Laskar Timur dan Pak Tarjo

Harapan agar ada adik kelas saya yang bisa menyusul kuliah, selalu memberi energi tersendiri, energi yang meledak-ledak. Ketika menemui mereka atau ketika datang ke rumahnya di situ saya bisa belajar akan arti hidup.

Tahun 2009,

‘Mas ayo main kerumahnya”. Sebuah, tawaran yang saya tunggu karena saya ingin menemui anak-anak yang penuh semangat itu, dimana keyaqinan bahwa Tuhan cinta hambanya menjadi pelecut semangat mereka yang tak akan padam, membumi hangus alasan-alasan ketidakmampuan yang kadang kita ciptakan sendiri. Malam itu menjadi moment yang tak bisa saya lupakan.

15 menit perjalan, sampailah aku pada sebuah ujung jalan di Desa Sumberan. Lalu belok memasuki gapura rumah milik seorang warga. Dan terus masuk lewat jalan kecil di belakang rumah itu. Hingga aku sampai pada rumah yang sangat sederhana. Disebelahnya ada sungai, khas dengan rumpun bambu besar yang ruasnya panjang melengkung, menelangkupi genting rumah mungil yang terbuat dari bambu.

Pintu dibuka,

“Silahkan masuk Mas…”
Aku duduk, terlihat bara api kayu menyala pada tungku tanah, seorang bapak rupanya sedang merebus air. Rumah itu dihuni seorang ayah dan dua orang anaknya.

“Minum apa Mas…..” dst..dst..

Aku duduk, mataku lalu terbelalak kagum, disebelah tirai itu terlihat rak-rak agak panjang tiga lapis dengan lemari di sampingnya. Aku kagum ternyata rumah sederhana itu dipenuhi buku tersusun rapi dalam rak-rak dan lemari. Walau bukunya bersampul usang tapi itu adalah buku-buku pelajaran SD sampai SMA yang masih terpakai.

Ya, usang, karena Nurfa membeli buku-buku itu setiap ia pergi kepasar buku bekas di kota. Ia melakukanya sejak smp. Pemandangan mengagumkan yang belum pernah aku temui di daerahku. Sebuah rumah mungil namun dalamnya bertumpuk-tumpuk, berjajar–jajar buku, lembar-lembar jalan menuju masa depan, jendela dunia.

Dari rumah di dekat sungai dan dibawah pohon bambu itu telah lahir Nurfa, seorang pejuang, peraih Hight Distinction Australian Chemistry Quiss.

Beberapa bulan sebelum aku berkunjung ke rumah Nurfa, aku telah bertemu dia di Bandung, di barak TNI bersama dengan 200 anak yang lain yg telah lolos seleksi awal Beasiswa BIUS 2009 . Beasiswa yang akan memberikan biaya penuh untuk kuliah di ITB. Bahkan kala itu biaya tes ke bandung termasuk pesawat, juga ditanggung ITB. Saya mendapat info kalo ia dan kawam-kawan dari ambulu di barak sedang sakit gara-gara masuk angin alias mabok setelah perjalan naik pesawat (Desanya ke tahuan :-D) .

Namun pada test itu ia belum lulus, dari sekitar 2400 pelamar hanya diambil 40 orang, sebuah persangian sangat berat untuk dapat BIUS.

*Tapi Nurfa tembus ITB tahun berikutnya. Masuk FTI ITB. Lain kali akan saya ceritakan perjuang keras dia hingga ia diterima di ITB. Saya merinding melihat perjuangnya, ada suka dan tentu derai air mata bahagia.

Tahun 2007 ada seorang gadis beranma Tias yang udah tembus ITB. Tahun 2008 ada gadis bernama Driyan.

Tahun 2009 beberapa adik kelas saya ingin ke ITB, termasuk Nurfa. Tapi rupanya belum beruntung tembus tahun itu. Sempat saya berfikir kayaknya tahun ini belum ada yang lolos.

Tiba-tiba telfon saya berdering….

“Mas Moyus ketrima STEI…dst ..dst..” Tias menelfon singkat

Siapa Moyus?

Ah..ku kira sudah hilang anak ini. Aku sudah menunggu sejak 2.5 tahun lalu. Selepas lulus SMA tahun 2007 aku hilang kontak, walau bebarapa kali sms kalo dia ingin ke ITB. Lalu aku tak tahu kabar dia lagi, dia seperti hilang sampai aku terima kabar dari Tias.

Moyus sms saya, kemudian dia ku telfon dan baru aku tahu hilang kemana dia selama ini tanpa kabar.

Moyus lulus SMA tahun 2007 lalu. Sperti Nurfa, kimia adalah jagoan sekolah kami. Dia anak cerdas yang muncul dari desa di tengah sawah, di kaki bukit. Ia menjadi wakil Jatim untuk OSN kimia tingkat nasional, nilai raport hampir straight A. Tapi sayang selama SMA dia kurang memperhatikan kesehatanya, dia belajar sampai larut malam tapi sering tidur beralas lantai dingin di mushola. Dia tahu sekian banyak rumus dan reaksi kima tapi dia lupa kalo angin malam berbakteri Mycobacterium tuberculosis mampu membuat reaksi yang meluluhlantakkan kelenjar darah paru pulmonary-nya, membuat banjir darah saluran nafas. Moyus terkena tuberculosis, dia harus istirahat total minimal 6 bulan. Dia tak mugkin ikut SNMPTN tahun 2007. Setahun kemudian kesehatnya mulai mambaik.

Tahun 2008, dia juga masih tidak ada kabar. Aku mengira anak cerdas itu sudah benar-benar hilang, mengubur cita-citanya.

Tapi aku salah. Ketika kesehatanya mulai membaik, kondisi keluarga membuat dia harus bekerja dulu. Ruapanya selama dua tahun, dia bekerja keras membatu ekonomi keluarga dan juga menabung untuk persiapan SNMPTN.

Setelah sakitnya sembuh dia membuka les MAFIKI dirumahnya bagi anak-anak SMA di kampungnya. Pada tahun ke dua dia menjadi guru di sebuah SMP di Jember selama 6 bulan, setelah itu dia bekerja jadi teknisi di sebuah warnet. Lalu, setelah uang ada, baru dia membeli formulir SNMPTN pada tahun 2009. Penantian yang sangat panjang untuk sebuah formulir SNMPTN, Penantian salama dua setengah tahun. Dia Lulus STEI, ITB, finally, pada tahun ke 3

Nurfa, Moyus, Tias, Driyan, Nata, Furit dll, mereka pantang menyerah. Sekali lagi mimpi-mimpi mereka terlalu besar untuk sekedar meredup, menyerah kepada nasib.

**********************************************************************************
*……Hi disana…. banyak anak-anak juga punya mimpi seperi kamu…. yang saat ini sedang tersebar di desa-desa, di pinggiran rel kereta, di antara tumpukan sampah, di daerah terpencil tanpa listrik. Walau kadang mereka terlupakan. Walau kadang mimpinya harus terbenam lumpur. Walau harapan hanya sebatas angan. Walau kadang cita-citanya harus hilang bersama ombak…*

**********************************************************************************
Bila kita ditanya tentang siapa –siapa saja yang selalu mengobarkan semangat kami. Kami tentu akan menjawab salah satunya tentang seorang guru di sekolah kami. Namanya Pak Sutardjo

Sekolahan kami adalah sekolah pelosok terletak di kecamatan paling selatan di kabupaten Jember. Sedangkan Pak Tarjo tinggal di kabupaten lain yang berada di utara kabupaten Jember, kabupaten Bondowoso berjarak sekitar 70 Km. Umurnya sekitar 60 tahun, tapi sampai seumur itu dia tetap semangat mengajar, berangkat dari rumahnya yang jauh pagi buta dengan sepeda motor. Karena sangking jauhnya dan bila mengajar lebih dari satu hari, maka bapak akan menginap di sekolah. Dia menginap di ruang UKS.

Karena jauh rumahnya hanya satu dua muridnya yg tahu rumahmnya. Saya tahu rumahnya pun setelah lulus kuliah. Saat itu lebaran. Dan ketika sampai disana, mata saya berkaca-kaca. Setelah masuk gang, sampailah saya di rumah sederhana dari bambu khas penduduk sana. Genting rumahnya satu dua melorot dengan lubang sana sini. Langit-langitnya terbuaik dari platik tipis, penangkal agar bocor air hujan tidak masuk rumah. Rumah bapak yang sangat bersahaja itu sangat sederhana, siapa sangka rumah itu adalah rumah salah satu guru hebat di kabupaten kami.

Bagaimana tidak!! Dengan bimbingan beliau, ketika OSN mulai menggema, sejak tahun 2004 anak-anak dari sekolah kami hampir selau menjadi wakil jawa timur untuk berlomba dalam Olimpiade Science Nasional untuk bagian kimia, walau hanya sampai tahun 2009 karena peristiwa besar di sekolah kami. Ditingkat nasional, kita kuat dalam teori, tapi selalu selalu kalah dalam hal eksperiment, maklum sekolah desa, mana punya lab-lab memadai.

Kita cukup lama bertamu di rumahnya karena itu adalah lebaran pertama saya dirumah Bapak, lebaran September 2009. Sajak saya diajar beliau tahun 2002 saya belum pernah ke sana. Kita bercengkrama lama. Kita membicarakan rencana-rencana selanjutnya bagaimana agar anak-anak di sekolah kami menjadi anak-anak petarung handal menjadi juara-juara kimia di tingkat dunia. Kita ingin dari sekolah di desa kami akan ada yang dapat mendali emas dalam olimpiade kimia dunia.

Setelah 4 jam bertamu kita pulang. Saya kembali ke bandung. Aku dan Pak Tarjo berjanji akan bertemu di sekolahan 6 bulan lagi dalam acara sanggar kimia.

Sertifikasi guru memberi harapan bagi guru-guru luar agar hidup lebih baik.

Tahun 2009 Pak Tarjo mengikuti sertifikasi, ia harus kuliah lagi di UneJ (pak tarjo lulusan Teknik Pertanian). Ia harus mengajar dan pulang pergi antar kota pake sepeda motor. Lalu kuliah.

10 january 2010, Tias menelfon …sambil terisak-isak ..” ..Mas Pak Tarjo meninggal..tabrakan motor di Bondowoso malam ini, dalam perjalan pulang ke rumah…dari UneJ…padahal bapak hampir lulus Mas…” Tias terisak-isak…….

kitapun tak mampu berkata-kata lagi..

Lalu hening……………….

Rupanya September itu adalah lebaran pertama dan terakhir saya dengan Bapak. Guru yang mengajar kami dengan tulus ikhlas itu telah pergi

Semua adalah milik Allah dan kepadaNya Jualah semua akan kembali.

**********************************************************************************

Ya Allah..ampunilah dosa kami, dosa orang tua kami … dosa para guru kami.. semoga ilmu yg telah diajarkan kepada kami menjadi ilmu yang bermanfaat yang menjadi pahala terus mengalir untuk mereka ..Lapangkan kuburnya ringankan hisabnya..

Buat laskar timur yang pantang futur dan Pak Tarjo

**********************************************************************************

Tinggalkan bukti hidupmu dengan hamparan karya di dunia. Seperti cahaya bintang cerah yg saat ini kau lihat, bisa jadi sekarang bintang itu sudah mati, hilang dan pergi. Lantaran sangat jauh maka cahaya itu baru sampai ke bumi sekarang. Tapi cahaya itu menandakan bahwa bintang itu pernah ada. Pernah hadir, untuk memberi manfaat pada semesta

Pak Tarjo. (Foto Dari Rizky Anggraeni Subagio)

Iklan

About Imam Santoso

I'am a metallurgist who love writing

5 comments

  1. Raf*Mr.Nice Guy*

    menginspirasi…….tersirat kemauan,kerja keras serta pengabdian tanpa pamrih.mari berlomba2 menjadi setitik cahaya bagi negri yang sedang menuju kegelapan ini………Imam,jangan pernah berhenti menulis kisah2 hebat lainnya yang selalu menginspirasikan banyak orang…satu lagi,jangan lupa pulang y,kita bangun negri ini supaya lebih bermartabat…..WE NEED YOU

  2. Putri

    bagus mas ceritanya (y)

  3. atick

    saya tahu mas banyak sekali generasi SMA N Ambulu yang menuai prestasi,, tidak hanya di ITB TAPI DI beberapa universitas lain……………………………………….. karena tidak setiap adik2 kita beruntung untuk ke ITB,,

  4. Anugerah

    Semoga Pak Tardjo di lapangkan Mas..banyak sekali tulisan Mas Imam yg menginspirasi,Sukses selalu ya buat Laskar Timur,,heheheh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: