Namanya Elok. Pejuang dari balik gunung

Namnya Elok, anak pencari kayu. Tinggal di balik gunung. Perlu seni tinggi untuk sampai ke rumahnya. Yatim. Selama sekolah pernah berjualn untuk manambah nafkah. Namun tidak menyerah kepada nasib. Saat ini, telah lulus SBM ITB.

Kami juga ingin mengucapkan banyak terimakasih kepada teman-teman Elektro ITB 03 atas program luar biasanya “beasiswa Elektro 03” yang membantu adik2 di pelosok Jember Selatan untuk membentu mewujudkan mimpin-mimpinya.

Aku adalah Apa yang Aku Pikirkan(Semangat).
Oleh : Elok Kusuma Wardani

Keluarga yang mendapat barokah adalah dambaan semua orang.Keluarga yang penuh dengan kebahagiaan dan rasa aman juga merupakan sebuah impian.Bagiku keluarga adalah motivasi untuk mencapai sebuah mimpi dan cita-cita. Memang kurang lebih 9 tahun yang lalu keluargaku bukanlah keluarga yang ideal karena pada saat itu Ibu, adik dan juga aku melewati hari tanpa hadirnya pemimpin dalam keluarga(bapak).

Ibu tidak pernah menginginkan sebuah perceraian, akupun demikian tidak pernah bermimpi atau membayangkan hanya bersama ibu tanpa bapak yang selalu menyanyangi anaknya. Meski demikian ternyata aku masih sangat beruntung karena masih ada kenangan bersama dengan bapak, yang dapat aku ingat dan kukenang sedangkan adik sejak masih dalam kandungan belum pernah merasakan kasih sayang dari bapak.
Mungkin itu adalah sebuah ujian bagi keluargaku yang memang telah direncanakan oleh Allah SWT.Agar ibuku semakin kuat menjalani ujian-ujian suatu saat nanti.

Bagiku ibu adalah sosok wanita yang sangat kuat, tidak pernah menyerah menjalani setiap ujian, selalu menyayangi anak-anaknya, bisa menjaga diri dengan baik dari berbagai gangguan manusia, disaat banyak para lelaki yang tak mau menghargaan ibuku, menggoda ibuku untuk melakukan hal yang tak baik. Hal tersebut memang sering terjadi karena aku memang cukup tahu banyak tentang apa apa yang sedang ibu alami. Alhamdulillah hal yang tak diinginkan memang tak terjadi. Ada cerita nih, dulu tengah malam ada orang yang sengaja mengetuk pintu rumahku dan menginginkan pintu rumahku untuk dibuka tapi ibuku menghiraukannya. Keesok harinya ibu bercerita kepadaku bahwa tadi malam ada lelaki yang mau berbuat tidak sopan. Aku dan ibupun sepakat apabila suatu malam ada lagi hal yang sama dilakukan orang itu, aku akan berteriak sekencang-kencangnya. Dan ternyata hal tersebut kembali terjadi, ada lelaki yang mengetuk pintu parahnya lagi langsung mengetuk gedek(tembok dari bambu) kamarku, yah langsung saja aku berteriak “maling…maling…maling” langsung orang itu berlari terbirit-birit.Hal itu terdengar dari gesekan sandal dibebatuan yang berada di belah kamarku.

Sejak malam itu rupanya orang itu tak melakukan hai itu lagi.Aku dan ibu merupakan tipe orang yang tidak bisa lama-lama memendam masalah, dulu setiap aku pulang dari ngaji sering kali di ejek sama teman-teman, ia berkata bahwa aku adalah anak dari orang gila. Setiba di rumah aku langsung cerita kepada ibuku dan waktu itu aku masih kecil kira-kira berumur 9 tahun, lalu yang terjadi ibu malah menangis dan memelukku erat-erat, mengusap helaian rambutku dengan penuh kasih sayang. Beliau berkata “ sabar ae nak dak usah mikir macem-macem, lalekne” ( sabar saja nak tidak usah berfikir yang macam-macam, lupakan). Entah apa yang membuat orang-orang selalu berkata demikian. Alm bapak memang semasa hidupnya sering melakukan yang tak wajarmungkin bagi orang lain antara lain sering menimbakan air di setiap sumur orang lain, sering mencarikan kayu bakar orang lain tanpa ada alasan tertentu, pernah memberikan setengah dari sawahnya ( 0,5 dari 1 wolon)ke orang lain. Mungkin itu yang membuat orang lain berkata bahwa aku adalah anak dari orang gila.

Dan setiap aku bercerita kepada ibu tentang hal tersebut aku merasa sedih dan lumayan sakit hati ini tapi ibu selalu memberikan aku motivasi agar aku menjadi anak yang kuat dalam menjalani itu semua, jangan sampai membenci orang lain karena mungkin mereka tidak tahu atau belum tahu, jangan memikirkan hal yang kurang penting, yang terpenting adalah tetap belajar dengan baik, sekolah dengan sungguh-sungguh harus bisa membuktikan bahwa meskipun banyak masyarakat berkata begitu tapi aku tetap anak bangsa yang gigih dan kuat. Hal itu juga membuat diriku semakin bersemangat dan termotivasi untuk selalu melakukan yang terbaik, menyayangi beliau, bersemangat dan rajin menuntut ilmu, dimanapun baik dilembaga formal, informal ataupun non formal.

Impianku adalah membahagiakan ketiga orang tuaku, yakni ibu, almarhum bapak kandung dan bapakku saat ini. Dan bisa menjadi pengusaha yang sukses dan sholehah, bisa memberikan sesuatu yang bermanfaat untuk orang lain. O iya ibuku bernama Sayuti, lucu ya seperti nama cowok. Tapi inget bukan Sayuti Melik yang mengetik nasakah Proklamasi. Tapi ibuku adalah Sayuti yang bisa bahasa Madura dan Jawa, hehe campur ya(ibuku). Sedang untuk Alm rahasia, ciri-cirinya berkumis dan kulitnya sawo matang banget.Nah untuk bapakku saat ini namanya Supadi beliau dari desa Mandiku juga, postur tubuhnya tinggi, rambut kriting, hidung mancung, warna kulit hitam juga (sering kepanasan) hehe.Alhamdulillah aku suka dan bangga dengan bapak, pokoknya seneng banget.

Meskipun begitu aku juga ingin Alm bapak disana bisa bahagia melihat anak-anaknya tumbuh besar sesuai harapan banyak para orang tua yang ingin mempunyai seorang anak yang soleh dan sholehah. Peristiwa tersebut pada saat aku masih duduk di bangku SMP tepatnya masih kelas I, dulu aku bersekolah di SMP Negeri I Ambulu, dan aku bertempat tinggal di dusun terpencil yang jauh dari kota yang bernama Dusun Mandiku, jarak dari rumah ke sekolah (SMP) adalah kurang lebih 9 km. Jarak tersebut aku tempuh dengan sepeda kesanyanganku demi mendapatkan sebuah pendidikan dan pengajaran. Waktu itu daerahku tingkat anak yang sekolah atau melanjutkan ke SMP masih belum maksimal, artinya masih ada anak usia sekolah SMP yang tidak sekolah. Alhamdulillah, sekarang udah tidak lagi, banyak yang sekolah.Aku harus tetap bersemangat untuk selalu sekolah dengan baik, menuntut ilmu dengan sungguh-sungguh disertai dengan niat tulus agar mendapat ridho dari Allah SWT, dan bisa mewujudkan impian serta cita-citaku.

Hari terus berganti hari dan akupun harus bertambah semangat dan menumbuhkan rasapercaya diri untuk berani bermimpi dan berusaha untuk mewujudkannya.Pada saat aku masih kelas 3 SMP aku memiliki kembali sosok bapak yang sangat baik, sayang pada ibu, adik dan juga aku, bertanggung jawab dan selalu mendukung anaknya untuk bersekolah.Inilah sebuah kenikmatan, rasa aman, rasa kasih sayang dan kebahagiaan yang memang aku syukuri.Aku merasa segala apa yang telah diperjuangkan oleh bapakku, apa yang telah dilakukan bapak membuat aku lebih termotivasi lagi untuk melakukan yang terbaik. Setelah aku lulus SMP aku ingin sekali melanjutkan sekolah di SMA.Syukur alhamdullilah, akhirnya dengan bantuan dan pertolongan Allah SWT, dukungan dari orang tua dan semua keluarga.Keinginan dan impianku untuk terus melanjutkan sekolah terwujud.Pada akhirnya aku bisa menjadi keluarga besar dari SMA Negeri Ambulu tercinta. Ada cerita juga nih, ketika aku melihat papan pengumuman dan ternyata aku diterima di SMA AMBULU duh senengnya,,seneng banget. Setelah ada pengumuman setiap murid yang telah diterima harus daftar ulang.

Mulanyaaku tidak paham apa maksudnya, ternyata setiap siswa wajib membayar sebesar Rp 110.000,00. Dierrrrrr uang dari mana itu dan waktunya cuma 3 hari apabila tidak membayar resmi deh tidak jadi siswi SMANAmbulu. Bapak akhirnya usaha kesana-kemari untuk mecari pinjaman uang. Alhamdulillah ternyata Allah memberikan kesempatan kepadaku dan seluruh keluarga. Ketika sudah memakai seragam SMA aku berfikir, aku selalu mengingatkan diriku sendiri untuk terus bersemangat dalam belajar, merubah pola pikir untuk selalu berani menatap masa depan dengan yakin, penuh percaya diri, disertai usaha-usaha yang keras dalam mewujudkan mimpiku, yang pastinya disertai dengan do’a.

Jarak antara rumah ke SMAN Ambulu kurang lebih 10 km, dan hal tersebut sama seperti waktu SMP, aku menggunakan sepeda untuk mendapatkan pendidikan. Disaat kelas X kan masih jadi anak baru( freshlah), suatu ketika aku bertemu dengan mas Imam Santoso. Mas Imam memberi aku semangat dan motivasi untuk terus belajar dengan giat. Lalu aku befikir, oh mungkin ini yang dimaksud pak guru. Bilang deh aku “ Iya, banyak kok yang bercerita tentang mas”.

Dari situ aku ingat lagi kalau aku juga pernah lupa. Dikelas X aku pernah berjualan molen. Waktu itu aku jarang sekali diberi uang saku, aku bilang bahwa kepingin punya uang saku buat beli es waktu pulang sekolah, gimana ya buk biar kita punya uang cukup, kan bisa beri aku uang saku. Terus aku ingat kalau ada saudaraku yang bisa buat molen. Langsung aja deh, aku ambil sepedaku dan bilang kesaudaraku bahwa aku ingin bantu jualan molen disekolah. Biar mentalku semakin kuat, dan juga biar punya uang buat beli es. Jadi deh aku si penjual molen. Alhamdulillah, teman-teman satu kelas suka sekali dengan molen yang aku jual, molen aneka rasa mereka menyebutnya, ada molen original, coklat, kacang ijo, strawberry dan nanas. Semakin lama jualannya berkembang ke jajanan lain, ada krupuk molen, ada ladrang, ada kuping gajah, ada mie kering.

Sebagian kan aku taruh di tas sekolah, sebagian ada di tas lain. Sampai-sampai tasku hampir rusak. Mungkin terlalu berat bebannya. Saat berangkat sekolah aku sempat berfikir, nah lo ini aku mau sekolah apa jualan sih, kok kayak orang mau ke pasar. Banyak barang yang dibawa, tapi dari situ aku tambah semangat untuk sekolah. Aku jadikan motivasi, karena berjualan jadimakin akrab dengan teman-teman, makin rame, jadi punya uang saku, kalau jadwalnya renang, bisa bayar uang masuk dan parkir sepeda, senang sekali. Jualan molen itu hanya 2 bulan karena saudaraku tiba-tiba berhenti katanya tidak punya modal.

Setiap tengah semester ataupun semester, pasti aku tidak langsung mendapat kartu tanda peserta, karena belum lunas tanggungannya. Untung saja bapak sangat pengertian dan mau menghadap petugas TU agar diberikanpenangguhan waktu, yah bisa dibilang melakukan perjanjian. Suatu ketika aku melihat langsung bapak sedang menghadap salah satu petugas TU, sang petugas TU itu memasang wajah yang kecut dan dengan nada yang cukup tinggi. Mungkin memang seperti itu, saat aku ada di sebelah bapak, rasanya ingin menangis, “ Ya Allah, bapak begitu luar bisa, begitu sayang kepadaku, mau saja menghadap hanya untuk aku, hanya agar aku bisa mengikuti semester, tolong aku ya Allah. Tolong keluargaku” batinku. Aku harus belajar giat, aku harus sungguh-sungguh, tidak ada alasan untuk tidak sungguh-sungguh, semangat..semangat..semangat. Karena terus bertumpuk-tumpuk hampir saja ibuku menyerah, tapi aku masih ingin belajar, aku masih ingin belajar.

Sampai-sampai aku pernah meminta tolong kepada keluarga Alm.Bapak, karena bapak meninggalkan sawah, dan sawah itu disewakan oleh adik-adik bapak, pastinya yang disimpan uang. Aku sebenarnya tidak inginmelakukan hal seperti itu, tapi waktu benar-benar sangat dibutuhkan. Aku memberanikan diri untuk bicara langsung dengan adik-adik alm.Bapak, setibanya disana bukan dibantu malah ibuku disalahkan, katanya mengapa aku disekolahkan di SMAN Ambulu. Aku bilang ibuku tidak pernah bersalah, akhirnya aku pamit pulang. Kuatkan aku ya Allah. Terpaksa bapak berhutang, Bapak dan ibu begitu luar biasa, bapak adalah motivasi terbesar bagiku, penyemangat aku, seseorang yang selalu membuat aku harus semangat. Setiap kali aku bertemu seseorang membawa kayu bakar, aku langsung teringat bapak. Bapak pekerjaannya sebagai penjual kayu bakar, terkadang aku sedih tapi itu juga membuat aku semangat, karena perjuangan orang tuaku sangatlah luar biasa. Bapak rela mencari kayu bakar di hutan, yang jauh disana, akupun tidak tahu karena sangat jauh. Ketika sudah mendapat cukup banyak baru di jual ke pengepul tempatnya di Tamansari, yang kira-kira jarak dari Mandiku ke Tamansari 18 km. Tapi tidak pernah tuh bapak mengeluh, ya Allah.

Hari terus berjalan, kelas X pun berganti aku menjadi kelas XI, aku masuk di progam IPS. Saatnya terus melanjutkan semangatku, di kelas yang baru, teman baru, suasana yang baru. Beberapa minggu kemudian ada kegiatan pentas seni di aula, saat aku melihat acara itu ada kakak kelas yang memberitahuku bahwa ada seleksi beasiswa. Dia langsung menarik tanganku menuju mading.Kakak itu namanya Wilujeng Rahayu, mbk Ayu biasa aku memanggilnya. “ Ikut aja el, dicoba ya” kata mbk Ayu. Langsung aku jawab “ok mbk, aku ikut”. Semoga saja bisa membantu orang tuaku untuk membayar SPP, ya di poster beasiswa tersebut memang tertera akan mendapat uang Rp 600.000/semester dan uang SPP setiap bulannya. Pertama aku menata hati dan kemantapanku untuk ikut, sebulat-bulatnyaniat. Dan bismillah, ya Allah ikut. Semangat..semangat..

Banyak teman-teman yang aku ajak, ada yang bersedia dan belum.
Persyaratan telah di penuhi, essai, foto copy raport, dan berkas-berkas lainnya. Kini waktunya untuk seleksi. Ada seleksi tulis dan wawancara. Seleksi waktu itu pada bulan ramadhan. Setelah kita berusaha, saatnya tawakal kepada Allah SWT, pasrah.

Pengumuman hasil seleksi begitu lama rasanya, pokoknya benar-benar pasrah. Mungkin hampir 1 bulan,,sampai saatnya tiba. Jeng..jeng..jeng..jeng…jeng..
Ketika itu aku baru selesai mengerjakan soal TIK, waktu itu sedang semester. Lama rasanya sampai lupa kapan itu tanggal pengumumannya. Aku dipanggil oleh kakak yang sebelumnya telah mendapat beasiswa, belum berfikir apa-apa, hanya penasaran ada apa ya, tidak biasanya.
Apa yang terjadi ………..?

Alhamdulillah, aku diterima, aku mendapat beasiswa. Ada 5 anak yang mendapat beasiswa. Aku langsung teringat ketiga orang tuaku, bapakku tidak lagi ke sekolah untuk melakukan perjanjian dengan petugas TU, ibuku pasti sangat senang dan Alm. Bapak pasti juga bahagia. Di jalan saat pulang, ingin rasanya menangis, subhanaAllah. Akhirnya aku masih bisa belajar,,aku bisa belajar. Ya, air mataku menetes, saat mengayuh sepeda, tapi jika sudah banyak orang kuhapus air mataku ☺. Kasihan, nanti mereka berfikir yang lainnya. Sesampainya di rumah, aku langsung taruh sepedaku dan memeluk ibuku. Alhamdulillah, buk aku dapet beasiswa, aku lolos.

Dengan mendapat beasiswa, semangat ini semakin bertambah, semakin termotivasi untuk selalu berbuat yang baik dan sungguh-sungguh. Apalagi, setiap melakukan pertemuan, kami semua di beri nasihat oleh pak Suhartono, selalu mas Imam dan mas Lakso berpesan harus rajin belajar, belajar, belajar itu ibadah. Pokoknya harus benar-benar takwa kepada Alah SWT. Begitulah yang sering di sampaikan kepada kami semua.

Di kelas XI, jika waktunya pembagian kartu tanda peserta ternyata bapak tetap harus menghadap ke petugas TU, tapi ruangannya berbeda bukan di TU tapi diruang BP.
Belum lunas uang Insidental ( Uang gedung), tapi sudah lebih longgar, sangat pengertian.

Proses belajar di kelas XI sangat menyenangkan, banyak bertemu guru-guru yang sangat sayang kepada kami semua, ada yang cara menyampaikan materi dengan humor yang cukup banyak, ada yang umum lah, ada yang sering kali memberikan motivasi-motivasi yang ok banget, siapa itu? Ya Pak Tohari, pokoknya setelah belajar kita dapet Oooooo. Maksudnya, setelah motivasi itu selesai, kita bisa sadar oh iya,ya bener ( Ooooo ) gitu. Jadi belajar agama dapet Ooooo..

Hari-hari semakin menyenangkan, mulai kelas XI aku lebih aktif dalam mengikuti proses pembelajaran, semangat untuk belajar, tidak mudah menyerah, berusaha-berusaha untuk bisa. Jika berbicara mengenai kelebihan dan kekurangan, aku merasa sangat kurang bisa di numerik, misalnya di pelajaran matematika. Diwaktu kelas X dulu, hampir,,eh bukan hampir aku selalu saja remedi, capek rasanya remedi terus. Nilainya selalu sama 50, hehe seperti harga micin saja kan Rp 50. Di kelas XI ini aku tidak ingin seperti itu lagi, aku ingin sekali tidak remedi matematika, aku ingin bisa. Akhirnya aku belajar dengan giat, tidak mudah menyerah, terus dicoba dan dicoba berlatih. Bahkan jika akan diadakan ulangan, seminggu lebih aku belajar matematika, aku ingin bisa, aku ingin bisa, semangat..semangat. Alhamdulillah, ternyata usahaku membuahkan hasil mulailah aku tidak pernah remedi matematika, nilaipun baik. Nilai raport mulainya 70 kini menjadi 90.

Sejak itu aku sadar, kalau kita benar-benar ingin berusaha dengan giat, sungguh-sungguh, tidak mudah menyerah, dan disertai doa. InsyaAllah, “ PASTI BISA”.
Proses belajar berjalan dengan lancar. Banyak yang menjadi penyemangatku, banyak yang sayang, banyak juga yang mendukung, mendukung kesuksesan. Memang terkadang ada yang kurang mendukung, tapi aku tidak terlalu memikirkan. Aku yakinkan diriku sendiri bahwa semua orang mendukung kesuksesanku, Allah pasti menolongku dan menolong kita semua.

Kini diraport tertera, naik ke kelas XII, jadilah aku paling senior, berasa tua( Senior). Dulu waktu kelas XI Pak Sutaji pernah bilang” Kelas XI itu ibarat warna merah, dimana kalian harus stop main-mainnya, stop untuk tidak serius, stop untuk tidak bersungguh-sungguh dalam belajar, kalau kelas XII itu ibarat warna kuning, dimana mereka tinggal siap-siap untuk melaju, let’s go. Ternyata itu benar, di kelas XII mulailah lebih serius dari sebelumnya, menyiapkan diri ke depannya nanti,misalnya tentang kuliah dimana, apa jurusan yang akan di tekuni, ingin jadi apa, intinya tentang mimpi-mimpi untuk di wujudkan secara nyata, dan pastinya mempersiapkan untuk ujian nasional.

Di awal kelas XII, semangat masih terus, tapi suatu ketika aku juga pernah merasa ada yang aneh pada diriku, aneh sekali rasanya, kenapa rasanya akan berangkat sekolah tidak se semangat kelas XI, ada apa ini. Aku tidak nyaman dengan keadaan ini, akhirnya aku terus saja mencari solusi, aku berintrospeksi diri, mungkin ada hal yang salah dengan diriku, ada hal yang kurang tepat yang lakulakan. Saat di jalan dengan mengayuh sepeda, aku terus mencari-cari apa ya yang salah, mulailah aku berfikir, apa karena sekarang tidak ada mbk Ayu yang sering menasihatiku, karena waktu itu mbk Ayu sudah kuliah, apa karena aku kebayakan menonton tv, apa karena aku kurang rajin bersih-bersih rumah. Sampai hal-hal yang sebenarnya tidak ada kaitannya di pikirkan, hal itu aku lakukan karena aku ingin semangat itu kembali utuh, bulat.

Aku terus mencari-cari, aku sering membaca kata-kata motivasi, sering pergi ke warnet untuk membaca kata-kata motivasi( Shearching), ke perpustakaan untuk membaca kembali kisah-kisah orang sukses yang waktu kelas XI pernah aku baca. Memang semangat itu masih ada, namun itu kurang. Sampai akhirnya semester awalpun barakhir, apa yang terjadi selanjutnya..? Nilai di raportku ada yang turun, sedih rasanya karena waktu mendaftar PTN nilai raport yang dicantumkan mulai semester 1 sampai semester 5. Tapi gimana, mau menangis juga tidak merubah, menyesal. Aku berfikir, aku sudah berusaha, ya ini keputusan sesuai usahaku, aku harus menerima,dari situ percarian terus berlangsung,,,Ternyata jawabannya itu hanya ada pada diriku sendiri, bukan orang lain bukan televisi, bukan itu,,

“AKULAH JAWABANYA”. Itu karena aku sendiri, akulah yang harus merubah.
Akhirnya kutemukan semangat itu, senang sekali. Hari-haripun terasa lebih nyaman, lebih semangat, saat belajarpun asik, ketika mengikuti les tambahan lebih antusias ingin bisa. Dan jika tidak ada jadwal maka aku gunakan untuk belajar dengan teman-teman, sering pulang sore deh.Sering shearing tentang kuliah, ambil jurusan apa. Mulailah berfikir sangat serius mau kemana, apa tujuannya, impian-impian. Wah… jangan sampai kalah dengan upin ipin, mereka saja memiliki impian, jadi astronot dan profesor. ☺☺
Aku berfikir tentang jurusan terlebih dahulu, baru nanti Perguruan Tingginya. Karena masih bingung, menurut banyak sumber jika ingin mencari passion, carilah kegiatan apa yang paling disuka, ibaratnya waktu terasa cepat berlalu ketika melakukan itu. Passion = Lentera hidup.

Aku suka pelajaran ekonomi dan sosiologi, mana ya yang paling pas. Dengan pertimbangan yang cukup banyak, berdoa kepada Allah agar di beri petunjuk dan kemudahan. Akhirnya aku memilih ekonomi. Management atau ilmu ekonomi, setelah itu aku memikirkan di Perguruan Tinggi mana yang aku pilih. Mulai kelas XI semester 2 ingin sekali bisa belajar di Universitas Indonesia, nah mulai dah tuh mikir UI, UI, UI, dikamar udah aku tulis ayo berani masuk UI, bismillah. Setelah ikut banyak try out-try out, terus banyak alumni yang sosialisasi, tiba-tiba pikiranku berubah menjadi terfikir di ITB, di waktukelas 2 semester 1 memang aku ingin sekali belajar di ITB, gimana ini ITB atau UI.

Aku terus berdoa kepada Allah supaya diberi petunjuk, dengan membulatkan niat, tekad yang bulat.Bismillahirrohmannirrohim, Ya Allah aku pilih ITB di Sekolah Bisnis Management. Mulailah daftar online, dengan dibantu guru dan teman, dan akhirnya finalisasi. Waktu pengisian segala data apapun, aku terus bersholawat dalam hati, aku berdoa semoga pilihanku ini membawa berkah untuk semua. Amin….
Membahas tentang ujian nasional ya, di sekolah kami di adakan les tambahan untuk menghadapi ujian nasional, kegiatan itu juga banyak dilakukan disekolah lain, sama-sama berjuang, di saat sibuk les dan banyak try out, aku berjualan lagi. Aku berjualan ladrang, ladrang itu sejenis makanan ringan.

Alhamdulillah, usaha ladrang berjalan sangat lancar. Mulanya aku berjualan di kelas dengan membawa 30 bungkus dan tiap hari yang suka semakin bertambah. Teman-teman banyak yang mendukung jadi aku semakin semangat, ketika ladrang yang di beli habis, mereka kan haus. Malah aku disuruh jualan es, “Elok, besok jual es ya” ( sambil tertawa ), temanku yang satunya lagi menambahkan “Iya lok jual es juga, sekalian bawa kulkas, kan enak kita satu kelas tidak kehausan”, ada lagi nyambung “ Eh temen-temen coba bayangin Elok besok jualan ladrang dan jualan es, nah kulkasnya itu di bawa sambil naik sepeda, di taruh di belakang”, hahahaaha teman-teman yang ada di depan kelas semua jadi tertawa, bercanda lok, bercanda. Untukku itu adalah dukungan yang luar biasa, setiap hari mereka membeli banyak. Ladrang yang aku jual juga berkembang, di kantin sekolah ada, di koperasi siswa, di toko-toko daerah Mandiku dan Pontang,di penjual es degan(Kelapa Muda), Alhamdulillah, tersebar cukup luas ladrang YM(Yummy), YM adalah merknya. Bicara tentang YM, kalau sering liat antv pasti langsung ingat Ustadz Yusuf Mansur. Sebenarnya memang nama itu sengaja aku pilih sebagai motivasi, penyemangat, dan pengingat. Aku tidak berniat menjelekkan nama orang besar, atau niat yang kurang baik, tidak sama sekali. Maafkan aku ustadz..maaf.

Menjual ladrang terus berlangsung, hampir setiap hari langsung habis. Disaat dilakukan try out dan ujian sekolah, ternyata banyak penjual makanan di kantin dan di koperasi siswa libur, lalu aku jadikan peluang, aku membawa ladrang sangat banyak, sehari langsung habis. Kalau sekarang benar-benar seperti mau ke pasar, di depan keranjang sepeda ada,di tas ada, di tas besar ada. Kemudian ibu menyarankan aku berhenti, apalagi mau ujian nasional. Pertama aku bilang itu tidak masalah kok buk, aku juga setiap hari belajar, belajar sore juga dengan teman-teman di sekolah. Tapi ibu tetap menyarankan berhenti dulu, akhirnya seminggu sebelum ujian aku berhenti tidak berjualan. Sampai tiba ujian nasional, sebelum ujian dimulai kita semua berdoa 10 menit di mushola bersama dengan Pak Tohari, hal itu membuat kami menjadi lebih tenang. Kemudian ujian selesai kami tidak ada kegiatan di sekolah, masa menunggu pengumuman. Disaat itu aku gunakan untuk mempersiapkan SBMPTN, untuk mempersiapkan diri jika mungkin belum di terima di SNMPTN. Suatu ketika aku meminta tolong untuk di belikan buku (Persiapan UN) di Jember, ternyata aku juga di belikan buku SBMPTN, oleh mbak Ayu. Aku sangat senang karena mbak Ayu mau mengingatkan aku. Setelah aku sampai dirumah mbak sms begini:

“Bukannya aku ingin membuatmu pesimis lolos SNMPTN El, tapi aku hanya ingin kamu siap menghadapi segala keputusan-Nya nanti karena semua kemungkinan bisa terjadi. Bukankah sedia payung sebelum hujan itu lebih baik meskipun ternyata tidak jadi hujan, setidaknya kita sudah siap dengan setiap keadaan yang akan terjadi ☺”
Mbak mengingatkan hal itu bahkan sebelum ujian nasional, sangat bersyukur bisa memiliki kakak sekaligus sahabat yang begitu luar biasa.

Sebelum diadakan ujian nasional, waktu itu ada pelajaran PAI(Pendidikan Agama Islam) Pak Tohari menyuruh kami untuk memikirkan apabila tidak lulus, bagaimana perasaan kita, hal apa saja yang kita lakukan, siapkah untuk gagal. Sebenarnya awal pembahasan tentang Ridho, Rela dan Sabar. Pak Tohari memang luar biasa, Wow, satu kelas bingung gimana nulisnya, intinya harus siap gagal. Jadi masa menunggu itu penuh dengan tanya, pasrah iya,tapi sangattttt berharap bisa sesuai dengan yang di inginkan, LULUS. Hal itu juga sama ketika menunggu SNMPTN. Suatu hari Mas Imam datang silaturahhim, menanyakan aku mau kuliah dimana, jurusan apa, “ Pokokya Elok harus kuliah, OK lok” tanya mas imam. “OK mas” jawabku. “ Mau kuliah dimana?” mas Imam.” InsyaAllah, di ITB mas” jawabku.

“Di ITB,,oh ok gini lok kamu itu juga harus siap bila gagal, ya mas Imam pasti mendoakan semoga diterima, tapi kamu harus siap bila tidak lulus jalur undangan , artinya kamu harus siap tes (SBMPTN), ikuti tes-tes, pokoknya kamu harus kuliah, dimanapun, OK lok”kata mas Imam.
Nah, dari situ tambah rajin belajar, tawakal, makin pasrah dan sangat berharap semoga aku dan temen-temanku semua bisa diterima di Perguruan Tinggi masing-masing, semoga aku bisa terus belajar, bisa terus mencari ilmu, semoga Allah meridhoi kita semua. Amin

Masa menunggu telah berakhir, tanggal 24 mei 2013, saatnya pengumuman. Ting..Tong…

Alhamdulillah, aku LULUS. Teman-temanku juga LULUS, 100 %. UN sudah, jika sesuai jadwal tanggal 28 mei 2013 itu pengumuman SNMPTN. Ning..Nong..Ning..Nong…
Makin Pasrah aku, Pak To, Pak ha, Pak ri. Pernah bilang bahwa tugas kita itu hanya berusaha dengan sebaik-baiknya dan untuk keputusan atau hasil itu hak Allah. Kita sudah tidak memiliki hak. Dan ternyata pengumuman diajukan, menjadi tanggal 27 mei 2013. Memikirnya pun tidak berani, nah kesempatan di rumah saudara sedang ada khitanan, untuk mengalihkan pikiran. Aku membantu membuat “jenang”, sejenis kue dari santan, gula merah, tepung lalu diaduk dari encer jadi sangat kental, seperti yang pernah di buat Atuk Dalan, Upin Ipin dkk. ☺

Aku memang sengaja tidak membawa hp, ternyata banyak sekali teman-teman yang sms, telpon, memberi informasi bahwa jam 4 sore pengumuman sudah bisa dibuka. Akhirnya jam 4 pun tiba, aku meminta doa ibuku dan nenekku, semoga aku bisa diterima. Langsung aku ambil sepedaku dan berangkat untuk melihat pengumuman di warnet, di jalan aku terus saja berdoa. Nah saat tiba di warnet aku membuka hp, banyak sekali teman-teman yang sms, ada yang bertanya aku di terima atau tidak, ada yang sms bahwa dia belum di terima, ada yang berbahagia ia diterima, banyak sekali. Salah satu ada yang memberitahuku bahwa selamat Elok kamu diterima di ITB. Saat aku membaca sms itu, aku masih belum percaya, tapi aku juga langsung menangis.

Akhirnya aku buka sendiri, SubhanaAllah, iya aku benar-benar di terima di ITB, Alhamdulillah, sungguh sebuah keajaiban. Langsung aku sms mas Imam, bahwa aku di terima di ITB, kemudian mas Imam telpon, nah disaat mas Imam sedang berbicara, yah tiba-tiba hpku mati. Wah gimana ini, hpku mati karena baterainya rusak. Langsung aku charge di warnet, kemudian mas Imam kembali telpon, mas Imam mengatakan “Kamu adalah orang yang sangat beruntung Elok dan ini adalah awal perjuangan kamu, jadi harus tetap semangat di sana nanti kamu akan bertemu dengan orang-orang berbeda dari SMA”.

Apa yang dikatakan mas Imam benar aku adalah orang yang beruntung,SubhanaAllah, terima kasih ya Allah, terima kasih. Aku pun segera meninggalkan warnet, aku ingin segera memberi tahu ibu bapak di rumah. Setibanya di rumah, kutaruh sepedaku dan aku bilang ke bapak “ Alhamdulillah, bapak aku di terima di ITB” langsung ku peluk bapak sambil menangis, Moment Unforgetable. Saat memeluk bapak aku berkata “ Bapak doakan aku terus biar nanti disana lancar, terima kasih bapak atas doanya, terima kasih”. Ibu masih dirumah saudara membantu persiapan khitanan,setelah bakda Isya’ aku menemui ibu, langsung aku peluk ibu “ Alhamdulillah, Ibu aku diterima di ITB, terima kasih doanya, terus doakan aku buk”. Ibu langsung menangis, beliau menciumku. Alhamdulillah..terima kasih ya Allah. Aku bisa di terima di Institut Teknologi Bandung, program studi Sekolah Bisnis Management (SBM).

Ini adalah hal yang luar biasa, ini merupakan awal perjuangan, aku harus semangat, aku terus meyakinkan diriku sendiri bahwa “AKU BISA”.
Aku adalah apa yang aku pikirkan, “AKU BISA, AKU BISA, AKU BISA”. Semangat..semangat..semangat. ☺
Semua orang mempunyai kesempatan yang sama untuk sukses. Semoga berkah untuk kita semua.“Believe it, because succes is your right”.

Gunung-gunung di Ambulu (Foto koleksi pribadi)

Gunung-gunung di Ambulu (Foto koleksi pribadi)

Iklan

About Imam Santoso

I'am a metallurgist who love writing

2 comments

  1. Elok…selamat…
    Dan saya ucapkan selamat juga buat EL 03 yang punya ide memberikan beasiswa bagi yang kurang beruntung…semoga dana beasiswa ini akan makin bertambah seiring makin suksesnya teman-teman EL 03 yang rata-rata telah bekerja, ada yang melanjutkan kuliah ke jenjang yang lebih tinggi.
    Semangat ya….

    (tahu blog ini dari anakku, yang juga El 03)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: