“You Almost Kill Me” (Kamu Hampir Membunuhku)

“Eh mam, kok kamu bisa ya orangnya ceria terus”, teman bertanya kepadaku beberapa waktu lalu.

“Oh ya”…*padahal ketika saya lagi gak mood saya malah bisa membahayakan orang lain ☺.

Well.. saya akan bercerita ..atau mungkin saya malah gak sadar kalau saya ceria ☺

Entah apa yg terjadi padaku, musim dingin pertama di Brisbane terasa seperti biasa. Sarafku seperti tak mampu membaca pesan cuaca. Rajutan denditrik motorik dan sensorik seperti tak ada koneksi.

“Itu si Imam lagi gak konek, sangking gak koneknya, saraf otak dan kulit gak nyambung kayaknya, sehingga gak ngerasa dingin dia”, Dua temanku yg berpakain tebal dan bersepatu hangat, pagi-pagi ngeledekin aku karena aku hanya memakai baju tipis dan celana pendek tanpa alas kaki, ketika suhu 4 derajat

Entah sudah berapa kali aku salah masuk mobil orang.

Sehabis sholat shubuh bersama-teman-teman di Masjid Dara, salah satu masjid terbesar di Brisbane, aku langsung nyelonong masuk dan duduk di mobil orang. Lalu keluar dengan wajah malu-malu. Seperti lupa mobil mana yang aku naikin ketika datang.

Tak sampai di situ, Pak Hasbi, house mate saya pagi-pagi kebingungan mencari sabun cuci piring.

“Imam, kok sabun cucinya habis ya? Perasaan kemarin kita baru beli”, Pak Hasbi bertanya

“Oh iya Pak, aneh ya”, jawab saya.

Saat itu aku yang sedang menunggu minyak goreng di wajan menjadi panas, untuk menggoreng ayam, tiba-tiba langsung menjadi curiga.

Dan betul, ternyata sabun cuci itu telah aku masukkan ke dalam wajan. Aku tak sadar kalo yang kumasukin ke dalam wajan itu bukan minyak goreng.

Aku nyaris menggoreng ayam memakai sabun cuci. Membuat menu baru “Ayam Goreng Sabun”

Sabun cuci berwarna kuning bervolume 0.5 liter itu kini tinggal botolnya *tepok jidat

Seperti biasa, setelah sarapan aku pergi ngampus, segera menuju lab untuk melakukan percobaan. Aku tinggal berjarak sekitar 15 menit dari kampus. Jalanan menuju kampus adalah jalan indah berbukit. Di kiri kanan jalan merindang pohon-pohon flamboyan, ketika musim semi tiba bunga ini akan merekah merah. Tak jauh situ ada tanjakan yang sangat terkenal, yaitu tanjakan putus cinta. Mungkin karena saat melewati tanjakan ini orang akan terengah-engah seperti orang menangis setelah putus cinta sehingga dinamai tanjakan putus cinta.

Dibawah tanjakan itu ada lapangan hijau Dart Part yang dikelilingi bunga Jakaranda. Bunga indah berwana ungu yang akan mekar seperti bunga sakura, menutupi seluruh dahan. Dan ketika gugur tertiup angin, lapangan itu seperti sedang hujan salju berwarna ungu. Apa lagi Australia yang terkenal memiliki langit cerah membiru, sehingga perpaduan hijau rumput lapangan, ungu bunga jakaranda dan biru angkasa, selalu membuatku merinding. Betapa Dia Tuhan tanpa tanding, pencipta warna-warna , pencipta mata, pencipta langit, rumput dan bunga-bunga.

Selain suka memasak, suka musik, dan fofografi, aku juga suka berexperiment zat-zat kimia di dalam laboratorium. Menurutku, bermusik, fotografi, memasak dan menjadi peneliti di lab pada prinsipnya sama. Yaitu bermain komposisi.

Bila bermusik berhubungan erat dengan bermain komposisi nada, maka memasak erat dengan mangatur komposisi bumbu dapur. Semua komposisi diatur sedemikian sehingga setiap komponen dapat berharmoni satu sama lain membentuk karya yang indah.

Koki yang handal akan jago bermain komposisi bumbu-bumbu dapur sehingga menghasilkan masakan yang lezat. Pun dengan seorang peneliti. Ia akan berexperiment dengan bermain komposisi bahan-bahan kimia. Namun bila seorang peneliti salah mencampur komposisi, maka bisa-bisa ia bunuh diri. Laboratirium bisa meledak. Ia bisa mati lemas menghirup gak beracun atau kulit melepuh karena tersiram air keras.

Saya sadar hari itu, saya agak beda, tapi saya tetap berangkat nge-lab juga.

Kasus aneh terakhir adalah aku meluluhlantakkan bumbu-bumbu botol yang dibawa Bu Lia, istrinya pak Hasbi gara-gara saya salah taruh. Kompor listrik dapurku memiliki 4 pelat datar sebagai tempat dudukan wajan atau panci. Ketika kompor dinyalakan pelat tersebut akan menjadi panas.

Sudah biasa ketika memasak aku meletakkan bumbu-bumbu yang akan aku gunakan untuk meramu berada di sebelah wajan. Namun sayang, saat itu aku salah menyalakan kompor sehingga bukan pelat besi tempat wajan yang saya panasin, tapi malah pelat dimana saya meletakkan bumbu-bumbu itu. Empat botol berisi bubuk kencur, lada, pala dan jinten meleleh. Bubuk-bubuknya meluber bersama lelehan plastic. Bumbu-bumbu yang di bawa jauh-jauh dari Indonesia ke Australia sama Bu Lia telah berubah menjadi bubur plastic lada hitam, bertabur tumbar dengan pinggiran dan toping kencur. ..Well..telah matang “Pizza Plastic”

*bengong..ngerasa gak enak ngrusakin bumbu orang

Sesampai di Lab, segera saya ambil tabung kaca silica seukuran jari kelingking dengan panjang 10 cm. Tabung silica ada opsi terakhir setalah 4 jenis wadah sudah saya gunakan untuk melakukan percobaan untuk membuat diagram fasa namun hasilnya kurang memuaskan. Karena rupanya gas oksigen dalam gas argon walau kadarnya hanya 0.0002% cukup memberi pengaruh pada hasil percobaanku. Sehingga aku dan supervisorku memutuskan untuk menempatkan sample dalam tabung silica yang nantinya akan divakum dan ditutup sebelum akhirnya digantung di dalam reactor bershuhu 1200 derajat. Untuk membuat vakum agar tak ada oksigen, tabung terlebih dahulu diisi sample. Lalu udara didalamnya di hisap dengan pompa. Dan baru kemudain di tutup. Cara menutupnya adalah, ujung tabung silica dilelahkan dengan lidah api biru yang sangat panas.

AKu timbang dengan teliti bahan-bahan kimia dengan necara massa dengan akurasi lima angka dibelakang decimal. Harus akurat. Setelah itu bahan-bahan saya taruh dalam cawan seukuran setengah bola bassball yang terbuat dari keramik. Kuaduk dan ku lembutkan sampai halus bahan kimia itu menggunakan pengggerus abu-abu mortar. Setelah lembut, bahan aku masukkan ke dalam tabung silica. Dan tentu untuk memvakumkan dan mentutp tabung silica adalah bukan keahlianku. Kami meminta tolong kepada galss workshop untuk melakukanya

Segera kuturuni tangga lab dan segera aku menuju tempat Robin, kepala glass workshop, orang yang akan memvakum tabungku dan menutupnya.

“Hi, Robin, seperti yg telah kita diskusikan bertiga, aku minta tolong vakum dan tutup tabung ini ya”, permintaanku kepada Robin (and of course, in English, actually). * Saya biasa meminta tolong ke dia untuk hal-hal yang berhubungan dengan gelas-gelasan.

“ Ok Imam, ambil setlah makan siang ya”, Kata Robin

Pukul 2 siang, setelah makan siang dan sholat. Saatnya aku ke Robin, mengambil pesananku

Ku tarik handle pintu depan glass workshop. Tertulis di papan pintu “selain petugas dilarang masuk”

“Braaak”, pintu tertutup kencang dengan sendirinya.

Dengan santai aku masuki lorong abu-abu yang dipenuhi gelas-gelas kaca.
Dan Tiba-tiba datang seorang berpostur tinggi dengan wajah merah. Dan sepertinya aku mengenalinya. Itu Robin.

Terkejut tak kepalang tanpa sempat aku menyapa duluan ke dia. Dia langsung berkata dengan nada agak tinggi kepadaku:

“You almost kill me (kamu nyaris membunuhku)…You almost kill me….You kill me….”

“You did not tell me what the chemicals inside the tube..(kamu tidak memberitahu saya bahan apa didalam tabung itu…)..”

Saya tetap tidak mengerti kenapa robin bilang begitu, tak seperti biasanya..

Baru setelah agak tenang dia menceritakan bahwa tabung dari saya yang dia kerjakan untuk divakum telah meledak…

Saya lupa memberi tahu Robin apa isi bahan kimia di dalam tabung yang ia kerjakan itu. Mungkin bila saya kasih tau, dia akan berhati-hati. Isi tabung itu mengandung sulphur kadar tinggi. Sulphur adalah zat yang mudah terbakar. Rupanya saat melelehkan ujung tabung silica dengan lidah api, panas telah merambat ke kebagian bawah ditempat sulphur berada. Dan karena terkena panas sangat tinggi, sulphur itu terbakar dan meledak. Dan gas bakar dari ledakan itu mengenai mukanya dan terhirup olehnya. Sehingga wajah nya memerah dan alisnya ada yang terbakar. ..

* Dan aku termenung lagi…..

Saya ceritakan kasus ini kepada supervisorku, dan akhirnya supervisorku juga meminta maaf kepada robin

…………………………………………………………………………………………..

Cukup….cukup…saatnya saya ke dokter………. aku merasa menjadi pelupa dan sukar konsentrasi..bahkan membahayakan orang lain

Menunggu dua minggu untuk bisa bertemu dokter, akhirnya saya berhasil bertemu juga.

Saya menceritakan masalah saya kalo saya suka lupa bla..bla bla..

Dokter :“Sepertinya Anda culture shock …bla…blaa…juga sepertinya tidak ada masalah dengan jantung anda….. bla..bla..”

Sambil tertawa di dalam hati saya tentu tidak 100% percaya dengan kata pak dokter. Culture shock adalah kaget terhadap lingkungan baru, hal yang biasanya melanda orang yang baru datang di tempat baru seperti luar negeri. Tentu aku tidak percaya, wong saya sudah 6 bulan di Australia dan sebelumnya juga sudah 8 bulan tinggal di Adelaide. Dan punya banyak teman yang membuatku nyaman.

Selepas dari dokter saya ceritakan kepada teman-temanku semuanya. Hampir semua menjawab

“Obatnya kayaknya nikah Mam……”

*Gubrak…aku mendengar sambil bengong

Hmmm..itu sebagian kisah kecil saya di Australia..
Berhati-hatilah dengan saya karena saya tidak lucu

Barisan Bunga Jakaranda di lapangan Dart Park (Foto koleksi pribadi)

Iklan

About Imam Santoso

I'am a metallurgist who love writing

8 comments

  1. mauly

    terimakasih tulisan anda sudah membuat saya terbahak ditengah tumpukan jurnal-jurnal ini

    eheheheeee formal banget yak ;p

  2. di brisbane ada jurusan teknik geologi ga mas????saya tertarik lanjut ke brisbane setelah baca cerita sama liat foto bunga jakaranda.KEREN! 😀

  3. makhorib

    aku baru baca ini mas…
    ternyata gawat juga sampeyan ya..
    heheehhe

  4. raf

    hahaha……joke2 yang menyegarkan sekaligus nyentil!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: