Adik Kecil Penjual Kue Akhirnya S2 Ke Australia

Tahun 2009 saya pulang kampung dan datang ke sekolah SMA menemui Almarhum Pak Tarjo untuk menanyakan kira-kira siapa saja anak-anak SMA yang ingin kuliah. Lalu datang kepada saya seorang anak kecil yang baru naik kelas 2. Saya masih ingat betul perawakanya waktu itu kurus kering. Lalu dia menanyakan ke saya apakah anak seperti dia bisa masuk ITB ketika lulus kelas 3 nanti.

Singkat cerita seperti biasa saya masuk kelas-kelas dan memulai orasi hehe. Dan alhamdulilah ada yang ”tersesatkan” juga hehe. Si anak lalu naik kelas 3 dan menuliskan surat yang berisi cerita dia, keluarganya dan cita-citanya (Suratnya lengkapnya saya lampirkan di akhir tulisan ini, potongan tulisanya yang ia tulis 6 tahun silam ada di gambar berikut ini).

Putro cita

Lalu apa yang terjadi 6 tahun kemudian dengan cita-citanya itu? Satu-persatu mimpinya terwujud sesuai dengan target waktunya. Ia benar-benar ketrima ITB tahun 2011 seperti yang ia tuliskan. Saat ketrima ITB ia menjual hampir seluruh entog yang ia pelihara dari lama, hanya untuk biaya transport ke Bandung (seperti screen shoot status fb saya tahun 2011 silam).

Putro Ketrima ITB tahun 2011

Putro Ketrima ITB tahun 2011

Ia juga benar-benar wisuda tahun 2015 bulan Juli, tepat 8 semester. Walau tak lulus cumlaude seperti cita-cita dalam suratnya 6 tahun silam, ia mendapat penghargaan Dean List atas prestasi luar biasa di salah satu semesternya yang hanya di berikan kepada mahasiswa bila IP diatas 3.5 pada semester tertentu.

Tulisan yang menyentuh yang ia tulis juga saya kirimkan ke teman saya yang ada di Australia pada tahun 2011 salah satunya yang tinggal di Perth. Teman saya pun membantunya dengan menjadi orang tua asuh. Hebatnya uang dari orang tua asuh itu juga ia bagikan kepada teman-temannya  di universitas lain yang membutuhkan walau kondisinya sendiri  saat kuliah di Bandung sebenarnya juga sulit. Tapi waktu itu dia bilang ke saya ”mas ada yang lebih mendesak, ada anak yang belum makan”.

Dan siapa sangka 6 tahun kemudian (inysaallah akhir tahun ini) ia berangkat S2 ke Perth Australia ketrima di University of Western Australia, salah satu universitas terbaik di negeri kanguru. 6 tahun silam ia menulis kalau ia ingin sekolah ke luar negeri ke Belanda, tapi Allah memberinya ke Australia. Ia telah lulus beasiswa LPDP dan tinggal menunggu program persiapan keberangkatan untuk berangkat ke Aastralia.

Selama kuliah S1 anaknya juga aktif sekali dimana-mana. Ia juga membantu saya jemput bola anak-anak berbakat di pedalaman Ambulu. Ia membuat kegiatan Ambulu mengajar. Dengan teman-temanya ia membuat berbagai kegiatan di desa-desa untuk membantu anak-anak yang membutuhkan informasi perkuliahan dan juga membantu mereka dalam belajar. Seperti membuat bimbingan belajar geratis, seminar motivasi dll. Pernah pesertanya membludak hingga membuat desa itu kaget. Saya juga tautkan CV nya di tulisan ini.

Oh Dear , Adik-adik ku semua, saat SMA siapkan dirimu karena sebenarnya banyak jalan untuk mencapi cita-cita. Banyak beasiswa menunggumu. Bila tidak ada motivasi atau ragu karena takut bersaing jangan-jangan memang selama ini kita masih sibuk fesbukan saja, nongkrong sana-sini, sekolah hanya main-main, sibuk pacaran, cangkruk pinggir jalan atau nglimput sekolah loncat pagar.

Terimakasih Mas Dwi, Mas Wedya, Teh Irsa dan Mimit, lakso, Ritra, Mas Bohod.

Surat Putro 6 tahun lalu

Assalamualaikum Warahmatullah

PUTRO, itulah nama yang dianugerahkan oleh orang tua saya. Saya lahir dari pasangan PURNADI -MESTIYAH sebagai anak kelima dari Tujuh bersaudara. Semenjak bapak saya memasuki usia 59 tahun , beliau  tidak bisa bekerja di sawah sebagai buruh kasar secara penuh lagi , jadi untuk memenuhi kebutuhan hidup,  Ibuku bekerja sebagai Pedagang sayur keliling. Pekerjaan ini sudah beliau Lakoni hampir 25 tahun , dan  alhamdulillah dengan penghasilan sekitar Rp 500.000/bulan ditambah upah yang diterima bapak saya  sebagai buruh musiman ( sekitar Rp 200.000/bulan ) keluarga kami tidak kesulitan makan.

Saya mempunyai enam saudara , kakak saya yang pertama dan kedua telah bekerja sebagai Pekerja Serabutan di pulau dewata ( Bali ). Berbeda dengan kakak saya yang ketiga , dengan bermodal Ijazah SMK , dia bisa diterima di sebuah Restoran di sebuah Restoran di Bali sebagai Pelayan. Untuk adik saya yang keenam dan ketujuh , masih bersekolah di jenjang SMA dan SD. Sedangkan kakak saya yang ketiga , alhamdulillah diterima di PT . Pama Persada Nusantara dan saat ini masih menjalani Training.

Keluarga saya tinggal di desa bernama Tanjung Rejo, desa bisa dibilang masih asri dan nyaman untuk ditinggali dengan masyarakat yang ramah pula. Hal terpenting bagiku adalah jaraknya tidak terlalu jauh dari sekolah saya ( sekitar 6 km ). Ya, SMAN AMBULU itulah sekolah dimana saya menimba ilmu dan  mengembangkan diri. Segudang kisah telah terukir di benak saya di SMA ini. Di SMA , bisa dibilang saya adalah siswa yang dikenal oleh banyak pihak di sekolah lantaran saya seringkali berkepentingan dengan mereka, karena saya tergabung dalam Pengurus OSIS Periode 2008/2009 dan periode 2009/2010 sebagai Ketua I.

Alhamdulillah, tahun 2009 saya dipercaya oleh sekolah untuk menjadi Wakil Kabupaten Jember untuk mengikuti WORKSHOP BELA NEGARA yang diadakan oleh Dinas Pendidikan Provinsi jawa timur tahun 2009 di hotel Wijaya Inn, Batu , Malang. Selain di OSIS , saya juga pernah menjadi ketua Ekstakurikuler Sanggar Kimia periode 2009/2010 sehingga bisa mengantarkan saya menjadi Semi Finalis National Chemistry Challenge yang diadakan oleh ITS tahun 2009, serta menjadi Semi Finalis Kompetisi Kimia Tahun 2009 yang diadakan oleh Universitas Airlangga.

” Menyelam Sambil Minum Air ” , itulah peribahasa yang tepat untuk kondisi saya selama Menimba Ilmu di SMA NEGERI AMBULU. Karena selain sebagai Pelajar , saya juga dipercaya oleh sekolah untuk menjadi salah satu Penjaga Kopsis Sekolah dan alhamdulillah saya bisa meringankan beban orang tua , karena saya mendapat imbalan berupa Gratis Buku Pelajaran , terkadang Uang SPP saya pun dibayar oleh KOPSIS.  Selain itu saya juga menitipkan kue buatan ibu saya ke KOPSIS untuk dijual. Tak jarang pula saya mengambil Kue dari seorang pedagang Kue di pasar , kemudian saya jual lagi di KOPSIS. Saya tidak pernah malu dengan semua yang saya lakukan karena itulah yang akan menjadi pembeda saya dengan orang lain.

Perjuangan   mengumpulkan   uang   pun dimulai, “  kerja apapun ,  yang  penting   Halal  “. Mungkin   itulah   satu-satunya   kata   yang   ada   di benakku   saat   itu.   Selepas   menjadi   seorang penjaga   Kopsis,   akupun   mencoba   peluang   lain menjadi Penjaga Warnet , dan alhamdulilah berkat kebaikan   temanku,   akhirnya   aku  bisa   bekerja  di sebuah warnet di Wuluhan. Kukayuh sepeda tuaku menuju   tempat  kerjaku   ini   ba’dha  magrib,   dan inipun menjadi rutinitasku hampir selama 3 bulan. Meskipun   akhirnya   ibuku   memintaku menghentikan pekerjaan ini , dengan alasan bias mengganggu   sekolahku.   Memang   jam   kerjaku berakhir   cukup  larut,   yaitu  jam   12  malam   dan hasilnya  pun lumayan,  aku  bisa  mengumpulkan uang 5 – 10 ribu per malam. Tetapi akhirnya aku mengindahkan   keinginan   orang   yang   paling   aku
sayangi ini.

“ mati satu , tumbuh seribu “ …. Lepas dari penjaga warnet tak membuatku futur  begitu saja , kini   aku   mulai   memikirkan   usaha   lain   yang   bias aku jalankan. “ berwira usaha “ menjadi pilihanku selanjutnya. Ketika pagi menjelang , aku langsung menemui   ibuku.   Kini   aku   bermaksud   mengajak ibuku   memproduksi   kue   gorengan   dan   cilok sendiri, karena sebelumnya aku hanya mengoper dari   seorang   penjual   kue   di   Ambulu,   dan   aku mendapatkan keuntungan Rp 100,-/ biji kue yang terjual. Sejak saat itulah aku menjadi orang yang terburu   waktu,   sampai-   sampai   aku   hanya mempunyai waktu tidur 4 jam setiap hari.  Setelah   pulang   sekolah,   aku   mulai   membantu ibuku   memasak   dan   menyiapkan   barang   yang akan   dijual   besok.   Mendekati  ashar,   aku menyudahi kesibukan ini dan mulai membersihkan diri untuk sholat ashar. 

Selepas   sholat  ashar,   aku  selalu menyempatkan tidur siang selama 30 menit dan ini   menjadi   rutnitasku.  Setelah   itu,   aku meneruskan   pekerjaan   tadi   dan   bersiap–siap menggiring mereka masuk kandang satu persatu.

Menjelang   senja,   aku   menyudahkan   semua kesibukan ini.  Alhamdulilah, Allah Azza Wa jalla mengijinkanku untuk menikmati sholat berjamaah di masjid setiap hari. Nah , setelah sholat isya’ inilah saat–saat yang sangat aku rindukan, karena daku harus “ mengidek-ngidek   dan   mijeti   “   ( dalam   bahasa Indonesia saya tidak tahu) saat itulah aku berbagi mengenai kejadian yang dialami ibuku selama berjualan.. oh ya ,  ibuku adalah seorang penjual  sayur keliling hebat ,  karena  inilah  yang menopang   hidup   kami,   dan   menyekolahkan saudara–saudaraku. Waktu   telah  menunjukkan 1/3 malam pertama, kami mulai menyiapkan cilok yang  akan   dijual  besok, setelah  itu  aku   mulai menuju  tempat   tidur   karena   pekerjaan–pekerjaan telah menungguku keesokan harinya.

Jam   setengah   3   pagi   pun   badan   ini   harus   rela meninggalkan kenyamanan kasur kamarku,   dan bergulat dengan cilok yang telah menunggu untuk dibungkusi. Matahari   pun   mulai   menampakan   batang hidungnya,   itu   pertanda   aku   harus   membuka kandang   ternak,   bertemu   dan   memberi   makan unggas unggasku. Jam 6.30 aku bersiap berangkat menuntut ilmu, dengan beban seberat 5 – 6 kg menggelantung disetir sepedaku.  Itulah kegiatan yang kugelu setiap hari.

Layaknya manusia umumnya , saya mempunyai cita – cita yang ingin saya wujudkan , dan cita – cita tersebut
telah saya rangkai begitu indah ( Semoga TUHAN SAYA meridhoinya )
tahun 2011 : Saya resmi menjadi Mahasiswa ITB
tahun 2015 : Saya LULUS dari ITB dengan predikat Cum Laude.
tahun 2016 : Saya akan melanjutkan Study saya ke Negeri Tulip.
itulah target saya selama 10 tahun kedepan ini ,tetapi cita – cita terbesar saya adalah membantu orang
sebanyak mungkin. Semua itu hanya rencana , dan saya berharap ALLAh meridhoi cita- cita saya ini . amiin

CV Putro

CV Putro

Iklan

About Imam Santoso

I'am a metallurgist who love writing

2 comments

  1. Ping-balik: ITB atau STAN? | to improve is to change

  2. sri

    Tas tak woco…nggarahi mbrebes mili
    Selamat tuk dik Yitno dan adik-adik SMANA yg lain juga dik Imam
    Semoga kiprahnya berjalan selamanya

    Sri
    SMANA 88

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: