Buah Desaku

Saya penggemar buah dan kemarin saya ngilu. Ngilu bukan lantaran makan buah asem, tapi ngilu karena melihat harga rambutan yang nyaris kering seharga 20$ (sekitar 200rb)per kilo. Di Desa, hampir setiap rumah punya pohonya . Rumah saya sendiri dikelilingi 5 pohon rambutan. Ketika musim panen, rambutan akan matang memerah sampai kehitam-hitaman karena tidak dipetik-petik. Dimakan semua? juga kebanyakan. Dikasih tetangga? udah pada punya. Di jual? paling laku 300 perak sekilo..

Ok… tahan *walau ngiler pengen beli

Ketika kecil “snack ”-nya anak-anak desa adalah buah-buah yang tumbuh di desa atau di hutan. Chiki-chiki-an adanya di kota. Untuk beli mie kering ‘anak emas” saya harus menabung. Atau pas lagi beruntung akan dibeli’in coklat batang gambar jago atau wafer coklat gambar supermen.

Ketika hujan dan angin kencang, ketika para orang tua takut rumahnya keruntuhan pohon kelapa, anak-anak justru gembira. Karena angin akan menggoyang-goyang pohon-pohon mangga dan menjatuhkan buahnya. Mereka malah akan berlari keluar mendekati pohon yang pontang-panting terkena angin itu . Ketika orang tua kebingungan untuk mengairi sawah karena musim kemarau. Anak-anak malah senang karena saat itu buah liar ciplu’an akan mengering dan buahnya yang bulat-bulat sebesar kelereng akan matang.

Buah mangga tidak semua rumah punya. Dan jangan pula dibayangkan mangganya adalah Mangga Gadung (Arummanis ) hasil menyambung atau rekayasa genetika seperti saat ini. Mangga jaman dulu masih mangga asli (plasma nutfah), kalo masih mentah kecutnya amit-amit pohonya besar dan tinggi sekali.

Jangan pelit-pelit di desa kalo punya pohon mangga atau jambu air. Atau anak-anak akan membuat yang punya pohon menyesal sejadi-jadinya. Anak-anak akan membuat rontok buah itu. Dan untuk merontokkanya mereka tidak menggunakan teknik kuno “lempar batu” . Teknik yg mereka gunakan bernama “nrasi”. Malam-malam anak-anak akan mengendap-ngendap menyayat kulit pohon sampai lapisan kayu, lalu di lumurin menggunakan trasi udang. Seperti mem-make-up wajah

“anak-anak kurang ngajaaaaaaaaaaaaaar..” Si tuan manngga shock melihat buahnya rontok-rontok keesokan harinya dan berhari-hari.

Jangan pernah memakan mangga kweni muda (Mangifera odorata). Getahnya akan sangat berbahaya. Bisa membuat “memprengen” (ujung bibir luka membusuk). Aku pernah dua minggu tidak bisa menutup mulut karena buah ini. Getahnya keras, sekeras getah biji jambu monyet/kacang mede (Anacardium occidentale). Anak kadang suka so’-so’ an buat tato. Dan alat untuk membuatnya adalah getah jambu monyet ini. Jambu dibelah dua lalu ditempelkan pada kulit. Dan tentu tato ini sebenarnya adalah bekas kulit yang rusak karena terkena getah. Beberapa hari kita akan kesakitan tapi kemudian tersenyum setelah luka mengering dan melihat ‘tato” picisan seperti huruf ‘n” seperti kacang mede.

Dan tentu bijih jamu mede adalah kesukaanku, mengolahnya gampang, biji yang sudah kering tinggal di sangrai atau dimasukin kayu bakar, sampai kulitnya hitam. Lalu dipukul-pukul pakai batu untuk melepas cangkang kulitnya. Tapi yang paling susah ketika kita harus mengambil biji ketapang (Terminalia catappa), pohon rindang seperti payung berlapis. Kalo kacang mede perlu tenaga kuat untuk memecahnya karena kulitnya keras. Biji ketapang perlu tenaga keras karena malah kulitnya yang relative empuk berserabut. Kulit empuk akan membuat waktu sentuh lama. Dan ini berakibat gaya pukul akan kecil karena gaya berbanding terbalik dengan selang waktu (F = I/dt). Perlu dua batu. Satu dibawah untuk alas. Satu lagi untuk mukul-mukulin. Usaha keras sampai tangan memar akan terbayar ketika biji seukuran dua kali biji semangka itu berhasil kita kunyah mentah. Rasanya seperti almond .

Oh ya, Jangan tertipu enaknya biji buah jarak. Bila dimakan maka bisa menyebabkan muntah-muntah. Karena yang sedang dimakan sebenarnya adalah minyak bahan bakar. Kita pernah membopong turun gunung setelah salah satu temanku keracunan biji jarak. Ketika jaman balanda, nenak saya menggunakan minyak dari biji jarak untuk menggantikan minyak tanah untuk lampu.

Pesaing anak-anak desa tentunya adalah hewan-hewan, karena hewan juga doyan buah liar. Pesaing kita untuk buah rambusa (Passiflora foetida) adalah ular. Pesaing kita untuk buah ciplu’an (P.minima) adalah belalang sangit atau kepik yang kencingnya bisa membakar kulit. Pesaing kita untuk buah mangga adalah kelelawar. Mungkin untuk kelelawar tepatnya bukan pesaingin tapi simbiosis komensalisme karena kita diuntungkan. Kita senangnya bukan main walau mendapat sisanya. Pesaing kita untuk papaya (Carica papaya) adalah burung-burung. Kita akan meratap sejadi-jadinya bila kita telat datang dan melihat papaya yang telah kita incar sejak lama tinggal tangkainya.

Ketika mau lebaran, kita akan mendapat pesaing dadakan yaitu orang dewasa untuk memperebutkan sebuah pisang yang nyaris tak pernah dilirik, tapi harganya bisa selangit ketika menjelang lebaran. Namanya pisang klutuk (Musa brachycarpa). Pisang yang penuh dengan biji melebihi jambu biji yang tumbuh liar di tepi sungai. Ketika masak buahnya sangat manis, tapi orang harus mikir dua kali kalo mau makan. karena pisang ini bisa berada di mulut bermenit-menit agar lidah dan gigi bisa memilah biji. Sehingga buah ini hampir selalu masak sendiri dipohon tak ada yang melirik kecuali anak-anak seperti kita. Namun begitu, sebenarnya ketika masih balum matang, buah ini akan laku di jual untuk bumbu rujak karena rasa sepat nya. Nah ketika musim rujak, yaitu menjelang lebaran. Hampir setiap rumah mambuat menu rujak, sehingga buah ini akan di buru banyak orang. Dan anak-anak akan kalah bersaing dengan orang dewasa yang mampu menebas pohon dengan sekali tebasan .

Beralih ke buah tebu (Saccharum arundinaceum). (Eh tebu buah ya? )

Dan tentu hama paling berbahaya buat tanaman tebu bukanlah Pengerek pucuk Scirpophaga novella, tapi anak-anak desa. Mereka dapat merengsek ke tengah perkebunan. giginya yang kuat mampu menghabiskan ruas –ruas tebu dari ujung hingga pangkal dan bila di biarkan lama-lama dan tak terdeteksi , maka di tengah-tengah kebun tebu bisa muncul lubang menganga lebar tak berpohon seperti Circle Corp nya alien yang ditemukan lahan pertanian jagung kayak di film film. Dan ketika saat dikejar mandor itu adalah saat yang paling mengasikkan. Adrenalin mengalir. Berlari membelah-belah pohon tebu yang penuh dengan bulu-bulu gatal. Buat anak kecil berlari-lari ditengah pohon ramping itu gampang. Tapi buat mandor ia harus berlari-lari dengan kepala telusup sana telusup sini tangan sambil menyibak-nyibakkan pohon ke kanan kiri. Dan ketika sampai di luar wajahnya akan baret-baret. Dan bila mandor masih mengejar, maka anak-anak akan mencebur ke sungai bengawan berenang menghanyutkan diri bersama pohon pisang.

Dan
“daaaaaaa”.

Mandor tak bisa mengejar lagi. Dia tak mau nyemplung sungai.

Beralih ke buah kersen (Muntingia calabura).

Ketika kecil, melihat pesawat melintas adalah sesuatu yang luar biasa buat anak-anak seperti aku. Kita bisa berlari-lari mengejarnya sambil menunjuk jari kelangit sambil berteriak-teriak.
“kapal..kapal..kapal”.

Temanku Anto sangat terosepsi akan pesawat. Tak peduli sedang apa dan diamana, dia akan keluar berlari ketika mendengar deru pesawat di langit. Pernah, tubuhnya yang hanya berbalut busa sabun berlari-lari dijalan lantaran ketika masih mandi ada peswat terbang rendah.

“Pak Harto lewat Watu ulo..Pak Harto lewat Watu ulo..” ia berteriak sambil menunjuk jari ke atas.
Apa pun pesawat yang lewat, dia selalu bilang ‘Pak Harto lewat” *Pak Harto nama panggilan untuk President Suharto

Namun bagi kita untuk seperti terbang di langit cukup gampang. Tinggal pergi ke pinggir sungai dan memanjat pohon kersen. Panjatan untuk sampai pada dahan pertama adalah yang paling susah, karena kita harus menjepitkan kedua kaki dengan kedua tangan memegang kuat pohon. Kita akan terenggah-engah untuk sampai pada dahan pertama. Dan setelah sampai pada dahan pertama kita akan seperti tupai melompat-lompat dari dahan satu ke dahan lainya menuju puncak. Burung kutilang akan berhamburan terbang keluar pohon ketika melihat kedatangan kami dari bawah. Dan ketika telah berada di puncak pohon kersen, kita seperti merasa terbang dengan pesawat. Bergoyang-goyang tertiup angin sambil menyembulkan kepala keluar rimbunya dahan. Melihat hamparan rumah-rumah dan sawah sawah yang tak ada putus. Menikmati buahnya yang ranum kecil-kecil seperti buah chery yang nyaris berbuah sepanjang tahun. Yang tak pernah berhenti memberikan kegembiraan kepada burung-burung, kepada lebah-lebah, kepada capung-capaung dan juga kepada kami.

Beralih ke cerita buah bengkoang (Pachyrhizus erosus). (Eh bengoang buah ya , padahal bengkoang adalah umbi seperti ketela).

Anak desa tahu akan hukum alam kalau tumbuhan yang merambat dengan lilitan kekiri, maka umbi atau buahnya akan beracun. Seperti umbi pohon gadung (Dioscorea hispida) yang tumbuh merambat, bila dimakan mentah bisa mengakibatkan keracunan. Daunya yang kering bisa kita jadikan layang-layang mini. Untuk diolah menjadi kerupuk dengan harga tinggi maka ada serangkaian proses detoksifikasi yang panjang. Salah proses pengolahan bisa fatal. Kita serumah pernah keracunan gara-gara makan kerupuk gadung yang dibeli dari pasar. Sepertinya kerupuk itu dibuat dengan proses yng tidak bagus. Kita serumah muntah-muntah. Padahal biasanya kita membuat sendiri kerupuk itu. Prosesnya panjang mulai dikupas lalu ditaburin abu, sampai direndam berhari-hari didalam kendi, lalu di rebus dan di jemur lagi.

Untuk tumbuhan merambat dengan ulir ke kanan maka umbi atau buahnya tidak beracun. Seperti pohon kacang panjang atau bengkoang. Tapiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii….

Bersambung

Rambutan

Rambutan (Gambar dari http://www.panoramicfruit.com)

Jambu Monyet

Jambu Monyet (Gambar dari http://www.majalahwanita.info/)

Buah Jarak

Buah Jarak (Gambar dari http://www.himpalaunas.com)

Buah ketapang

Buah ketapang (Gambar dari http://www.gurugeobandung.blogspot.com)

Ciplukan

Ciplukan (Gambar dari http://www.majalahbuser.com)

Tebu

Tebu (Gambar dari http://www.thecropsite.com)

Rambusa

Rambusa (gambar dari http://www.ropicalplantbook.com)

Bengkoang

Bengkoang (gambar dari http://www.martadewa.wordpress.com)

Iklan

About Imam Santoso

I'am a metallurgist who love writing

6 comments

  1. Abrar Yusuf

    gambar2 tulisan apalagi orangnya sangat menarik … kapaaan bisa nulis kayak gini ya.. mo bikin juga ah…

  2. ulumit

    Mas Imam ngilang dr fb ya?

  3. ruliana dewi

    bagus gambar2nya saya belum pernah lihat gadung….jadi kayak gitu ya gadung itu…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: