Lebaran di Konstantinopel

Terletak di dekat lingkar kutub utara, di kota ini nyala matahari nyaris tak pernah sirna. Disinari trilyunan tenaga kuda energi surya dari antariksa yang tiada habisnya. Sungguh tantangan terberat ketika berpuasa bukanlah selama 21 jam harus menahan lapar dan dahaga, namun bagaimana aku harus mengatur sisa waktu selama 3 jam itu untuk berbuka kemudian sholat magrib, isa dan tarawih, lalu diakhiri dengan sahur. Awalnya agak ragu apa di Helsinki ini mau ikut fiqih yang alur waktunya sama dengan Saudi Arabia.

Namun setelah menjalaninya dengan mengikuti waktu sholat lokal, haus itu nyaris tak terasa, karena siang hari suhunya sangat sejuk. Paling panas hanya 20 derajat. Mungkin ini rahasia bumi yang Tuhan ciptakan. Ia bentangkan siang yang panjang. Namun di dekat sini juga Ia ciptakan gunung es yang mendinginkan.

Bukankah tubuh manusia itu juga sangat ajaib kan? Ibarat mesin pintar yang punya sistem kontrol dan kendali otomatis. Jantung berdetak, paru-paru terus kembang kempis, kadang pelan, kadang cepat sesuai ritme aktivitas, tanpa perlu kita suruh-suruh. Mereka akan mengatur dengan sendirinya. Termasuk juga dengan metabolisme tubuh dan sistem pencernaan yang mempengaruhi haus lapar.

Dulu, ketika baru tiba di Finlandia, aku mengalami jet lag, namun hanya beberapa hari saja. Setelah itu dengan sendirinya tubuh mampu menyesuikan dirinya denga cara yang menakjubkan. Begitupun puasa kali ini, tanpa aku sadari tiba-tiba udah hari ke 26.

Kemanakah idul fitri nanti? Aku ingin merasakan sholat ied bersama ribuan orang. Berdiri di tengah masjid atau tanah lapang. Lalu terdengar bahana gema Takbir. Mau pulang ke Indonesia berat di ongkos. Aku harus ke, Istanbul, Turki.

Istanbul, konstantinopel atau bizantium adalah tiga nama untuk satu tempat yang sama. Sebuah semenanjung yang menghubungkan dua benua, asia dan eropa. Membayangkan nanti sujud tarawih di akhir ramadhan, di dekat mihrab diantara pilar-pilar megah yang dibangun pada abad ke 16.

Setelah menempuh perjalanan sekitar 3 jam dari Helsink ke Ataturk Airpot, Istanbul, aku langsung menuju hotel menggunakan metro. Ketika duduk di dalam metro, terlihat dari luar banyak sekali taman-taman indah yang dibangun. Ada play ground untuk anak-anak lengkap dengan kolam renang gratisnya dan kanal-kanal besar yang membelah kota.

Setelah turun metro, jantungku pun berguncang. Karena akhirnya dapat lagi kudengar azan, berkumandang dan bersahutan dari jalan-jalan.

Duhai…setelah 7 bulan lamanya tak mendengarnya dari luar seperti ini. Di Finlandia bila ingin mendengar azan maka harus masuk masjid. Suaranya tak akan menggema sampai luar jendela.

Sambil nunggu kamar di bersihkan, aku duduk di ruang tamu hotel. Di sana ada brother muda dari Belanda yang berdarah Palestina. Tiba-tiba dia nanya setelah kubilang kalau namaku Imam.

“Kamu dari mana, muslim?..”

”.iya muslim, saya dari Indonesia”

Kalau begitu kamu bisa bahasa arab ya?

”tidak… Saya hanya bisa membaca bahasa arab, dan hanya tahu sedikit arti vocabulary”

”..Wah kalau sholat bagaimana dong kalo gak ngerti bahasa arab. Ketika membaca Alquran terutama ketika sholat apakah kamu tahu arti dari yang kamu baca? Kalau tidak tahu, bagaiman mungkin kamu bisa khusuk, menghadirkan hati menghadap Tuhanmu? Berbicara tanpa makna ”

Setelah menaruh barang dan menjemput Deden yang datang dari Belanda, kami pun merencanakan kegiatan apa aja selama di Istanbul. Dan tak lupa itinerary selama di Kapadokya, kota tua dengan topografinya berbentuk jamur-jamur menjulur keluar bumi, penuh dengan gua-gua, tempat saya akan trail run ☺.

Sebelum ke Masjid Biru (Blue Mosque) esok hari untuk sholat Idul Fitri, hari itu kami memutuskan untuk sholat terawih terlebih dulu di Masjid Yeni yang terletak di tepi Selat Borporus. Tahu kan selat borporus? Selat yang memisahkan Asia dan Eropa.

Masjid Yeni selalu dipadati burung-burung merpati. Burung itu akan berhamburan ketika kita lari mendekatiknya, beterbangan diantara menara yang menjulang. Ada nenek-nenek yang duduk di depan masjid yang menjual biji-bijian untuk diberikan ke burung-burung itu. Ketika pagi hari duduk di sekitar terasnya, maka kamu akan melihat matahari muncul dari daratan asia. Di sampingnya ada pasar yang terkenal yaitu Spice Bazaar atau pasar rempah. Pasar yang sangat ramai dipenuhi warna-warni serbuk-sebuk, mulai cabe, ketumbar, kunyit dan rempah lainya dari penjuru turki.

Tepat di depan pintu masjid ada meja besar tempat mengambil plastik sepatu. Setelah kaki kanan masuk dan tangan membuka tirai pintu, terlihat lampu megah melingkar tepat di tangah aula, menggantung tinggi dari langit-langit. Mata ini tak henti-hentinya memandangi kaligrafi yang menghiasi interior. Aku membayangkan kalau sholat tarawih malam ini bakal ramai penuh sesak seperti pada foto-foto yang dishare teman di fb ”tarawih di Turki”.

Namun sepertinya gambaran tadi harus segara aku hapus setelah melihat fakta bahwa sholat isa di masjid ini hanya tiga shaf aja. Aku lupa kalo Istanbul adalah kota wisata. Mungkin kayak di Indonesia. Ketika 10 hari terakhir masjid malah banyak yang sepi. Masih ingat betul ketika di Bandung, soft di masjid-masjid kampus semakin maju karena ditinggal para mahasiswa mudik kampung. Yang di kampung eh ternyata isi masjid juga semakin melompong. Mungkin ibuk-ibuk sudah kelelahan karena seharian membuat nastar, kacang goreng dan keripik singkong. Bapak-bapak juga capek karena seharian sudah mengantar keluarga ke mall mencari kue-kue dan baju lebaran untuk putri-putrinya.

Aku bertanya-tanya di dalam hati. Sholat tarawih Masjid Yeni apa bakal 11 rakaat atau 23 rakaat ya. Berharap tarawih terahir ini berjalan khusuk dan pelan, 13 rakaat.

”Allahuakbar….”, Imam sholat pun memuai terawih.

Aku bergetar dan merinding mendengar Alfatikah bergema dalam interior masjid yang memiliki rancangan akustik sempurna. Setelah rakaat ke 8 imam dan makmum membaca sholawat merdu dan mandayu. Persis nada dan liriknya dengan lagu “ allahumma” yang di bawakan oleh Sami yusuf. Sesekali selepas salam, ku lirik aneka ragam lengkung, titik, dan koma yang menghiasi langit-langit kubah dan dinding marmer ini.

”.Qulaudzubirobbinnas…” surat-surat pendek mulai terbacakan.

Eh..Tak terasa ternyata udah 8 rakaat aja. Sambil bercanda, aku berbisik ke Deden

”..Den ternyata masjidnya NU..”.

Kamipun sholat 23 rakaat.

Selama ke Istanbul, aku membawa buku terbitan National Geographic yang berjudul 1001 Inventions: The Enduring Legacy of Muslim Civilization

Sejak tahun 2011 sudah sekitar 10 buku yang aku pesan dan rekomendasikan pada teman-temanku. Di buku ini diceritakan tentang Masjid Sulaiman, dibangun pada abad 15 yang menginspirasi dunia, didirikan di atas sebuah bukit. Sebuah kompleks masjid yang kala itu juga sekaligus menjadi sekolah, rumah sakit, restoran dan pasar. Didisain ramah lingkungan dengan ruangan berfilter yang menyaring udara dari dalam masjid hasil pembakaran lampu minyak sebagai penerangan masjid sebelum mengalir ke luar. Tak sabar saya segera ke masjid ini esok hari setelah sholat idul fitri di Blue Mosque terlebih dahulu.

Ok, saatnya cerita Blue Mosque, masjid tujuan utama kami.

Blue Mosque dibangun tepat di depan Hagia Sopia. Tahu kan Hagia Sopia? Banguanan megah yang sempat berubah-rubah fungsi dari gereja menjadi masjid negara, lalu kini menjadi museum. Di dalamnya ada mimbar besar dan tempat wudu berbentuk gentong atau gerabah. Di atasnya ada lukisan-likisan khas gereja seperti nabi isa dan bunda maria, namun di pilar-pilarnya juga tertulis lafal Allah, Muhammad dan para sahabatnya.

Blue Mosque memiliki satu kubah utama yang besar dan 8 kubah tambahan. Masjid agung dengan enam menara berbentuk rudal runcing. Dibangun semasa khalifah Ottoman. Di depanya berdiri Obelisk, menara segiempat ramping dengan piramida di atasnya. Semoga idul fitri besok pagi aku dapat shaf paling depan.

Tapi…

1 syawal 1436 H.

Setelah sholat subuh, pukul 6 pagi. Jalanan di pinggir pantai itu sepi mencekam. Burung merpati pun masih malas-malas jinak memenuhi bibir pantai.

”..Den…kok masih sepi jam segini, apa masih pada di rumah orang-orangnya?..atau jangan-jangan..”..

Kami pun melihat beberapa orang lari tunggang langgang, kita pun mengikutinya. Setelah sekitar 20 menit lari, terlihat halaman luar Blue Mosque telah penuh sesak. Scurity membagikan alas.

”..Ya Allah masjid udah penuh, pantes jalan sepi Den…”

Walau agak sedih karena tak dapat tempat di dalam, padatnya jema’ah tak mengurangi kekhusukan sholat idul fitri kami. Kami sholat di atas lantai batu pualam, dikelilingi pilar-pilar di tengah lautan manusia. Pagi itu, Masjid Biru menjadi saksi ketika para manusia dengan berbagai warna kulit yang beda mengucapkan kalimat yang sama, menggema menyebut asmaNya

Berikut foto-foto ketika lebaran di turki.

 

Depan masjid yeni

Depan masjid yeni

Sulaeman Mosque

Sulaeman Mosque

Sulaeman Mosque

Sulaeman Mosque

Sulaeman Mosque

Sulaeman Mosque

Blue Mosque

Blue Mosque

Blue Mosque

Blue Mosque

Blue Mosque

Blue Mosque

Blue Mosque

Blue Mosque

Yeni Mosque

Yeni Mosque

Sulaeman Mosque

Sulaeman Mosque

 

Iklan

About Imam Santoso

I'am a metallurgist who love writing

One comment

  1. ada kisah Muhammad Al-Fatih disana,… Subhanallah 🙂 Indah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: