Mendaki Semeru

Puncak akhir dari segala pendakian haruslah pengagungan, takbir, tahlil dan tahmid, kepada Allah, Tuhan semesta alam, pencipta segala keindahan.

NOTE: Foto-foto perjalanan ada di akhir cerita ini

Ranu artinya Danau. Jeep dan kolbak sayur hanya bisa mengantarkan kami sampai Ranu Pane. Setelah itu kami berjalan kaki menuju Ranu Kumbolo melewati jalan setapak belantara. Untuk sampai di Ranu Kumbolo diperlukan waktu tempuh sekitar 4 jam dan melewati 4 pos katanya. Tak bolehlah berlama-lama di jalan. Jadi istirahatnya pun sedikit aja. Apa jadinya jika dilihat adik-adik kecil SD dari Jakarta dengan semangat tanpa di gendong orang tuanya berjalan di depan kami? hihihi

Banyak sekali kutipan-kutipan indah yang pada intinya mengatakan bahwa mendaki itu intinya bukanlah gunung yang ditaklukkan, melainkan diri sendiri. Gunung adalah pilar-pilar penegak bumi. Ia menjadi pasak diantara rekah-rekah magma yang menganga. Darinya termuntah abu panas yang kemudian mendingin manjadi tanah subur yang ditumbuhi sayur mayur palawija. Darinya mengalir lava pijar membara yang lalu membeku manjadi batu tertumpuk menjadi rumah-rumah dan gedung-gedung. Tak mungkin lah kami mengalahkan apalagi menaklukkan. Kami hanyalah kutu-kutu kecil yang merayap-rayap di celah-celah bebatuan, menginjak-injak rumput-rumput tepi jalan, mematahkan ranting-ranting untuk pegangan, membuang kotoran dan cairan badan di perjalanan.

Ketika sampai di Ranu Pane rombongan kami diperiksa dengan ketat oleh pak penjaga. Ia memeriksa peralatan pendakian mulai dari tenda sampai sleeping bag. Si bapak juga mengatakan kalau semeru lagi dingin-dinginya karena sudah beberapa minggu ini tidak hujan.

Kami meninggalkan pos penjaga pukul 4. Berarti akan sampai Ranu Kumbolo sekitar pukul 8 malam. Juga artinya akan melalui persimpangan waktu pergantian siang dan malam di tengah hutan. Waktu persimpangan yang hmmmm. Kenapa kok Hmmmm? Ya..karena teman aku pernah bilang kalau waktu menjelang malam adalah waktu dimana umumnya jin mulai terbangun.

Petang datang…..

Tiba-tiba Devi berteriak..”..Mas aku boleh nyanyi ya…..”. Devi saat itu berada pada urutan ke 3 dari depan dengan 11 orang di dalam baris.

Akupun curiga bahwa Devi tak ingin pandangan dan fikiranya tertuju pada pemandangan kanan kiri jalan yang sudah mulai remang-remang. Rumput-rumput hutan pun kini seperti tampak menghitam tak lagi hijau seperti siang tadi. Suara-suara jangkrik dan ular derik juga mulai terdengar. Dengan bernyanyi fokus dia hanya akan pada bait lagu.

Di awal sebelum mendaki, kami sudah sepakat, untuk tidak menceritakan apa-apa selama perjalanan bile ternyata ada anggota rombongan melihat hal-hal aneh selama pendakian.

Rombongan sudah dapat “apes” duluan hanya beberapa menit sebeleum mendaki. Tas irwan jatuh ke jurang. Dengan sambung menyambung tali dan merayap-rayap di tebing jurang tas ransel segede kulkas akhirnya dapat diangkat. Malam semakin larut.

Setelah melewati 4 pos selama sekitar 4 jam, lalu terlihat hamparan luas air telaga kaca dikelilingi gunung. Merah, kuning nyala lampu-lampu tenda memadati bagian ujungnya. Asap-asap api unggun para pendaki yang menghangatkan diri juga membumbung tinggi ke langit. Kami terus berdoa agar tidak hujan sehingga bintang-bintang akan terus menaburi langkah kami. Dingin angin danau ini sudah cukup membuat kami mengigil.

Irwan, Alip: Tukang tenda *tadi yang turun ke jurang juga mereka berdua sih. Kita-kita bantu doa dari atas sambil was-was.
Jajar, willy, Julhabi: Tukang cari kayu dan Air. * Maklum masih baru pertama naik gunung. Tugasnya nyari ranting-rantng kecil di antara semak, dan ambil air pake botol aqua
Saya, Alfi, Devi: Tukang masak *Tepatnya alfi dan devi jadi assiten koki hehe karena tidak bisa mananak nasi.
Alip besar: bantu cuci-cuci nesting, sambil senyum-senyum.
Aly Fikri: pengintervensi koki. Fikry: ” Mas Itu apinya kurang besar….di aduk..di aduk nanti hangus…Angingya dari samping, tutupin pake badan dari samping..bla bla bla”. Duh fik….

Setelah makan malam dan kedinginan dan tiga tenda telah berdiri, kami pun segera membagi tempat tidur. Tenda pertama berisi semua ransel, disana Devi tidur di samping tumpukan tas. Tenda satunya berisi yang suka ngorok kalo tidur. Hal ini penting karena jika sampai kita tidak tidur dengan baik dalam pendakian panjang dan melelahkan, maka bisa berakibat fatal. Jadi harus ada “Tenda khusus pengorok” hehe. *Kalo pas tidur saya gak dengar saya ngorok sih

Kami pun segera tidur berharap esok pagi akan menemui keajaiban-keajaiban yang disuguhkan alam. Aku membayangkan danau ranu kumbolo di atas gunung ini yang ada di depan kami akan menyala nyala kemuning ketika matahari mulai naik. Lalu cahaya matahari akan menguapkan asap danau dengan tipis, seperti seduhan teh di gelas. Hanya saja gelasnya sekarang adalah cekungan gunung yang ditengahnya berupa cairan massal abadi yang tak pernah mengering.

Alarm berbunyi, Alfi si imam segera membangunkan teman-teman untuk sholat. Saya sendiri tayamum karena tak kuat menyentuh dinginya air. Selepas sholat, kami semua keluar tenda,menunggu-nunggu datangnya matahari muncul di ujung danau diantara dua bukti. Lalu kami hanya bisa diam sesaat, sambil terkagum, lalu segera berlari, melompat, bergandengan, jeprat-jepret.

“Epic..Epic”
“Ganti pose..angkat tanganya…kamu jongkok..kamu duduk….”
“Awas..mataharinya ketutupan….”
“Kurang dekat..ambil fotonya..sentuh airnya..”
“..Lompat…”

Memang perlu langkah panjang untuk mengambil hanya sebuah foto hehehe. Kami pun menikmati pagi dengan penuh ketakjuban.

Sekitar pukul 9 kami segera mengemas tenda. Segera melanjutkan perjalan ke Kali mati, menaikin tanjakan cinta. Setelah itu katanya akan ada padang lavender ungu yang sangat luat. Kami tak sabar ingin melihatnya. Seperti apakah gerangan padang lavender itu.

Setelah menaikin tanjakan cinta dengan nafas tersengal-sengal, mata pun terbelalak disuguhi pemandangan yang menakjubkan. Lelah serasa luntur. Kami segera berlari lagi menuju “oro-poro ombo” yang menghijau ungu luas, dengan bunga-bungnya menjulang tinggi. Kami berjalan membelah padang oro-oro ombo sambil tak lupa mengucapkan ke agungan kepada pencipta segala keindahan ini.

Setelah sampai di Kalimati, kamipun mendirikan tenda lagi. Istirahat dengan cukup sebelum melakukan pendakian puncak “Summit attact” yang dijadwalkan akan dilakukan pukul 11 malam dan sampai di Puncak Mahameru sebelum fajar.

Kalimati adalah sebana yang dikelilingi hutan cemara pada ketiggian 2700 mdpl di kaki Semeru. Semeru akan nampak kakinya yang kokoh, urat-urat lereng yang tagas juga terlihat jelas. Karena merupakan pos sebelum puncak, maka banyak orang yang membuat tenda di sini. Bila tidak hati-hati berjalan di semak-semak, maka kita akan mendapatkan jekpot. maksudnya jekbrot

“…..broooot..” kaki akan menginjak sesuatu yang lengket akan menempel di kaki.

Lagi-lagi kami ditunjuki pemandangan yang menakjubkan. Awan samar-samar menutupi semeru. Tak lupa kami foto-foto.

Kami pun bangun jam 11 malam setelah istrirahat cukup lama untuk memulihkan tenaga. Dan inilah saat yang ditunggu-tunggu “summit attact”. Kami akan menelusup dan menaiki hutan cemara, lalu  memasuki tanjakan pasir yang di sana banyak orang balik lagi atau terguling jatuh lalu mati. Dengan berbekal lampu senter di kepala. Kami segera berjalan lagi. Lalu lalang rombongan pendaki yang lain juga lumayan banyak.

di dalam hutan cemara beberapa kali aku menjumpai batu dan tugu keramik bertuliskan:

“..Telah meninggal si anu..tanggal ….”

kata orang, medan terberat adalah summit attact. Maju dua langkah, kakimu akan mundur selangkah alias melorot, karena menaiki lereng yang berupa pasir halus dengan kemiringan 45-60 derajat. Kelihatanya dekat, tapi kamu akan merasa kenapa kok tidak sampai-sampai. Pasir halus akan berhamburan ke wajah, angin dingin akan menusuk-nusuk tulang.

“..jangan berhenti terlalu lama, karena bisa hiportemia….Terus gerak…jangan lama- lama istirahat…”.

Ada yang berjalan merayap ada yang merangkak..ada yang pake tongkat. Setiap 10 menit kami beristrahat ada ada yang duduk sambil selonjor, ada yang dalam posisi tengkurap, telentang, sesuai dengan gerakan kaki dan tangan terakhir sebelum berhenti.

“..Nitros…nitros..” Doping hanya akan membantu sesaat saja.

Dalam summit attact ini awalnya kami bersama, namun pada akhirnya sampai di puncak pada waktu yang berbeda-beda, sesuai dengan fisik masing-masing. Aku sendiri harus membopong dan mendorong teman saya, sambil memberi semangat agar sampai di puncak. Kami ber 11. Saya dan 3 orang teman saya masih di lereng Semeru ketika matahari terbit, sekitar 20 menit pendakian dibawah puncak.

Kami pun sholat subuh di lereng. Moment matahari terbit di lereng adalah hal yang saya nanti-nanti. Matahari akan muncul dari samping gradien gunung, unik. Apa lagi kalo difoto dengan ada orang yang merangkak di depan matahari.

Kami pun akhirnya semua sampai di puncak. Terlihat Kawah Junggring meletup-letup memuntahkan abunya. Dan kami pun lagi lagi tertakjub akan puncaknya dan pemandangan yang mengelilingnya. Ketika pagi maka angin meniup abu ini ke arah selatan sehingga tidak mengenai orang-orang yang berada di utara. Namun ketika siang akan beda cerita. Oleh karenanya biasanya ketika pukul 8, para pendaki akan beranjak turun.

Pejalanan ke semeru mengajarkan arti ikatan. Bonding atau ikatan itu terbentuk karena proses yang “menyakitkan”. Grafit yang menjadi pensil dan intan yang menjadi benda terkuat di dunia adalah sama-sama tersusun dari karbon. Satunya rapuh dan satunya kuat. Yang membedakan hanyalah ikatanya. Intan yang kuat terbentuk setelah karbon tergencet, tertekan oleh tekanan jutaan paskal oleh perut bumi. Begitu juga kami dalam perjalanan panjang dan melelahkan ini. Merangkak bareng, tiarap bareng, mau pingsan bareng, saling membopong, makan nasi mentah bareng namun indah, menakjubkan dan menguatkan.

Desa tertinggi di Indonesia. Perjalan menuju ranu pane

Desa tertinggi di Indonesia. Perjalan menuju ranu pane

Lembah Bromo. Perjalanan ke Ranu Pane

Lembah Bromo. Perjalanan ke Ranu Pane

IMG_3404

Mintak di foto

Mintak di foto

Menuju gerbang pendakian

Menuju gerbang pendakian

Bunga ungu di dekat pos penjaga

Bunga ungu di dekat pos penjaga

Bunga terompet

Bunga terompet

IMG_3428

Peta Pendakian

Peta Pendakian

Tarif Pendakian

Tarif Pendakian

Selamat datang di Semeru.

Selamat datang di Semeru.

Devi di Ranu Kumbolo

Devi di Ranu Kumbolo

Kamehame

Kamehame

Pagi-pagi sambil nunggu matahari

Pagi-pagi sambil nunggu matahari

di ujung kayu ranu kumbolo

di ujung kayu ranu kumbolo

berjemur di ranu kumbolo

berjemur di ranu kumbolo

Jajar sedang latihan

Jajar sedang latihan

Duduk-duduk di Ranu Kumbolo

Duduk-duduk di Ranu Kumbolo

10450637_10152318389812655_7695666659421665337_n

Bergelantungan di kayu ranu kumbolo

Bergelantungan di kayu ranu kumbolo

I Love You, Ranu kumbolo

I Love You, Ranu kumbolo

Ranu Kumbolo dari Puncak tanjakan Cinta

Ranu Kumbolo dari Puncak tanjakan Cinta

Tenda-tenda kami di Ranu KUmbolo

Tenda-tenda kami di Ranu KUmbolo

Tanjakan Cinta di belakang kita

Tanjakan Cinta di belakang kita

Alfi

Alfi

Jajar

Jajar

Devi sedang masak

Devi sedang masak

alfi

alfi

Menaiki tanjakan cinta

Menaiki tanjakan cinta

Alip di atas oro oro ombo

Alip di atas oro oro ombo

"Lavender" oro-oro ombo

“Lavender” oro-oro ombo

Oro-Oro Ombo

Oro-Oro Ombo

Alip Kuadrat

Alip Kuadrat

Devi di oro oro ombo

Devi di oro oro ombo

10012534_10152318318502655_2893279158659199220_n

Oro-oro ombo

Oro-oro ombo

Fikry di kali mati

Fikry di kali mati

alfi fi kali mati

alfi fi kali mati

Sun Rise di lereng Semeru

Sun Rise di lereng Semeru

Pemandangan lereng semeru

Pemandangan lereng semeru

Turunan pasir semeru

Turunan pasir semeru

lereng semeru

lereng semeru

Puncak semeru

Puncak semeru

Puncak semeru

Puncak semeru

Kawah Junggring Puncak semeru

Kawah Junggring Puncak semeru

Iklan

About Imam Santoso

I'am a metallurgist who love writing

3 comments

  1. Abrar Yusuf

    Acung jempol buat penulis – cari mana penulis di foto gak jumpa, dg asumsi penulis adalah yg dulu kukenal ketemu di Canberra. Mungkin namanya sama tapi fisik beda. Eniwe .. semangat. 71 years old friend.

  2. ruliana

    subhanallah mas Imam foto2nya keren abies…Indonesia kita indah bangeeet ya, jika saja rasa syukur kita aplikasikan dengan menjaga apa yg telah Allah berikan maka alam kayaknya bersahabat baik dengan kita…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: