Aurora. Part 1. Namanya Vienna

Kota Otaniemi berasa mati. Laut, sungai dan seribu danaunya telah menjadi es padat. Tiupan angin membawa kebekuan yang ada kutub utara bergerak menuju sudut kota, membuat hutan-hutan dan jalan raya hingga nyaris tak berwarna.  Semua kini putih. Salju tanpa ampun menguruk apa-apa yang ia kehendaki. Palingan aku menunggu truk pembersih salju yang sebelum subuh sudah lalu-lalang menyingkirkan salju di jalanan agar bisa dilewati kendaraan. Tak lupa kemudian akan ada truk mini penabur kerikil pada jalan kecil untuk pejalan kaki. Setelah itu baru berangkat ke kampus.

Bila tak ingat kalo supervisor jam 6 pagi sudah duduk manis di dalam kantor, mungkin punggung ini masih sandaran di atas kasur dengan selimut tebal dan memangku laptop sambil fesbukan.  Bila tak ingat dubsmash Mama Dedeh yang lagi nge-hit ”IBUUUUUK, KALO HABIS SUBUH TIDUR LAGI ITU GAK DAPAT KEBERKAHAN, YANG DAPAT KEMALASAN DAN KEBURUKAN, OK, KEDENGERAN SEKARANG…? CUSSS..”, mungkin seluruh tubuh ini masih terbalut baju tidur berlapis-lapis, tak bergerak diatas kasur seperti mummi.

Fajar Sodiq muncul jam 7. Matahari, terbit jam 9. Sungguh, waktu subuh yang lama dari jam 7 sampai jam 9 ini adalah keberkahan atau malah cobaan.

”..Oh masih jam 5..”.

Alarm bunyi lagi dengan nada berbeda

”..Oh masih jam 8…”

Tarik selimut lagi

”…YA ALLLAH JAM 9, AMPUUUUN…”, lalu seolah-olah ada kebakaran, puing-puing jatuh dari atap, bangkit dari kasur dan segera  kekamar mandi.

Sungguh, celakalah orang yang shalat, tapi lalai akan waktunya. *meratap di pojok kamar.

”Mam, aku sekarang jd mudah tahajud. Sehabis masak dan sebelum berangkat kerja aku tahajud dulu tadi jam 6. Kalo di indonesia biasanya sholat tahajud itu 30 menit sebelum subuh kan…?” kata temanku

”..Bentar mbak. Itu kan di Indonesia…..yang jelas tahajud kan sepertiga malam ya…hmmmm. Kan jam 19 udah malam di sini. Jadi tinggal ngitung kapan waktu tahajud yang pas. Enak banget dong kalo jam 6 pagi hehe”.

Memang, tinggal di negara yang berada di dekat garis kutub membutuhkan fiqih-fiqih khusus. Fiqih-fiqih minoritas. Ada fiqih-fiqih katulistiwa yang sulit dipakai untuk daerah yang jauh di utara, seperti Finlandia. Tak bisa lagi bisa menggunakan aturan misal kalau puasa itu dari subuh (matahari terbit) sampai matahari terbenam sebab di tengah bulan Juni di sini matahari aja tidak pernah tenggelam.

Agar muka tak retak-retak atau bibir pecah berdarah, tak lupa aku pakai krim muka dan lip balm setelah mandi. Segera ku pakai sepatu boot karena jam 10 nanti ada janji di laboratorium dengan Vienna Mahasiswi asal Finlandia. Supervisorku meminta Vienna mengajariku mengoperasikan Scanning Electron Microscope, mesin pembesar benda sampai sekala mikron.

Termometer di dekat jendela rumah menunjukkan skala 20 dibawah titik nol.  Matahari di luarpun juga belum terlihat. Kampusku dekat dengan rumah. Jadi hanya perlu jalan kaki 15 menit untuk sampai. Walau pakai baju hangat dari atas sampai bawah, tetap saja wajah gak ditutupin pas nanti jalan di luar. Jadinya pipih pedih, hidung mbeler dan kening nyeri. Ah, tapi kan udah diniatin, walau agak ketar ketir mau keluar rumah.

Sambil berjalan dangan tangan berbalut kain wool, perlahan lahan cairan keluar dari hidung, dan terasa kumis udah mulai kaku karena lendir yang membeku. Sialnya juga tadi aku keramas. Kerena buru-buru, aku tak sempat mengeringkan rambut. Kupegang kepala. Terasa rambut panjang ini telah menjadi cangkang keras membungkus seperti helm. Dan tentu saja selama musim dingin, beban badanku bertambah signifikan karena harus menggembol baju sebanyak 3 lapis, base layer, mid layer dan shell. Celana juga harus tahan angin yang didalamnya sudah ada bagian lapis panjang penahan suhu. Total bisa mencapai 5 kg lebih dengan sepatu boot anti air dan salju.

Dari kejauhan terlihat sebuah ruangan di lantai tiga paling ujung, ruangan mikroskop telah menyala.

”..Waduh dia udah datang…”. Segera aku lari, buka pintu lalu naik tangga kampus, Dan.

”..JEDUUUT…” kesetrum lagi deh.

Tadi pagi hampir terjengkang dilantai ketika kesetrum jaket. Sekarang kesetrum gagang pintu kantor. Musim dingin begitu kering di sini, electron-electron susah berpindah melalui udara karena kelembaban yang rendah. Akibatnya electron akan terkumpul pada permukaan-permukaan benda. Benda-benda kering jadi nyetrum semua. Pernah kan pas SD mainan gosok-gosok penggaris pada baju kering, lalu menempelkannya pada serpihan kertas atau rambut? Iya, seperti itu. Penggaris itu menarik kertas karena penggaris bermuatan listrik statis. Nah sekarang bayangkan aja. Semua benda yang ada disekitarmu jadi bermuatan listrik. Maka pas nyentuh dinding akan kesetrum. Pegang meja akan tersengat. Aku suka nempelin permukaan tangan pada keping pemanas yang terpasang di samping kasur, dan merasakan sensasi kesetrum sambil jingkat-jingkat sendiri sebelum tidur. Nyetrum, benar-benar nyetrum dalam arti yang sebenarnya. Kamu juga bisa jadi penyihir karena bisa nyetrum temanmu. Pegang aja tanganya. Karena sangking kering dan dinginya, kini kulitmu bahkan menjadi bermuatan listrik.

Tengah bulan Januari adalah puncak musim dingin. Suhu bisa turun menjadi minus 25 derajat. Masih mending sih, di utara sana suhu mencapai minus 50. Musim dingin tiba artinya juga di dalam kantor akan segera mulai tercium bau aneh-aneh, karena banyak yang tak mandi. Di ruang ini ada temanku dari Afrika Selatan, di ruang itu ada temanku dari Rusia, di ruang yang sana ada temanku dari China dan ruang yang sini ada temanku lokal Finlandia, walhasil bau badan 5 negara sudah tertanam di dalam memoriku.

”Hmmmmm..ini bau si Yuha, ia berarti ada di ruangan…”, gumamku. Entahlah temanku yang dari Afrika  ini baunnya sangat khas. Rekorku sih hanya 3 hari gak mandi.

Segera aku menunuju ruangan di mana Vienna menunggu.

”Maaf Vienna saya terlambat..”

Gadis itu sudah duduk di depan mesin canggih buatan Perancis. Mengggunakan baju panjang menutup seluruh tubuh, tak lupa dengan hijabnya. Sampai saat ini aku masih penasaran kenapa ia selalu memakai kain penutup di kepalanya dengan model yang ganti-ganti tiap hari. Sekarang sedang memaki hijab dengan dipilin panjang seperti cambuk menjuntai sampai kaki. Kemarin ia menggulung cambuk itu melingkari kepalanya ala surbannya Aagym. Hijab model ini belum perna aku jumpai di Indonesia.

”Imam..Pertama, ukuran samplemu harus 1 cm. Atau detektor ini akan kesundul dan pecah. Harga satu detektor setebal debu ini adalah seratus juta lebih…” , Vienaa menjelaskan sambil menunjukkan kertas tertempel didinding bertuliskan ”AWAS Bla bla bla…”

Ditemani, Xilong, temanku dari Cina, tak lupa aku tanyakan banyak hal ke Vienna walau kadang pertanyaan gak penting dan sudah tahu. Dan banyak pertanyaan basa-basi seperti

”..Kamu udah berapa lama disini, topik penelitianmu apa Vienna…”

Tentu saja jawabnya aku udah tahu karena udah kepo duluan. Setahun lalu. Bahkan sebelum datang, aku udah kepo tentang lab ini. Publikasinya apa aja, alatnya apa aja, dan jumlah orangnya berapa. Karena semua itu dapat mencerminkan kredibilitas sebuah kampus yang akan aku tuju. Dan sejujurnya, aku sudah bisa menggunakan mesin itu karena setahun lalu sudah pernah mengoperasikan alat yang lebih canggih, ketika di Australia. Tapi kan ini udah prosedur dari Supervisor, tetap harus di training.

”..Tombol ini buat apa ya…”, basa-basi berikutnya, padahal udah tahu.

Dari pada diam, nanti takut dia tersinggung hehe.

Terlihat salju masih turun dengan lebatnya di luar sana. Sistem pemanas dalam ruang ini begitu canggihnya sampai-sampai bekunya udara luar tak mampu menjangkau kami bertiga. Sebenarnya aku ingin bertanya ke pada Vienna alasan ia memakai hijab padahal ia bukan muslim.  Tapi pertanyaan itu sepertinya terlalu dini.

30 menit dan training hampir selesai, percakapanpun sepertinya berganti topik. Setelah menjelaskan kepadaku kenapa banyak orang Finlandia bunuh diri ketika musim, ia melontarkan pertanyaan.

” Imam, kenapa ya wanita muslim kok banyak yang pakai jilbab. Bukankah itu mubazir jadinya. Perawatan capek-capek tiap hari eh tapi pas keluar rambutnya ditutup terus. Kayak penelitian yang kita hasilkan. Kan harus di terbitin dijurnal alias di publish tuh. Kan bakal mubazir penelitian kalo gak di sampaikan ke orang lain.”

Sebenarnya pertanyaan ini ingin aku balikin ke dia.

”Vienna..Memakai jilbab itu adalah ajaran agama Islam. Perempuan wajib memakainya. Eh, Vienna, tahukan di Eropa ini, di sini, zaman dulu itu istri raja bukan hanya pakai jilbab tapi juga pakai cadar. Ia menutup seluruh tubuh, rambut, wajah sampai ujung kaki. Istri raja dan juga para wanita bangsawan. Karena waktu itu cadar menunjukkan kemuliaan. Sesuatu yang berharga itu tersimpan rapat kan?. Bukankah dalam katolik juga punya tradisi menutup rambut Vienna? Biarawati itu kan pakai penutup kepala”.  Sambil aku tunjukkan video di yotube di HP sebuah parade Ratu Austro-Hungaria Elisabeth, istri Kaisar Franz Joseph I.

”..Mam..kira-kira sifat relegius itu ada hubungnya dangan faktor genetik gak ya?. Soalnya adikku yang aku kenalin ke kamu tadi orangnya sangat relegius. Ia sebentar lagi jadi biarawati memberikan pelayanan di sebuah gereja di sini, sedangkan aku?  Aku tidak percaya tuhan.”, Vienna bertanya lagi kepadaku. Intonansinya persis puteri solo, pelan dan datar, kemayu. Matanya besar dan bundar, menatapku tajam.

Hatiku semakin penasaran dibuatnya. Bagaiman mungkin soalnya tadi adiknya membiarkan rambutnya terurai, sedangkan Vienna sejak pertama kali bertemu 3 bulan lalu ia tak pernah lepas jilbab. Tak mungkin aku jelaskan kisah nabi Nuh yang anaknya tak taat walau satu gen. Aku tak tahu apa kisah Nuh dalam islam sama dengan kisah Nuh dalam Injil. Atau kisah temanku yang sedang berjuang menjadi cahaya dirumahnya, untuk membuat sholeh bapak dan ibuknya, tak mungkin ku jelaskan.

”Kenapa engkau berjilbab?”. Tanyaku dalam hati.

Training selesai, karena takut tanya ke Vienna, akupun tanya ke Xilong dan ia pun menjawab.

” Imam, kamu berjalan aja lurus di lorong ini. Nanti di ujung gedung kamu akan menemukan foto-foto anak S3 yang masih aktif belajar di School of Material Science. Kamu akan melihat seperti apa foto Vienna gadis cantik berkulit putih itu tanpa penutup kepala..”

Bersambung.

 

Tes

Iklan

About Imam Santoso

I'am a metallurgist who love writing

4 comments

  1. Mas segera diupdate dong, bikin penasaran :p

  2. Wah,.. cerpennya kisah nyata ya mas. Seru sekali. Eh, cuaca disana benar se ekstrim itukah? Di bulan Juni matahari beneran tidak pernah tenggelam?

    Hebat ya,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: