Korban Korupsi (Memperingati hari korupsi)

Desa Andongsari, Ambulu, sejak aku lahir desa ini sudah tersusun rapi. Perancangnya entah siapa, bila dilihat via google earth, desa pada kaki gunung dekat perkebunan dan pabrik Belanda di taman nasional meru betiri ini seperti dirancang dengan matang. Jalan-jalan disusun lebar dan simetris satu sama lain.

Ada pagar-pagar di setiap pinggir jalan. Pak kampung mewajibkan setiap rumah memiliki dua gapura berbentuk unden berundak dan harus terpasang logo jawa timur dengan tulisan Jer Basuki Mawa Beya.

Juga plonto, bangunan silinder setinggi 30 cm yg dipasang di bawah pagar. Blok-blok rumah di desa ini sekilas seperti blok-blok perumahan baru yang di bangun tahun 2000 an.

Tak heran bila desa ini memenangi lomba desa tingkat nasional.

Ups…itu sebelum tahun 1990, alias ketika aku masih TK. Dan rumah kami yang sederhana menang sebagai rumah percontohan.

Rumah mungil dengan dua kamar, dikelilingi pagar dari tumbuhan teh-tehan (Acalypha Siamensis) dan juga pohon rambutan. Di depan pintu keluar rumah, dibuat jalan buatan yang ditaburi batuan kali warna abu-abu seukuran buah duku, di tata rapi menuju jalan utama.

Hanya saja waktu itu kamar mandi dan toiletnya masih sederhana. Dan sebagai hadiah, karena menang rumah percontohan, rumahku akan mendapat hadiah pembangunan toilet leher angsa dari pemerintah. Tentu ini adalah kabar yang menggembirakan buat ayah-ibu.

Saat itu ibuku panik bercampur senang. Panik kerena terdengar kabar bahwa hadiah akan di berikaan langsung dalam bentuk barang jadi esok hari . Artinya pemerintah akan membangun langsung toilet itu. Senang karena pembangunan toilet juga akan di shooting. Bagaimana tidak senang, toilet baru dan rumah kita akan masuk TV, zaman itu.

Bapakku langsung mencari pak tukang dan mencari perlengkapan pembangunan seperti semen, batu gamping dan batu bata. Pun ibuku pergi ke pasar mencari dua buah timba besar. Dengan berbekal uang dari kepala desa dan list barang yang harus ada. Pagi itu bapak ibuku kalang kabut karena pemberitauhan tentang penyutingan hanya sehari sebelumnya.

Hingga pagi itu tiba, saat yang di tunggu-tunggu keluarga kami

Jam 8 pagi rombongan orang berseragam dinas datang. Dengan jabat tangan dan ucapan selamat dari mereka.

“selamat ya pak, rumahnya telah terpilih sebagai rumah percontohan, dan sebentar lagi pembangunan dan shooting tolilet akan dimulai”, kata orang berseragam dinas.

Kabar tentang penyutingan rupanya sudah menyebar di seluruh kampung. Karena bagi orang di sana, zaman itu, shooting adalah proses luar biasa. Ya, karena seseorang bisa masuk dalam TVRI. Tak pelak, rumahku dipadati anak-anak dan orang dewasa yang ingin menyaksikan proses pembuatan toilet itu.

Barang-barang pun di persiapkan mulai seperti dua timba besar semen 5 kg, batu bata, batu gamping dan pasir kali. Pak Parman dan Pak Sugeng tukang yang sebelumnya telah di hubungi bapakku juga telah bersiap menunggu komando dari juru kamera.

Dan setelah itu,

“Mulai”, juru kamera pun berteriak.

Pak sugeng dan Pak Parman memulai bekerja. Batu bata satu persatu di susun oleh tangan lincah. Pak Parman sebagai asisten tukang yang bertugas mengaduk adonan lumpur semen dan pasir berakting dengan semangat.

30 menit kemudian, saat baru tempat jongkokan selesai di bangun, terdengar aba-aba itu.

“Selesai” kata juru kamera.

Kemudian seorang berseragam dinas datang.

“Pak penyutingan pembuatan toilet telah selesai, dan kami harus segera pulang ke Jember”.

Saat itu aku tak mengerti kenapa setelah shooting selesai, pembangunan toiletku juga tak kunjung diterusin lagi. Setelah itu semua orang bubar. Pak tukang pun bubar. Ayahku pun segera mengemasi semua barang-barang bangunan tadi. Aku tak tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Ternyata setelah dewasa aku baru sadar kalau acara itu adalah acara akal-akalan saja. Akal-akalan kalau hadiah toilet telah di berikan, berikut bukti dokumentasi videonya yg kemudian diberikan kepada pemerintah. Padahal faktanya setelah selesai shooting selama 30 ment, selesai pula pembangunan toilet itu. Tak diteruskan lagi.

Pembangunan toiletku terhenti ketika bata coklat sebagai dudukan telah di tancapkan. Toiletku berupa bangunan tak sempurna, undukan bata-bata dengan dua celah batu bata merah sejajar rata di tengah.

Keinginan untuk punya toilet hadiah telah kandas, karena pembangunanya telah selesai dan tidak diteruskan.

Sebenarnya kejanggalan hadiah itu sudah terendus sehari sebelumnya. Pagi tiu datang Pak Kades memberikan uang untuk membeli bahan-bahan pembuatan toilet. Dan uang itu akhirnya hanya dapat bahan-bahan minim. Dua timba besar yang dibeli ibuku sejatinya adalah pengganti septitank. Orang normal pun tahu kalo septitank haruslah lobang besar di tanah yg di cor dengan semen. Dan tentu itu tak cukup hanya dengan semen 5 kg.

Dan shooting selesai, Pak Parman segera menutup lubang antara dua batu bata itu dengan semen. Di tutup benar-benar di tutup rapat, seperti disegel. Ini dilakukan mungkin agar jangan sampai ada anak tetangga jongkok lalu buang air besar disana.

Hadiah toletku hilang, uangnya telah hilang entah kemana. Selama dalam perjalanan, mungkin ada lubang-lubang kakus busuk yang telah mengambil uang itu setiap sampai dari tangan satu ke tangan lain, sebelum sampai ditangan keluargaku.

Beberapa hari kemudian, ketika tetanggaku menceritakan bahwa rumah kami telah masuk TV kita pun senang tak terperi.

Beberapa bulan setalah kejadian, rumah itu tidak kami tempati lagi sampai sekarang. Pun puing-puing bata itu masih menganga di tutupi belukar hingga kini, saksi korupsi.

Toilette (Gambar dari www.123rf.com )

Toilette (Gambar dari http://www.123rf.com )

Iklan

About Imam Santoso

I'am a metallurgist who love writing

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: