Aurora. Part 2. Culture Shock

Aku pelajari banyak hal sejak sebelum berangkat. Tujuanya agar tak terserang culture shock. List kata-kata sederhana udah aku hafal berulang-ulang. ”Kiitos” artinya terima kasih, ”Hyvää huomenta” itu selamat pagi. Jalan dan naik kendaraan harus di sebelah kanan, mendahului dari sebelah kiri. Naik lift harus di sebelah kanan, yang sebelah kiri untuk orang yang lari ke buru-buru. Dudukan toilte harus kering, jangan sampai ada sedikitpun setetes air diatasnya, agar orang yang mau duduk tak harus membersihkan bekas cairan orang sebelumnya. “Menjijikkan, dan tak bertanggung jawab. Itu cairan di atas dudukan adalah air atau cipratan kencing?”. Minimal istirahat kopi ada dua kali dalam sehari, jam 9 dan jam 2 siang, masing-masing 30 menit. Sebelum kerja? Ngopi. Habis makan siang? Ngopi lagi. Sore hari? Tetap ngopi. Tak khayal bila orang-orang Finlandia menjadi pemakan kopi terbanyak di dunia.  Dengan mengetahui hal-hal ini berharap pas datang dan masuk kuliah aku tak kaget lagi. Nyatanya?

Karena jet lag, walau masih jam 2 malam aku udah bangun dan tidak bisa tidur lagi.  Waktu subuh masuk pukul 7. Sholatku terasa aneh karena sekarang  kiblat mengarah tenggara.

“Imam, jangan lupa bawa reflektor cahaya kalo mau berangkat ke kampus”, kata Ruza, teman satu flatku yang berasal dari China. Reflector adalah benda pemantul cahaya yang dipasang pada lengan atau dijepitkan pada tas. Tanpa benda ini maka bisa-bisa ketabrak motor atau mobil ketika berjalan, karena selama winter, siang hari itu bak malam hari, remang dan gelap. Benda ini akan menyala ketika terkena sorotan lampu kendaraan.

“Aku tak perlu reflector, tasku  ini sudah bisa menyala ketika terkena cahaya..” Sambil aku tunjukkan ke dia tas punggung yang berwarna putih perak mengkilat.

Tas ini aku beli ketika masih di Indonesia dari Ibu Dewi, seorang pemulung. Ia tinggal di dekat sungai di belakang Bandung Super Mall. Ia mempunyai 3 anak. Anaknya yang pertama terkena kencing manis, yang kedua autis dan yang ke tiga terkena radang otak. Bu Dewi pernah menggelandang dan ngamen di jalanan. Ia tak sekolah tinggi dan bukan pula orang berada. Tapi ia berhasil memberdayakan para pemulung dan tetangga-tetangganya untuk mendaur ulang sampah plastik menjadi berbagai kerajinan dan salah satu produknya adalah tas ini. Di rumahnya yang sempit ia menceritakan bagaimana ia dan masyarakat  membuat pupuk kompos dan bio-gas dari sampah organik. Ia kadang juga jadi tukang ojek dan babysitter untuk bertahan hidup. Waktu mendengar kisahnya, aku terasa tertampar karena selama ini hanya bisa membuang barang-barang plastik yang butuh 400 tahun bagi tanah untuk menghancurkanya. Sungguh jika kau tahu bahwa Tuhan melaknat orang-orang yang membuang sampah sembarangan.

Dulu, sebelum berangkat ke luar negeri aku sudah berjanji pada Renna temanku yang waktu itu bersama ke rumah Bu Dewi, bahwa akan kupamerkan tas ini kepada teman-temanku di Finlandia, negara yang sangat ketat pada aturan lingkungan.

Ruza..tahu gak tasku ini terbuat dari apa..cobak kamu liat dengan teliti penggalan tulisan kecil di anyaman ini, pasti kamu familiar..” kataku.

“Wah dari apa mam..I have no idea” tanyanya balik

Ini terbuat dari anyaman plastik bungkus pasta gigi. Butuh waktu berbulan-bulan hanya untuk mengumpulkan bahan baku ini. Di ambil dari tumpukan sampah yang membusuk, dari aliran sungai kotor hitam dan bau, dari tong-tong rongsok penuh belatung. Melibatkan banyak tangan pemulung dan pengerajin. Harga tas ini mungkin tak seberapa dibanding tas-tas di toko, tapi sesungguhnya ini tak ternilai.“.

“wah..dari odol ya..btw jangan lupa mam pas turun mau ke kampus untuk membawa sampah ini dan dimasukin ke bin plastik.”, kata Ruza.

Di Finlandia kami harus memilah sampah harian menjadi 6 bagian. Ada tempat khusus di flat kami untuk sampah kertas, plastik, logam, kaca  dan organik. Untuk sampah dari  baterai yang sudah soak maka kami harus membuangnya di tempat khusus yang ada di supermarket.

Setelah berjalan kaki 10 menit, akupun sampai di kampus. Kampus yang telah lama ku idam-idamkan. Dan pantas saja kenapa perlu reflector, ketika matahari terbit jam 9 dan berangkat ke kampus jam 8, jalanan masih gelap gulita. Dan pantas saja pada bulan-bulan awal musim dingin dan belum ada salju seperti ini, banyak orang bunuh diri. Gelap ini bisa berlangsung berbulan-bulan membuat orang mager dan depresi.

Perjumpaan pertama itu sangat penting. Maka aku pakai baju batik terbaik. Syukur-syukur kalo di jalan ada yang mengenali kalo ini batik lalu memanggilku “Halo Mas..dari Indonesia ya..”.

Aalto University, namanya diambil dari arsitek terkenal Finlandia bernama Alvar Aalto yang juga merupakan alumni kampus ini. Landmark nya berupa bangunan besar berkubah oval terbalik.

Gedung metalurgi tempat aku belajar berada 200 m dari gedung raksasa ini, terletak di pinggir jalan raya dan berlantai tiga. Di ujung gedung ada tabung setinggi 4 m. Didalamnya berisi gas panas yang didistribusikan ke seluruh bangunan sebagai sistem penghangat ruangan. Lantai satu adalah lab-lab untuk reaktor suhu tinggi. Di sini, percobaan seperti pelelehan keramik pada suhu dua ribu derajat dilakukan. Lantai dua adalah lab hidrometallurgy. Di lantai ini orang-orang sibuk meneliti cairan asam digunakan untuk melarutkan logam-logam. Lantai 3 adalah ruang para peneliti termasuk ruanganku. Berbentuk lorong panjang. Di samping kanan dan kirinya ada kamar-kamar 5×5 meter yang masing-masing ditempati dua orang. Ketika  naik anak tangga menuju lantai 3, aku berharap akan ketemu orang bersiliweran dan  ramah menyapa.

Tapi nyatanya setelah buka pintu?

Aku seperti berada dalam gua purbakala kedap suara. Hening. Yang di dalam ruanganpun pada di depan komputer masing-masing dengan headset nempel di telinga. Tak ada cekakak-cekikik atau haha-hahi.

Lalu dari jauh terlihat terlihat lelaki sepuh berambut panjang berwarna pirang dikuncir ala ponytail berjalan ke arahku. Itu pasti Taski, supervisorku yang kemarin menjemputku di bandara. Dan tentu saja aku udah siap-siap pasang senyum manis sebelum say hai ke dia. Dari jauh matanya menatapku. Ia semakin mendekat. Dan akupun sudah mengangkat wajah siap-siap menyapa. Tapi

Lelaki tua itu segera minggir ke sebelah, berjalan lurus muka merunduk kebawah, diam seribu bahasa ketika berpapasan

” Apa salahku kok dia gak menegurku”. Kepalaku berkecamuk, dipenuhi sejuta tanda tanya kebingungan..

“Kenapa dia kok diam, apa kemarin aku tak sopan ketika bertemu di bandara”

Aku terus berjalan menuju ujung lorong, mencari pintu bertuliskan Imam Santoso. Kemudian dari jauh muncul anak muda berambut pirang tinggi.

“Itu pasti Mark. Aku harus nyapa dia karena kami udah komunikasi lama lewat email sebelumnya!”

Dengan menggunakan jas lab putih dan memegang buku besar, matanya tajam memandang, berjalan ke arahku. Siap-siap ku sapa dia. Tapi ternyata, Mark juga tak bergeming, bahkan wajahnya lebih dingin dari supervisorku.

“..haduh, apakah aku ada salah kata-kata pas membalas email nya, kok dia diam..”

Karena takut sekali suara sepatu ini membuat berisik, akupun berjalan pelan. Di kanan kiri dinding terpampang berjajar panjang lembar-lembar jurnal-jurnal hasil riset grup metalurgi ini. Sepertinya setiap jurnal yang berhasil terbit secara online, hard copy nya juga menjadi prasasti. Mungkin untuk memotivasi? Jujur, tempelan jurnal-jurnal itu seperti ancaman. “Kalo mau lulus, aku juga harus menghasilkan publikasi”.

Jurnal adalah nyawa. Ia detak jantung dari setiap peneliti. Kadang, ia bintang runtuh penuh uang. Bonus ribuan dolar akan turun bila tulisanmu berhasil tembus di Nature atau Science. Kadang ia roket, mengangkat seseorang cepat menuju puncak karir. Kadang ia  palsu tak berbobot, abal-abal dan bodong. Asal terbit dapat kum.  Kadang ia maut, membunuh dan memecat tanpa ampun.

“oh God, terima kasih aku telah diterima di grup riset yang sangat produktif”

Sambil melirik judul-judul jurnal apa saja yang telah berhasil ditembus grup ini, tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka diiringi dentuman sepatu. Terlihat seseorang dari ujung berjalan dengan high heels. Melenggak-lenggok. Perempuan muda berkebaya panjang.

Harus jaga pandangan ”, Aku harus merunduk seperti dinginya Mark dan Taski kepadaku tadi.

Mungkin inilah alasan kenapa wanita memakai high heels. Bukan hanya membuat nampak lebih tinggi, tapi juga membuat yang memakainya jadi berdiri tidak stabil sehingga tubuh mengayun-ayun gemulai.

Segera ku pasang mata datar lurus ke depan penuh palsu, tak melesat satu derajat ke kiri. Tak lupa juga kukenakan topeng sok serius sambil tangan memegang selempang tas di pundak.

“..tik tok tik tok..” Dentuman sepatu itu semakin lama semakin nyaring.  Masuk ke daun telingaku, melewati kohlea, menghasilkan reaksi biokimia mengguncang cepat seluruh isi dada.

“Haiii ….”, nada kemayu terdengar memanggilku.

“..Saya Vienna..”

Lalu bak pesawat antariksa sedang memasuki atmosfer bumi, suara itu menjadi parasut yang menghasilkan jutaan gaya gesek udara, menghentikan putaran roda, stop seketika. Lorong yang awalnya putih pucat pasi menyeramkan kini mendadak jadi warna-warni.

Bersambung,

Catatan: Di Indonesia ketika kita berpapasan dengan orang yang kita kenal lalu kita tidak menyapa, maka itu dapat dikatakan tidak sopan, apa lagi kepada orang yang lebih tua. Tapi di Finlandia kebalikannya. Orang akan menghormati privasimu sehingga ketika berpapasan ia akan sedikit menjauh dan diam seribu bahasa.

 

Kampus Aalto

Kampus Aalto

 

Iklan

About Imam Santoso

I'am a metallurgist who love writing

3 comments

  1. Sakayu

    Lanjuuuut 🙂

  2. Wah,.. Manis sekali. Mas Imam saya boleh copas kalimat terakhirnya ya. Boleh ndk?

    Lalu bak pesawat antariksa sedang memasuki atmosfer bumi, suara itu menjadi parasut yang menghasilkan jutaan gaya gesek udara, menghentikan putaran roda, stop seketika. Lorong yang awalnya putih pucat pasi menyeramkan kini mendadak jadi warna-warni…

    #Saya ijin mas.
    Saya sudah copas, hehe. Terimakasih.
    😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: