Studi Bahagia di Finlandia

Semoga ceritanya berguna. *Terimakasih buat yang menulis cerita tentang saya di media bulanan kementrian keuangan RI.

Studi Bahagia di Finlandia

Finlandia adalah negeri yang indah dengan sistem pendidikan terbaik di dunia. Hal ini mendorong Imam Santoso, mahasiswa Indonesia, melanjutkan program doktoral di Aalto University, Helsinki.

Dalam wawancara via Skype dengan Media Keuangan belum lama ini, pria yang akrab disapa Imam tersebut berbagi banyak kisah tentang perjuangannya memenangkan beasiswa S1, S2, hingga S3. Terakhir, Imam berangkat ke Helsinki untuk berkuliah dengan beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).

Ayah dan nenek Imam adalah petani di sebuah desa di Jember, Jawa Timur. Sejak kecil, Imam telah ditinggal ibunya yang mangkat karena sakit. Dia tumbuh besar dalam asuhan sang nenek. Meskipun berasal dari keluarga petani, Imam tak pernah kecil nyali. Ketika lulus SMA, anak pertama dari dua bersaudara itu lulus ujian masuk Institut Telnologi Bandung (ITB) pada Jurusan Teknik Metalurgi.

Yang unik, inspirasi untuk menekuni ilmu tentang tambang datang dari salah seorang tetangganya di kampung halaman. “Ada tetangga kami yang bekerja sebagai petugas keamanan di perusahaan tambang di Papua. Waktu itu saya berpikir, bekerja di bidang tambang akan bisa membuat saya menjadi kaya,” ujar Imam berseloroh.

Hari-hari menyelesaikan pendidikan di ITB adalah perjuangan yang keras bagi Imam. Biaya hidup dan pendidikan selama di Kota Kembang berasal dari beasiswa yang datang sambung menyambung. Untuk memperoleh beasiswa itu, Imam harus menjaga prestasi akademik. Tambahan biaya hidup juga dia dapatkan dari hasil bekerja sebagai guru les privat untuk anak- anak sekolah.

Pada 2007, Imam menamatkan pendidikan S1 dengan gelar wisudawan terbaik. Dia membuat ayah dan neneknya bangga dengan berdiri di atas mimbar dan memberikan valedictorian speech di antara ribuan wisudawan lainnya. Tak sulit bagi Imam untuk meraih pekerjaan. Berbagai tawaran bahkan datang tanpa harus dia melamar. Namun, Imam justru memilih jalan lain. Kebiasaan mengajar privat membuatnya sadar bahwa di situlah passion-nya berada.

Imam kemudian membantu seorang dosen di ITB sebagai asisten dan konsultan proyek-proyek pemerintah. Sambil menyelam minum air, dia menyiapkan diri untuk melanjutkan kuliah S2. “Ternyata cari sekolah susah. Saya harus berjuang untuk mencapai nilai bahasa Inggris yang dipersyaratkan,” ujar Imam. Pada akhir 2008, mimpi Imam untuk melanjutkan studi di luar negeri mulai menemui titik terang. Dia mendapatkan beasiswa untuk menempuh pendidikan di Australia dengan pembiayaan dari sebuah perusahaan di sana.

Krisis finansial global memisahkan Imam dan mimpinya tak lama kemudian. Perusahaan yang membiayai studinya bangkrut karena terkena dampak krisis itu. Imam pun terpaksa kembali ke tanah air. Namun, Imam tak menyerah. Dia kembali mengejar nilai bahasa Inggris dan kemudian mendaftar program beasiswa dari Pemerintah Australia. Pada awal 2011, Imam terpilih sebagai salah satu penerima beasiswa dan menempuh program S2 di University of Queensland. Setelah lulus dari program tersebut pada 2013, dia langsung menyusun rencana untuk melanjutkan pendidikan di jenjang S3. Nasib baik berpihak pada Imam. Pada 2014, dia lolos beasiswa LPDP. Yang lebih membuat Imam bahagia, pengumuman LPDP nyaris bersamaan dengan kabar dia diterima sebagai dosen PNS di ITB. “Pas saya berangkat ke Finlandia, pas saya dapat pengumuman diterima sebagai PNS,” kata Imam. Hingga saat ini, sudah hampir dua tahun Imam bermukim di negara Skandinavia itu.

Studi bahagia

Finlandia adalah negeri yang sangat nyaman sebagai tujuan melanjutkan pendidikan. “Kampus dan apartemen saya terletak di pinggir danau. Indah sekali pemandangannya di sini,” kata Imam. Di samping itu, Imam juga mendapatkan pengalaman merasakan perubahan musim yang ekstrem. Pada musim panas, matahari nyaris tidak tenggelam, sedangkan pada musim dingin suhu udara bisa mencapai 40 derajat celcius. Yang tak kalah menarik adalah kesempatan untuk melihat fenomena Aurora di atas langit Finlandia.

Bukan hanya keindahan alamnya, Imam juga terkesan dengan sistem pendidikan di sana. Apalagi jurusan Metalurgi di Aalto University yang menjadi fokus studinya menyelenggarakan program terbaik di dunia. Suasana belaja juga membuat mahasiswa tidak tertekan. Menurut Imam, profesor pembimbingnya memberikan keleluasaan dalam mengatur waktu penelitian. “Yang penting selesai pada waktunya,” ujar Imam. Hubungan antara mahasiswa dan dosen juga sangat egaliter.

Meskipun kerasan tinggal dan belajar di Finlandia, bukan berarti Imam tak bekerja ekstra keras. Agar bisa mendapatkan gelar PhD, Imam harus menerbitkan empat publikasi internasional dalam empat tahun. “Setiap hari saya melakukan percobaan di laboratorium, mencampur zat A dan B. Perlu kerja keras dan jungkir balik,” kata Imam. Ketika mencampur zat emas dan perak untuk menghitung nilai energinya, bisa jadi Imam tak mendapatkan hasil apapun setelah percobaan berkali-kali. “Setelah sebulan kadang ada hasilnya kadang tidak ada,” tuturnya.

Usaha keras Imam mulai menampakkan hasil gemilang. Selama dua tahun, tiga hasil penelitiannya telah dimuat dalam publikasi internasional. Artinya, dia hanya perlu satu publikasi lagi untuk bisa lulus program doktoral. “Saya akan mencoba menyelesaikan program ini dalam tiga tahun,” kata Imam penuh semangat.

Berbagi inspirasi

Imam menyadari betul bahwa pendidikan telah mengubah jalan hidupnya. Oleh karena itu, dia selalu ingin berbagi kisah dan semangat kepada anak-anak muda dengan latar belakang keluarga yang kekurangan. Sejak masih berkuliah di ITB, Imam telah mendirikan gerakan Ambalu Mengajar. “Saya merasakan bagaimana pendidikan itu sangat mengubah saya dan keluarga,” ujarnya.

Dalam Ambalu Mengajar, Imam dan teman-temannya berusaha mencarikan donatur bagi anak-anak desa yang memiliki semangat tinggi untuk sekolah. “Kami menjembatani anak-anak desa dengan universitas. Sekarang sudah ada anak-anak dari gerakan kami yang bersekolah di luar negeri dengan beasiswa LPDP juga,” kata Imam.

Ketika telah menyelesaikan pendidikan S3 nanti, Imam bertekad untuk mengabdikan dirinya dengan menjadi dosen di almamaternya. Di samping mengajar, Imam ingin terus membantu pemerintah membangun industri metalurgi. Imam juga bertekad kuat untuk pulang ke desa dan mencari anak-anak dengan semangat juang tinggi di sana. “Orang desa itu perlu bukti. Saya akan menyebarkan sangat untuk tidak takut bersekolah walaupun tak punya biaya. Ada banyak beasiswa di luar sana,” tuturnya.

Teks Dwinanda Ardhi

Percobaan di lab

Percobaan di lab

Link Asli

http://www.kemenkeu.go.id/sites/default/files/Media%20Keuangan%20November.pdf

Iklan

About Imam Santoso

I'am a metallurgist who love writing

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: