Laut

Aku suka melihat laut.

Pantai watu ulo. Pantainya terkenal ganas. Terletak di Jember Selatan. Berbeda dengan pantai utara yang ombaknya akan cenderung mengarah 90 derajat kesamping ketika pecah di bibir bantai, Watu Ulo ombaknya akan menggulung kebawah, tipikal ombak pantai selatan. Ketika terhempas di pantai, ombak itu akan menukik kebawah, lalu bergerak balik 180 derajat kembali laut. Seperti pengeruk, bila tubuh ambruk, dalam sekejab air akan menggulung dan menariknya menuju tengah, lalu hilang. Beberapa hari kemudian tubuh akan ditemukan melayang-layang beberapa puluh meter ditengah.

“…Dan bukan karena ditarik Nyai Roro Kidul. Memang begitulah ciri khas ombak selatan. Kaki seperti terseret ke laut. Beda dengan laut utara yang akan membawamu menyisir pantai”, Kata Pak Chalid. Dosen geologi saya 9 tahun silam.

“Byuurrr”, tubuh kecil di atas punggung itu terjatuh ke laut. Ombak dengan cepat membawanya ke tengah. Di daratan orang-orang berteriak histeris. Tubuh itu terapung-apung. Lelaki itu terus mengayuh dengan kedua tangnya.

Di punggungnya ada anak kecil.

Buih putih terus saja menggulung.

Tanganya yang mungil terus mencengkeram kuat leher lelaki yang sedang terengah-engah. Nafasnya timbul tenggelam.

Mereka sedang berjuang bergerak menepi. Sesekali terpelanting ke sana sini.

Rupanya ada orang yang menggendong anak kecil baru saja tersapu ombak saat berjalan di atas batu karang. Kejadian itu saat aku berusia 7 tahun, aku di gendong pamanku. Laut sore tiba-tiba pasang. Tak di duga sebelumnya, tenaga kuat dari langit itu telah membuat laut meninggi dengan cepatnya. Air datang bersama angin kencang. Menjadi ombak, lalu pecah menghantam kami. Tubuh kami terbentur dinding karang. Lalu jatuh berguling di laut.

Dan syukur tangan mungilku mampu bertahan sejak terbentur hingga berhasil ke tepi lagi.

“Eh makanya jangan pakai yang merah-merah…nanti nyi roro kidul marah..” kata orang-orang * Sandal selop merah lebaranku tinggal satu di kaki kecilku, satunya hanyut.

Lebaran tahun berikutnya aku diajak pamanku berlibur di kampungnya di Ternggalek. Ada pantai yang Indah, namnya Pantai Pelang. Khas dengan gua-gua dan karang putihnya yang menyembul ke permukaan. Tak jauh dari garis pantai ada air terjun tinggi berundak. Hari itu sore bada asar, kita sampai di tepi pantai. Kita ingin melihat sunset.

Untuk mendapat spot matahari terbenam yang bagus kita harus menyeberang muara sungai. Pamanku menggendongku, tinggi air sungai tak sampai selutut kiat pun sampai di seberang. Matahari terbenam indah, turun pelan menyentuh bumi, ujungnya terbias air laut membuatnya terlihat besar. 2 jam pemandangan laut menyihir kami, hingga lupa kini rumput-rumput itu tak nampak lagi, sungai yang harus kita seberangi airnya meninggi.

Pamanku segara menarik dan menggendongku di belakang. Berlari, aku pun nyaris jatuh. Kupegang erat lehernya, sama seperti setahun lalu. Saat maut seakan berada di depan kami. Diseberang sana arus laut terus bergerak masuk. Delta sungai tak nampak lagi. Air itu semakin meninggi menuju kami.

Tangan kedua pamanku menahan tubuhku kuat. Kakinya terus bergerak membelah air. Air telah kini setinggi pinggang…

Melihat aku yang mengigil pamanku segera memelukku erat untuk menghilangkan rasa takut setibanya di seberang sungai. Kita selamat.

Untuk menghilangkan takutku, aku diajaknya ke studio foto.

“wah mas, makanya kalo ke laut jangan pake baju ijo?, untung bisa nyebrang sungai” komentar tukang foto melihat bajuku yang basah. *Eh bukanya Nyi roro kidul katanya gak suka yang merah-merah?..hadeuuuh…klenik suklenik.

Walau aku nyaris hilang di laut, aku tetap suka laut. Lulusan SMA kongkow di laut. Tidak lulus SNMPTN aku nyebur dan mandi di laut. Senang sedih menuju laut. Aku suka berjalan di tepinya. Merasakan setiap bulir pasir putih merambat dan membalut setiap celah jari dan tapak kaki. Duduk dibawah pandan-pandan laut. Melihat jajaran gunung karang yang tegar diterjang ombak. Mengagumi rumput-rumput liar yang tumbuh subur di atas pasir panas. Bunga-bunga landaknya menggelinding, bergerak gesit, jauh pergi tertiup angin. Jauh, tanpa pernah takut menemukan air pasang yang memberinya air untuk hidup lagi.

Secara alami, air itu bergerak dari tempat yang tinggi ke yang lebih rendah. Lalu, bisakah bila air bergerak ke arah yang sebaliknya alias bergerak meninggi? Bisa asalkan diberi energi. Dengan pompa misalnya. Berapa besar energinya? Dengan rumus sederhana kita dapat mengestimasi E= m g h. Lalu, pernahkah kamu memikirkan berapa energy yang dibutuhkan untuk membuat ari laut yang sangat luas menjadi meninggi sekitar 1 meter menjadi air pasang? Ada berapa juta meter kubik air laut yang terangkat ketika laut pasang? Tinggi nun jauh disana 240.000 mil bulan berada berinteraksi dengan matahari. Menghasilkan anergi yang demikian besar sehingga mampu menarik air itu meninggi menuju angkasa. Lantas apa yang istimewa? Pernahkan kamu memikirkan bahwa energy itu demikian besarnya sehingga mampu menarik berjuta kubik air laut , namun tubuhmu yg kecil tak merasakanya sehingga kamu seolah tidak tertarik ke langit. Energi itu sangat dahsyat sehingga mampu menarik seluruh samudra, membuat bentuk bumi ini melengkung. Namun manusia tidak merasaknya

Ah..betapa energi langit itu telah membuat tubuhku melayang, terbawa laut pasang.

Betapa Bulan, bumi dan matahari saling berinteraksi tanpa pamrih, membuat pasang-surut muka laut. Sehingga kincir-kincir pembangkit dapat berputar. Energinya digunakan utk menerangi surau-surau dan rumah-rumah pesisir. Air yang meninggi namun sebentar menggerakkan perahu-perahu nelayan yang akan pergi melaut. Teripang-teripang dan kerang-kerang dapat hidup dan di panen ibu-ibu. Semua untuk manusia

Berfikir (zikir) itu penting. Dan terminal akhir dari zikir itu haruslah pengagungan (takbir, tasbih, tahlil dan tahmid) kepada Allah, penguasa alam raya pemilik tunggal ilmu pengetahuan.

Kuatnya gaya tarik Bulan dan Matahari. Bumi melengkung. Gambar dari http://www.oceancalendars.com.au/oceans.html

Iklan

About Imam Santoso

I'am a metallurgist who love writing

3 comments

  1. aku rindu laut, hujan dan cilok panas pedes dingin-dingin, 😦

  2. tn. bayu

    mam kapan yo iso ketemu maneh trus golek walang……………………

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: