Menyambungkan Tali Bidik Misi

Kabar bagus hari ini masuk ke email saya

Cerita nya akan saya mulai sejak tahun 2003. Sejak ketrima ITB tahun 2003, setiap pulang kampung saya hampir selalu mencari anak-anak yang siap saya “culik”. Saya percaya bahwa pendidikan adalah cara terampuh “mengangkat” kehidupan seseorang.

Saya datang di SMA saya, dan sekolah pun menyambut, saya diberi kesempatan untuk masuk ditiap kelas. Di sana saya memulai aksi untuk “mencuci” otak adik-adik kelas saya. Umumnya dari keluarga tidak mampu. Anak-anak yang tertarik akan menghubungi saya setelah itu. Saya pun kemudian juga mendatangi rumah mereka satu persatu, berdialog dg orang tua mereka, agar hati mereka semakin mantap. Modal saya hanya keyakinan bahwa insyaallah ada rezeki buat anak ini nanti di Bandung. Kadang juga saya ketar-ketir, maklum zaman itu belum ada beasiswa seperti bidik misi yang menanggung biaya full sampai lulus. Dulu menurut saya banyak sekali keajaiban seperti ada alumni tiba-tiba memberi uang 25 juta untuk membantu biaya kuliah selama 2 tahun adik kelas saya.

Satu persatu sejak tahun 2006 tiap tahun ada yang tembus ke Bandung. Tahun 2009 setelah membantu Beasiswa “ITB untuk Semua” (disingkat BIUS, yang memberikan biaya hidup dan kuliah sampai tamat) saya dapat kabar kalo tahun 2010 pemerintah akan membuat beasiswa Bidik Misi yang katanya terinspirasi dari BIUS. Dan ternyata benar. Beasiswa Itu ada.

Setelah itu saya langsung terpikir bahwa, biaya kuliah bukan lagi isu utama, bahkan saat ini anak bidik misi yang memenuhi syarat, setelah lulus S1 dapat kuliah ke luar negeri gratis ke universitas terbaik di dunia lewat beasiswa LPDP. Jadi mau kuliah di segala penjuru bumi sekarang bisa dilalukan oleh siapa saja. Kembali ke bidik misi, yang jadi tantangan adalah bagaimana agar bidik misi ini dapat sampai pada yang membutuhkan. Bagaimana agar anak-anak tidak mampu bisa tembus PTN favorit dan dapat bidik misi? Misal tiap PTN memberikan jatah 20% kursi untuk bidik misi tapi ternyata anak tidak mampu yang lulus PTN sedikit maka beasiswa itu akan kurang terserap sempurna. Padahal beasiswa ini telah menanti mereka di universitas. Bagaimana menghubungkan beasiswa ini dengan mutiara-mutiara yang ada di pelosok, di balik gunung?

Untuk dapat tembus PTN favorit adik-adik kelas saya haruslah mampu bersaing dengan anak-anak di seluruh Indonesia. Mereka harus dibina selama SMA, buku-buku harus lengkap, penguasaan materi harus bagus. Saya pun berdialog dengan teman EL ITB 03. Saya bilang ke dia: ” Bagaimana bila teman-teman EL 03 membiayai spp SMA adik2 kelas yang tidak mampu tapi pintar? maklum mereka untuk bayar spp SMA aja sulit. Kami akan bina mereka sejak kelas 2 SMA, ketika lulus kami juga akan persiapkan mereka agar tembus PTN Favorit, nanti kalo ketrima PTN kan mereka akan dapat bidik misi”.

Teman EL 03, mengiyakan, mereka siap membantu mulai dari kelas 2 sampai lulus kelas 3. Sejak tahun 2010 sampai sekarang mereka membantu 5 orang anak setiap tahunya. Dari 5 anak tadi hampir semuanya masuk PTN favorit, dua tahun lalu 3 penerimanya masuk ITB. Setelah masuk ITB ada yang cumlaude ada yang mewakili ITB di lomba internasional. Tahun ini juga sama.

Melihat hasil yang bagus ini kami pun memperluas program beasiswa ini. Kami mencoba membantu dari anak-anak yang ada di sekolah Swasta di Ambulu yang mempunyai semangat tinggi. Ada sebuah SMA di desa, Andongsari, Watukebo, yang menjadi proyek kami ke dua ini. Donasi kali ini dari teman-teman tambang 2003. Di desa itu kami juga membuat perpustakaan sederhana Rumah Baca ” Iqra’ “ dengan buku-buku best seller. Tahun 2011 untuk pertama kalinya di SMA swasta di desa itu siswanya tembus UGM. Tahun berikutnya kami jemput bola. Kami datangi desa-desa terisolasi dan terpencil, mencari anak-anak yang baru lulus SMP, kita bawa anak-anak ke desa itu untuk kami sekolahkan SMA, kita juga koskan di Watukebo.

Dulu yang hanya satu dua tiga, kini seperti bola salju. Adik-adik kelas saya yang ketrima di PTN setiap pulang kampung kini telah membuat kegiatan yang luar biasa, tahun lalu membuat geger desa dengan kegiatan Ambulu Mengajar karena tiba-tiba Watukebo dipenuhi anak-anak SMA sejember selatan untuk belajar bersama selama seminggu, acara trayout dll. Cita-cita kami kami suatu saat ingin merambah semua SMA-SMA terpencil se Jember.

Dan hari ini saya mendapat email dari teman-temen PK 29 LPDP yang isinya:

Dear Mas Imam,

Untuk menindaklanjuti Skype Call kita sebelumnya, saya hendak memberi tahu Mas Imam bahwa kami PK-29 berkomitmen untuk berpartisipasi dalam kegiatan……

…Untuk itu kami ingin menanyakan seputar seleksi calon penerima beasiswa yang akan Mas Imam dan Tim lakukan, terutama tentang timeline dan jadwal seleksi serta mulainya aktivitas belajar para siswa…

Alhamdulillah,

btw Salah satu kisah perjuangan hidup adik kelas saya selama kuliah zaman dulu ketika belum ada bidik misi ada yang saya tulis di sini:
https://imamsantoso.com/2012/03/15/aku-suka-kehidupan-yang-tidak-biasa/

Kisah mereka setelah lulus ada di
https://imamsantoso.com/2015/01/04/bagaimana-pendidikan-merubah-kami/

Iklan

About Imam Santoso

I'am a metallurgist who love writing

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: