Partikel 2. Agar tidak di guna-guna katanya, huh

Sehabis isa’ seperti biasa pada hari-hari tertentu derap -derap kaki akan terdengar ramai. Orang- orang berbondong-bondong mendatangi sebuah rumah yang terletak di sebelah barat agak kebelakang rumah saya. Aroma kemenyan dan bunga melati akan semerbak tercium sampai jauh setelahnya. Dan bunyi klinting akan terdengar nyaring. Pertanda bahwa dua buah kuda lumping hitam segara dikeluarkan, terpal plastic pun akan di gelar, lengkap dengan lampu petromax terang.

Orang-orang duduk melingkar menunggu Si Mbah keluar. Mbak Pon namanya, dukun terkenal di desaku, bertetangga denganku. Banyak orang datang ke dia, ada yang minta agar cepat dapat jodoh, minta dipilihin nomor SDSB (sekarang semacam togel) , ada yang berobat karena sakit yang gak sembuh-sembuh, yang katanya kenak santet. Pokoknya macem-macem.

“Dueerrr”, upat-upat pecut telah dibunyikan. Dan Si Mbah Pon keluar menuju halaman menuju pasien yg telah menunggu. Orang-orang pun melai tegang, melihat Mbak Pon keluar menungangi kuda hitam dari bambu dengan pecut di tangan, matanya tajam membelalak seram. Dengan pakean hitam dan dobelan baju lorek-lorek putih-merah seperti tokoh Pak Sakerah

“Mbah Pon sudah Ndadi..udah Ndadi” orang-orang mulai berbisik ketika melihat Mbah Pon yg sudah mulai kesurupan. Dan setelah itu mbah Pon akan berubah menjadi sosok yang lain. Ketika kesurupan, suaranya yang seram mendadak menjadi kecil seperti suara boneka susan. Dan setelah itu terjadi dialog antara pasien dan Mbah Pon. Pengobatan telah di mulai.

Orang-orang dengan wajah tegang akan menontonya sampai selesai. Mulai dari penyemburan dengan air, sampai pada ujung prosesi yaitu, mbak Pon menaiki lagi kuda lumpingnya , berjalan menuju kegelapan dan menuju sebuah pohon kelapa. Dan dengan lihai ia akan memanjat pohon kelapa itu, dan tau-tau sudah turun dengan membawa janur kuning yang akan di berikan kepada si pasien. Walaupun bersebelahan, keluargaku tidak pernah berobat ke pada Mbah Pon. Kita berobat ke Puskesmas ketika sakit.

Itu adalah pemandangan sekilas pada akhir tahun 80 an. Orang sakit akan banyak yang ke dukun. Di kecamatanku hanya ada puskesmas, rumah sakit berjarak 30 KM jauh di kota. Ibu -ibu melahirkan juga ke dukun bayi. Tapi paling tidak dukun bayi tidak menggunakan jampi-jampi , walau skill meremat perut minimal haruslah dipunyai si Mbok dukun ini. Ibuku ketika melahirkan saya juga atas bantuan Mbok Rom, dukun bayi terkenal di desaku.

Nama saya IMAM. Berdasarkan cerita , ketika proses syukuran pemberian nama untuk saya, ibuku sempat menangis tersedu, gara-gara ia gagal member nama ARIF kepadaku, nama pilihanya. Lantaran eyang saya setelah menyiapkan nama saya berbulan-bulan jauh sebelumnya, katanya sampai berpuasa segala untuk mendapatkan nama IMAM SANTOSO. Dan bukan hanya itu, eyang saya juga meyiapkan perlindungan ganda untuk saya katanya.

Bila akhir-kahir ini banyak orang tidak mencantumkan tanggal lahirnya di social network gara-gara takut informasi ini disalahgunakan oleh orang yang tidak bertanggung jawab, misal untuk pemalsuan kartu kredit dll, maka untuk melindungi tanggal lahir saya, eyang saya punya teknik yang lebih canggih. Yaitu:

Tanggal lahir saya di rahasiakan, alias yang ditulis untuk masuk SD nanti harus beda dari tanggal lahir sesungguhnya. Apa alasanya? Karena katanya kalo tanggal lahirmu diketahui orang maka orang itu bisa menyalahgunakan informasi ini. Orang yang tidak suka dengan kamu bisa datang ke dukun dan bisa mengguna-guna kamu karena ia tahu tanggal lahir kamu *Gubrax, ayak-ayak wae.

Tanggal lahir di akte kelahiran dan ijazah saya berbeda dengan tanggal lahir sesungguhnya yaitu tanggal 9. Tapi tahun dan bulanya sama yaitu Agustus.

Tahun 1988, pemerintah mengirimkan bidan desa. Bidan itu tinggal di timur rumah saya. Bidan desa di timur rumahku juga ramai, karena terkenal murah dan manjur. Sejak saat itu rumahku seperti di apit dua dunia berbeda. Ketika malam jumat tepat di sebelah barat rumahku ramai akan orang dan bau kemenyan. Disaat yang sama dari timur tercium bau karbol antiseptic. Di sebalah barat terdengar pecut menggelegar, dari timur terdengar Bu bidan memanggil nama-nama antrian pasien. Dua keramaian pengobatan yang bertentangan. Di kanan adalah pengobatan berdasar mistis dan yang timur pengobatan berdasarkan empiris logis.

“Dueerrrrrr….Duer……” Mbah Pon memukul-mukulkan pecut dikakinya, sesekali memutar-mutar nya ke atas. Kemenyan di tanganya.

“Bu Siti siap-siap..habis ini penjenengan yang diperiksa…” Bu Bidan memanggil antrian berikutnya, tensimeter dikalungkan di lehernya.

Bersambung

Iklan

About Imam Santoso

I'am a metallurgist who love writing

3 comments

  1. realis dan menghibur 😀
    emm… jd Arif di partikel 1 adl Imam… wakatta!
    okelah ka ka kalo beg beg begitu… selamat ulang bulan lahir saja buat Imam (ga jadi Arif) Santoso…. teteup cumungud berkarya… Barrakallah…

  2. optima

    mas sob, tulisannya sudah berbau-bau penulis cerpen pro, yah walaupun masih ada beberapa bumbu yang perlu ditambahkan agar lebih terasa pedas, manis dan asemnya, but keep writing ok

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: