Aku suka kehidupan yang tidak biasa

Cerita ini saya buat untuk Si Bandel yang menginginkan hidup yang tidak biasa :-). Sepenggal kisah salah seoarang Pengajar Muda, Program Indonesia Mengajar batch 4. Sepenggal kisah perjuangan dia ketika akan kuliah dan selama kuliah di ITB yg menurut saya memang tidak biasa.

Cerita tentang dia di mulai tengah tahun 2005.

Jam 6 pagi. Pagi itu sepeda motor saya panasin. Suaranya menderu menembus kabut khas kota Ambulu yang hanya ditemui di musim kemarau pagi. Kabut khas sisa pengasapan tembakau yang dibakar pada malam harinya dari ribuan gudang tembakau di sana. Ketika musim tembakau, pagi di kecamatan itu akan penuh kabut seperti dataran tinggi bercemara yang tiba-tiba dipenuhi hembusan kabut putih tebal saat akan hujan. Pagi itu jarak pandang hanya 10 meter. Jalan raya sudah penuh dengan anak-anak bersepeda. Sepeda motor yang menyalakan lampu pun harus berjalan pelan. Para pemetik tembakau juga telah siap berangkat ke sawah, memakai kerudung dangan lengan panjang. Ibu-ibu pun sudah mempersiapkan jarum-besar mereka yang akan mereka gunakan untuk menyulam satu demi satu daun-daun lebar getas berwarna hujau muda penghasil nekotin.

Jam 9 pagi. Matahari meninggi. Sinar panasnya telah bersinergi dengan angin menyapu pergi kabut-kabut jalanan itu, membumbung tinggi hilang ke langit.

*Lho kok malah cerita Ambulu… sebuah kecamatan kabupaten di Jember

*Ok Dech…Saya akan bercerita secara kronologis saja, karena untuk menceritakan kisah adik-adik kelas saya, termasuk anak ini gak cukup satu note. Kisah-kisah mereka seperti tak pernah habis untuk ditulis. Kisah hidupnya terlalu memukau diriku.
_____________________________________________________________________________________

Well..setelah motor panas saya langsung melaju menuju SMA Negeri Ambulu. SMA negeri satu-satunya di sana, tempat saya bersekolah dulu. Ya, saya ke sana untuk berbagi cerita dengan adik-adik kelas saya, berharap ada yang mau mbolang ikut saya ke Bandung untuk kuliah . Anak-anaknya sangat antusias, paling tidak ada 3 anak anak yang sangat bersemangat, bahkan setelah habis acara sharingnya, mereka masih mencari saya. Tiga anak itu, Nata, Furit dan seoarang perempuan bernama Tias. Tiga sahabat karip, sama-sama perjuang, sama-sama dari desa.

“OK.selamat bekerja keras ya..dan jangan lupa berdoa..semoga sukses di test SNMPTN Tulis 2006…” …habis itu komunikasi kami putus, saya harus ke bandung lagi. Anak-anak itu tidak punya Hp.
_____________________________________________________________________________________

Agustus 2006, telepon saya berdering terdengar suara isak tangis tersedu-sedu…

“Mas saya dari wartel…ini Tias…saya tidak lulus SNMPTN…maaf ya mas ..”. *lho kok minta maaf ☹. Hari itu adalah hari bersejarah dalam hidup Tias karena saat itu adalah saat pertama kali ia melepon terlama dalam hidupnya dari wartel. Lamanya sekitar 30 menit, dan ia harus berkorban banyak karena uang tabungnya habis.

Liburan lebaran saya pulang, saya menyarankan dia untuk fokus tes SNMPTN tahun 2007. Saya menyarankan dia ikut bimbel. (Bimbel?? Wow barang mewah..bagi kami). Setelah lebaran, ia jadi tukang karcis pintu masuk pantai Watu Ulo, pantai selatan kabupaten Jember. Ia juga membantu saudaranya berjualan manik-manik di sana. Alhamdulilah, ada uang tambahan untuk les. Setelah itu ia ikut les bimbel di Jember, kota kabupaten kami. Dan saat itu adalah saat pertama kali bagi dia pergi ke kota Jember.

Agustus 2007…Telphone ku berdering…..

“Heheheh…Mas aku masuk ITB..aku diterima di FTSL….mas tapi aku cuman punya uang 50rb…..” ceria si Tias saat berbicara di telephone…* Dia perempuan pertama dari Ambulu yg tembus di ITB

_____________________________________________________________________________________

Daftar ulang mahasiwa baru:

Dengan berbagia usaha, dia akhirnya ke Bandung, dengan naik kereta ekonomi dengan waktu tempuh Jember-Bandung sekitar 26 jam. Dia akhirnya sampai. Dan seperti yang dia duga. ITB memberi jalan bagi anak-anak yang saat daftar ulang mereka tidak punya uang. Dan tentu itu butuh usaha untuk menemukan jalan itu.

Tias sangat berapi-api saat bertemu petugas keuangan ketika memohon keringanan. Tias juga harus keluar masuk gedung Sabuga saat daftar ulang untuk melengkapi berkas demi dapat keringanan biaya.

Saya tidak tahu detail yang terjadi di dalam gedung itu, keluar-keluar dia membawa KTM..well done..

“..Pokoknya Mas…ITB pasti akan menerima saya, dan ITB akan rugi kalo gak nerima saya..hehe” Tias bersemangat ke padaku.

*..Ups bentar dulu..kos gimana?… biaya hidup gimana….?

Yang jelas anak-anak seperti Tias ini tidak menyerah. Kata temanku mimpi mereka terlalu besar hanya untuk sekedar meredup atau menyerah pada nasib

*Bukankah Tuhan yang menyuruh kita untuk bercita-cita tinggi? Dan bukankah Tuhan selalu bersama kita? bahkan lebih dekat dari urat nadi kita? Bukankah Ia akan memberi rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka. Dia sesuai dengan prasangka hambanya. Dia maha pengasih dan maha penyang.

Ingat itu kawan !!! Kau Punya Allah. Penguasa alam semesta.

_____________________________________________________________________________________

Alahmdulillah dia dapat beasiswa dari Salman. Beasiswa yang akan menanggung biaya kuliah sampai lulus. Tapi untuk biaya hidup Tias harus mencari sendiri. Di awal-awal dia sering tidak makan selama 3 hari, sering keluar keringat dingin. Tapi Allah memberikan jalan. Ia dapat mengumpulan uang dari berjualan donat di kampus. Sehingga dia sering di panggil Tias donat. Ia juga mengajar di bimbingan belajar. Dia juga mensuplai manik-manik di toko-toko yang ada di Mall di Bandung yang ia bawa dari Jember. Setiap akhir bulan ia mengambil uangnya. Alhamdulillah ada tambahan biaya hidup seratus dua ratus ribu. Dia merasa berdosa kalo sehari menghabiksan uang 10rb. 10 rb adalah uang yang sangat besar. Di tahun pertama dia tidak naik angkot, kemana-mana jalan kaki ( biar irit tentunya 🙂 ). Bahkan setelah berdiri 24 jam lebih di kereta ekonomi Jember Bandung, ia berjalan dari sasiun Kiara Condong ke Cisistu (kost dia) pada jam 1 malam yang jaraknya sekitar 7 km.

*Gak takut di ganggu orang ya mbak ? hehe

Jangan salah…Tias adalah pendekar pencak silat (walau badan kurus dan suara cempreng manja heheha). Di bandung dia nyaris menghajar preman di sekitaran Gedung BI yang waktu itu menganggu jalan kaki dia.

Ketika mata kuliah olah raga yang dilaksanakan di lapangan lari sabuga, dia tidak pernah memakai sepatu, seperti sebagian anak-anak cowok. Ketika ditanya temanya kenapa kok gak make sepatu, dia menjawab dia nyaman dengan begini. Padahal, dia tidak punya sepatu untuk olah raga ☺.

Tahun kedua nasip membaik. Jurusan membantu dia dengan mengakatnya menjadi pegawai luar biasa di Tata Usaha (karena memang belum pernah ada mahasiswa yg merangkap menjadi pagawai jurusan). Tapi ini tidak berlangsung lama, karena ia ketahuan ikut ospek hehehe. Dan Tuhan sepertinya akan menempa dia untuk menjadi perempuan yang kuat
_____________________________________________________________________________________

Tapi dosenya tetap sayang dan membantu dia. Setelah kejadian ospek itu ,sampai lulus ia bekerja di perusahaan konsultan milik dosenya. Dia banyak menangani projek-projek besar. Seperti proyek AMDAL. Tugas dia adalah menyusun dokumen, melakukan perhitungan teknis, melakukan pendekatan masyarakat di dua provinsi, dan juga pendekatan kepada para tokoh Lingkungan nasional. Saat malam hari dimana banyak mahasiwa tidur, mungkin saat itu dia sedang melakukan ronda dengan masyarakat di sekitar sungai ciliwung, berjaga-jaga takutnya sungai meluap. Saat banyak mahasiwa mudik lebaran dan takbiran di kampung halaman, saat itu dia sedang ada di dermaga mengerjakan projek kelautanya.
_____________________________________________________________________________________

Hidupnya luar biasa, saat kuliah saya sulit sekali menemukan dia. Waktu luang seperti kemewahan baginya. Pernah, karena susah ditemui akhirnya saya menelpon. Tak sempat saya bertanya panjang lebar di telpon, karena saat itu saya langsung terdiam mendengarkan dia menangis, sambil terkagum

“ ..mas.. Saya terharu..melihat anak-anak..ini…” sambil menangis Tias terus bercerita.

Rupanya dia sedang menangis terharu setalah pulang dari panti tuna netra di Bandung. Dia berkata dia sangat beruntung di beri kesehatan yang luar biasa, seperti kesehatan bisa melihat.

Tias ternyata, menyempatkan diri untuk berbagi dengan teman-teman panti itu. Ia menjadi reader bagi orang-orang tuna netra di sana.

Ada seoarang A’a disana (yang lebih tua dari dia) yang ia damping sejak ia kuliah. Ia beberapa kali ikut masuk di kelas kuliah si A’a itu untuk menuliskan lembar jawaban ujian. Ia mendampingi A’a itu sampai lulus. Bahkan sampai ujian PNS, ia juga mendampingi si A’a ini untuk sekedar membacakan soal, menuliskan lambar jawaban atau melengkapi berkas-berkasnya. Dan si A’a ini sekarang jadi guru di sekolah luar biasa bandung.

*Tentu saya iri melihat kebaikan yang ia lakukan ..….Sudah banyak kemanfaatan yang telah ia berikan kepada orang lain dan lingkungan

*Sejak pergi ke Bandung Agustus 2007 sampai lulus Oktober tahun 2011. Dia tidak pernah meminta uang kepada orang tua bahkan dia ikut menjadi tulang punggung keluarga.

Dia lulus dengan nilai yang sangat memuaskan. Dan tentu banyak tawaran pekerjaan dan sekolah ke luar negeri. Tapi dia mengikuti panggilan hatinya. Ia suka hidup yang tidak biasa.

Ia menulis kepadaku

“ Mas..Saya suka merasakan sesuatu yang tidak biasa, yang akan saya kenang dan jadikan pelajaran untuk kehidupan selanjutnya. Dari dulu saya ingin di buang ke pedalaman untuk bisa mengajar, mengobati dll. Saya ingin kehadiran saya disana tidak sia-sia, saya ingin bermanfaat untuk mereka…”

Semoga Sukses… buat adikku, kita semua mendukungmu…Semoga Sukses jadi pengajar muda di Program Indonesia Mengajar…kamu pantas mendapatkanya

*”Rasulullah saw bersabda,’…… Dan sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Thabrani dan Daruquthni)

*saya sudah minta iyin ke YBS untuk menulis kisahnya

Yang mana kah?

Iklan

About Imam Santoso

I'am a metallurgist who love writing

13 comments

  1. subhaanallah ..kisah yang sangat menarik. Dimanakah sekarang ia mengajar? Semoga selalu diberi kemudahan oleh Allah….

  2. Metty Wreford

    Saya sangat kagum dengan kegigihan nya. Semoga cita2 nya dikabulkan Allah

  3. jurusan nya apa mas dia ?? keren banget perjuangannya,. jadi malu ….

  4. optima

    waduh ceritanya mempesona yah, tapi kenyataannya pasti menderita banget tuh

  5. Kak..ini ceritanya kak TIAS dari Indonesia Mengajar itu ya?

  6. Ping-balik: Mutiara dari Lalan | Coretan Imam Santoso

  7. Anugerah

    K pagi tadi saya ketemu sama Mbk Tias,Luar biasa sekali perjuanganny.:) makasih y Allah telah mempertemukan ku dengan kalian,,yg penuh semangat..:)

  8. Ping-balik: Bagaimana Pendidikan Merubah Kami | Coretan Imam Santoso

  9. Reblogged this on luthfiyyahike and commented:
    ini tentang mbak nai kan ya 🙂

  10. Ping-balik: Menyambungkan Tali Bidik Misi | Coretan Imam Santoso

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: