Cuci Otak

Kemarin saya diwawancara via telephone oleh mahasiswa UNS bagaimana cara saya “mencuci otak” adik-adik di Jember. Dia kaget pas saya cerita kalo dulu saya ketemu mereka itu paling setahun sekali. Kan saya kuliah di Bandung. Pas mudik, saya akan masuk kelas di SMA, lalu akan ketahuan anak-anak yang tertarik. Kalimat-kalimat yng saya gunakan antara lain

“Langsung saja ya, saya kesini itu sebenarnya ingin mengajak siapa-siapa yang mau kuliah, karena di sana itu sudah menunggu yang mau bayarin kalian. Banyak sekali beasiswa dan orang tua asuh yang baik. Ya sekarang tinggal di kamunya mau ato tidak. Siapapun kamu dan apapun orang tuamu kamu bisa menjadi apa yang kamu inginkan. Orang tua kalian sudah nyekolahin kalian sejak TK dan ingin sekali kalian sukses bla bla ” dan masih banyak lagi mantra-mantra yang lain dg gaya saya yg khas meledak-ledak. Btw, waktu diwawancara saya pindah dari kantor menuju lab dan menutup rapat pintu agar suara saya tak terdengar orang se kampus hehe.

Ketika saya berdiri di depan anak-anak SMA maka akan kelihatan siapa2 yang minat. Lalu saya list nama-namanya. Habis itu besoknya mereka akan saya datangi satu persatu ke rumahnya. Karena orang tua mereka juga harus “dicerahkan” karena mayoritas mereka tak mencicipi bangku sekolah sampai SMA bahkan banyak yg membunuh mimpi anak-anaknya misal “mimpi jangan muluk-muluk, nanti siapa yang biayain”. Dan itu wajar karena orang tua tidak tahu. Di rumahlah suasana jd lebih dekat, lebih terbuka kalo mau cerita tentang cita-cita, saya lebih bisa mendengarkan “curhat” lebih dalam. Dan “trust” akan terbentuk dengan kuat setelah itu. Lalu apa pentingnya?

Tentu saja setelah itu kepercayaan diri mereka meningkat, daya juangnya bakal bertambah berkali-kali lipat, karena untuk lulus test masuk itu tidak mudah dan perlu jalan mendaki lagi sukar. Dan benar saja.

Saya ambil contoh cerita 2 adik kelas saya tahun 2009. Setelah berdiskusi untuk ambil jurusan ini dan Univ itu ternyata mereka tak lulus tes. Dan tentu saja pas pulang saya nemuin mereka lagi. Saya tahu sakitnya tak lulus SNMPTN. Saya pun menghibur dan meyakinkan mereka lagi. Mereka tak patah arang. Tahun 2010 malah mereka datang rombongan dg banyak anak yg lain dr Jember naik kereta ekonomi ke Bandung. Tentu saya berharap kali ini mereka lulus. Kalo tak lulus pasti sakitnya akan lebih sakit bahkan saya khawatir mereka akan futur. Saya juga harus menyiapkan kalimat-kalimat yg mungkin sama untuk menghibur mereka lagi. Dan ternyata benar, mereka belum lulus lagi. Tahun depan nyoba lagi ya karena mereka masih kekueh dan percaya dengan satu pilihanya. Btw, saya juga pernah mendengarkan telefon anak yang menangis tersedu-sedu. Ia menanggis hampir semalaman. Itulah resiko-resiko yang harus saya hadapi.

Lebaran 2016 pas saya mudik dua anak tadi udah lulus dari ITB dan Unair lulus cumlaude, satunya ketrima di Astra internasional dan Unilever dg posisi prestisius setelah melalui seleksi yg ketat. Mereka anak orang tidak mampu, satu anak bapaknya seorang pembersih masjid. Menunggu kuliah 2 tahun setelah lulus SMA. Ketika kuliah ia udah berjualan banyak hal untuk menambah pendapatan, mungkin itu juga yg membuat dia ketrima di perusahaan, pengalaman pas kuliah membuat penginterview kerja terkesima.

Trus saya juga ditanya apa masalah yg pernah di hadapi. Saya bilang ya banyak. Yang paling membuat saya sedih misal anak itu sudah semangat dan berjuang keras tapi ternyata ada alasan keluarga yag tidak bisa dikompromikan, dan biasanya saya tidak bisa berbuat apa2 lagi. Pernah ada seorang anak sudah ketrima UI tapi harus mengikuti nasehat keluarganya untuk dinikahkan. Kondisi membuatnya tak bisa meninggalkan orang tua. Dan kasus seperti ini bukan sekali.

Dan banyak sekali kasus unik, bahkan saya pernah sampai minta tolong wartawan, beritanya masuk koran besar hingga bupati turun tangan.

Wawancara dg mahasiswa UNS kemarin itupun pun masih panjang dan membahas banyak hal. Pada akhir wawancara saya mengatakan,

“..ya beginilah kira-kira gaya saya kalo ngomong ke adik kelas saya, kenceng kan, seperti pas saya nelpon kamu sekarang, kayak macan…”

“i…i..iya mas..” dan sepertinya ia glagepan menjawab hehehe

Cerita perjuangan dari beberapa adik kelas saya pernah saya tulis lama sekali di sini

https://imamsantoso.com/2012/05/28/aku-pun-telah-test-ptn-berkali-kali/

 

10906539_10152741952842655_9119861739870241830_n

Iklan

About Imam Santoso

I'am a metallurgist who love writing

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: