Bagaimana Pendidikan Merubah Kami

”Barangsiapa menempuh jalan yang padanya dia menuntut ilmu, maka Allah telah menuntunnya jalan ke surga.” (HR Muslim).

Lebaran 2014 lalu saya sangat terharu karena menerima tiga orang tamu dengan cerita yang sangat berbeda dibanding sekitar 13 tahun lalu. Tahun 2006 saya pernah datang memotivasi anak-anak SMA Ambulu, mereka begitu semangatnya sampai-sampai ada obrolan tambahan ketika acara usai.

1. Apri.

Keterima ITB tahun 2006. Orang tuanya jualan kopi dan soto di trotoar Ambulu setiap malam, kemudian harus pergi meninggalkan Jember merantau ke Sulawesi setelah anaknya lulus SNMPTN. Di sana mereka berjualan gado-gado dan Alhamdulillah sangat laris. Disaat diterima di ITB dan membutuhkan biaya yang tidak sedikit (disaat belum ada beasiswa bidik misi yang menanggung semuanya), rezeki dari Allah datang begitu ajaibnya sehingga tiap bulan si Ibuk bisa mengirimi anaknya di Bandung. Demikian Apri menceritakan.

Saya menjadi saksi beberapa kisah seperti ini dimana rezeki datang dari arah yang tidak disangka-sangka muncul ketika ada kebutuhkan pendidikan yang mendesak. Tahun 2001, ketika senior saya ketrima di ITB dan bapaknya baru saja meninggal, ibunya yang tukang jahit kemudian berubah haluan menjadi pedagang sayur-mayur. Ia membuka toko kecil di depan rumahnya, dan Alhamdulillah tokonya laris. Si ibu dapat mengirim biaya hidup kepada anaknya di Bandung.

Saya sendiri masih ingat, waktu itu pernah memberanikan diri meminta komputer ke Bapak. Bapak saya pun anehnya langsung mengiyakan. Uang datang 3 hari kemudian. Usut punya usut bapak ternyata meminjam uang 4 juta dari rentenir dengan buang 10% tiap bulan. Tapi keajaiban terjadi, bapak saya kemudian panen mentimun luar biasa banyaknya, harganya sangat mahal. Sampai-sampai para pembeli datang sendiri ke sawah ikut memetik, rebutan. Belum pernah bapak saya panen timun seperti itu sampai pembeli datang ke sawah. Alhamdulillah utang rintenir dapat dilunasi. Dan masih banyak lagi kisah-kisah seperti ini dialami orang-orang disekitar saya yang saya lihat sendiri.

Kembali ke Apri, ia telah lulus dari ITB  tahun 2011, bekerja di perusahaan internasional. Ia sebentar lagi akan menghajikan orangtuanya. Orangtuanya pun telah kembali lagi ke Jember dari Sulawesi.

2. Moyus

Ketrima ITB tahun 2009. Dia masuk dan datang ke  ITB hanya dengan membawa “badan”.  Ia sebenarya lulus SMA tahun 2007. Dua tahun menunggu untuk kuliah. Sempat kerja jadi guru dan penjaga warnet. Kecintaanya pada “warnet” membuat ia memilih jurusan IT di STEI ITB yang passing grade-nya paling tinggi se Indonesia. Ia ketrima.

Allah tidak akan membiarkan hambanya yang menuntut ilmu terlantar kan?Bukankah Allah yang menyuruh untuk mencari ilmu? Ke Bandung? Ke penjuru bumi.

Kemudian rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka datang. Ada orang baik yang memberikan uang 25 juta untuk uang masuk Moyus. Yang kemudian uang itu ia gunakan untuk biaya kuliah selama 2 tahun. “Allah mboten sare”

Moyus, telah lulus tahun April 2014. Ia mengabdikan diri pada Negara dengan bekerja di BUMN.

3. Furit.

Karena masalah biaya ia harus meninggalkan sebuah PTN di Surabaya tahun 2006 dan pindah ke D-1 STAN malang. Ia ingin cepat kerja untuk segera membantu orang tuanya dan mencari biaya kuliah murah agar tak membebani. Sejak kuliah ia berpuasa Daud yaitu berpuasa hari ini, besok tidak, besoknya puasa lagi dan begitu seterusnya. Dulu katanya sama biar ngirit makan hehe. Puasa daudnya ternyata tetap ia lakukan sampai sekarang.

Ketika SMA sudah biasa baginya malam-malam mengayuh sepeda 20 Km untuk belajar ke rumah gurunya. Orangtuanya kebetulan adalah sahabat bapak saya di sawah. Bapaknya Furit suka menanam terong dan tomat, dan ketika kuliah di Malang alhamdulillah hasil panen dari sawahnya dapat membantu untuk biaya hidup. Ia menjadi lulusan terbaik di D-1 STAN malang, sehingga dapat meneruskan jenjang sekolah yang lebih tinggi lagi di STAN Jakarta.

Ia telah lulus, berkeluarga dan punya momongan.  Tinggal di sekitar Jakarta. Mengabdikan dirinya pada Negara dengan bekerja di Kementrian Keuangan. Saat ini menjadi bapak asuh anak-anak di Ambulu.

4. Tiyas.

Ia perempuan yang beda. Ia suka kehidupan yang tidak biasa. Saya sudah menulis secuil kisah hebatnya di sini. Mulai dari sebelum kuliah sampai “membuangkan diri” ke pedalaman di pulau Sumatra. Saat ini dia sedang siap-siap ke Amerika untuk melanjutkan sekolah karena diterima menjadi calon dosen ITB. Secuil kisah hidupnya dapat dilihat di sini.

https://imamsantoso.com/2012/03/15/aku-suka-kehidupan-yang-tidak-biasa/

https://imamsantoso.com/2013/06/11/mutiara-dari-lalan/

Berikutnya adalah orang yang juga merupakan inspirasi kami semua. Ia adalah orang pertama yang ketrima ITB dari sekolah kami, SMA Ambulu. Namanya adalah Yenum

5. Yenum.

Ia masuk Tekim ITB tahun 2001, senior di atas saya setahun. Saat ketrima ITB saya langsung mencari rumah beliau malam-malam. Rumahnya jauh sekali sekitar 20 KM dari Ambulu.  Waktu itu saya harus melewati pematang sawah, hujan-hujan. Saya beberapa kali terperosok ke parit sampai-sampai motor saya bengkok karena kebentur-bentur. Ketika SMA bapaknya meninggal. Ketika Yenum lulus PTN, ibunya langsung berubah haluan dari penjahit menjadi pedagang sayur. Kondisi memaksanya agar mendapat penghasilan lebih dari sebelumnya. Rezeki memang tidak akan kemana.  Tokonya laris sehingga dapat membantu kuliah Yenum.

Ia lulus ITB tahun 2005, bekerja di perusahaan multi nasional. Selama bekerja ia menjadi orang tua asuh untuk anak-anak  di SMA Ambulu. Setelah 7 tahun berkarir di industri, ia memilih untuk meninggalkan zona nyamanya di Jakarta.

Ia pulang kampung membangun desanya. Dengan modal ilmu yang didapat di kampus, ia membangun perusahaan dan memberdayakan masyarakat Puger, Jember. Ia membangun ternak kambing massal. Pakan ternak ia buat dari bonggol jangung yang dibeli dari petani. Ia rancang dan bangun sendiri alat pemotong, dan pabrik pengolahan pembuatan pakan ternaknya. Jagungnya ia olah menjadi produk khas Jember bernama Tape Manis jagung. Usianya masih muda, kelahiran 1984 namun sudah memberdayakan masyarakat banyak. Ia bercita-cita suatu saat kampungnya menjadi salah satu penghasil daging terbesar di Indonesia.

Kami semua waktu itu berani meninggalkan kampung kami, Ambulu, sebuah daerah di Jember selatan. Menuju tempat baru yang bagi kami adalah tempat terjauh yang kami kunjungi, dengan mambawa bara api mimpi.

Bersambung,

Berikutnya Driyan dan Taura dll

Belajar tetap semangat

Belajar tetap semangat

Iklan

About Imam Santoso

I'am a metallurgist who love writing

3 comments

  1. Subhanallah sangat inspiratif. Ternyata tidak hanya saya yg mengalami hal-hal seperti di atas.

  2. Elda

    Mas Imam, kalau boleh saran, teruskan menulis kisah-kisah inspiratif ini. Saya adalah salah satu orang yang menunggu tulisan-tulisan anda. Agar tertular pada kami semangat mencari ilmu ke segala penjuru bumi Tuhan.

  3. Ping-balik: Menyambungkan Tali Bidik Misi | Coretan Imam Santoso

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: