Antara Syukur, Masalah, Harapan dan Nikmat yang akan datang terus menerus

Bila kita telah sadar bahwa kita adalah hamba yang ber’ Alhamdulillah, segala puji bagi Allah Tuhan semesta Alam’, maka sejatinya kita tak akan menemukan alasan untuk mengeluh

Pernahkan kita berada dalam situasi sulit? Cobaan hidup datang silih berganti? Dan bagaimana sikap (attitude) kita dalam menghadapai masalah yang sulit itu? Apakah kita mengeluh atau berteriak sambil menunjuk jari ke langit?

Surat Ibrahim adalah surat Makiyah. Surat yang diturunkan sebelum pindah ke madinah dimana umat islam berada dalam waktu yang sulit. Rosulullah dan sahabat bukan hanya dicaci maki tapi mereka juga mendapatkan serangan secara fisik. Dan ayat-ayat dalam surat ini diturunkan kepada Rasulullah sebagai obat untuk menghadapai situasi yang sulit waktu itu

Mengemban tugas untuk membawa umat dari kegelapan (QS 14:5) lalu diiringi dengan cobaan yang berat pernah juga terjadi pada Musa as. Sehingga Rasulullah SAW meminta para sahabat untuk memperhatikan kisah Musa as itu. Dan tentu bukan hanya sekedar untuk tahu sejarah Musa as, tapi ayat-ayat dalam surat ini juga sebagai study kasus bagi para sahabat, untuk diambil pelajaran yang akan bermanfaat bagi mereka sendiri untuk menghadapai situasi sulit yang sedang mereka alami.

Situasi sulit apakah yg dihadapi oleh Musa as dan kaumnya (bani israil). Bisa kah kita membayangkan situasi bila kita hidup sebagai budak yang penuh dengan siksaan?Membayangkan menjadi orang tua lalu menyaksikan anak-anak perempuannya dibunuh oleh kebijakan pemerintah selama bertahun-tahun? Lalu di kejar-kejar untuk dibunuh?

Lantas apa yang dikatakan Musa as ketika berkhutbah dihadapan umatnya yag saat itu baru saja keluar dari mesir dan harus berada dalam gurun yang panas? Berkhutbah dihadapan orang-orang yang telah mengalami kepedihan yg cukup lama karena penganiyaan terus menerus selama bertahun-tahun? Dihadapan para-orang tua yang menderita trauma lama karena telah kehilangan anak-anaknya?

Dalam situasi yang sulit itu Musa as berkata kepada kaumnya : ” Sebutlah (Ingatlah) nikmat Allah atasmu ..”(QS 14:6)

Mengapa harus menyebut nikmat Allah?

Pertama;
Kerena sebanyak apapun cobaan yang telah dihadapi Musa dan umatnya (dan tentu kita sebagai umat manusia yang tak akan pernah lepas dari masalah) niscaya tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan nikmat yang telah Allah berikan. Sehingga tak patut seorang manusia mengeluh bila masalah mendera hidupnya.

Masalah manusia itu terhitung. Bila kita membuat list masalah yang mendera hidup, pastilah ada bilanganya. Tapi nikmat Allah itu tidak terbilang. Niscaya kita tidak akan mampu mengitung nikmat-nikmat yang Allah berikan (QS 14;34). Pernahkan kita memikirkan Nikmat jantung yang terus berdetak tanpa kita kendali. Nikmat mampu berkedip. Nikmat bersin? nikmat udara gratis. Nikmat mampu menggerakkan jari? Nikmat masih punya keluarga dan sahabat dan seterusnya. Yang ada malah manusia itu kadang lupa memikirkan nikmat-nikmat itu.

Dan tentu, untuk dapat menyebut atau mengingat, pertama-tama kita haruslah berfikir sehingga kita tahu bahwa itu adalah nikmat. Misalnya, untuk dapat ingat betapa besarnya nikmat mata, kita haruslah memikirkan apa jadinya bila Allah mengambil pengelihatan kita. Musa menyuruh umatnya untuk mengingat nikmat Allah yang berupa penyelamatkan mereka dari Fir’aun. Seperti pada ayat berikut.

wa-idz qaala muusaa liqawmihi udzkuruu ni’mata allaahi ‘alaykum idz anjaakum min aali fir’awna yasuumuunakum suu-a al’adzaabi wayudzabbihuuna abnaa-akum wayastahyuuna nisaa-akum wafii dzaalikum balaaun min rabbikum ‘azhiimun

Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya: “Ingatlah nikmat Allah atasmu ketika Dia menyelamatkan kamu dari (Fir’aun dan) pengikut-pengikutnya, mereka menyiksa kamu dengan siksa yang pedih, mereka menyembelih anak-anak laki-lakimu, membiarkan hidup anak-anak perempuanmu; dan pada yang demikian itu ada cobaan yang besar dari Tuhanmu”

Dan dengan berfikirlah mereka akan tahu bahwa penyelamatan mereka itu adalah nikmat yang luar biasa. Karena mereka telah selamat dari penindasan berat Firaun yang telah mereka alami selama bertahun-tahun.

Kedua:
Alasan berikutnya kenapa harus senantiasa menyebut atau mengingat nikmat Allah adalah karena dengan mengingat nikmat Allah maka kita akan mampu bersyukur (berterimakasih). Ayat tentang perintah syukur itu datang setelah setelah ayat tentang perintah mengingat nikmat. Bila berhubungan dengan seseorang dan yang kita ingat adalah masalah dan masalah saja dengan orang itu maka kita juga akan susah berterimakasih pada orang itu. Dan Bila seseorang hanya memikirkan masalah dan masalah, mengeluh dan mengeluh dalam hidupnya maka sulit bagi orang itu untuk mampu berterimakasih kepada Allah. Sehingga seberat apapun masalah yang mendera seseorang tatkala ia mengingat nikmat Allah yang tak terhitung itu maka orang itu akan senantiasa berterimakasih alias bersyukur kepada Allah.

Jadi ada urutan proses yang tiap bagianya tidak bisa dihilangkan: Dengan berfikir kita akan mampu menyebut dan mengingat nikmat Allah, dan dengan mengingat nikmat Allah ini kita akan mampu berterimakasih.

Berfikir → ingat nikmat → mampu bersyukur (berterimakasih)

Lantas kalau sudah bersyukur?

Ketika kita telah mampu bersyukur dengan benar-benar syukur maka sejatinya kita akan membuka banyak pintu nikmat-nikmat Allah yang lain yang akan terus menerus mengalir.

wa-idz ta-adzdzana rabbukum la-in syakartum la-aziidannakum wala-in kafartum inna ‘adzaabii lasyadiidun

Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu mengumumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (ni’mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni’mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (QS 14:7)

Ada beberapa hal penting yang perlu menjadi perhatian dalam ayat ini

1. Allah tidak menggunakan kata idz- qoola Rabbukum yang artinya Allah berkata tapi menggunakan kata ta-adzdzana dalam bahasa arab artinya mengumumkan atau mendeklarasikan sesuatu secara terbuka agar bener-benar didengar dengan jelas. Hal ini menandakan bahwa apa yang akan Allah katakan ini, hendaknya didengarkan dengan seksama dan benar-benar diperhatikan oleh manusia. Artinya pastilah ini sesuatu yang penting.

2. Allah mengakatan “la-in syakartum la-aziidannakum” (jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni’mat) kepadamu). Kalimat ini adalah kalimat pengandaian yang berisi sebab lalu akibat. ” la-in syakartum (Jika kamu bersyukur, walau satu syukur) adalah bagian sebab dan ini adalah bagian manusia. Bagian konkrit yang bisa dilakukan manusia. Perlu di ingat bahwa agar kita mampu bersyukur ada kondisi yang juga harus dipenuhi yaitu kita harus ingat nikmat dan untuk bisa ingat nikmat kita harus berfikir. “la-aziidannakum” (niscaya Aku akan menambah (ni’mat) kepadamu) adalah bagian akibat dan ini adalah wilayah ghaib dari Allah. Jika kita mampu bersyukur dengan satu syukur saja Allah pasti akan menambah nikmat kita.

3. Allah menggunakan kata “La”, artinya Allah bersumpah. Perlu diketahui Allah bersumpah pada dua Hal. Pertama, apabila Ia sedang berbicara pada orang-orang yang tidak percaya kepadaNya atau kepada orang-orang yang tidak serius. Yang kedua, bila yang Ia katakan adalah sesuatu yang sangat penting. Artinya Allah benar-benar, niscaya, pasti dan menjamin akan menambah nikmat itu. Kita tak boleh ragu.

4. Allah menggunakan kata ‘Aku”. Allah tidak menggunakan kata “Kami” atau “Dia”. Allah menggunakan kata ganti yang paling dekat. Juga Allah menggunakan kata “kamu”.bukan “mereka” atau “dia”. Artinya Allah sedang berbicara langsung kepada kita dengan sangat dekat . Agar apa yang Allah katakan benar-benar dapat masuk kedalam hati hambanya. Sekali lagi, lihatlah Allah sedang berbicara langsung pada kita.

5. Allah menggunakan kata “ ziddann” (menambah). Dalam tata bahsa arab bila seseorang berkata “menambah” maka harus diikuti objek. Bila tidak, maka bisa ambigu. Menambah apa? Oleh karena itu seperti dalam doa yang kita baca kata “ziddni” diikuti kata “ilma” artinya kita memohon untuk ditambah ilmu. Namun dalam ayat ini Allah tidak spesifik mengatakan apa yang akan Ia tambahkan. Dengan begitu Allah tidak membatasi nikmat apa yang diberikan kepada hambanya yang bersykur. Ia akan menambahkan nikmat rizki yang halal, kesehatan, karir, pengetahuan, kelancaran berusaha dan lain sebagainya. Allah akan menambahkan banyak jenis nikmat. Lihatlah betapa Allah Maha Pemurah

6. Syakartum (kamu bersuykur) adalah bentuk lampau (past tense) namun Allah menggunakan “la-aziidannakum” yang bentuk “present” artinya proses meningkatkan itu akan terus menerus.

Betapa ayat ini mengajarkan bahwa ada harapan yang besar yang Allah janjikan kepada kita. Janji janji kesuksesan luar biasa yang akan datang terus menerus. Pintu -pintu rezeki disekitar kita akan dibuka oleh Allah. Kita adalah manusia, masalah itu akan selalu ada. Bila ada harapan lantas kenapa kita sedih terlalu lama?

Betapa ayat ini menunjukan maha pemurahnya Allah. Allah niscaya dan pasti akan meningkatkan banyak nikmat secara-terus menerus kepada hambanya yang bahkan hanya menunjukkan satu kesyukuran alias. Dan Ini adalah rahasia penting dari Allah agar benar-benar diperhatikan.

Bukankah selama ini seminar motivasi yang hanya untuk satu topic, misalnya sukses berbinis, hampir selalu laris? Tapi lihatlah rahasia dari Allah ini, Allah tidak hanya akan memberi SATU kesuksesan kepada hambanya yang berterimakasih kepadaNya. Allah akan memberikan balasan kenikmatan yang banyak, secara terus menerus sebagai ganti untuk hambanya yang bersyukur.

Namun begitu kesuksesan itu dapat berlangsung karena ada serangkain proses. Kita harus mengubah attitude alias apa yang ada pada diri kita. Kita harus jadi hamba yang senantiasa berfikir akan nikmat sehingga kita mampu mengingat dan tahu akan nikmat itu. Bila kita sudah tahu betapa banyak nikmat Allah yang kita dapatkan, kita akan mampu menjadi hamba yang senantiasa bersyukur (berterimakasih) . Dan bila kita telah bersyukur Allah benar-benar akan membuka nikmat-nikmat yang lain secara terus menerus. Rangkain porses perubahan yang kita lakukan adalah.

Berfikir → ingat nikmat→ mampu bersyukur (berterimakasih)

Dan bila ini sudah kita lakukan maka berikutnya adalah bagian Allah. Ia benar-benar akan membuka nikmat-nikmat yang lain secara terus menerus

So? Semoga kita menjadi hamba yang senantiasa bersukur karena nikmat Allah kepada kita itu tak terhitung . Dan semogga manjadi hamba yang optimis karena selalu ada harapan, seperti harapan yang Allah janjikan.

Disarikan dengan segala keterbatasan saya dari ceramah bahasa Inggris Brother Nouman Ali Khan

Semoga bermanfaat

Bersambung *(tentang ayat bila kita tidak bersukur)

Keep smiling (Gambar dari www.cumicumi.com)

Keep smiling (Gambar dari http://www.cumicumi.com)

Iklan

About Imam Santoso

I'am a metallurgist who love writing

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: