Dosa anak kecil

Fajar terus berlari. Berharap dosanya akan diampuni. Tapi bukankah dosa kepada manusia itu lebih berat? Enak banget bila setelah melakukan aniaya kpd orang lalu tobat berharap ampunan kepada Tuhan? Tanpa pernah mau meminta maaf atau menyelesaikan masalah dengan orang yang di zolimi. Bila tak selesai di dunia maka urusan itu akan diselesaikan di akhirat. Kebaikan orang menganiaya akan diberikan kepada orang yang pernah ia sakiti. Dan bila kebaikannya tak cukup untuk membayar, maka dosa-dosa orang yang ia zolimi akan dipindahkan kepadanya. Dan orang-orang itu lah kata Rosul orang-orang yang bangkrut ketika di akhirat. Nasehat Pak Jono itu terus terngiang-ngiang.

Paling tidak penyesalan itu pernah ia rasakan. 26tahun lalu, berhari-hari matanya pernah bengkak gara-gara ikan pindang. Bukan karena alergi atau karena teracuni bahan pengawet yang ada pada ikat laut yang kadang sengaja ditambahkan oleh penjual-penjual nakal. Ia bengkak karena menangis meratapi apa yang telah ia lakukan pada kucing yang hampir tiap hari mencuri ikan goreng di rumahnya.

Siang itu selepas pulang sekolah ia benar-benar lapar, namun rupanya tutup makanan dari bambu yang biasa menutupi meja makan itu tidak terlalu kuat, sehingga si hitam berhasil menggondol 5 ekor ikan tongkol goreng. Keesokan hari, neneknya membelikan satu kotak ikan pindang sebagai ganti jatahnya yang hilang.

Mungkin karena 3 hari ini ia selalu gak kebagian kerena di curi kucing, Fajar ingin memberi pelajaran pada si kucing. Sialnya si hitam masih saja mencoba datang mungkin karena mencium bau ikan yang sangat kuat yg sedang Fajar makan.

Kucing Cluthak..alias kucing liar. Tetangga-tetangga si Fajar juga geram dan was-was dengan kucing itu. Bukan hanya ikan pindang, tapi kerupuk dan bahkan jenang di meja makan akan hilang bila tidak tersimpan dengan baik. Anak kelinci dan marmut yang baru lahir pun juga bisa di gondol. Bila kucing betina melahirkan anak dan bila si betina tidak mengawasi anaknya, maka anaknya bisa di santap oleh si jantan. Dia bisa kanibal.

kalo musim kawin, malam-malam kucing-kucing itu akan menimbulkan keributan suara yang luar biasa.

“Kucing kurang ngajar..” Fajar segara berlari mengejar kucing itu sambil membawa batu setelah ia melihat si hitam merunduk-runduk dibawah meja. Bak kucing mengejar tikus, Fajar kali ini benar benar mengejar si kucing tak putus-putus. Dan mengejar sampai ke pekarangan. Ketika sampai dibawah pohon mangga si kucing berhenti dan kesempatan itu tak ia siakan dan

“Duarr..” batu itu mengenai si kucing

Di sampingnya ada 3 bayi kucing kecil yang lucu-lucu.

Beberapa detik kemudian terlihat darah mengalir.

Si Induk itu rupanya baru saja melahirkan dan merawat 3 anak kecilnya, darah dari proses melahrikan itu masih terlihat segar mengalir. ikan dimulutnya pun segara ia kasihkan kepada anak-anaknya, sambil jalan terpincang.

Dan tiba-tiba Fajar tersentak, seperti ketimpuk bata. Serangan batu pada kucing itu seperti berbalik arah. Menyerang dirinya dengan kekuatan 1000 kali lipat. Ia menyesal, mungkin lebih menyesal dari orang yang pernah menabrak kucing sampai mati di jalan pake motor.

“Kucingnya Pincang Mbah …kucingnya pincang..” Fajar menangis menderu pada neneknya.

“…Aku dosa kan mbah..kan aku menzolimi kucing…kata Pak Jono, kalo dosa pada diri sendiri kita bisa minta maaf sama Allah, tapi selain itu gak gampang mbah…harus minta maaf….”

“Trus siapa yang kasih makan anaknya kalo ibuknya pincang Mbah…apa bapaknya kucing nanti yang akan cari ikan pindangnya.. Mbah..mbah”.. Fajar terus menceracau…

“YA UDAH SANA KAMU YANG KASIH MAKAN..KAMU HARUS KIRIMI KUCING DAN ANAKNYA DENGAN PINDANG TIAP HARI..”

Zhalim pada orang lain, selesaikan di dunia. Titik.

Kisah pindang itu sepertinya terulang. Tapi kini bukan pada kucing, tapi benar-benar kepada manusia. Sehari lalu tanpa ia sadari telah membuat seseorang menangis. Fajar terus berlari.

Apakah dia akan memaafkanku. Ataukah aku sedang bermain dadu. Melakukan dosa, lalu tobat..melakukan dosa dan dosa lagi. Berada pada dua peluang menang dan kalah. Tapi tak tahu berapa besar harapan menang, manang mati berakhir indah.

Angin bertiup kencang, menyapu daun-daun mahoni yang meranggas . Ia pun berharap agar dosa-dosa gugur seperti gugurnya daun-daun itu. lalu bersih tersapu angin. Terberai tak membekas menjadi tanah.

Apakah Umi mema’afkanku? Ataukah aku telah terlambat kerena kini Umi benar-benar telah pergi.

“Apakah Umi akan mema’afkanku Mbah….Apakah Umi akan mema’afkanku Mbah…”

“Doakan Ummi mu…kamu udah mau SD dan sudah tahu doa untuk orang tua” Si Mbah menjawab

...but that Allah will remove his sins for him as a tree sheds its leaves...

…but that Allah will remove his sins for him as a tree sheds its leaves…

Iklan

About Imam Santoso

I'am a metallurgist who love writing

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: