Menghargai Sebutir Nasi

Bagi kita mungkin yang setiap hari memakan nasi dan meminum air tidak pernah menghitung berapa harga sesungguhnya apa yang kita makan dan kita minum itu. Harga beras Rp. 8000/kg sebenarnya hanyalah ongkos tanam dari petani ditambah ongkos pengiriman dan laba. Apalagi bila dalam satu kg beras ada kurang lebih 50.000 bulir, maka harga sebulir beras menjadi Rp. 0.16, nyaris seolah tak berharga. Padahal, bila manusia harus memproses sendiri dari bahan dasar niscaya harganya tidak akan pernah terbeli, walaupun itu tepung sebesar zarrah. Begitu pula air, manusia hanyalah mengambil dari alam

Nasi tersusun dari rantai molekul gula (glukosa). Glukosa (C6H12O6) tersusun dari atom-atom Karbon (C), Hidrogen (H) dan Oksigen (O). Tahukah kita berapa ongkos untuk membuat sebuah atom karbon atau Hidrogen?

Agar terbentuk atom karbon maka harus terjadi reaksi penggabungan dari atom-atom yang lebih ringan dari karbon, dimana membutuhkan panas jutaan derajat yang kondisi biasa di bumi tidak memungkinkan reaksi ini. Pembakaran jutaan milyaran batubara atau milyaran liter minyak mustahil membentuk panas yg dibutuhkan untuk membuat sekedar sebuah atom karbon. Sebuh atom karbon salah satu pembentuk beras membutuhkan suhu jutaan derajat dan hanya mungkin dibentuk di tempat yang teramat panas yaitu di inti-inti bintang di langit purba. Juga atom hydrogen salah pembentuk molekul air tercipta. Jelas harga sebulir besar tidak ternilai.

Tapi Tuhan memberi makan ciptaanya dengan cara yang indah dan menajubkan. Allah telah mengirimkan semua materi kehidupan ke bumi tanpa menyuruh manusia membuatnya. Bahkan untuk menciptakan beras pun, Allah meminta tumbuhan untuk memprosesnya melalui proses foto sintesis yang tak pernah terbeli oleh manusia. Allah menciptakan udara dan angin yang membawa hujan dari laut ke darat sehingga tumbuhan dapat menyerap air. Dari udara yang mengandung karbondioksida dan air ini tumbuhan memperoleh karbon, hydrogen dan oksigen untuk diolah menjadi beras.

H2O (air) + CO2 (dari udara) →C6H12O6 (gula/pati dalam beras) + O2

Jelas bahwa sebuah molekul tepung itu tercipta melalui proses yang menajubkan dan bahkan manusia tak mampu membelinya. Harganya tak ternilai. Sayangnya, kadang ketika makan kita masih menyisakan. Dan kita tahu bagaimana cara Rasullah SAW menghargai sebutir nasi yang ia makan.

“Sesungguhnya setan bersama kalian dalam segala keadaan, sampai-sampai setan bersama kalian pada saat makan. Oleh karena itu jika makanan kalian jatuh ke lantai maka kotorannya hendaknya dibersihkan kemudian di makan dan jangan dibiarkan untuk setan. Jika sudah selesai makan maka hendaknya jari jemari dijilati karena tidak diketahui di bagian manakah makanan tersebut terdapat berkah.” (HR Muslim no. 2033 dan Ahmad 14218)

Rosulullah tidak pernah menyisakan makanan, bahkan ia akan mengambil makanan yang jatuh dan membersihkan jari-jari dari sisa makanan yang ia makan. Yang jatuh saja ,yang mungkin kita tidak sengaja, kita diminta mengambil, lantas layakkah kita sampai membuang makanan

Kadang kita dengan mudah tidak menghabiskan makanan, atau membuang makanan bila tidak habis. Kita sering menganggap sepele. Padahal dalam setiap bulir makanan itu ada keberkahan dan tak ternilai harganya.

“Dan kamu menganggapnya ringan saja, padahal di sisi Allah adalah besar.” (Q.S. Annur: 150)

*Pelajaran hari ini, saya akan menghabiskan makanan yang saya makan. tuntas tas tas 🙂

Iklan

About Imam Santoso

I'am a metallurgist who love writing

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: