Ucapan lebaranku untukmu

Bukan.. bukan juga karena bulan aku berdiri malam ini di sini. Aku tahu , ini adalah penghujung ramadhan. Tak mungkin aku lihat bulan separuh atau penuh. Yang ada adalah bulan sabit segaris yang muncul sangat singkat, sesaat setalah matahari tenggelam di ufuk barat sore tadi. Ia pun segera tenggelam lagi menyusul mentari.

Apa lagi untuk melihat pelangi raksasa yang membujur membelah langit? Juga bukan karena ini. Polusi cahaya di kota ini telah menutupi nya, sehingga galaksi berisi trilyunan bintang-bintang itu tak bisa terlihat sempurna. Beda dengan di kampung yang aku cukup berlari kebelakang rumah menuju jalan antar sawah. Bila tak mendung di jalan antar sawah itu biasanya aku duduk menengadah ke langit. Jam 6 sore, menjelang magrib bintang kejora atau planet venus muncul terang, sangat terang. Terangnya melebihi lampu obor di tengah gunung. . Tak lama, di utara pun akan muncul Biduk, rasi bintang berbentuk seperti gayung perahu . Ketika malam mulai larut, ujung rasi ini aku mulai meninggi, seperti gayung sampan raksasa yang sedang berayun ditangan nelayan, berlayar mengarungi lautan bintang. Namun yang tak kalah seru adalah ketika aku menghadap ke selatan, akan terlihat terlihat rasi bintang layang-layang dengan benangnya yang seperti menjulur ke bumi. Gampang bagiku untuk melacak keberadaan dimana posisi galaksi bimasakti, tempat kita berada, rasi layang-layang ini adalah petunjuknya. Rasi layang-layang ini terletak pada equator galaksi ini. Bila layang-layang telah muncul, maka aku akan diam dalam kekaguman. Memandang awan bintang yang membujur panjang.

Ah, bukankah langit itu tidak hanya untuk dipandang takjubi. Betapa bumi ini hanyalah setitik benda kecil tak berarti di banding alam semesta ini. Apa lagi kita. Apa lagi harta kita. Apa lagi jabatan kita. Tapi kenapa bila harta dan karir ini bukanlah apa-apa, manusia tetap saja ada yang tertipu dan menghinakan diri untuk meraih sesuatu yang fana ini. Bukan, aku bukan mengatakan bahwa dunia tak penting. Juga Bila bumi hanyalah setitik benda kecil tak berarti kenapa kita masih saja menunda-nunda untuk melakukan amal kebaikan. Bila bumi hanyalah setitik benda kecil tak berarti , maka sebesar debu apa amal kebaikan kita yang akan kita bawa ketika mati? Lalu kita mengharap surga sebagai ganti?

Oh… .apa lagi bila aku ingat segala dosa…. Rasanya tak ingin aku pergi dari tiang ini, ingin terus bersandar. Ingin terus membaca diri tentang apa-apa yang telah dijalani. Buat adikku, bapakku dan keluargaku di sana, biarlah tulisan ini menjadi ucapan lebaranku. Maaf aku tidak bisa pulang lagi lebaran kali ini. Mungkin malam sedang menginginkan aku jauh agar ada sepi untuk merenungi lakuku yang mungkin dulu pernah menyakiti. Agar ada rindu untuk memberi arti betapa indahnya ketika bertemu dengan mu.

Selamat idul fitri

Iklan

About Imam Santoso

I'am a metallurgist who love writing

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: