Partikel 1. Surat Buah Sambi

Sejak kapan rasa itu itu muncul ia tak tahu. Sejak taman kanak-kanak sampai SMP Arif dan Badriya, gadis berambut keriting panjang hitam manis bermata lebar itu selalu satu sekolah.

Angin mengayun daun-daun sambi yang pohonnya tumbuh besar di depan SD Cahaya Satu. Buahnya yang masam melebihi buah asam, tak pernah jatuh kecuali dipetik atau dilempar menggunakan batu dari bawah. Genting seng sekolah itu juga benjol sana-sini lantaran sering terkena lemparan batu Arif dan kawan-kawannya untuk merontokkan dompol-dompol buahnya. Lalu mereka lari tunggang langgang bila ketahuan Pak Kebun Sekolah. Tak lupa, bila ada Badriya, Arif akan memberikan buah-buah itu kepadanya. Badriya

Arif ketika masuk kelas satu, akan dinaikkan ke kelas dua. Baca’anya sudah lancar apa lagi kalo disuruh cerita tantang kisah-kisah nabi dia sudah banyak tahu dibanding teman-temanya. Arif ini suka sekali berbicara, mungkin burung saja kalah.

Tempat duduk kelas adalah bangku panjang tanpa sandaran dari Kayu Bayur. Satu bangku diisi oleh tiga orang. Di kelas 3 SD arif duduk dengan Danang dan Joni. Dibangku di sebelah arif duduk Badriya. Ia tak mau jauh-jauh dengan Badriya. Bahkan saat Pak Jono mengajar di depan kelas, Arif sering tak bisa dihentikan ketika ngobrol denganya. Badriya.

Entah sudah berapa kali Pak Jono harus menahan sabar mengajar anak yg satu ini. Di kelas ia ramai, suaranya nyaring. Dan kalo sudah bicara susah di hentikan. Seperti pagi itu, pak jono kehilangan kata-kata lagi dan lagi. Saat itu Pak Jono bercerita tentang kisah nabi Nuh.

“…Siang ini Pak guru akan bercerita kisah Nabi??? ….Ya, Nabi Nuh dan kaumnya…” Pak Jono membuka cerita.

“Badriya..Badriya, tahu gak, aku tahu ceritanya…”, Arif membuka obrolan pada Badriya.

“…Oleh karena itu…. Allah murka dan akan mengazab Umat nabi Nuh…..” Pak Jono bersemangat.

“Badriya Badriya…tahu gak.. nanti habis itu ..ada banjir besar sekali dan banyak orang mati bla..bala”..Arif menoleh ke Badriya mengajak ngobrol teman-teman disebelahnya, seolah-olah melangkahi apa yg bakal Pak Jono ceritakan berikutnya…

“..Dan Banjir….Allah memberitahu kepada nabi Nuh bahwa Allah akan mengazab umatnya dengan mendatangkan banjir, banjir besar sekali ke penjuru bumi. Bayangkan.. akankah gunung-gunung tenggelam?”, Pak Jono melanjutkan ceritanya.

“…Badriya, Badriya tahu gak, nanti itu Nabi Nuh membuat perahu besar..trus hewan-hewan akan naik, ada sapi, kucing jerapah..pokonya banyak hewan deh..”..Arif terus bercerita kepada badriyah. Perhatian Badriya dan danang pun sekarang tertuju pada arif yang terus menerocos.

‘ARIF ..DENGARKAN PAK GURU..JANGAN NGOBROL SENDIRI…”, Dangan alis meninggi pak Jono memperingatkan Arif.

“..Nah…Allah menyuruh membuat perahu besar yang besar kepada Nabi Nuh, dan ternyata betul, setelah itu hujan turun tak henti-henti …hingga akhirnya banjir…”, Pak Jono melanjutkan

“Badriya..badriya tahu gak habis ini..habis ini….habis ini”

“DUEEER…” pengapus papan tulis melayang jatuh di meja Arif.

Sepertinya Pak Jono sudah kehabisan akal menghentikan Arif.

Arif diam, Pak Jono melanjutkan cerita Nabi Nuh nya

“………bla….bla..bla…..”

“Badriya..badriya…carita nabi Nuh nya udah mau selesai karena udah naik perahu”

Madrasah cahaya satu, terletak pada sebuah komplek pendidikan di sebuah desa di kaki gunung di kecamatan Ambulu, Kabupaten Jember. Di tengah komplek itu berdiri sebuah masjid besar berlantai batu putih dg menara masjid yg tinggi. Ketika jam sholat duhur masjid akan dipenuhi pelajarnya yg sholat berjamaah. Pun ketika pagi, masjid akan ramai, karena ada jadwal sholat dhuha. Kompleks itu seperti sebuah peradaban masjid agung di tengah desa. Bagaimana tidak, masjid dikellilingi oleh 3 jenjang sekolah. Di depan masjid berdiri 6 kelas SMP cahaya 9 dan 3 kelas SMA Madrasaha Aliyah berlantai dua dari kayu jati. Disampingnya adalah SD cahaya satu, yang terdiri dari 8 kelas dengan barisan pohon tinggi di depanya, pohon mahoni, melinjo, sawo, ketapang dan yang paling besar adalah pohon sambi. Pohon sambi rindangnya seperti beringin, pohonya melekuk-lekuk. Ketika kemarau dibawahnya akan ada jamur kering bundar seperti kelereng, yang menjadi mainan anak-anak. Bila jamur itu ditekan serbuk abu-abu akan terpancar dari lubang kecil di atasnya. Rumah Badriya hanya sekitar 50 meter dari komplek itu.

Jam istirahat, anak-anak SD Cahaya Satu kelas 3 yg diajar oleh oleh Pak Jono segera lari berhamburan keluar. Ada yang main bentengan, bentik dan lompat tali. Tapi Arif mengendap-endap mendekati Badriya dan teman-temanya yang duduk di teras masjid. Rupanya Badriya dan kawan-kawanya sedang belajar tulis menulis di lembar kertas, topiknya tentang surat. Arif pun segera balik ke kelas, menyobek selembar kertas dari bukunya, lalu ia tulis beberapa kata di kertas itu, dilipat rapi dan diberikanya kepada Badriya di hadapan teman-temannya. Dan pemberian ini yang akan Arif ingat hingga dewasa. Lonceng kelas berbunyi, anak-anak mulai masuk kelas lagi. Jam 10:30 kelas 3 selesai.

Pagi yang cerah, anak-anak berangkat sekolah. SD Cahaya Satu,sangat menekankan pendidikan agama dan akhlak kepada anak-anak didiknya. Kepala sekolah, Pak Jono berperawakan tinggi kurus, terkenal sangat tegas, guru yang telah mendedikasikan hidupnya untuk mengajar. Bayangkan, Pak Jono adalah guru dari nenek dan juga ibu Arif. Ini adalah hal biasa ketika guru mengajar tiga generasi. Guru didesa sangatlah jarang , apa lagi di sekolah swasta. Pak jono lebih dari 10 tahun menjadi kepala sekolah. Ketika mengajar Arif sebagian gigi sudah ompong.

Jam 7 pagi, anak-anak kelas 3 masuk kelas. Pak Jono sudah di dalam, menunggu murid-muridnya. Setelah semua masuk, Pak Jono dengan wajah agak berbeda berdiri didepan kelas sambil membawa sebuah lipatan kertas putih di tanganya,

“ Arif, kamu maju”

“Kertas ini punya siapa?

Rupanya seseorang telah memberikan selembar kertas yang ia tulis kemarin untuk Badriya kepadanya. Arif kali ini sedikit takut

“Kamu maju”,

‘Kertas ini punya siapa? lanjut Pak Jono. Arif ke depan pelan berdiri di depan papan tulis. Dan sepertinya sebuah sidang akan dmulai, dengan para hadirin adalah 30 orang murid SD dan para saksi adalah para pahlawan yg tertempel di dinding, ada Jendral Sudirman, Cut Nyak Dien dan Pangeran Diponegoro. Dengan hakim agung Pak Jono, tentunya.

“Ee.ee..ee..e…punya..punya ’’Arif bingung…

“Masih kecil kok sudah cinta-cinta., Tidak boleh.. Ini surat kamu kan?”

“Punya saya, tapi saya kasih ke Badriya”.

Arif merunduk. Patimura yang tertempel dinding dengan selempang golok di dada, terus melotot seram kepada arif, seperti polisi penjaga sidang yang baru saja menggiring terdakwa menuju kursi depan persidangan. Arif mengharapkan pembelaan, tapi teman-teman di depanya hanya terbawa suasana persidangan. Ada yang bengong dan ada ngupil memutar-mutar memakai pangkal pensil.

15 menit Pak Jono menggunakan waktunya untuk menginterogasi Arif, dan 15 menit untuk menasehati anak-anak tentang “cinta” yg anak kecil masih tidak boleh.

Lonceng berbunyi, Arif diam di dalam kelas. Sudah 4 hari selepas peristiwa itu, Badriya selalu muram kepadanya. Mungkin kesal kapada Arif, karena sekarang ia menjadi sasaran ledekan teman-temannya .

“Badriya dan Arif, Badriya dan Arif ..haha”, sesekali teman-temannya meledek Arif didekat Badriya,

“Badriya dan Arif”…

Melihat Badriya yang muram karenanya, arif merasa bersalah. Ia memtuskan untuk untuk mengatakan sesuatu kepada Badriya. Arif segera mengambil kertas, lalu ia tulis beberapa kata. Takut Badriya tidak mau menerima kertas itu, Arif meminta tolong Danang, temannya, untuk memberikan kertas yang kedua ini kepada Badriya.

Danang adalah teman Arif. Danang tinggal dengan kakeknya yang bernama Pak Pur. Pak Pur adalah kepala sekolah di SD Cahaya Dua, juga sahabat karib Pak Jono, kepala sekolah SD Cahaya Satu, guru kelas 3. Sambil berjalan pulang sekolah, Arif memberikan kertas itu kepada Danang untuk diberikan kepada Badriya esok hari.

Arif berharap melihat Badriya tersenyum padanya. Tapi?

Dengan wajah yang lebih suram dari sebelumnya, Pok Jono berdiri dari tempat duduknya dan berjalan ke depan kelas. Guru yang sudah sepuh itu seperti meredam sesuatu, berdiri sambil menggenggam selembar kertas.

“KAMU BUAT MALU SEKOLAH SAJA………..KALO SAMPE TERULANG HINGGA KE 3 KALI, AKAN AKU PANGGIL ORANG TUAMU KE SEKOLAH…………..!

Kali ini Arif benar-benar dihukum. Pak Jono pun seperti telah kehabisan kata-kata. Arif berdiri didepan kelas, lebih lama dari hukuman sebelumnya dalam riuh pelajaran kelas dengan hati yang tak dapat mengerti mengapa dia harus dihukum. Kata-kata sederhana yang ia tulis telah memberinya kebingungan yang luar biasa. Arif tidak berani masuk sekolah. Dengan alibi sakit, ia merengek kepada kepada Neneknya untuk tidak masuk sekolah. Arif tidak pernah menceritakan peristwa di kelas itu kepada keluarganya. Ia bolos sekolah selama 2 hari.

Ah lugunya Arif. Kenapa dalam kertas kedua yg kau kirim itu, dibawah kalimat “ “BADRIYA MAAFKAN AKU” tapi kau masih menulis tiga kata “AKU C***A KAMU” sama seperti pada surat pertama? Dan parahnya surat kedua jatuh ke ke tangan Pak Jono dari Pak Pur, guru sekolah lain. Pak Pur mendapatkanya dari Danang. Kini kisah cinta monyet itu telah menyebar ke dua sekolah.

Biduk berlayar di langit, gugus bintang-bintang berganti di antara dua musim, waktu cepat melesat. Badriya kini tumbuh menjadi remaja, matanya yang bundar seperti bulan dengan lesung pipit di kedua pipi hitam manisnya. Rambutnya yang keriting kini tertutup Jilbabnya.

Bersambung,

Iklan

About Imam Santoso

I'am a metallurgist who love writing

3 comments

  1. hehehee….
    bagus-bagus…
    lucu mas..

    sayang pohon sambinya sudah hilang sekarang

  2. isnaini

    oalah; crito iki tibae temenan. tak kiro bien koco2an. aq ngguyu dwe moco iki. kok yo jek tas weruh. jajal si badriyah moco, pasti guling2 kepingkel.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: