Cerita Dompet dan kartu. Part 1. (Kisah tak terlupakan di Singapura dan Malaysia)

Dua barang yang sering datang dan pergi, hilang lalu kembali. Entah berapa kali. January 2012, aku mengajak 3 adikku jalan-jalan ke Singapura dari Surabaya menikmati tahun baru. Dua adikku perempuan dandan apa adanya, polos lugu. Jilbab biasa, bukan jilbab gaul ketat yeng menunjukkan lekuk kepala dan leher. Kita berencana setalah dari Singapura kita lanjut ke Kuala Lumpur.

Sebenarnya dari pas chek-in di Juanda aku udah curiga, kenapa petugas kounternya memberi isyarat kepada petugas berseragam biru setelah aku menunjukkan document?. Maklum mereka belum pernah pergi jauh apa lagi ke luar negeri.

Dan ternyata benar.
Setelah kita naik tangga dan tepat di atas pintu kita dihadang.

“Paspornya masih kosong….masih baru..belum ada stempelnya” kata petugas imigrasi Surababaya setelah melihat ketiga paspor adik-adikku.

Kenapa ini? Ada yang anehkah dengan paspor kami?.

“Itu siapa mu…mau kamu bawa kemana”, bapak itu berkata keras dengan wajah tidak ramah.
Kita di hadang dipintu imigrasi Surabaya sebelum masuk pesawat menuju singapura.
“ Itu siapa yang bawa kamu..” kata petugas yang lain.
Kita pun digiring, aku sebagai kepala rombongan segera di bawa diruang khusus.

“itu siapamu di dalam…” petugas-petugas itu mengintrogasi adikku dengan nada tinggi.
Adikku pun menjawab apa adanya.
“..gak percaya..gak percaya…” petugas itu menimpali adikku.“.
Ya udah kalo gak percaya pak..wong dia memang Mas saya”, adikku menjawab dengan nada emosi.

Bapak yang ada di dalam mengintrogasiku. Dengan sopan dengan mata penuh curiga.
‘Makanan..makanan..dapat makanan…” petugas berkata ke petugas lain.
Tak tahu apa maksudnya, makanan apa yang dimaksud. Seketika itu aku kebayang kisah-kisah yang seringku dengar tentang pemerasan TKW ketika akan pergi dan ketika mau pulang kampung.
Tapi adikku di luar sepertinya tidak takut. Aku pun tenang.

Dan..Ya Ampun…rupanya aku dikira akan menyeludupkan TKW illegal dibawah umur ke Malaysia lewat singapura.

“ Oh dari Jember to Mas…kerja dimana?” kata petugas imigrasi.“ saya masih kuliah pak”. Aku mengeluarkan kartu pelajar saya…“ oh..kuliah..kita cuman pingin bla…bla..bla..hati-hati diperjalan Ya Mas”

Tak ku sangka. Ternyata kartu itu bisa merubah orang seketika

Kita pun melewati imigrasi Indonesai lalu mendarat di Changi dan tanpa ba bi bu kita langsung di stamp imigrasi Singapura. Tak ribet.

__________________________________________________________________________________

Sesampainya di Singapura, aku segara merubah dandanan adik ku dengan baju beda dengan jilbab panjang khas sana agar tidak terlulu “lugu” agar tidak di kira TKW yang diselundupkan, karena kita akan menuju Malaysia esok hari, negara dengan banyak kasus penyiksaan TKW.

Seharian keliling Singapura menikmati sisa-sisa tahun baru. Foto-foto di patung singa, menikmati RMIT si kereta cepat. Makan masakan padang direstoran bawah tanah. Jalan-jalan di sepanjang toke-toko branded Louis Vjutton, Gucci dan apalah itu di Orchard Road . Tapi teteup belinya di ruko yang berisi barang-barang murah meriah di Lucky Plaza. Dan tiba-tiba kayak di kampung halaman, banyak mbak-mbak berbicara bahasa khas Jember-ran. Kagum melihat kerja keras dan ketegaran si Mbak-Mbak.

“Lhai iki regane mek rong ndolar…”…
” kemayu temen to koe rambute dibang.. ha ha ha” Mbak-mbak itu riuh riang.
Singapura sore itu ramai.

Seteleh sholat isa’ kita pun menunggu taksi di depan Mall ke arah Golden Mile komplek tempat Bus yang akan membawa kami ke Kuala Lumpur. Antrianya panjang menunggu taksi datang dan pergi. Khas Singapura, supir taksi kebanyakan adalah bapak-bapak lanjut usia. Setelah mengantri lama aku bertanya-tanya dalam hati kenapa 3 orang berturut-turut dihadapan kami tidak mau menaiki si taksi yg baru saja datang? Mereka malah berjalan dan memilih taksi di belakangnya. Tanpa pikir panjang kita pun menaiki taksi kinclong itu.

“..Jrub…” handle ku tutup. Aku duduk dekat sopir. Ketiga adikku di belakang. Kursinya empuk. Beda.

Kenapa taksinya enak banget ya…bunyi mesinya tak terdengar sama sekali. Berjalan smooth. Kayak mobil temanku aja di Indo.

Dan tiba-tiba mataku tercengang..

Kupelototin kedip-kedip tariff argo di depanku. Argo naik tiap detik dengan harga beda signifikan dari taksi-taksi yang kita naiki tadi pagi.

Oh..

.kita naik taksi Mercy….

Untunglah Singapura tak seluas Jember, hanya seperempatnya, sehingga dompetku tak sampai habis kering buat bayar si taksi. Kita pun turun. Setelah sempat sport jantung.

“gak papa mas..sekali-kali naik taksi bagus “..kata adikku…..*tepok jidat….

Kitapun segera berjalan. Ke arah counter bus. Dan kini kami berada di komplek mall yang sama-sekali beda. Bus-bus yang terlihat datang sangat bagus dengan interior mewah. Tapi kenapa harus harus di mall seperti ini. Agak kotor dan ketika mencoba masuk, banyak sekali orang mabuk. Bau daging-daging dan aroma tidak jelas. Kita sempat khawatir ini jam 11 malam.

Aku pun menuju counter Bus, untuk menyerahkan bukti booking tiket.

Dan.

“dompet mana..tas kecil mana…” aku berlari menuju adik saya.

Kita semua pucat pasi. Tas kecil saya berisi dompet paspor dll tertinggal di taksi.

Kita lemas, boro-boro mikir kita akan jalan-jalan ke gedung petronas. Aku berfikir gimana kita bisa pulang ke Indonesia dari Singapura. Paspor dan dompet berisi kartu-kartu dan uang telah tertinggal di taksi.

“ Telpon taksinya..nomernya ade di print out receipt” kata counter khas dengan bahasa melayu.

Dan.. Sialnya

Aku tidak meminta receipt . Terfikir untuk telfon polisi. * emang kecopetan ya.

Jam menunjukkan pukul 00.00 lalu lalang orang jalan simpang siur mabuk. Aku menenangkan diri memikirkan apa yang harus saya lakukan, nelpon siapa, datang kemana. Adik-adik saya terlihat panik.

Hening..

“Mas sih gak hati-hati…trus kita pulang gimana…Mas?“..bla..bla..bla”…*tetap tenang

Dan

Tiba-tiba terlihat bapak tua tergesa-gesa mendekati kami.
“ You’re lucky…you are lucky..” bapak itu memberikan tas kepadaku lengkap dengan isinya.
Rupanya bapak taksi yang baik hati tadi kembali mencari kami, setelah melihat ada tas tertinggal di mobilnya. Thanks Allah…Alhamdulilllah..dompet itu kembali. Aku masih ingat wajah bapak tionghoa yang baik itu.

Trimakasih taksi Mercy….*setelah sport jantung lagi. Untung gak naik taksi abal-abal. Bisa berabe
__________________________________________________________________________________

“Santii..jangan lupa nanti rapikan dandanan pas masuk Malaysia..jangan sampai bermasalah di imigrasi sana, kayak di Surabaya”.

To Be continued

__________________________________________________________________________________

Dan pengalaman tidur 3 malam di rumah di tengah hutan kelapa sawit tidak pernah kami lupakan. Melihat mereka tinggal dibarak-barak triplek, demi meraih ringgit.

“Dompet mana..dompet mana. Dan dompet di saku benar-benar tidak ada. Tak mungkin kita balik lagi menyusuri jalan dan tempat cetak tiket. Pesawat 1.5 jam lagi tinggal landas. Kita belum check-in. Tapi bagaimana bisa pergi tanpa tanda pengenal?….(cuplikan next Chapter)

Di hutan kelapa sawit

Iklan

About Imam Santoso

I'am a metallurgist who love writing

2 comments

  1. yuhusasn

    haha mas, mas raimu ancen rai selundupan, hehehe.
    ampun, mas.

  2. Pengalaman yang menegangkan hehe…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: