Mendaki Cikuray

Karena sudah pukul 10 malam dan tak ada lampu penerangan jalan, maka selama perjalanan menuju pemancar di atas bukit yang merupakan titik nol pendakian, kami hanya merasakan tubuh kami terpantul-pantul duduk di atas pick up (kol bak) yang kami tumpangi karena jalan berbatuan. Namun begitu, jalan yang membelah perkebunan teh ini telah berada di ketinggian, melewati garis batas polusi cahaya, sehingga hamparan langit luas tanpa mendung bertaburan bintang kerlap kerlip cantik mampu membuat kami melupakan sejenak kasus “angkot laknat” tadi.

“angkot laknat” adalah istilah dari treveler (yang aku baca di blog nya)untuk menyebut angkot yang telah “menculasin” rombongan mereka dari terminal Guntur Garut menuju pemancar. Ketika sampai ditengah-tengah perjalanan ketika akan memasuki kebun teh, angkot yang mereka tumpangi hanya berputar-putar dan tidak mau mengantar mereka sampai tujuan, lalu menurunkan mereka di tengah jalan.

Ketika akan melakukan perjalanan ke daerah yang belum kami kenal, kehati-hatian itu penting dan jangan mudah percaya dengan orang. Kasus orang berpura-pura baik dengan memberi minum air berisi bius, lalu menggondol barang-barang atau kasus pemalakan sudah sering muncul di berita.

Aku sendiri sebenarnya sudah kapok “curiga” karena apa yang terjadi malah sebaliknya. Waktu traveling ke ujung Genting dengan Irwan 4 bulan lalu yg juga ketua rombongan pendakian ke Gunung Cikuray ini, kami dikejar orang naik sepeda motor. Ketika kami berhenti dia juga ikut berhenti. Ketika kami pelan, orang itu juga pelan.

“Irwan…itu kan tadi orang yang kita tanyain di mana jalan menuju air terjun Cikaso. Wah mungkin karena nanya tadi kita jadinya dikejar. Kayaknya bapak itu mau jadi Guide tembak dan ujung-ujungnya akan minta duit dengan nominal tertentu”

Kami semakin curiga karena sudah hampir 1 jam perjalanan melewati pegunungan, si bapak itu masih mengekor. Kami mencoba cara agar bapak itu tidak mengikuti kami dengan berhenti di pom bensin, tapi si bapak juga ikut berhenti. Ketika mau mengambil jalan pintas, bapak itu malah melarang. *aduh..benar2 kami telah diikuti Guide tembak.

Namun ketika kami sampai di Curug dan kami udah siap2 mau tawar-menawar jasa mengantar, tiba-tiba bapak itu bilang.

“Ok dek.ini curug nya..bapak mau terus jalan mau pulang, karena tadi kebetulan satu jalan dengan adik maka tadi adik aku antar, takut adik-adik kesasar. Selamat liburan…”

Kami pun bengong ternyata bapak itu ikhlas ngantar dan tidak meminta bayaran
*maafkan karena kami “curiga”

Juga kasus ketika aku sholat di masjid di Jalan Orchard, ada bapak-bapak supir taksi yang baru selesai sholat bersama kami, tiba-tiba nawarin mau mengantar kami. Sontak aku berkata “maaf harus bayar berapa Pak kami?”

“Free….karena kita itu semua saudara..adik kan dari jauh dan butuh ada yang nunjukin jalan.”

Bapak itu akhirnya mengantar kami sampai ke pool Bus dan malahan ia memberi makanan kepada kami untuk bekal perjalanan. Bapak itu juga menasehati selama mengantar kami. Di antaranya “Dimanapun adik-adik pergi, dan dalam kondisi apapun, jangan lupa sholat ya…”

*Duh Bapaak.maafain aku yang telah salah sangka duluan

Nah dari pengalaman itu aku merasa berdosa bila curiga dengan orang ketika bepergian ke tempat yg baru, karena yang kami alami ternyata berbeda. Masih banyak orang yang tulus ikhlas.

Tapi kali ini ketika mau ke Gunung Cikuray kami bernasib beda. Kami “keblonyok”. Mungkin karena sudah angkot terakhir maka kami harus membayar angkot 25 rb untuk sampai Haur Panggung yang biasanya 10 rb.

Haur Panggung itu masih jauh dari pemancar, yang kalo jalan menuju pemancar kaki akan pengkor. Hmmm..sepertinya kami telah menaiki angkot laknat yang dicerita di blog itu. *Tisu mana tisu

Setelah sampai Haur Panggung, dan turun angkot, di depan kami ada kolbak, kendaraan yang akan membawa kami ke pemancar. Uang anak-anak sudah menipis, Minimal uang yang sudah keluar adalah sebesar 70rb sejak dari Bandung.

“Pak berapa sewa kolbak sampai pemancar”, kata Irwan
“250rb”

kami pun merasa keberatan.

Aku pun mencoba ikut menawar dengan berharap belas kasih karena ada si Momon yang asli orang garut

“Masak sih pak mahal banget, tadi kata supir angkot sekitar 150rb Pak. Ini ada si Eneng yang asli garut, masak gak diskon Pak”, kata aku.

“Aduh mas, aku belum pernah ke sini”, kata Momon ketika namnya aku catut. *tepok jidat

Setelah menego lumayan panjang, dan kami juga sudah angkat tas seolah-olah mau jalan kaki ke pemancar, dan si bapak juga seolah-olah mau melepaskan kami dengan memberikan petunjuk jalan untuk pejalan kaki, akhirnya semua sepakat naik kolbak, 180rb sewanya.

Kolbak pun melaju. Menaiki jalan desa menuju bukit. Kanan kiri rumah pedesaan dengan halamanya yang lebar. Beberapa kali kami melihat para rombongan pendaki sedang berjalan kaki yang kelihatan kelelahan membawa tas ransel besar di punggung.

Setelah melewati jalan pedesaan yang beraspal, kami memasuki jalan perkebunan teh diantara bukit-bukit. Kesunyian sudah mulai merasa. Lampu-lampu jalanan sudah tidak ada lagi. Samakin tinggi dan semakin jauh kami meninggalkan keramaian. Udara dingin juga mulai terasa. DI ujung sana diatas bukit terlihat tiang pemancar TV, tempat tujuan kami.

Tak lupa aku keluarkan iPhone, mencari apllikasi astronomiku, melacak keberadaan kami di titik kordinat bumi, dan juga untuk membaca langit.

“Itu namanya Vega…yang itu saturnus…”, kataku ke anak-anak sambil mengarahkan iPhone ke langit.

Aku juga menceritakan kalo zaman dulu ketika orang bepergian jauh melewati gurun atau padang yang luas atau nelayan yang sedang berlayar, mereka bernavigasikan rasi-rasi bintang.

Bukan hanya itu, para penduduk menandai pergantian musim juga dengan melihat musim bintang apakah di langit saat itu. Bila telah muncul rasi bintang waluku (orion) yang bentuknya seperti bajak maka itu artinya musim membajak sawah telah dimulai. Hanya saja saat ini rasi orian tidak kelihatan karena memang bukan sedang musim orion atau awal tanam padi. Untungnya ada rasi kalajengking yang muncul tiap musim.

“LIhat lampu senter ini…”, Sambil menyalakan senter dan mengarahkanya ke langit.

“yang melengkung besar ini ekornya, ujung ekor rasi ini adalah bintang bernama Shaula..” .
Lalu aku gerakkan lampu senter mengikuti lekuk tubuh si kala jengking, kutunjukkan ke anak-anak mana ekor, mana sengat dan mana capitnya.

Kolbak yang membawa kami pun semakin menjauh. Melewati jalan bebatuan,bercanda tawa ria. Sambil berkuis tebak bintang sampai Nanya-nanya gak jelas, ngalor ngidul dan apa lah.

“Mas Imam..antara bla..bla..bla..siapa yang paling cantik hayo..bla..bla..atau bla.bla?”
“…..Modus…..”
“…Kode….lagi….”
Dst…dst… *tepok jidat.

Kami ramai, tawa-tawa kami bergema memecah kesunyian malam perkebunan teh di kaki Gunung Cikuray Garut. Malam itu milik kami.

******************************************************************************

Akhirnya..kami pun tiba di kaki pemancar, terlihat sebuah bukit besar di depan mata dengan jalan setapak dan pos penjaga. Dibalik bukit itu terlihat tinggi menjulang, walau hanya nampak hitam karena malam, gunung yang katanya mempunyai jalur pendakian paling sadis, membuat dada dan lutut bersatu, merangkak, merayap dan gerak apa lagi lah, semua bisa berkombinasi di sini.

Katanya juga tidak ada bonus jalur datar. Katanya butuh waktu 8 jam untuk sampai puncak dengan jalan bergradient 45-90 derajat. Di benakku terbayangkan betapa indahnya pemandangain bukit teh ini esok pagi ketika ada matahari

Tepat pukul 10:30 malam, ditandai dengan planet Mars diatas kepala, kami berjalan mendaki bukit dengan tas besar di punggung masing-masing. Irwan kebagian bawa kulkas. Robi membawa tenda. Bimo membawa peralatan dapur dan barang kelompok. Yang cewek kebagian membawa yang agak ringan. Ada 7 pos yang harus kami lewati.

Dan benar…..
Mungkin karena kaget atau apa, nafas aku udah ngos-ngosan ketika baru saja mendaki bukit teh.

“Kalo nafas pake hidung ….bla..bla”, kata anak-anak
Kami terus berjalan membelah malam, harum bunga cengkih semerbak dimana-mana.

Kami pun memasuki hutan. Seteleh ada yang sempat kram, kami saling tukar tas agar masing-masing merasakan beban.

Dan betul ternyata…Tak ada bonus, belum sampai pos satu saja rasanya…….nafas udah senin kamis, terengah-engah. Air minum 2 L yang aku tenteng akhirnya aku putuskan untuk ditinggal, disembunyikan dibalik rumput untuk diambil esok paginya pas turun, karena kaki dan tangan udah loyo.

Setelah melewati pos dua tanjakan semakin menantang. Kadang kaki mengangkang melewati kayu, memanjat akar pohon, tangan menarik ranting bermanuver hanya untuk bisa maju selangkah demi selangkah. Perjalanan antar pos akhirnya kami tempuh dengan waktu rata-rata 30 menit.

Roby sebelum naik juga berpesan :”..nanti kalo lihat yang aneh-aneh di hutan jangan diceritakan ya..”

Setan, jin dan penampakan yang mungkin muncul di hutan…?

Aduh Rob…. Mana kepikiran..*pijat pundak dan pinggul..elus lutut dan paha……

Setelah melewati pos 4, sepertinya kami sudah menemukan ritme pendakian. Gerak kami juga malah semakin cepat. Apalagi setalah mendirikan tenda dan menaruh tas di pos puncak bayangan, perjalanan menuju punjak yang katanya memerlukan waktu 1.5 jam, mampu kami tempauh sekitar 1 jam. Entahlah seperti ada energi yang mendorong aku ketika tahu bahwa puncak ada di depan mata.

Akhirnya kami sampai dipuncak sekitar pukul 4. Awalnya kami pesimis tidak akan mendapati matahari terbit. Tapi malam itu perjalanan sungguh menyenangkan dan menantang, langit terang tanpa hujan, sehingga kami bisa mencapai puncak Gunung Cikuray 2,8 KM diatas permukaan laut dengan cepat.

Kami pun merebahkan punggung sejenak ditanah, dengan tubuh tertutup rapat keculai wajah. Di puncak ada bangunan segi empat beratap beton. Aku langsung membayangkan indahnya galaksi bimasakti yang ada diatas kami ketika aku rekam dengan latar bangunan ini. *tapi aku belum punya DSLR 😦

Jangan ditanya dingingya berapa.

Hukum alam mengatakan setiap kenaikan 1 KM maka suhu akan turun 9.8 derajat. Bila subuh itu suhu muka laut di jawa barat adalah 30 derajat, maka suhu puncak Cikuray pagi itu adalah 30-9.8×2.8km = 2.5 derajat Celcius. Suhu ini membuat kaki kami tak tahan ketika harus menginjak ponco yang kami buka lebar diatas tanah untuk sholat shubuh. Kami pun sholat memakai sepatu. Azan subuh dibawah menggema lirih sampai diatas. Malam itu hening.

Irwan menjadi Imam sholat. Membaca surat Ar Rahman sambil terisak-isak. Kami sholat shubuh di ketinggan 2.8 KM di atas permukaan laut.

Tuhan….ini pertama kali aku sholat subuh di puncak gunung.

Pelan-palan jingga muncul dari timur menandakan matahari segera terbit. Segala letih perih dan lecet, terbayarkan ketika kami melihat hamparan awan luas, seluas mata memandang. Terlihat di timur gunung merapi yang menyemburkan awan diantara merah biru langit subuh. Indah..

Di arah barat terlihat gunung papandayan yang tinggi menjulang membelah awan. Di utara ada barisan awan berdiri seperti tiang.

Indah….

Temanku pernah mengatakan kepadaku kalau manusia melihat keindahan alam saja bisa takjub, apa lagi nanti ketika bertemu dan melihat Zat pencipta segala keindahan ini???..

Duhai……Tuhan, pencipta segala keindahan, Hanya kepadaMu kupanjatkan keinginan-keinginan.

Duhai…….Zat yang maha Indah, hanya kepadaMu pula berpulang segala gundah

Lautan awan di atas bukit

Lautan awan di atas bukit

Kebun Teh

Kebun Teh

Cikuary di balik bukit

Cikuary di balik bukit

Lautan awan

Lautan awan

Gunung Papandayan dari puncak cikuray

Gunung Papandayan dari puncak cikuray

Bukit Teh

Bukit Teh

Lautan awan

Lautan awan

Menuju Pemancar

Menuju Pemancar

Iklan

About Imam Santoso

I'am a metallurgist who love writing

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s