Do’a para manusia

Dibaca ketika farewell party Uq Summer surviver, University of Queensland Indonesia Student Association, 10/07/2012

Puisi oleh Imam Santoso dan Ahmad Naufalul Umam

Kutapakkan kaki di tanah ini untuk pertama kali
Kupandang jauh bayangan rumah di sana
Kusapa tantangan, dengan ucapan, “Aku siap”
Dan aku mendengar sayup suara, “Selamat Datang” entah dari mana

Aku dan teman-temanku telah berlayar di atas awan.
Denga segala cita dan asa di badan.
Kami tinggalkan, orang –orang yang kami cintai, keluarga, murid, guru dan juga pekerjaan.

Setelah perjalanan semalaman.
Dengan gagah Kami turunkan kaki dari tangga, bongkar tas.
Ada yang ketinggalan koper ada yang lari mengejar pesawat lanjutan.
Tapi akhirnya kita tiba di Gurun ini.
Kita Di Australia!!!!!, gegap gempita hati, kita di sambut saudara-saudara kami di sini.

Semangat kami sangatlah kuat.
Walau ketika kami datang kami disambut hujan.
Langitpun tujuh hari tak bermentari.
Walau kami harus mengusi.
Kami tetap kompak, kita tetap ceria. Malah kita bisa tampil menari-nari, tampil memukau memperkanalkan budaya kami kepada teman-teman baru di sini.

Bagaikan bangun di siang hari, aku melewatkan pagi
Terasa cepat waktu berlalu,
Hingga setahun terlewat tanpa teringat

Sudah separuh perjalanan
Terkadang, aku begitu yakin akan diriku
dan apa yang ada di temanku
Ketika itu aku melangkah pasti, bahkan berlari
Terkadang, aku terlalu bingung dengan apa yang kulakukan

Mengapa, apa, di mana, siapa, kapan, bagaimana dan… berapa
Itu semua adalah kata tanya.

Kita mampu melewati.
Pun segala tugas tugas yag kadang membuat kami tak tidur, kami pun mampu melewati.
Kadang kami menangis di tengah malam, ketika ingat anak kami sedang sakit di rumah.
Bahkan kami pun hanya mampu berdoa dari sini ketika orang yang kami cintai Engkau panggil, pergi meninggalkan kami.

Oh..terimakasih Tuhan…teman-teman kami telah lulus. Berkat rahmat kasihMu.

Pernah kami panik ketika kami mendengar kabar bahwa Indonesia Gempa.

“Aceh… Jakarta Gempa… 7 skal ritcher”
“Bang Ihsan gimana keluarganya, Bang Zul”

Kami mencari kabar sudara-saudara kami.
Kami juga pernah tertawa hahahaha, melihat dari jauh.
Ada yang mengikuti perkembangan musik. “Eh ada pendatang…..baru …siapa-siapa? Ayu tingting…ayu ting-ting haha”

Maka inilah sebuah akhir
Dan inilah sebuah awal
Aku persilahkan hati dan pikiranku
Untuk melangkah kemana lagi ia mau

Lalu berita tentang kekerasan, tentang sampah, tentang macet, tentang banjir, tentang pengemis, berita tentang ketidak adilan. Kamipun mendengarnya. Hati kami trenyuh.

Tapi mungkin justru karena itu kami berada disini.
Bisa jadi kita disini karena doa-doa anak-anak kecil di kolong jembatan yang berdoa kepada Tuhan:

“Ya Allah berikanlah kami kakak-kakak yang bisa mengajari kami baca tulis”

Mungkin kita di sini juga karena doa ibu-ibu di desa yang menjerit lantaran harga beras yang tinggi. Tiap malam mereka berdoa:

“Ya Allah berikanlah kami pemimpin-pemimpin yang peduli kepada kami..”

Semoga Tuhan memberikan kekuatan dan kesabaran dalam mengemban amanah hidup ini.

Selamat jalan teman-temanku.
Semoga ilmumu memberi manfaat untuk negeri

Iklan

About Imam Santoso

I'am a metallurgist who love writing

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: