Tanah

Tanah

Di atas tanah kita hidup. Ibarat buku setebal 25000 halaman maka sebenarnya kita tinggal di tempat se tebal satu lembar halaman. Di tempat sekecil itu sejarah manusia berlangsung mulai sejak nabi adam sampai sekarang. Ada peperangan, ada bencana alam, ada perjuangan dll.

Sejak zaman dulu jumlah masa tanah pun juga relative tetap hanya saja berubah wujud, ada yang jadi bangunan, ada yang jadi mobil , ada yang jadi computer ada yang jadi hp ada yang jadi lotion ada yang jadi bedak dll. Tentu ada proses panjang agar tanah menjadi barang-barang tadi diantaranya adalah dua proses penting yaitu penambangan dan proses metalurgi yang mengubah mineral-mineral logam dari tanah tadi menjadi barang berharga ☺. Kira-kira berapa sih tanah yang kita butuhkan selama hidup untuk kebutuhan-kebutuhan tadi. Sebagai gambaran riset di US menujukkan manusia membutuhkan 2.9 juta pounds (1.3 juta kg) mineral, logam, dan bahan bakar selama hidupnya. Bahkan ketika anak baru lahir ia tak bisa lepas dari “tanah’ ini. karena (misalnya) ia butuh bedak atau lotion (zinc), butuh tempat tidur (besi), butuh lampu (batubara) dll yang asalnya dari tanah (lihat gambar berikut)

Bayi lahir butuh banyak “tanah”. Gambar dari http://geoinfo.nmt.edu/resources/minerals/home.html

Juga tanah ada yang berubah jadi manusia. Seperti yang sudah kita ketahui bersama, kita tercipta dari sari pati tanah. Kita makan nasi dan daging untuk tumbuh. Nasi dari padi dan padi memproses beras dari sari pati tanah. Kita makan daging sapi, sapi memakan rumput. Rumput dapat tumbuh karena memproses sari pati tanah. Tanah telah bertransformasi menjadi gedung dan juga tanah telah bertrasnformasi menjadi manusia. Walupun jumlah manusia meningkat padat secara ekponensial sejatinya masa bumi relative tetap karena manusia hanyalah malihan dari tanah dan air. Allah sang maha pencipta meniupkan roh kedalamnya sehingga jadilah manusia.

Berasal dari tanah akan kembali dari tanah begitulah manusai dan kurang lebih sama untuk logam. Misalnya, setelah besi diambil dari tanah dalam bentuk bijih besi (iron ore) dan diproses menjadi logam besi (pelat baja, pipa-pipa dll), setalah dibiarkan dalam waktu tertentu maka besi ini akan kembali lagi menjadi tanah alias terkorosi alias menjadi karat yang rapuh (rust). Dan tentu saja, karat ini bisa diproses lagi kembali menjadi besi. Artinya logam mempunyai siklus “hidup’. Seperti pada gambar berikut.

salah satu siklus logam besi. Gambar dari http://pmahatrisna.wordpress.com/page/2/

Pun manusia, ketika manusia mati, ia akan terurai menjadi tanah. Ketika membusuk air akan keluar, air ini bisa terserap rumput. Bila dimakan kambing dan kambing termakan manusia maka air dari manusia itu kembali ketubuh dan “menjadi’ manusia lagi. Ketika di dalam kubur daging kita terurai menjadi senyawa karbon. Karbon bisa terbang ke luar ke udara menjadi CO2. CO2 bisa diserap lagi oleh padi dan sayur mayor, dan bila padi ini dimakan maka carbon dari manusia tadi kembali lagi ke manusia.

Begitulah kurang lebih siklus logam dan juga kehidupan manusia. Manusia lahir lalu mati. Jasadnya akan terurai kembali manjadi tanah. Lalu lahir manusia baru lagi. Tumbuh dewasa, melahirkan anak. Lalu mati lagi. Dan seterusnya.

Bagi seorang muslim kematian bukanlah akhir tapi awal dari kehidupan yang sesungguhnya, yaitu kehidupan yang abadi. Kadang kita terlalu sibuk memoles tubuh dan wajah yang sejatinya akan dimakan belatung dan menjadi tanah. Tapi lupa memoles ruh, zat yg akan tetap abadi. Padahal nasib ruh di alam kubur dan akhirat nanti , sangat ditentukan oleh kehidupan di dunia yang singkat ini.

“Kehidupan pada hakekatnya adalah proses perubahan, siklus yg terus menerus terjadi secara berkesinambungan hingga batas yg mungkin terlalu sulit untuk diprediksi. Ketika suatu bentuk kehidupan enggan berubah atau memilih berjalan di tempat (status quo) maka berarti sesungguhnya ia telah melupakan arti kehidupan meski secara fisik tampak hidup, namun jiwanya seakan mati” ( Ichsan S. Putra )

Iklan

About Imam Santoso

I'am a metallurgist who love writing

4 comments

  1. “Dari tanah kembali ketanah”, ulasan yang sangat bagus dan menyegarkan. Banyak hikmah yang dapat kita petik dark ulasan tersebut sehingga mengingatkan kita bahwa sesungguhnya dari mana kita berasal dan tidak hanya fisik yang kita poles. Mari kita poles RUH yang ada dalam jasad kita supaya dapat mengenali MAHA RUH ketika waktunya sudah tiba.

  2. ulasan yang kece.
    di tunggu tulisan terbarunya.

  3. minta ijin share ke Facebook ya.

  4. saya suka tulisan ini. Minta ijin share ke Facebook, biar tambah ilmu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: