dalam sekejab melahap puluhan gudang. Kawat-kawat panas dari gudang satu terpelantaing ke gudang berikutnya sehingga terjadi kebakaran berantai. Api membakar 20 Gudang. Hujan tak datang.

Hujan, juga mengingatkanku pada bibi kecilku. Tahun 1995 silam seorang gadis kecil dan saudaranya, setiap kamis sore dengan penuh semangat, mengayuh sepeda dari kampung ke kota untuk belajar bahasa Inggris. Tak peduli hujan, mereka selalu berangkat. Pernah mereka berdua jatuh ditengah jalan karena payung mereka terbang tertiup angin. Kala itu mereka punya cita-cita yg sama, tapi sayang gadis pintar itu kemudian harus menyerah kepada nasib. Kondisi keluarga memaksanya bekerja, dan saudaranya, yaitu aku, saat itu hanya bisa termenung di bawah hujan.

Itu dua dari banyak kisahku tentang hujan. Aku tahu kau tangguh. Lihatlah perjuanganmu salama ini. Aku pernah menulis status di facebooku tentangmu. Beberapa bulan lalu

“Ada seorang gadis. Siang hari, dia kuliah di tempat yg konon sgt lumyan tugas dan pelajarnya. Waktu luang adalah kemewahan baginya. Saat orang tidur lelap di mlm hari, dia selalu masih bekerja di kantor. Kasur dia adlh meja kerjanya. Tidurnya hanya 3 jam sehari. Dia menafakahi 5 kepala, dia, ayah, ibu, neneknya yang pikun dan adiknya yg msih sekolah. Walaupun dia srg menangis dan sakit, tapi dia tetap smgt.”

Aku mengerti kenapa kau suka hujan. Kau sering mengatakanya kepadaku berulang-ulang. Ketika tanpa kau sadari air matamu jatuh, kau merasa tak sendiri lagi karena seolah langit mengerti apa yang kau rasa dan paling tidak malam itu bukan hanya air matamu yang mengalir di bumi, ada air hujan di depanmu.

Apalagi isak tangismu dibalik jendela akan samar terdengar, manakala deras air dari langit yang mengguyur genteng kosanmu membentuk irama indah yang sesekali berpadu dengan suara guntur dan suara tapak-tapak kaki yang berlari mencari tempat berteduh.

Tapi lihatlah, sebenarnya hujan bukan ikut menangis karena melihat engkau menangis. Tapi hujan ingin agar engkau terus tersenyum dan bangkit kembali. Ia mengerti bahwa ada seseorang yg sedang sedih. Allah mengirimkanya untukmu. Allah yang menciptakan hujan . Ia yang mengirimkan untukmu agar kamu gembira lagi. Bukankah Allah sudah mengatakanya pada kita semua:

“Allah, Dialah yang mengirim angin, lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang dikehendaki-Nya, dan menjadikannya bergumpal-gumpal; lalu kamu lihat hujan ke luar dari celah-celahnya, maka apabila hujan itu turun mengenai hamba-hamba-Nya yang dikehendaki-Nya tiba-tiba mereka menjadi gembira”

Bukankah kedatangnya selalu ditunggu-tunggu untuk memberi kehidupan?.
Lihatlah hujan, bagimana ia menyirami tanah tandus dan gersang. Dia menghidupkan kembali negeri yang sudah mati. Menumbuhkan bunga-bunga dan rumpun-rumpun padi. Ia datang ingin menyirami hatimu agar sedihmu luntur, mengalir hilang bersama airnya. Ia ingin menumbuhkan lagi dan lagi semangatmu.

Aku ingin kau tetap tegar.

Ku harap, bagimu hujan bukan perlambang kesedihan dan air mata, tapi sebaliknya. Dibalik hujan ada irama, bagi mereka, agar tidak putus asa.

Bukankah kau juga pernah menulis sebuah puisi? puismu penuh energi. Baik, aku tulis lagi puisimu, agar kamu semngat. Ini puisimu

Aku melihat air tak terbendung di sudut matamu
Perasaanmu yang halus sesungguhnya manusiawi saja
Hanya saja kadang kita lupa
Bahwa kesedihan atau kegembiraan hanyalah soal sudut pandang
Tergantung dari sisi mana kita melihat

Air matamu masih tergenang dan menetes dipipimu
Tapi energi positifmu terlihat sangat kuat
Berbahagialah atas anugrah kecerdasan dan kekuatan yang kau miliki
Masih dalam tangismu kulihat kau tersenyum
Keikhlasan dan kebahagiaan telah menutupi kesedihanmu

Tak lama kau hapus air mata itu
Kini hanya tersisa mata merah yang menatap tajam
Dan senyummu yang merupakan keindahan alami
Kau mulai melangkah maju
Begitu kokoh dan yakin menuju masa depanmu

Mungkin ada tanya diujung hatimu
Kemanakah langkahmu akan terhenti
Tapi kau terus melangkah dan melangka
11:00 PMTapi kau terus melangkah dan melangkah lagi
Kau tau Tuhanmu begitu dekat
Ia tak akan tinggalkan umatnya tanpa arah

Kau hadapi harimu
Kau menjauh membawa hatimu yang bening
Tanpa prasangka, tanpa dendam, tanpa sakit hati……
Warnai jalan dan sekitar dengan cahaya terang hatimu

Semangat, buat adikku

Di balik hujan ada ijabah bagi mereka yg memanjatkan doa. Rasul SAW bersabda “Doa tidak tertolak pada dua waktu, yaitu ketika adzan berkumandang & ketika hujan turun” (HR.Al Hakim). Bila kau suka hujan, berdoalah. Berdoalah. Berdoalah kepada Tuhan. Hilangkan sedihmu

Hujan. pic by: Rain falling on ground (c) Ghislain and Marie David De Lossy

Iklan

About Imam Santoso

I'am a metallurgist who love writing

4 comments

  1. Dominggos

    good banget.. 🙂

  2. rum

    menyentuh banget tulisannya 🙂

  3. ulfa

    nangis bacanya T.T. jadi keingat pas terpisah dengan keluarga, tiap hujan, dibela-belain keluar kamar untuk memandang hujan trus memnjatkan doa, agar kami dapat berkumpul kembali. Alhamdulillah benar-benar diijabah oleh Allah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: