Bunga Lantana-ku

Bunga Lantana

Riuh, pedagang cilok, kacang goreng dan pedagang tahu tusuk mulai berdatangan. Tak kalah juga pedagang balon udara warna-warni. Balon diikat benang, berisi gas karbit sehingga balon melayang-layang di atas pak penjual. Pedagang mainan kampung juga menggelar lapaknya. Menjual pistol-pistolan plastik, mobil-mobilan dan pedang-pedangan kayu. Ba’da duhur mulai datang pengunjung memadati perempatan. Menyaksikan pagelaran Reog Ponorogo. Lalu Ba’da isa’, tari remo akan menjadi pembuka sebelum pegelaran wayang kulit semalam suntuk sebagai prosesi acara Syura-an, acara untuk menyambut bulan Hijriyah Syura

Bertempat pas di perempatan depan rumah acara ini berlangsung sangat meriah. Bila Syura ini berada di depan perempatan rumahku, maka tahun berikutnya akan dilaksanakan di perempatan satunya yang berjarak sekitar 600m, dan Syura berikutnya akan kembali ke perempatan depan rumah lagi, begitu seterunya, tradisi yang ada di desaku ketika aku kecil.

Tentu saja rumahku tak pernah berharap punya tanaman hias penuh bunga-bunga yang ditanam indah didepan rumah atau tanaman buah-buah segar, seperti belimbing atau pohon mangga yang ranum-ranum ketika masak. Mimpi siang bolong. Sa’at Syura, ratusan massa akan siap menginjak-injak tanaman-tanam itu tanpa ampun.

Aku sejak kecil suka berkebun. Menanam dan merawat tanaman-tanaman di samping kanan rumah. Sebelah kanan rumah pernah penuh dengan bunga mawar merah muda, lalu ada 4 jenis pohon tebu. Ada yang berwarna merah, hitam, hijau dan garis-garis.

Pagi itu aku yg masih kelas 5 SD harus tersedu-sedu karena melihat kenyataan bunga cocor bebek dan bunga kertas yg telah dirawat selwa 3 bulan harus mati mengenaskan, nyaris lumat tergilas kaki-kaki penonton reog, remo dan wayang. Yang lebih nyesak lagi adalah melihat bibit-bibit persemaian yang masih kecil harus mati juga karena semalaman persemaian itu beralih fungsi menjadi karpet hijau tempat duduk nonton bareng wayang kulit semalam suntuk.

“habis ini ditanam lagi, kan setahun lagi Syuraa’nya tidak di sini, jadi selama dua tahun bisa kamu tanamai lagi” kakek saya mencoba menyemangatiku yang terisak-isak sambil membantuku menyelamatkan sisa-sia tanaman yg masih ada. Bunga bogenfil yang tinggal pangkal dan akar. Bunga kertas yang lumat namun masih ada sisa-sisa biji keringnya yang belum rontok. Pohon manga setinggi kepala tanpa daun dan ranting. Benar-benar ludes des. Namun masih ada yang selamat. Sebuah bunga krisan yang masih kuncup yang kutanam tepat dibawah jendela kamar. Aman karena terlindungi pohon belimbing.

Bunga krisan itu bibitnya aku dapatkan dari kota, dari tetangga yang punya rumah di Jember. Kini bunganya asih kuncup, dan aku belum pernah melihat warna bunganya ketika mekar. Katanya sih kuning.

Satu minggu berlalu. Tanaman-tanaman baru ku tanam lagi. Tiap sore kusiram. Bunga krisan kini daunya hijau kehitam-hitaman, menunjukkan klorofil yang sehat tak kekurangan gizi. Hari demi hari kuncup mulai banyak, satu-persatu bunga kuningnya bermekaran. Krisan warna kuning ini rupanya mampu tumbuh cukup tinggi, walaupun bungnya kecil-kecil namun sangat lebat. Akar geragihnya hari demi hari mulai tumbuh menjadi tunas baru. Aku potong dan aku tanam lagi hingga akhirnya aku punya sekitar 10 bunga krisan warna kuning menyebar di depan rumah.

Rumahku indah dengan taman mungil di depanya. Warna-warni bunga krisan dan suko rini. Juga harum bunga kenanga yang mampu membuat malam terasa agak “mistis”. Banyak kupu-kupu dan juga lebah madu. Anak-anak kecil senang bermain di sana. Para tetangga mulai kepincut dan banyak yang mulai meminta bibit untuk ditanam di rumahnya. Belimbingpun mulai berbuah. Mawar mekar di sekeliling rumah. Saat mau lebaran banyak pedagang bunga mencoba membeli bunga-bunga tadi. Maklum saat mau lebaran atau mau puasa bunga-bunga akan laku keras untuk dibawa ke makam untuk “nyadran”. Tentu saja bungaku tidak dijual.

1.5 Tahun berlalu. 6 bulan lalu Syora-an dilaksanakan di perempatan sebelah tapi ini artinya 6 bulan lagi pesta raya Syuraan akan pindah di depan rumahku lagi. Tentu saja aku tak akan merelakan tanamanku terinjak-injak lagi

“Dengan cara apa, Rumah kita gak ada pagarnya”, kataku pada kakekku.

“nanti aku buatin pagar biar aman”, katanya

Seminggu sebelum Syura, kakek memotong 7 pohon bamboo besar. Membelahnya kecil-kecil panjang. Dianyamnya menjadi papan berukuran 2 x 2 m. Setelah kering, papan-papan bamboo itu dipasangnya mengelilingi rumah untuk melindungi bunga-bunga dan tanaman-tanaman lain.

“tanamanku harus selamat”

Bunga pukul empat. Bunga yang mekar ketika sore. Namanya adalah bunga pukul empat. Pukul empat juga aku dan kakekku mulai menyirami tanaman-tanaman itu. Ada Ada yang jingga. Ada yang putih. Berbentuk seperti terompet kecil. Bijinya hitam. Bila ditumbuk maka dalam cangkangnya akan keluar serbuk putih. Anak-anak putri biasanya memakainya untuk bedak-bedakan.

Pukul enam. Matahari tenggelam dan malam datang. Dengan malam daratan menjadi dingin, membuat daun yang layu segar kembali. Dengan malam ujung-ujung tunas bergerak tumbuh, hingga esok hari tunas memanjang dan dapat dipetik untuk sayur. Dengan malam bunga-bunga dapat bermekaran, harumnya mewangi, hingga esok hari lebah-lebah akan menari-nari mengambil madunya.

Kata orang bijak, bunga itu mengajarkan keihklasan. Ia tak haus puja-puji, mekar indah dengan alami. Bukan artificial. Tak peduli orang akan berbuat apa, yang penting ia terus merekah memberikan madu kehidupan, terus menebar keharuman kemana angin berhembus membawanya. Indah dan menyenangkan

“asyik…besok Syura….banyak tontonan…pasti bakal reme…” riuh riang dalam rumah.

Nenek dan bibiku bersuka cita menyambut tontonan gratis yang akan digelar di perempatan depan rumah esok lusa. Aku cemas, tak tahu akan bernasib seperti apa tanamanku-tanamnku esok lusa pagi. Berharap bagar betis bambu mampu menyelamatkanya. Atau aku akan menangis sejadi-jadinya.

Magrib berkumandang, pertanda petang ini telah masuk 1 Syura. Ya, saat itu 1 Syura 1416 H,1995 M. Matahari pun terbit. Bondong-bondong orang lalu lalang mengkapling-kapling jalan menandakan batas untuk membuka lapaknya. Jam satu siang, gendang kulit bertalu-talu mengiringi Jatil dan Reog Barong yang manggung di tengah perempatan. Penonton mulai berdatangan dari 4 penjuru arah jalan. Kini perempatan penuh. Para penonton berdesak-desakan ke arah teras rumah.

Jam 8 malam, meja besar diberdirikan tepat ditengah perempatan jalan. Penari mulai berlenggak-lenggok dengan kerincing di kakkinya diiringi suara gamelan dan gendang

“Brak..” suara patah pagar terdengar dari dalam rumah.

Ku intip jendela, kini halaman rumah dan taman telah penuh dengan orang. Pagar bambu masih berdiri, tapi kini isinya adalah bapak-bapak yang berdiri sambil tertawa-tawa, menyaksikan pagelaran wayang kulit.

Tragedi dua tahunan itu terulang lagi. Lumat… lumat sudah. Ku kais-kais batang-batang itu lagi dan lagi esok paginya.

Harus di ikhlaskan. Harus ikhlas seperti bunga.

Bersambung,

*****************************************************************************

Bunga lantana.

Foto berikut adalah foto bunga lantana hutan yang saya silangkan (sambung) dengan lantana hasil rekayasa genetika (lantana kota). Lantana hutan dapat tumbuh besar tapi bunganya sedikit, sedangkan lantana kota pohonya kecil seperti perdu namun dapat berbunga lebat. Bila kedua tanaman ini disilangkan maka hasilnya adalah lantana yang mampu tumbuh besar, setinggi rumah dengan bunga warna-warni yang lebat.

Lantana di atap rumah

Lantana di atap rumah

Iklan

About Imam Santoso

I'am a metallurgist who love writing

5 comments

  1. ulumit

    Waaaah bagus lantananya, dulu pas aku kesana g ada bunga ini..

  2. Apa saya pernah lewat depan rumah ini ya? #Banyak rumah teman di Ambulu.

  3. aku mau coba tiru ah, soalnya rumahku di tepi hutan dan banyak lantana. trim sudah menginspirasi

  4. Permisi Pak, itu batang bawahnya lantana hutan atau lantana kota nggih? Terima kasih sebelumnya,…. 🙂 ^_^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: