Partikel 15. Menuju Negeri Bintang Utara

 “Jadilah pemimpin yang bijaksana, niscaya engkau akan seperti Bintang Utara: Ia diam di tempatnya sementara bintang-bintang lain memposisikan diri di sekitarnya.”- Kong Qiu

Dan setiap memasuki babak sekolah baru, selalu saja teringat lagi nasehat Pak Eddy yang saat itu sedang memarahi kami sekelas, kata-katanya menusuk dan membekas, gara-garanya ada teman duduk paling depan dan tertidur. Kata-kata itu juga yang sering aku gunakan untuk menasehati adik-adik kelas yang kuliah tapi tidak sungguh-sungguh.

” .. tahu gak,..kuliah di sini ini harus serius..Kalian itu memakai uang rakyat..” Kata Pak Eddy

”..Iya betul  ada yang bayar sendiri, tapi uang SPP yang kalian bayar itu saja bahkan tidak cukup untuk membeli bahan-bahan kimia di lab dan menggaji bapa-bapak yang tiap pagi udah ngepel lantai…bla bla ”

”..kalian di sini semua disubsidi pemerintah…”

”..Pake APBN…. uang rakyat… pajak rakyat kecil yang saat ini di Trenggalek hanya bisa makan gaplek, uang ibu-ibu jamu gendong yang jualan keliling yang anaknya putus sekolah,  uang orang-orang desa yang bahkan meraka tak mampu menyekolahkan anaknya sampai SMP…”

Kalimat Pak Eddy selalu menghantui, apa lagi ini aku ke Eropa dapat beasiswa LPDP. Sejak SMA, perjalananku tak bisa lepas dari yang namanya beasiswa. Saat kelas 1 SMA, setiap 3 bulan sekali aku harus mengambil uang di kantor pos dengan buku tabungan berwarna kuning bang BTN, per bulan dapat Rp. 75,000. Uang ini aku gunakan untuk membeli buku-buku cetak bekas di pasar Loak, di kota Jember, kebiasaan yang telah kulakukan sejak SMP. ”mencari buku di pasar Loak”

Lulus SMA mendapat beasiswa Supersemar yang konon jumlahnya dari dulu tetap karena suratnya belum ketemu-temu hehe. Pernah juga dapat dari Bank BRI, dari Orang Tua Asuh ITB, dan yang lumayan pernah dapat dari Schlumberger. Lulus SMA lanjut S2 dapat beasiswa dari ADS, dari Pemerintah Australia, dan lanjut S3 dapat beasiswa dari Pemerintah Indonesia, LPDP.

Kalaupun tak dapat beasiswa, maka aku sejatinya adalah manusia penghutang, karena SMA di sekolah negeri, kuliah juga di Universitas negeri. Setiap lulusan PTN berhutang besar kepada masyarakat. Karena seperti kata Pak Eddy tadi, saat kuliah ada uang para pedagang kaki lima yang kekurangan, para petani kecil, para penduduk yang taat membayar pajak yang uangnya digunakan utk mensubsidi tiap pendidikan negeri.

” ..Walau tak jarang banyak lulusan yang hilang dan lupa  akan hutang-hutangnya itu…”..lanjut Pak Eddy.

Aku tiba di Finlandia tanggal 13 November 2014.  Kaget karena saat  keluar dari Bandara di Vantaa melihat  paspor kok tidak ada yang menstempel, keluar dari Schiphol Belanda lanjut Finlandia juga tak ada yang menstempel. Hanya dicap imigrasi Indonesia aja.

Seeorang bapak sepuh berambut kuning panjang tiba-tiba menyapa, ketika aku keluar pintu bandara

”..kamu Imam?..”
” Iya saya imam, tapi kok anda tahu kalo saya imam? Tanyaku
”..Iya… soalnya kamu wajah dan kulitnya beda sendiri…Saya Taskinen, calon supervisor kamu”

Kami pun masuk mobil sedan VW, setir mobilnya di sebelah kiri. Kami dan mobil-mobil yang lain melaju di sebelah kanan, mendahului dari sebelah kiri. Berlawanan dengan Indonesia.

”..kamu nanti akan tinggal satu rumah dengan mahasiswa dari China, tinggal di apartement punya anak saya..biaya sewanya murah, kami tahu kalian mahasiswa dan di sini mahal-mahal…” * senang karena dapat akomodasi murah

Saya pun bingung mencari bahan pembicaraan apa.

”..hmmm… Nokia sangat fenomenal Ya Pak…menguasai penjualan HP dunia di masanya. Saya juga gak nyangka saya bakal ke negara  asal Nokia ini. Pertama kali memegang hp adalah saat saya kuliah S1, dan hp saya saat itu Nokia. Tapi sekarang Nokia udah gak produksi Hp lagi ya.”

Kami pun ngrobrol panjang lebar. Aku tak lupa tengak-tengok luar kaca melihat gedung-gedung tinggi. Sebenaranya ada pertanyaan yang masih terpendam tapi aku takut menyinggung perasaannya. Sebuah paradoks kehidupan di negara-negara skandinavia termasuk Finlandia yang sangat makmur, tapi angka bunuh dirinya termasuk yang tertinggi di dunia. Apakah hati mereka yang mengakhiri hidup begitu hampa? Dengan segala nikmat kehidupannya? Adakah yang kurang?

” Kenapa mereka bunuh diri Pak?… bukankah hidup di sini enak… bahkan gelandangan dapat gaji?..Pendidikan dasar juga terbaik di dunia…?..” hati ku bertanya-tanya. Ah..nanti saja.

Finlandia, sebuah negara terletak di lingkar kutup utara, suhu bisa mencapai minus 60 di bagian utara. Andaikan kita bergerak dari kutup utara ka atas terus dan terus ke atas  menuju angkasa nun jauh di sana, maka kita akan melihat bumi seperti piring bundar yang berputar. Di tepi piring adalah khatulistiwa, seperti indonesia, negara di mana ketika piring berputar maka tepinya atau Indonesia akan  pindah-pindah, sekarang di tepi piring kiri, lalu di tepi piring kanan, dan kemudian tepi piring bawah. Sedangkan yang ada di pusat piring yang di sebut poros adalah sebuah titik yang tidak bergerak.

Negara-negara yang dekat dengan poros maka negara-negara itu juga nyaris tidak bergerak signifikant. Kalo pas malam, maka malamnya akan terus-terusan malam, berbulan-bulan. Kalaupun siang, maka akan siang terus,  matahari gak pindah-pindah alias tidak pernah tenggelam. Penduduk sini menyebutnya midnight sun, pada jam 12 malam kamu akan melihat matahari.  Saat matahari tidak tenggelam maka hukum-hukum fiqih seperti waktu sholat, sahur dan berbuka juga berbeda dari biasanya di indoensia. Buka puasa bisa jam 11 malam, lalu jam 1 udah sahur lagi.

Finlandia luasnya adalah dua setengah kali pulau jawa tapi penduduknya hanya sebanyak Jakarta. Memiliki hampir 200 ribu danau. Ketika sore jalan-jalan panjang dan lebar ini akan sepi. Mungkinkah ini menjadi salah satu faktor pendukung banyak pembalap dunia berasal dari Finland seperti Mikka Hakinen?

Mobil kami  terus melaju. Sudah malam.

” saya khawatir nanti kamu pas summer tidak bisa tidur Mam, seperti teman saya yang datang beberapa bulan lalu.”  kata supervisorku
”…Kenapa kok Ia gak bisa tidur?”

”..Karena siang terus.  Walaupun di dalam kamar dan tirai ditutup rapat,  sensasi terangnya luar rumah yang Ia tempati masih terasa. Cahaya kan gelombang. Dan gelombang elektromagnetik kan bisa belok-belok, masuk celah kecil di ruang tamu lalu masuk lagi melewati lubang mungil  kunci kamar, dan mengenaimu di kasur. Kau seperti merasa siang. Teman saya itu susah tidur di sini. Kalaupun tidur maka tidak sempurna, kemudian ia kembali ke Afrika karena gak tahan..”

Tiba-tiba sayang langsung ingat Bapakku. Seperti para ayah yang lain, ia membanting tulang tak kenal lelah, sampai-sampai ia berujar: ” Andaikan hari adalah siang terus tanpa ada malam Mam, mungkin Bapak akan ke sawah terus kerja menghidupi keluarga ini”. Kata-kata ini masih saya ingat sampai sekarang.

”..Oh ayahku….karena izin Allah, saat ini saya telah berada di negeri dimana matahari benar-benar tidak pernah tenggelam… ”

Ah tapi ini kan mau masuk winter, summer udah berlalu. Saat ini saja suhu udah 3 derajat kan?

Aku pun tak sabar segera menaruh barang di kamar, lalu pergi keluar lagi. Berdiri di tepi danau yang sunyi tanpa ada polusi cahaya, dikelilingi semak-semak sambil melihat bintang gemintang yang saya tunggu dari dulu, yang tak mungkin kelihatan dari indonesia apalagi dari bumi bagian selatan seperti Australia.

Ada sebuah bintang di langit yang nyaris tidak bergerak sepanjang masa, Polaris namanya. Bintang-bintang yang lain bergerak mengelilinginya. Letaknya tepat di atas kutup utara, 434 ribu tahun cahaya dari bumi. Dari Indoneisa bintang ini tentu saja hampir tidak kelihatan. Karena posisinya sangat rendah sekali. Aku harus ke puncak gunung yang tinggi atau menuju lautan yang sangat luas dan bintang ini akan berada di ujung bumi bagian utara dekat dengan tanah.

Aku belum pernah melihatnya. Tapi di sini bintang ini seharusnya jauh lebih tinggi.
Selepas menaruh koper dan selimut dan bantal pinjaman dari supervisor, aku langsung keluar menyusuri jalan mencari danau, karena menurut Google Earth tempat tinggalku Otsolahdentie 18 itu dekat dengan danau.

15 menit setelah jalan kaki, akhirnya aku menemukan danau itu, sangat luas. Alang – alang sudah mulai mengering di penggiran danau. Bayanganya terpantul jernih dari permukaan air terkena sinar rembulan.

Segera aku ambil kayu, sambil menunjukkan ke langit. Kayu aku arahkan ke arah Sirius, bintang paling cerah sejagat. Lalu kugeser ke atas mengarah ke Rigel, Aldebaran dan Capella. Kemudian turun lagi ke Pollux, Procyon, dan Sirius lagi, membentuk Heksagonal raksasa atau dikenal dengan nama Winter Heksagon. Lalu akhirnya kayu pun aku arahkan ke arah utara agak ke atas.

”seharusnya bintang itu ada di sekitar sini”

Beberapa saatpun aku terdiam. Dan malam itu rasanya saya ingin berteriak ke pada almarhum kakek  yang mengajari  membaca bintang-bintang

 

”…..SAYA TELAH MELIHAT POLARIS…”

 

Terimakasih LPDP

Polaris

Polaris

 

Iklan

About Imam Santoso

I'am a metallurgist who love writing

2 comments

  1. Subhanallah. Pengalaman yang sangat mengagumkan. Semoga saya bisa segera menyusul Pak Imam untuk melihat Polaris. Amin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: