Mutiara dari Lalan

Juni 2013, adalah hari yang bersejarah bagi SD Bandar Agung. Karena untuk pertama kalinya siswa dari sekolah ini telah berhasil masuk Final dalam olimpiade sains menyingkirkan 150,000 anak dari seluruh Indonesia. Tak mudah untuk sampai tahap ini. Butuh perjuangan berdarah-darah sejak babak penyisihan sampai babak final. Tiyas harus meyakinkan guru-guru akan kemampuan anak-anak didiknya sendiri, harus memutar otak untuk membuat alat-alat peraga dengan fasilitas seadanya dan juga harus membelah rawa-rawa untuk sekedar keluar kota untuk dapat ikut berlomba.

Lalan adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Musi Banyuasin, Suumatera Selatan. Secara geografis, Lalan dikelilingi oleh sungai Musi dan berbatasan dengan Kabupaten Banyuasin. Luas daratan lebih besar dari Singapura. Terdapat 26 desa di Lalan yang sebagian besar warganya adalah transmigran Jawa dan suku asli. Lalan tidak memiliki jaringan listrik yang menyala selama 24 jam, tidak memiliki jaringan telepon dan internet yang memadai. Air berwarna coklat, lengket, dan asin. Air minum memanfaatkan tampungan air hujan. Pasar hanya seminggu sekali yang datang menggunakan perahu dari Palembang. Fasilitas kesehatan pun sangat minim. Jika hendak pergi ke ibukota kabupaten, warga Lalan harus berputar dulu ke Palembang (ibukota provinsi) menaiki perahu cepat ( biasa disebut “sepit”) selama 5 jam, lalu melanjutkan perjalanan darat selama 5 jam lagi. Agak aneh jika mengetahui bahwa Lalan adalah bagian dari kabupaten terkaya nomer 5 di Indonesia. Itu lah mengapa, Lalan menjadi daerah yang sangat mengerikan bagi para pekerja pemerintahan. Lalan disebut-sebut sebagai daerah tujuan mutasi dengan taruhan nyawa untuk mereka yang memiliki kinerja buruk.

Waktu itu Tiyas mondar-mandir, loncat-loncat, teriak, ucap syukur, dan gemetar saking bahagianya. Begitulah luapan rasa gembira tiyas saat melihat nama-nama anak didiknya ada di http://www.komikuark.net/berita-kuark/pengumuman-semifinalis-osk-2013.html. 11 dari 14 anak; yang mengikuti babak penyisihanOlimpiade Sains Kuark, 3 bulan lalu; dapat melanjutkan kompetisi ke tahap berikutnya, babak semi final.

Kegembiraan Tiyas bukan tanpa alasan. Beberapa diantara anak-anak SD itu adalah anak yang “tidak dilihat” di sekolah. Tidak mendapat label “anak pintar”. Namun, entah karena alasan apa, Tiyas waktu itu tetap bersikeras membawa mereka ber-14, “saya ingin membuka kesempatan sebanyak-banyaknya untuk anak-anak. Saya yakin, setiap anak adalah juara”, katanya

Dan tentu saja, waktu itu, tidak kecil dana yang dibutuhkan Tiyas untuk membawa anak-anak ini ke Kota dari tempat terisolasi. Dia menghitung sekitar 11 juta. Tapi alhamdulillah atas usahnya ia berhasil mengumpulan pundi-pundi dana, mulai dari berjualan di pasar lokal, menarik kencleng ke warga selama berminggu-berminggu.

Berikut ini adalah foto-foto bagaimna perjuangan mereka mulai dari persiapan dengan peralatan seadanya sampai menaiki rakit membelah rawa-rawa menuju kota Palembang.

Eksperimen Si Air dan Api Ajaib

Eksperimen Si Air dan Api Ajaib


Sepulang sekolah di depan perpustakaan, belajar sains.

Sepulang sekolah di depan perpustakaan, belajar sains.


Persiapan menaiki sepit. Semua guru mengantar sampai jeramba (dermaga).

Persiapan menaiki sepit. Semua guru mengantar sampai jeramba (dermaga).


Restu guru se-kecamatan Lalan mengiringi perjalanan babak semifinal OSK.

Restu guru se-kecamatan Lalan mengiringi perjalanan babak semifinal OSK.


Makan malam di “penginapan gratis” (rumah Kepala UPTD Palembang).

Makan malam di “penginapan gratis” (rumah Kepala UPTD Palembang).


Kondisi anak-anak sepanjang perjalanan menuju/dari Sekayu (Mabuk perjalanan darat)

Kondisi anak-anak sepanjang perjalanan menuju/dari Sekayu (Mabuk perjalanan darat)


Mengingat kembali sains sebelum perang keesokan harinya. @ penginapan Sekayu.

Mengingat kembali sains sebelum perang keesokan harinya. @ penginapan Sekayu.


Foto bersama setelah pembukaan acara SmileDay (included OSK).

Foto bersama setelah pembukaan acara SmileDay (included OSK).

Namun perjuangan keras tiyas dan anak-anaknya tidak sia-sia. Fitri Refina lolos ke babak Final yang akan dilangsungkan di Jakarta akhir bulan ini. Fitri Refina Maulin, 12 tahun, adalah siswi SDN Bandar Agung, desa P-16, Lalan. Ia adalah siswi yang biasa-biasa saja di kelas, nilainya naik turun, tak ada gelar juara yang pernah disabetnya semenjak duduk di bangku sekolah dasar. Akan tetapi, Refin memiliki rasa ingin tahu yang sangat besar, apalagi setelah diperkenalkan dengan buku-buku sains. Refin rela belajar dan bereksperimen lebih banyak dari teman-temannya demi memenuhi rasa penasarannya. Kerja kerasnya telah membuahkan hasil. Saat ini, Refin adalah finalis Olimpiade Sains Kuark (OSK) 2013 untuk level 3 (Kelas 5 dan 6).

OSK adalah olimpiade binaan Prof. Yohanes Surya dari Tim
Olimpiade Fisika Indonesia (TOFI) yang diselenggarakan oleh
Perusahaan Kuark Internasional. OSKmerupakan olimpiade tingkat
nasional yang melibatkan ratusan ribu siswa dari seluruh
Indonesia. Pada babak final, olimpiade ini telah menyisihkan 150.000 peserta menjadi 300 peserta yang terdiri dari 100 peserta setiap levelnya (terdapat 3 level). Olimpiade ini adalah ajang yang sangat besar untuk menunjukkan potensi tersembunyi dari putra-putri pelosok Indonesia.

Saat ini Tiyas sedang berusaha mengumpulkan dana kembali untuk membawa anak-anaknya ke Jakarta menuju babak terakhir, babak final, bertemu putra-putri dari seluruh indonesia. Dana yang dibutuhkan sekitar 9 juta rupiah.

Bayangkan bagaimana jika Refin mampu menjuarai kompetisi ini? Akan tumbuh ribuan atau bahkan jutaan semangat berprestasi dari seluruh negeri ini, tidak hanya dari Lalan saja. Semua siswa di seluruh pelosok Indonesia akan memiliki seorang contoh untuk dapat ditiru. Mereka akan turut memiliki optimisme dan keinginan untuk meraih prestasi yang sama atau lebih besar lagi. Kesempatan Refin untuk dapat pergi ke Jakarta saja sudah mampu membakar semangat teman- teman seumurannya, bahkan kakak-kakak seniornya dan adik-adik juniornya serta guru-guru se- Lalan, apalagi jika ia dapat menjadi juara. Tapi, kesempatan itu tak dapat terbuka jika ia tak dapat pergi ke Jakarta.

Babak final ini diadakan di Jakarta, pada tanggal 29 Juni 2013 – 300 Juni 2013. Putra-putri terbaik bangsa dari seluruh Indonesia akan berkumpul untuk memperebutkan gelar juara dalam Final OSK 2013.

Bagi yang ingin membantu bisa mengirim donasinya ke No. Rekening BRI di bawah ini:

A.n. Devi Ulumit Tias Bank Rakyat Indonesia 0651 KCP Cikajang 0651-01-007421-50-1
Kepada Donatur yang telah mengirimkan donasi ke rekening di atas, harap memberikan informasi melalui SMS ke 0877-6990-4257 atau email ke ulumit_d@yahoo.co.id dan devi@pm4.indonesiamengajar.org dengan memberitahu nama, jumlah transfer, dan alamat email/nomor handphone yang dapat dihubungi untuk mempermudah pencatatan dan untuk pengiriman laporan Pertanggungjawaban.

Semoga menjadi pahala yang terus mengalir sepanjang masa.

Tulisan ini saya tulis dan copas dari tulisan-tulisan yang Tiyas kirim kepada saya.

Tiyas adalah seorang pengajar muda progam Indonesia Mengajar. Kisah hidupnya sejak sma sudah pernah saya tulis di https://imamsantoso.com/2012/03/15/aku-suka-kehidupan-yang-tidak-biasa/

Fitri masuk koran

Fitri masuk koran


Anaka-anak ke sekolah

Anaka-anak ke sekolah


Jalan Ke Lalan

Jalan Ke Lalan


Belajar tetap semangat

Belajar tetap semangat

Iklan

About Imam Santoso

I'am a metallurgist who love writing

5 comments

  1. rizki

    subhanallah…semoga menjadi inspirasi bagi siswa siswi lain….

  2. Subhanallah…
    Tak terasa air mata saya menitik..
    Semangat berjuang untuk mb Tiyas dan Refin, insya allah mendapatkan yang terbaik 🙂

  3. ian.achmadjanuar

    Jadi benar ya Mas, menurut Malcolm Gladwell (buku “The Tipping Point”), ternyata perubahan besar yang signifikan ternyata seringkali justru di-tip (sentuh) oleh hal-hal sederhana yang selama ini tidak pernah mendekat.

    Kalau saya boleh mengambil kesimpulan Pengajar Muda (PM) yang diceritakan di blog tersebut, dalam istilah Gladwell, memenuhi hukum “The Law of The Few”. Lebih spesifik, sebagai “Connector”. Orang yang “bertugas” menyelesaikan missing link dari setiap potensi yang ada.

    Sementara komentar saya begini dulu, banyak yang berseliweran, tapi belum terstruktur. Terimakasih.

  4. Ping-balik: Bagaimana Pendidikan Merubah Kami | Coretan Imam Santoso

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: