Partikel 3. Tanah Merah

Namanya Tanah Merah. Bukan terletak di Indonesia atau di suatu tempat di daratan melayu. Tapi sebuah wilayah perkampungan yang terletak pada -27° 40′ 40.32″, +153° 10′ 29.37″. Orang-orangnya yang tinggal di sana sangat fasih berbahasa Jawa. Pertama yang aku kira ketika datang ke tempat ini adalah akan kujumpai orang-orang Indonesia. Namun ternyata dugaanku salah. Mereka semua adalah orang-orang berkulit putih.

Cintanya pada Indonesia sepertinya pegitu dalam. Hingga walaupun mereka terusir pada akhir perang dunia ke dua lalu tidak pulang ke Belanda ke negara asal mereka tapi memilih untuk tinggal di Brisbane, Australia, mereka tetap menamai wilayahnya dengan bahasa Indonesia “Tanah Merah”. Dan mungkin kecintaanya ini juga yang mereka wariskan kepada anak-anaknya. Seperti Alice, gadis ABG keturunan Londo itu malah ia ingin banget ke Jogja dan tinggal di sana. Bapaknya pun sangat tertarik untuk membangun kerjasama dalam bidang pendidikan antara sekolah-sekolah di Indonesia dengan yang ada di Australia.

Alice, gadis bermata biru itu. Aku tak berani menanyakan kisah-kisah bagaimana kakek neneknya harus berlari dari letupan senapan dan ganasnya meriam atau bambu runcing yang tajam, lalu menggunakan perahu berminggu-minggu menuju negeri kangguru. Biarlah itu menjadi lembaran sejarah antara ke dua nenek moyang kami.

“Tapi kenapa dulu kakek-nenek memilih Australia? Bukankah Belanda, negeri yang penuh dengan bunga-bunga? Gurun ini dapat menjadi panas dan mematikan ketika summer, sedang Belanda adalah negeri dibawah air penuh dengan sungai-sungai dan bendungan-bendungan raksasa berdiri di pingir-pinggir kota?”

Pertanyaan akan kisah kakek-neneknya pun akhirnya terlontar dari mulutku kepadanya.

Kemudian Alice terdiam. Wajahnya merunduk. Sebentar kemudian ia menyibakkan rambutnya yang pirang. Aku pun tak berani meneruskan pertanyaanku

“kakek-nenekku memilih keselatan karena itu adalah satu-satunya jalan agar mereka selamat. Waktu rumah itu mereka terbakar, kakek masih anak-anak. Ia msih duduk di kelas 3 Europeesche Lagere School, sekolah SD yang diperuntukkan khusus untuk orang-orang eropa atau orang-orang pribumi yang terkemuka. Senapan dan deru pewata jepang lalu-lalang terbang. Ke’esokan hari mereka berkemas meninggalkan Jawa. Kakek juga menjadi saksi mata bagaimana ke dua ayah ibunya terpangang di dalam rumah yang dibakar. Lalu melihat penjaga rumahnya menenggak serbuk buah kecubung untuk meregang nyawa ketimbang mati pelan menjadi tawanan. Lalu pamanku membawa kakekku ke selatan menggunakan perahu. Bersama orang-orang Belanda yang lain. Bila ke utara atau ke barat bisa-bisa mereka bertemu orang pribumi dan mengira mereka adalah antek-antek jahat kompeni. Bila ke timur maka artinya mereka mendekati tentara Jepang. Mereka pun berlayar ke selatan berminggu-minggu. Lalu..”

Alice diam lagi.

Bagaimana kisah mereka di perahu, bagiamana ketika mereka mendarat di Australia, kenapa harus Brisbane, bukan Sydney yang ramai atau Darwin yang dekat dengan Bali, bagimana ketika mereka membangun kampung Tanah Merah. Juga apakah mereka tidak benci dengan pribumi karena dalam peperangan keluarga teman-teman neneknya banyak yang mati walaupun faktanya mereka adalah penjajah. Dll . Biar kusimpan saja pertanyaan ini.

Ia duduk satu meter dua meter di sebelahku. Sore itu adalah perkenalan Budaya Indonseia. Anak-anak bule yang pada ngambil mata kuliah Bahasa Indonesia di University of Queensland pun di Undang. Acara yang di adakan oleh Indonesian student Ascosiation di UQ. Mas Sabik, ketuanya yang juga housemate-ku menyuruhku memimpin lagu Indonesia Raya di acara itu. Dan di sana aku berkenalan dan bertemu dengan Alice untuk pertama kalinya.

Aku sempat takut ketika menanyakan hal-hal yang pribadi. Mengingat aku pernah diwanti-wanti sama guru ku yang bule sebelum aku pergi ke Australia. budaya Indonesia dan Australia beda katanya. Pertanya’an akan usia, agama, alamat, pekerjaan dan keluarga bagi orang Indonesia adalah hal biasa.Tapi bagi bule itu adalah pertanyaan yang bersifat pribadi. Bila memaksakan bisa jadi jawaban dapat benar-benar membuat malu atau menyesal karena telah bertanya.

Guruku sendiri pernah memberikan Jawaban yang membuat orang yang bertanya diam. Waktu itu ia ditanya’

“..berapa jumlah anak Bapak?….”

“ anak saya satu. Karena setelah punya anak pertama, saya terkena kangker kronis pada kemaluan saya dan harus dioperasi sehingga saya tidak punya anak lagi..”

Lalu orang itu tidak melanjutkan pertanya’anya lagi. Dalam bahasa inggris tentunya, dan guruku sebenarnya juga tidak terkena kanker.

dan jawaban guru saya itu dapat mencegah pertanya’an runtutan berikutnya karena jawaban atas pertanyaan pertama. Seperti “anaknya udah nikah belum? kerja dan tinggal di mana”. Orang bule menganggap pertanya’an-pertanya’an seperti itu adalah seperti interograsi petugas imigrasi.

“Don’t ask personal questions Amar” pesan guru saya.

Tapi ternyata Alice beda. Ia menjawab pertanyaan, yang tanpa aku kendalikan seperti keluar dari mulutku. Menggebu. Atau malah pesan guruku benar karena nyatanya aku tak kuasa lagi bertanta ketika melihatnya wajahnya yang sayu setelah menjawab pertanyaanku.

*Ah pertanyaanku..semoga ia tidak tersinggung…

Ku lihat cintanya pada Indonesia begitu dalam? *Iya..dia cinta Indonesia, lihatlah dia. Lihat bahasa Indonesianya. Lalu perasaanmu?….

Sudah lama kamu kenal dia. Bukankah dag-dig-dug hatimu ketika dia memuji Soto Surabaya buatanmu? Ketika Andini dan Rinto meminta bantuanmu untuk memasak pada acara makan malam yang mengundang Alice dan adiknya?

“Amar…kan bisa memperbaiki gen kulit keturunanmu..biar putih dikit…heheh” Rinto terus saja ceng-cengin selepas makan malam itu.

Menu Soto Surabaya dengan Salad dan juga Mochi mirip Cianjur sepertinya telah membuat makan malam itu berkesan bagi alice dan adiknya dan juga Robert, bule pemilik rumah, tempat Andini Tinggal.

Dan itulah pertemuan keduaku dengan Alice. Habis itu?

Empat musim telah berlalu. Panas menyengat terganti oleh dingin memecah kulit. Lalu semi Bunga-bunga. Jalan-jalan kini menjadi ungu Jakaranda.

Apa kabarnya Alice ya?

Bersambung.

Sesa’at setelah mengalami kisah cinta, Aku mencarimu, tanpa tahu bahwa itu tidak perlu (Rumi)

Tanah Merah dan Jalan Street. (foto dari Google Earth)

Tanah Merah dan Jalan Street. (foto dari Google Earth)

Iklan

About Imam Santoso

I'am a metallurgist who love writing

2 comments

  1. Sakayu

    salam buat Alice mas, mudah2an tidak perlu ke wonderland untuk sekedar menemuinya 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s