Partikel 4. Untuk Lukisan yang Hilang

Pria separuh baya itu lunglai, darahnya nyaris habis di meja operasi. Entah kenapa sang dokter berani memaksakan jalanya operasi, padahal rumah sakit itu tidak punya cadangan darahnya, pun tak tersedia di PMI terdekat. Mungkin dokter mengira bahwa jalanya opreasi akan lancar, tanpa ada pendarahan hebat.

“Mohon kerabatnya bisa datang ke rumah sakit? Bapak itu perlu donor darah, ia saat ini masih di dalam ruangan operasi dan kehabisan darah”

Satu persatu, orang datang, tak jua darah-darah sanak family nya cocok, anak bapak itu juga tak berada di sana.

**************************************************************************

Sementara beribu-ribu KM diselatan sana, telah ada badai besar, menerbangkan rumah-rumah, memporak-porandakan pasar, mobil-mobil berhenti. Pukul 9 malam, anak itu harus ke bandara menjemput temanya yang datang dari Indonesia. Mobil pun melesat membawanya ke bandara, menerobos lorong-lorong tol yang senyap, dengan diiringi hati yang sudah terbang cepat menerawang melebihi pesawat yang lalu lalang di depanya. Hatinya telah hadir di tempat lain, mencemaskan orang tuanya yang sampai saat ini belum mendapatkan darah. Sudah 100 orang lebih datang ke rumah sakit. Tak satupun yang cocok. Mungkin ini nasib orang yang memiliki golongan darah dengan yang rhesus negative.

“Kenapa aku baru tahu sekarang, tak pernah terpikirkan..apa lagi konsekuensi..”

“..ah bukanya aku juga tak hafal kapan bapakku lahir, kapan ia menikahi ibuku..”

“Tak pernah ada “happy birthday ..Happy weeding anniversary Mom..Dad”..

“Bukankah aku pun tak tahu siapa ayah bapakku. Kakekku dari bapakku adalah salah satu misteri terbesar hidupku. Tak pernah aku dengar cerita nya bahkan dari orang tuaku sendiri”, pikiran Amar terus bergejolak.

Mobil terus melesat, jarinya pun terus menerus bergerak-gerak di gadgetnya sambil googling dg kata kunci “B rhesus negative”. Wikipedia muncul di larik pertama,

“ B negative hanya bisa menerima dari B negative atau O negative. Di dunia hanya 1.39% orang dengan golongan darah B negative”

Lalu ada sms masuk di HP nya:

“jangan lupa saat ini sedang hujan, saat yang ijabah buat berdoa, jangan lupa doakan terus orang tuamu, kita di sini juga mendoakan yang terbaik..”

Pernah Amar mencoba menulusuri alur leluhur keluarganya. Mencoba menggabungkan simpul-simpul nama dalam pohon silsilah keturunan. Tapi itu tak bisa membantu banyak. Karena sudah menjadi kebiasaan pemberian nama anak didaerahnya tidak mencantumkan nama keluarga dibelakangnya. Contohnya nama “Imam Santoso”, Imam artinya pemimpin, Santoso artinya ya Sentosa. Santoso itu bukan nama keluarga. Foto? Tak ada. zaman dulu mana ada foto.

Yang ada hanyalah lukisan usang yang sudah tak jelas goresan, tekstur dan warnanya. Usia telah memakanya. Tapi lukisan itu tetap nenek jaga. Ia menjaganya seolah-olah itu adalah barang paling berharga dalam hidupnya. Lukisan 30 x 40 cm. Sekilas nampak sepertu lukisan keluarga, ada perempuan memakai gaun panjang lebar.

“Siapa kekekku..siapa ayahnya kakekku. Siapa ayahnya ayahnya kakekku..siapa ibunya ayahnya ayahnya ayahnya ayahnya kakekku…dulu dia bekerja sebagai apa? dari mana asalnya?”

“Aku harus segera pulang ke Indonesia, segera menanyakan ke nenekku sebelum ia meninggal tentang misteri lukisan usang”, Amara terus bergumam.

Nenek nya Amar adalah salah satu orang tua yang masih hidup di daerah Perkebunan Kotta Blatter, Jember. Nenek itu lahir jauh sebelum Indonesia merdeka. Kotta artinya perkebunan, dari bahasa belanda. Jember adalah tanah yang subur, menjadi perebutan orang Jepang, Belanda dan Inggris pada dan sebelum perang dunia dua. Ras-ras itu pernah tinggal di sana. Di Kotta Blatter, masih berdiri megah sisa-sia bangunan belanda, pabrik pengolahan karet dengan stum menjulang tinggi sampai sekarang masih beroperasi. Di antara pegunungan juga masih terisa rel-rela kereta api. Di hutan-hutan juga masih ada gua-gua beton tebal buatan jepang yang menghadap ke laut yang menjadi benteng saat perang.

“Aku harus bisa mengembalikan wujud lukisan itu…aku harus tahu warna lukisan itu..siapa-siapa orang itu..apa warna kulitnya..apa bentuk hidung dan pipinya”, Amar yang fikiranya suka melompat-lompat, tiba-tiba kefikiran bagaimana mengembalikan pusaka neneknya itu.

“Alat pemindai warna..melacak warna-warna yang hilang..merekonstruksinya kembali..”

“Bukankah di facebook saja jejakku zaman dulu comment dimana, meng-like apa dan mencari apa semua bisa ditelusuri. Bukankah, dalam astrophysic, wujud tata surya ini di waktu silam juga dapat dirunut, 4.6 milyar tahun lalu alam semesta berupa titik. Juga, dalam Geologi, batu marmer yang indah yang saat menghiasai dinding-dinding kamar, jutaan tahun silam hanyalah gundukan cangkang hewan-hewan laut. Dalam kimia, dikenal deret radioaktif, jejak-jejak perjalanan atom dapat dilacak, misal atom timbal 5 juta tahun lalu adalah berupa atom Neptunium yg akhirnya meluruh menjadi atom-atom lain termasuk timbal. Dan bukankah cat pewarna dalam lukisan itu adalah berasal dari mineral-mineral tambang yang berwarna warni-warni yang didalamnya mengandung logam yang dapat dideteksi dengan mudah?”

Setelah mengantar temanya ke penginapan, hati dan fikiran Amar masih terus berkecamuk. Setalah, sampai di flat nya ia segera masuk kamar dan membuka kamputer, matanya terus begerak kesana-kemari membaca tulisan-tulisan di internet.

“Klik..” Amarpun segera googling warna-warna mineral di alam, untuk mengingatkan kembali pelajaran mineralogy yang ia dapatkan ketika kuliah di Bandung dulu.

“Klik..”, Amarpun terkejut dengan dari berita http://www.dailymail.co.uk, tulisan yang berjudul “Mystery of the changing flowers solved: Chemical analysis reveals varnish changed the colour of an iconic Van Gogh painting (and it could affect many more)”

Amarpun semakin penasaran, hingga akhirnya ia download jurnal ilmiah yang berisi bagaimana degan menggunakan Sinar X ilmuan berhasil memecahakn misteri warna asli lukisan monalisa karya Leonardo da Vinci “Multispectral camera and radiative transfer equation used to depict Leonardo’s sfumato in Mona Lisa Mady Elias and Pascal Cotte Applied Optics, Vol. 47, Issue 12, pp. 2146-2154”

Ia juga semakin terkejut bagaimana ilmuan berhasil merekonstruksi lukisan “Wrestlers” yang telah tak berwujud dan telah menjadi misteri cukup lama karya Vincent Van Gogh’s pelukis abad 18, Post-Impressionism, berasal dari Belanda

‘Aku harus membawa lukisanya ke Paris…aku ingin lukisan itu kembali seperti kembalinya lukisan-lukisan yang saat ini berada di The Musée d’Orsay, Paris’

************************************************************************
Sementara itu di rumah sakit, Suster itu pun sepertinya juga kewalahan karena harus terus menerus mengecek darah orang yang datang untuk mendonorkan darah, tapi satu pun yang sama.

Suster pun mendatangi keluarga pasien; “Anda keluarga Bapak yang dioperasi?..Bapak yang di operasi itu orang mana ya ..orang keturunan?… Sepertinya Anda harus ke PMI.. Minta nama dan alamat orang yang punya golongan darah ini, kita tidak bisa menunggu yang belum pasti…”

Bersambung,

Semua kan terekam dan meninggalkan jejak, terlacak atau tidak, baik atau buruk, semua yg masih hidup atau yang saat ini telah mati.

Jumlah golongan darah B - (Gambar dari bloodcenter.stanford.edu )

Jumlah golongan darah B –
(Gambar dari bloodcenter.stanford.edu )

Iklan

About Imam Santoso

I'am a metallurgist who love writing

2 comments

  1. Sakayu

    Wow… keturunan londo tho jebule 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: