Tetap pada arah misi kehidupan

Pernah kita serasa ingin menyerah atau pesimis menghadapi masalah? merasa kalau-kalau masalah itu seperti tak mungkin teratasi karena kita mengetahui dengan jelas penyebab, dengan segala seluk beluknya?

Ketika membawa risalah Islam diawal-awal setelah diangkat menjadi menjadi rosul, ada beberapa kemudahan yang didapatkan Rosulullah SAW.

Pertama: Rosulullah mengenal secara personal orang-orang yang akan didakwahi. Banyak hal yang membuat mereka dapat mengenal dengan dekat. Mereka sering terlibat dalam urusan dagang bersama-sama, dalam urusan keluarga dan bermasyarakat. Rasulluh SAW juga mengetahui bagaimana mereka tumbuh dari anak-anak sampai dewasa. Dan Rosullulah SAW tak diragukan lagi juga dikenal sebagai pribadi yang berakhlak mulia. Bila kedekatan personal telah terjalin maka ada batas-batas penghambat komunikasi yang akan hilang. Seseorang akan dapat berbicara langsung dengan beliau. Sehingga penyampaian pesan akan berjalan dengan mudah karena kedekatan personal itu.

Kedua: Rosullullah SAW menerima wahyu dengan susunan dan waktu yang telah dirancang sendiri oleh Allah. Bila kita ingin berbicara atau berceramah didepan umum maka kita haruslah mempersiapkan draft tentang apa yang hendak disampaikan. Bagaiman urutanya, dengan siapa kita akan berbicara sehingga kita bisa merubah cara berbicara atau memilih bahasa yang tepat. Bila tidak, maka pesan bisa tidak tersampaikan dengan baik. Dalam hal ini, Allah sendiri yang mempersiapkan sususan kata-kata dan menentukan waktu, kapan risalah harus disampaikan.

Dengan kedua kemudahan diatas seharusnya masayarakat Mekkah waktu itu punya banyak sekali alasan untuk menerima islam. Pesan telah disusun sempurna dan diturunkan pada waktu yang tepat oleh Sang Kuasa, disampaikan oleh orang yang terkenal reputasi baiknya, oleh orang yang mempunyai kedekatan personal, terkenal kredibilitasnya dll.

Namun, tahun demi tahun bahkan sepuluh tahun setelah kerasulan, tak banyak orang yang memeluk islam. Caci maki dan penganiyaan semakin malah menjadi-jadi. Bila melihat kejadian seperti Rosulullah itu dimana selama bertahun-tahun usaha-usaha untuk menebar kebaikan seperti tak membuahkan hasil mungkin orang akan datang dan berkata “..mereka susah dirubah, bila 7 tahun, 9 tahun mereka tak mendengar maka alasan apa kira-kira yang akan membuatmu didengar pada tahun ke 10..Ini berat untuk mereka?”. Orang akan datang mencoba untuk mengecilkan hati, mematahkan semangat dengan mengatakan berat dll.

Dan ternyata waktu itu bukan sahabat atau orang lain yang mengatakan bahwa risalah islam bagi orang musyrik adalah berat, tapi justru Allah sendiri yang mengataknya. Seperti firmanNya

“….Amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya…..” (QS 42:13)

Lantas apakah Allah mencoba untuk mengecilkan hati Rosulullah dengan mengatakan bahwa orang musryik berat menerima risalah itu?

Mungkin kita akan berfikir bahwa islam berat untuk kaum musyirk Mekah tapi tidak untuk ahli kitab di Madinah. Berat untuk kaum musyrik karena taukhid adalah baru buat mereka. Mereka adalah orang-orang pagan yang menyembah berhala-berhala, mereka tidak percaya akan nabi-nabi sebelumnya. Pun pengetahuan akan malaikat-malaikat dan hari akhir. Namun mungkin masih ada harapan buat ahli kitab di Madinah karena mereka mempunyai pengetahuan sebelumnya.

Namun Allah juga berfirman

“Dan mereka (ahli kitab) tidak berpecah belah, kecuali setelah datang pada mereka ilmu pengetahuan, karena kedengkian di antara mereka..”(QS 42:14)

Allah sendiri yang mengatakan kepada Raulullah bahwa walau ahli kitab telah mempunyai pengetahuan, kedengkian dapat membuat mereka berat menerima risalah Allah.

Perlu diingat surat Al Syura adalah surat Makiyah turun sebelum Nabi dan sahabat hijrah ke Madinah bertemu para ahli kitab. Tapi Allah telah memberikan gambaran terlebih dahulu tentang ahli kitab itu.

Setelah diberikan gambaran tentang ahli kitab, mungkin Nabi SAW akan berfikir bahwa bila ahli kitab sulit menerima karena ego dan kedengkian (walau telah mempunyai pengetahuan), tapi harapan bisa jadi masih ada untuk generasi berikutnya. Seperti yang kita ketahui ketika Rosulullah mengalami penganiyaaan di Taif. Rasulullah tetap berdoa kepada Allah sebuah harapan bahwa akan ada generasi berikutnya dari penduduk Taif yang akan menyembah Allah seperti Hadits berikut ketika Rasulullah menjawab tawaran Malaikat Jibril

“…Rosul berkata: Aku bahkan menginginkan semoga Allah berkenan mengeluarkan dari anak keturunan mereka generasi yang menyembah Allah semata” (HR Bukhori dan Muslim)

Namun Allah lagi jugalah yang memberi tahu kepada Rasulullah bahwa keraguan akan membuat anak cucu sesudah mereka, berat menerima risalah. Seperti firman Allah berikutnya

“…Dan sesungguhnya orang-orang yang diwariskan kepada mereka Al-Kitab sesudah mereka, benar-benar berada dalam keraguan yang menggoncangkan tentang kitab itu.” ..(QS 42:14)

Lantas kenapa Allah yang menyuruh untuk menebar risalah namun Dia juga sendiri yang menjelaskan bahwa masalah yang menghadang itu seperti tak mungkin? Sepanjang hidupnya, Rasulullaah menyampaikan risalah kepada dua golongan yaitu kaum musyrik dan ahli kitab. Namun Allah sendiri yang mengatakan bahwa orang musryik akan berat menerimanya, juga ahli kitab dan bahkan keturunanya. Harapan untuk orang yang mana lagi yang kira-kira akan menerima islam? Logika manusia akan mengatakan bahwa bila sudah tahu bahwa orang-orang akan berat menerima, lantas mengapa harus tetap menyampaikan kepada mereka? Apakah Allah ingin mengecilkan hati ?

Jawabanya adalah di ayat berikutnya,

“Maka karena itu serulah (mereka kepada agama ini)…
(QS 42:15 )

Jadi, justri karena masalah yang seperti tak mungkin ini Allah mengutus beliau. Sekali lagi justru karena masalah yang berat itu Allah mengutus Rasulullah, orang terbaik di muka bumi, yang sudah terkenenal kredibilitasnya di masyarakat, tak ada orang lain selain beliau yang mampu.

Allah memberikan daftar yang permasalahan yang akan menghadang bukan untuk menjatuhkan mental Rosulullah SAW, tapi sebaliknya. Tugas beliau adalah untuk terus menyampaikan risalah dan Allah sendiri yang akan menentukan, yang akan memilih siapa-siapa yang akan mendapatkan hidayahnya. (QS 42:13)

Bila kita hubungkan dengan situasai saat ini, setiap hari kita berbicara dan mendengar berita tentang masalah-masalah yang seperti tak mungkin teratasi, masalah korupsi, politik, ketidakpedulian dsb. Tentang kecilnya harapan. Pesimis.

Perlu diketahui di negara-negara maju dan juga di negara seperti Indonesia dana milyaran rupiah telah digunakan untuk progam-program perbaikan sikap agar berfikir posistif. Karena mereka tahu akan kekuatan berfikir positif dan dampaknya pada bottom line. Mereka tahu bahwa berfikir optimis akan berdampak pada kinerja karyawan sehingga laba perusahan yang bersangkutan akan meningkat. Dalam hal keduniaan saja, mereka percaya akan kekuatan besar dari optimis. Kita sebagai seorang muslim, optimis bukan merupakan nilai duniawi saja, tapi optimis itu adalah bagian dari iman kita.

Bila melihat berita tentang permasalahan negara dan masyarakat saat ini kita bisa pusing. Dan tentu semakin jauh dari Al-Quran kita akan semakin pusing dan tertekan. Kita pusing dan tertekan karena ketika melihat permasalahan umat itu kita tidak menganggap hal itu sebagai misi kita. Kita tidak melihat justru karena masalah yang berat dan membuat pusing itu kita ada. Kita tidak melihat masalah itu sebagai alasan kita hidup. Bila kita masih bernafas sampai detik ini dan telah dikaruniakan kalimat syahdahat, pastilah ada sesuatu yang Allah harapkan dari kita. Bila melihat masalah-masalah itu seharusnya kita mengatakan “karena alasan itulah aku ada, aku harus berbuat sesuatu”. Muslim harus menjadi kekuatan untuk perubahan kebaikan.

Kita tidak patut mengatakan “tidak akan berubah”, atau “ Ngapain capek-capek terus berbicara, sampai berbusa pun, faktanya sudah puluhan tahun tetap tiada perubahan”. Bukan kita yang memutuskan siapa dan apa yang berubah dan apa yang tidak berubah. Bahkan Allah sendiri yang mengatakan kepada Rosulullah SAW bahwa memberi hidayah sehingga seseorang berubah adalah tugas Allah. Jadi bila kita mengatakan “tidak akan berubah”, maka artinya iman kita sedang ada masalah. Karena sekali lagi, kita meyakini bahwa berubah itu hasil dan hasil adalah wilayah Allah.

Tugas kita adalah untuk tetap (fokus) bergerak pada apa yang Allah perintahkan. Seperti pada ayat berikutnya.

“..dan tetaplah (focus) sebagai mana diperintahkan kepadamu dan janganlah mengikuti hawa nafsu mereka …..” (QS 42:15)

Fokus untuk terus menyeru kepada Allah dan menegakkan keadilan. Pertolongan Allah akan datang dalam usaha yang tak kenal menyerah. Dan jangan harap pertolongan Allah akan datang bila kita berhenti.

Kita diperintahkan tetap pada target. Bila seseorang diperintahkan untuk tetap (fokus) maka artinya ada banyak hal yang membuat seseorang mudah untuk terpecah perhatianya. Akan ada banyak hal yang akan dapat mengalihkan perhatian kita akan tujuan hidup di dunia. Pertanyaanya, apakah selama ini kita tetap fokus?, atau seberapa jauh kita telah teralihkan dari tujuan atau target? Atau malah kita lupa akan misi kita hidup

LIhatlah ketika Musa datang kepada Firaun.

Ketika Musa menjawab pertanyaan Firaun yang meremehkan Zat Allah,

Musa menjawab: “Tuhan Pencipta langit dan bumi dan apa-apa yang di antara keduanya”.

Lalu Firaun mengatakan kepada orang disekitaranya “ Apakah kamu tidak mendengarkan Musa”(pertanyaan Firaun itu sebenarnya untuk menghina Musa karena ucapan Alllah Tuhan pencipat langit dan Bumi itu adalah hal yang tidak pernah didengar dan dikatakan orang yg dikenal sebelumnya kepada Firaun dan orang-orangnya).

Lalu Musa menjawab: “Tuhan kamu dan Tuhan nenek-nenek moyang kamu yang dahulu” (Musa mengatakan bahwa Allah adalah Tuhan Firaun dan pendahulunya artinya Firaun adalah juga seorang hamba, bukan tuhan).

Lalu Fir’aun berkata (mencaci lagi dengan menuduh Musa as gila): “Sesungguhnya Rasulmu yang diutus kepada kamu sekalian benar-benar orang gila”.

Namun dakwaan itu tidak membuat Musa takut. Musa tetap terus menyampaikan kebenaran itu: “Tuhan yang menguasai timur dan barat dan apa yang ada di antara keduanya: (Itulah Tuhanmu) jika kamu mempergunakan akal”.

(QS 26: 24-28)

Walau Firaun mencoba mengalihkan apa yang katakan Musa dengan mencacinya, Musa tetap fokus pada kalimatnya tentang Tuhan Allah Swt. Musa tetap pada hal yang ingin ia sampaikan.

So?

Optimis dan tetap focus pada kebaikan-kebaikan yang kita kerjakan.

Disarikan dengan keterbatasan saya dari ceramah Brother Nouman Ali Khan
http://www.nakcollection.com/1/post/2013/01/not-losing-sight-of-our-mission-nouman-ali-khan.html

Keep fokus (gambar dari CQU.edu.au)

Keep fokus (gambar dari CQU.edu.au)

Iklan

About Imam Santoso

I'am a metallurgist who love writing

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: