Mendaki dan Berlari di Alpina

Duhaiii..
Di tanah air kita ada begitu banyak igir-igir gunung yang indah membentang di sepanjang katulistiwa kan? Ada hutan-hutan cemara berselimut kabut, ada pantai-pantai, ada sawah-sawah yang siap kau belah dengan lompatan kaki sambil mengkontrol badan jatuh kedepan dan lecutan kaki di atas rerumputan. Bagaimana bila suatu hari aku berlari diantara salah satu rangkain gunung terpanjang di dunia? Ada salju, ada bunga-bunga dan rumput-rumput hijau? Suhunya tak panas membuat tak haus saat berlali 4 jam?

Setelah melihat postingan adik kelas yang tinggal di Austria, yang sedang bersepeda dengan latar gunung-gunung bersalju langsung terpikir kayaknya kalau musim panas pastilah gunung itu akan sangat indah. Dan ternyata benar, setelah cek gambar-gambar di google, semakin tak sabar ingin segera lari di sana. Rangkaian pegunungan Alpina, Esinersz, Austria.

Karena pegunungan ini sudah terkenal, maka berbagai jenis peta sangat lengkap tersedia online. Mulai peta tracking sampai peta kontur semua ada ada. http://www.bergfex.at/sommer/steiermark/touren/wanderung/4631,pfaffenstein/ linknya.

Aku pelajari dimana saja trek yang menantang. Salah satu ciri khas pegunungan alpina adalah, di dekat puncaknya hampir selalu ada shelter, sebagai tempat rescue. Ada juga yang lengkap dengan restoran dan kabin untuk tempat tidur termasuk selimut hangatnya. Inysaallah aman, kalaupun berangkat sendiri ketika sampai puncak pasti akan ketemu cottage hehe. Pas sampai puncak pas magrib, lalu buka. Kebayang pagi-pagi bangun dan melihat matahari terbit dan melihat domba liar alpine ibex, bertanduk runcing panjang bergerigi dan berkumis yang mampu berjalan di tebing-tebing jurang tegak tanpa jatuh.

Sebuah pemandangan akan menjadi indah-indahnya salah satunya adalah saat puncak musim panas kan? Saat Gunung hijau ranau karena flora dapat melakukan fotosintesis dengan sempurna karena matahari bersinar penuh lebih lama, labih dari 18 jam. Artinya tanggal 20 Juni, saat puasa. Apa jadinya bila puasa lari? Tentu bisa, tapi jangan lama-lama maksimal 3-4 jam. Buat yang sudah biasa, maka tanpa minum selama 3 jam saat lari adalah bisa dijalani.

Dengan berbekal trail run gear tak lupa GPS HP nokia dan peta kontur, aku pun memberikan diri ke Eisenerz. Dengan GPS maka kita akan tahu titik dimana kita sedang berdiri. Dan dengan peta kontur maka posisi kita relatif terhadap daerah di sekitarnya dapat diketahui, tahu dimana jurang dan tanjakan curam, agar tak terperosok dan salah jalan. Hanya saja semua akan berat bila ternyata kabut tebal datang menyelimuti jalan. Kita akan seperti berjalan atau naik mobil menggunakan GPS dalam ruangan gelap gulita. Jalan lurus nabrak tebing atau malah terjun ke jurang kalo pembacaan peta salah.

Bisa berdampak seperti kata syahrini ”..Maju mundur maju mundur nyemplung”. Prakiraan cuaca mengatakan kota Eisenerz yang terletak di kaki gunung yang akan aku daki adalah terang pada 24-25 Juni.

Setelah sampai di Leoben dari Winna menggunakan kereta, aku langsung naik bus 820 yang membawa ke Eisenerz dan turun di Prabichl, titil nol pendakian. Pendakian normal akan ditempuh dalam waktu 4.5 jam seperti info dari web:

KOntur jarak jalan

Dan peta kontur pendakian seperti pada gambar itu, start dapat dimulai dari Prabichl dan berakhir di Puncak Reichenctein. Aku membawa tas ransel 65 L. Rencananya tas akan aku taruh di puncak dan tidur di sana, besoknya baru trail run.

Dimulai latihan fisik lari sambil ngabuburit sejak satu tahun lalu, juga saat suhu minus 7 dan hujan salju di Finlandia, berharap kuat saat kaki ini melecut di pegunungan yang membentang di delapan negara; Italia, Slovenia, Swiss, Monako, Listenstaina, Germany, perancis, dan Austria.

Setelah turun bus tepat dibawah kincir angin raksasa, tiba-tiba angin berhembus kencang, suhu tercatat 8 derajat, lalu hujan. Bukankah kota Eisenerz di bawah sana seharusnya berawan berdasarkan prakiraan cuaca? Aku pun segera mengeluarkan pelindung hujan agar tas tak basah.

Kaki terus menapaki jalan setapak yang berkabut tipis dengan irama gesekan pohon cemara yang membuat suara seolah-olah ada hujan deras. Aku berkali-kali tertipu oleh suara ini yang kirain ada hujan lebat sedang bergerak mendekati. Setelah 2 jam perjalanan sampailah aku kepada jalanan terjal, dan saat ini kabut semakin tebal. Tapi panah penunjuk jalan mempermudah dan menguatkan keyakinan kalo jalan kaki ini harus diteruskan dan akan mengikuti arah yang benar.

Kemudian kabut datang. Semakin menebal, menyamarkan jurang-jurang di kiri kanan. Terbayang kalo rencana lari besok akan gagal kalo cuaca kayak gini. Jauh-jauh dari Finland 😦 . Hujan makin deras dan angin semakin kencang, berkali-kali rain cover ransel lepas terhambur. Kaki udah mulai bergoyang-goyang menahan tiupan angin. Di dalam hati masih terus berkata

” Kenapa hujan? Bukankah prakiraan tadi menyatakan kalo Esenerz akan terang?..”

3 jam perjalanan. Suhu semakin dingin tangan mulai kaku. Segera aku pake sarung tangan sambil membopong tas berisi 2 kg anggur, cherry dan buah persik. Harus hati-hati, atau akan terperosok ke jurang masuk kolam tambang besi yang berada sekitar 1000 m di kanan bawah. Kini jarak pandang hanya sekitar 2 meter. Lalu salju turun. Jalan semakin menanjak, dan kemudian tebing yang nyaris tegak terlihat ada di depan mata dengan tali Kawat.

”..harus reppelling…”

”.. harus cepat sampai puncak dan menemukan shelter atau akan membeku di gunung…”

Segara aku kencangkan ikat pinggang dan tas, siap-siap melakukan hal yang belum pernah kulakukan ketika mendaki gunung, berjalan dengan tali menaiki tebing terjal. Pelan-amat pelan, ku pastikan telapak kaki mendarat pada batu yang ada tonjolanya dan tidak licin. Sambil terengah-engah, kaki dan tangan ini terus bergerak ke atas. Setelah naik 10 m akhirnya jalan agak datar terlihat, hanya saja kini semakin di atas dan semakin dingin. Hujan angin dan salju.

”… ya ampun ini kan musim panas..”

Jantung semakin berdebar, haruskah aku turun?. Semakin bingung ketika sekarang ada dua panah sama-sama ada tulisanya Reichenctein namun kata setelahnya berbeda dan menunjuk arah yang berlawanan.

 ”..Bahasa Jerman?…”

Mau buka hp dan pake googel translate tapi tangan udah kedinginan kalo harus buka sarung tangan untuk dapat menyentuh touch screen.

”..Jalan mana yang harus aku ambil?…”

Dengan asumsi bahwa kata-kata dalam petunjuk tadi adalah sama-sama ke puncak namun berbeda jalur. Seperti di gunung di Indonesia kalo ada dua jalur biasanya jalur satu mudah dan lama satunya lagi jalur cepat tapi menanjak. Berharap jalur yang kupilih adalah jalur yang cepat karena suasana semakin ekstrim dan juga tidak menanjak karena jarak pandang semakin pendek. Keputusan harus diambil dengan cepat. Dengan membaca bismilah kuambil yang kanan.

Sambil berjalan sempoyongan melawan angin, tiba-tiba terlihat dua orang pendaki turun.

”..Haruskah ikut mereka turun?..”

lalu aku bertanya ke pada mereka,

” house..house…where is house..shelter…shelter.. ”

Mereka merespon dengan wajah bingung. Mereka tidak mengerti apa yang kumaksud. Aku lupa kalo orang sini berbahasa jerman.

”..like this..like this..” sambil ku bentuk segitiga seperti atap dengan tanganku untuk memeragakan bentuk rumah. Lalu mereka mengerti dan menunjukkan arah belok kanan ke atas.

Aku pun mengikuti petunjuk orang tadi, berdasarkan perkiraan maka seharusnya 15 menit lagi sampai.

Beberapa waktu kemudaan terlihat bangunan tinggi dari batu granit, di dalamnya terlihat remang-remang cahaya. Hujan salju membuat halamanya hijau keputih-putihan. Cuaca semakin menjadi-jadi. Akupun segara membuka pintu. Sampai di dalam terlihat ada 6 orang pendaki. Mereka menghangatkan diri di depan tungku keramik berwarna hiaju berbentuk kubus yang menempati hampir seperempat ruang tamu. Di atasnya diletakkan kaos kaki, jaket dan penutup kepala basah agar cepat kering.

”Hujan orografis boy…” ada seorang bapak pendaki yang bisa bahasa inggris menjelaskan setelah aku menujukkan foto screen shoot tentang prakiraan cuaca yang seharusnya cuman berawan.

Si bapak itu pun mendekat ke arah jendela sambil menunjukkan jarinya ke arah luar.

” kamu tahu kan, ada namanya hujan orografis, angin yang bertiup dari arah kiri sana yang kaya akan uap air, bergerak ke arah gunung, lalu naik dan naik terus, dan ketika sampai di punck ini yang suhunya dingin, uap air di dalam angin tadi berubah menjadi hujan salju. Kemudian angin bergerak ke kanan, menuruni lembah dan gunung. Dan karena uap airnya sudah menjadi hujan, maka ketika turun ke kota Eisenerz angin menjadi lebih kering. Makanya kota akan tetap berawan sesuai ramalan cuaca…”

Aku pun manggut-manggut. Duh pak pelajaran geografi kelas 1 SMA udah lupa pak hehe.

Pukul 11 malam setelah buka dan belum ada tanda-tanda cuaca membaik aku memutuskan untuk tidur. Shelter ini rupanya sungguh luar biasa bertingkat tiga ada kasur bertingkat di setiap kamarnya. Langsung kebayang kalo ke gunung ini sama teman-teman. Kupilih kamar yang menghadap ke arah matahari, di ruangan se gede ini. Aku masih belum tahu pemandangan seperti apa yang terlihat esok pagi karena dari kemarin hanyalah kabut, atau jangan-jangan besok aku pulang dengan kondisi yang sama. Duhai..bukankah kata pak google seharusnya tempat ini seperti negeri di atas angkasa? Ada igir-igir curam nan indah.

Alrm jam 1:30 berbunyi tandanya waktu sahur. Setelah makan buah-buahan langit sedikit demi sedikit terang berjingga yang menandakan waktu subuh datang. Matahari masih terbit 2 jam lagi. Lamanya waktu subuh sampai terbit matahari tak aku siakan untuk menengok-nengok pemandangan di luar jendela persegi empat dengan insulasi bagus sehingga dinginya udara luar tak mampu tembus masuk.

Lalu tampak seperti ada dua mata melotot ke arahku dari luar, dengan tanduk panjang berlatar siluet. Alpine Ibex. Itu Alpen Ibex. Segera aku ambil kamera dan pelan-pelan ku buka jendela.

”kreteeek” sebelum kamera bertongis dijulurkan keluar, si domba liar udah kabur.

Aku segera beranjak dari tempat tidur, keluar tak sabar melihat pemandangan alam yang masih menjadi misteri. Seperti apa gerangan?

Setelah membuka engsel pintu dua lapis, terlihat nun jauh di ujung bukit sana serombongan hewan, memakan rerumputan. Bentuknya besar dari yang aku bayangkan, tanduknya melengkung panjang bergerigi. Mereka sedang asik memakan bunga-bunga kecil dan daun-daun yang segar yang masih berembun. Aku pun merunduk-runduk agar tak mengagetkan mereka agar bisa ambil gambar. Eh rupanya mereka tahu, si alpine ibex segera kabur ke jurang deh. Tak mungkin aku mengikutinya.

 “…Ya sudah aku jalan ke puncak saja…”

Sambil mengenakan dawn jaket, dengan pakaian dan alat lari yang udah terpakai, aku menelusuri igir-igir. Merangkak di atas bebatuan terjal menuju puncak paling tinggi Reche untuk menyapa matahari. Moment detik-detik sunrise dan foto-foto indahnya tak boleh kelewat. Segara aku pasang tripod mini yang selalu masuk saku.

Duhai….matahari muncul..

Lapis-lapis gunung mulai kelihatan. Sinar matahari menembus kabut membuat fenomena alam yg di sebut Efek Tyndall. Kabut adalah system koloid yang mengandung molekul air sangat halus. Dan ketika tertembus cahaya, maka kabut ini akan berpendar. Seperti sorotan cahaya di bioskop yang mengenai asap rokok. Berkilau perak.

Aku tak sanggup berucap lagi. Sambil melakukan peregangan dan pemanasan agar tak kedinginan, aku ambil tongsis untuk membuat selfie dg putaran 360 derajat. Aku belum melihat pemandangan gunung seperti ini. Setiap gunung unik kan?

Bedanya, kali ini aku menikmati matahari sendiri. Biasanya ketika naik gunung aku selalu bersama rombongan banyak teman. Menikmati pagi canda ria, sholat subuh di puncak. Tak lupa membawa alat peraga foto mulai balon sampai pita warna-warni. Teman-teman pada minta foto.

 ” Ayo kalian lompat… posisi kurang kanan……Miring dikit….Senyum….Awasa kalian jangan terlalu mundur nanti jatuh….Epic…epic..cepat sini, ambil posisi…kamu jongkok..kamu berdiri..kamu tanganya bentuk L…kamu bentuk O..kamu V.. kamu U…Jeprett…”

Puncak alpen pagi itu mulai hangat seiring munculnya matahari. Aku pun Berdiri melihat jalur lari mana yang akan aku pilih nanti. Ada bongkahan batu basar sebesar gedung tingkat 3.

” Nanti aku harus sampai puncak batu itu dan kamera aku taruh dibawah sehingga bisa mengambil gambarku yang sedang melompat di atasnya. Juga aku mau taruh kamera ini di rumput itu agar saat lari dapat membidik angle yang pas dengan tebing dan jurang putihnya….aku juga harus ambil foto taburan bunga putih di rerumputan itu dengan latar matahari…”

Entah sudah berapa kali, Saat tidur aku sering banget mimpi lari melompat-lompat diantara gedung, seperti para Parkour, bersalto-salto diantara bebatuan dan jurang. Berlari kencang searah angin, terdorong kencang seperti dedaunan yang berhamburan melayang-layang jatuh dari pohon, ajaib.

 

Pagi itu aku berlari-lari di antara puncak-puncak gunung yang indah.

Berikut beberapa hasil dokumentasinya

test 3

Test 18

 

Tes

 

Test 2

 

test 6

 

terst 7

 

Test 9

 

Test 10

 

Test 11

 

Test 12

 

Test 13

 

test 14

 

test 15

 

test 16

test 17

Iklan

About Imam Santoso

I'am a metallurgist who love writing

One comment

  1. Baca kisahnya saja sudah indah, apalagi bisa menjejakkan kaki disana,
    Subhanallah,
    semoga sampai ya Rabb.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: